
Maria memasuki kota, memandang kanan dan kiri dengan lemah. Sepanjang jalan dia menyaksikan mayat berserakan serta darah menggenang. Rumah hangus terbakar dan hanya menyisakan puing-puing yang hancur.
Kota yang dulunya indah kini berubah menjadi neraka yang mengerikan; tak layak dipandang, membawa duka dan kesedihan.
“Mengapa … separah ini?”
Maria tak mempercayai matanya namun aroma amis dan sesuatu yang terbakar membuatnya tak bisa meyakini bahwa ini adalah mimpi.
Dari keadaannya saat ini tampaknya serangan sudah berakhir, kota Dart sudah sepi dan dipenuhi aroma kematian.
Berjalan, Maria terus berjalan selagi menuju rumahnya. Kepalanya hanya dipenuhi pemikiran bahwa Aludra dan Takt baik-baik saja, hatinya hampa karena tak merasakan apa-apa, jantungnya berdegup kencang karena takut dengan fakta apa yang akan ditemuinya nanti.
Orang-orang yang dia kenal melalui pertemuan singkat maupun lama terkapar tak bernyawa. Maria tak berusaha menyelamatkan atau setidaknya mengambil mayatnya agar tak termakan jago merah.
Mereka tak penting, tak ada jalinan darah maupun batin dengan mereka. Maria adalah yatim piatu, Takt adalah semua yang dimilikinya. Dan, Aludra adalah pria yang dicintainya.
Terlepas dari apakah dia mendapatkan hatinya atau tidak, Maria tetap ingin menjalani hidup satu rumah dengannya. Rumah takkan terasa seperti rumah jika kedua orang itu tak ada nantinya.
“Kumohon … baik-baik sajalah untukku. Aku tak ingin kehilangan kalian. Kalian adalah rumahku, tempatku untuk pulang … .”
Rumah bisa dibangun namun ada rumah yang tak bisa digantikan.
“Aku masih ingin bercanda dan tertawa bersama kalian … .”
Meski tak memiliki orang tua, Maria tak pernah merasa kesepian karena ada Takt bersamanya. Dan, ada Aludra yang melengkapi keluarga kecil mereka.
Bahkan Maria sudah membayangkan masa depan ketika dia menikahi Aludra dan memiliki anak. Menyaksikan Takt tumbuh besar dan memiliki gadisnya sendiri. Kelak keluarga kecilnya akan menjadi keluarga besar yang berbahagia.
Maria tak ingin hanyalah itu— mimpi dan cita-cita tersebut runtuh oleh peristiwa ini. Jangan sampai semua itu pupus karena jika itu terjadi, tak ada alasan untuk Maria tetap hidup lagi.
Rumahnya ada di depan mata, tak jauh Maria menemukan rekan kesayangannya mati menyakitkan. Tombak menusuk sayap dan punggungnya, lehernya ditikam oleh belati.
Maria mulai menangis dan menghampirinya.
“Skype! Tidak, tidak, tidak! Apa yang terjadi padamu? Skype!”
Maria memeluk Skype selagi menangis tersedu-sedu. Dia kemudian melepaskannya, hingga akhirnya Maria pergi ke rumahnya dengan khawatir. Jika Skype sampai seperti itu, ada kemungkinan Takt dan Aludra bernasib sama.
Hanya saja Maria menolak kemungkinan itu, dia terus menyangkal dan meyakini bahwa keduanya akan baik saja.
Selangkah demi selangkah diraihnya menuju rumah. Saat mencapai pintu depan darah di temukannya, kemudian mayat bocah laki-laki yang dikenalinya.
Maria jatuh berlutut, kakinya lemas dan tak mampu berdiri. Alhasil dia merangkak menghampiri tubuh tersebut, meraih dan memeluknya, menangis sedu.
“Mengapa ini terjadi … kamu meninggalkanku, Takt … TAKT!”
Maria menangis sejadi-jadinya selagi memeluk jasad Takt yang telah mendingin serta membiru. Tak ada cara apapun untuk menyelamatkannya lagi. Hal terakhir yang bisa dilakukannya adalah memberikan pemakaman yang layak.
“M-maria …,” panggil seseorang yang suaranya terdengar lemah. “apa itu kau?”
Lekas bangkit dan tertegun, Maria meletakkan tubuh Takt dengan hati-hati dan menuju sumber suara.
Di sana dia menemukan Aludra telah terkapar lemah, babak belur sedemikian rupa namun beruntung bahwa tak ada yang serius.
“Aludra!”
Maria lekas memapahnya dan membawanya ke tempat tidur untuk memberikan pertolongan pertama.
“... M-maaf, Maria … aku tak bisa … melindungi Takt,” ujar Aludra, mengigit bibirnya dan menutup matanya dengan lengan.
Maria menangis selagi memasangkan perban di lengan lain Aludra.
“Jangan bicara lagi … kamu selamat saja sudah bagus … jadi, jangan bicara lagi-!”
Kematian Takt sungguh melukai hatinya dan sangat menyakitkan, seandainya Aludra juga mengalami kematian maka Maria akan segera menyusul.
Namun nyatanya Aludra baik-baik saja, itu membuatnya memiliki alasan untuk tak segera pergi menemui Takt di alam sana.
Beberapa jam berlalu, api yang membakar kota Dart mulai padam. Para petualang pemula yang beruntung ada di luar kota kembali, mereka awalnya terkejut karena insiden ini. Namun gerakan mereka cepat dan mengabarkannya ke ibukota.
Bala bantuan belum tiba, tampaknya butuh waktu lebih lama untuk tiba ke kota ini.
Aludra dan Maria mengadakan pemakaman yang layak untuk Takt. Lokasinya tidak jauh dari makam kedua orang tuanya.
Maria mulai menangis lagi saat menyaksikan Takt tenggelam oleh tanah. Aludra hanya diam dan memandanginya dengan datar. Toh, dia juga sedang menderita.
Berkat Aludra memukul dirinya sendiri kini dia memiliki rasa sakit yang cukup menyiksa. Hampir seluruh tubuh bagian atasnya diperban.
“Takt … mengapa hal ini menimpamu?” ujar Maria, memeluk kuburan Takt.
“Ini semua berawal dari Eleanor yang mengunjungi kota ini,” ujar Aludra.
Aludra menjelaskan bahwa kedatangan demi-human disebabkan oleh Eleanor. Tampaknya wanita itu sengaja menempatkan dirinya sebagai umpan untuk menghabisi Spear Rebels, tetapi sayangnya rencananya gagal.
Spear Rebels lebih kuat dari harapannya dan berakhir dengan hancurnya kota Dart.
“Takt terbunuh dalam penyerangan itu. Aku berusaha melindunginya namun itu tidak cukup. Pada akhirnya aku dipukuli, sebuah keberuntungan aku tak mati.”
Aludra terus menceritakan tragedi menyakitkan yang menimpa mereka sampai Maria mengerti keseluruhannya.
Maria kemudian berdiri dan mengepal erat tinjunya, “Spear Rebels … jadi mereka, tokoh utama yang menyebabkan semua ini?” gumam Maria, terdengar lemah namun menyimpan dendam.
Aludra berdiri di belakang Maria, membiarkan mulutnya berkata tepat di telinga Maria.
“Tidak. Jika saja Eleanor tidak datang ke sini, kita pastinya masih bisa melihat senyum Takt.”
“Pikirkanlah ini, Maria. Demi-human tidak akan mengusik kota Dart andaikan tidak ada penyebabnya. Eleanor menjadikan dirinya umpan. Berharap mendapatkan hasil baik namun yang menanti adalah kehancuran Dart ... juga kematian Takt.”
Aludra membisikkannya pada Maria, tujuannya adalah membuatnya membenci Eleanor. Tidak hanya Eleanor, tetapi seluruh kerajaan.
“Meski tahu Spear Rebels akan menyerang namun kerajaan tak bertindak. Mereka bahkan tidak memberi peringatan evakuasi.”
“Jadi … Eleanor penyebabnya? Kerajaan juga bersalah atas kematian Takt?”
Aludra berbinar matanya, seakan ada cahaya kemerahan terpancar dari matanya. Wajahnya kini tampak seperti penjahat. Dia kemudian memeluk Maria, tangannya merayap naik hingga mencekik leher Maria dengan lembut.
“Ya! Kerajaan beserta isinya membiarkan kota Dart hancur … mereka membiarkan Takt mati!”
Bergetar seluruh tubuhnya. Maria bergetar dengan kemarahan yang luar biasa.
“Akan kehancurkan mereka, akan kubalas kematian Takt dengan kematian seluruh kerajaan ini!”
“Ya! Kita akan membalas kematian Takt seratus kali lipat! Mereka perlu merasakan apa yang dinamakan kesedihan dan keputusasaan!”
Aludra menyeringai dengan lebar kepada Maria, meskipun Maria takkan bisa melihatnya.
“Tak hanya kerajaan, dunia ini salah! Menunjukkan keputusasaan kepada orang yang bahkan berusaha keras hanya untuk hidup! Ini tak bisa dimaafkan, kita perlu membalas dendam!”
“Ya, kamu benar,” ujar Maria.
“Dunia selalu saja merenggut apapun yang berharga bagi kita. Baik aku, maupun kamu. Kita sama-sama kehilangan dengan cara yang berbeda.”
“Itu benar adanya.”
“Untuk memahami rasa sakit, seseorang perlu merasakannya!”
“Ya!”
Aludra terus mendoktrin Maria dengan pemikiran miliknya. Hati yang marah dan terluka tidak memiliki tempat untuk cinta. Lantas Aludra akan mengisi semua itu dengan dendam, kebencian, dan keputusasaan.
Ini adalah cara terbaik untuk Aludra melakukan pembalasan dendamnya karena telah dipanggil ke dunia ini tanpa pernah menginginkannya.
Oleh karena itu, Aludra berniat memulai perang melawan dunia ini.
Satu orang akan menantang seisi dunia dalam peperangan yang jelas teramat sulit dimenangkan.