
Aludra berjalan meninggalkan istana. Rupanya kekacauan di sana juga terlihat hingga keluar. Rakyat memfokuskan untuk memperhatikan bagian dalam istana yang tampak kacau.
“Oi, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Suaranya terdengar mengerikan!”
“Seakan-akan ada pertarungan yang sedang terjadi.”
“Prajurit segera kembali ke istana!”
Rakyat biasa hanya diam memperhatikan, sementara prajurit yang berkeliaran berbondong-bondong menuju istana.
Tentu saja itu bukan kekacauan yang sedang. Dinding istana tampak menumbuhkan tanah dan teriakan mengerikan yang samar bergema dari istana.
Itu pastinya jeritan monster yang disiapkan Aludra. Selama dua bulan dia melakukan banyak persiapan untuk hari ini.
Dia telah memancing para monster masuk ke dalam saluran yang terhubung dengan istana. Tentunya untuk berhasil masuk, Aludra memiliki rekan di dalam istana.
“Sepertinya Maria berhasil melakukannya.”
Maria adalah orang yang tahu peta istana mengingat dia pernah bekerja di sana. Tugasnya yang utama adalah membuat para monster itu keluar sehingga para pahlawan tak memiliki pilihan selain bertarung.
“Aku harap dia tidak membunuh dua ****** itu.”
Tak hanya melepaskan monster, tetapi Maria juga bertugas menculik ratu dan putrinya. Rantai yang sebelumnya memenggal banyak kepala adalah Gleipnir.
Dengan memanfaatkan kemampuan alami Artefak Kuno itu, Maria pasti berhasil melakukan penculiknya. Toh, rantai yang menyebar di halaman sudah menghilang sebelumnya. Itu menandakan keberhasilan penculikan.
“Sekarang ...”
Aludra dihadapkan oleh para ksatria yang berusaha masuk ke dalam istana. Mereka terhenti lantaran Aludra jadi satu-satunya yang keluar dari saja.
Rakyat menyaksikannya dengan diam selagi berkeringat dingin. Mau bagaimanapun hanya orang gila yang berani menyerang istana kerajaan.
“Jangan bergerak dan sebutkan siapa kamu? Apa yang sedang terjadi di dalam sana?!”
Prajurit berteriak keras sementara Aludra menutup telinganya.
“Suaramu menyakitkan. Dengar ini, mereka hanya sedang berpesta dan mengganti perayaan ini dengan festival tertentu.”
Para prajurit diam dan mulai mengerutkan keningnya.
“Festival?”
Aludra tersenyum dan menarik banyak Mana dari kristal di tangannya.
“Benar festival! Festival Tanpa Kepala, ha ha ha!”
“Orang gila, tangkap dia!”
“Silahkan copot kepala kalian!”
Aludra menebaskan tangannya ke udara, segera angin kencang membentuk bilah dan memotong kepala prajurit sekali serangan.
Para prajurit jatuh dengan kepala terlepas. Entah kebetulan atau tidak, tubuh mereka jatuh berbaris dan menyisakan jalan setapak yang dibanjiri darah.
“Hoho? Apa ini karpet merah khusus untukku? Wah, aku hampir menangis karenanya!”
Aludra dengan santai melewati mayat prajurit di kiri dan kanannya selagi mengangkat kristal di tangan kanan, dan mengangkat tangan kirinya.
“Ayolah! Tolong berbaris dan buat karpet merah ini semakin panjang!” Senyuman Aludra cukup menakutkan untuk dilihat.
“K-kabur! Dia psikopat gila!”
“Selamatkan diri kalian!”
“Apa yang dilakukan pahlawan?! Mengapa orang seperti ini dibiarkan?!”
Orang-orang mulai berlarian menjauh dari Aludra, menjauh dari kematian mereka.
“Ini terlalu sepi untuk disebut pesta.”
Aludra mengeluarkan bola api dari tangannya dan meledakkan rumah yang dia lewati selagi berjalan pergi meninggalkan ibukota.
Para prajurit dan petualang berusaha menghentikannya, tetapi mereka hanya mati dengan sia-sia.
Hingga akhirnya tidak hanya jalan dengan karpet merah yang dibuat dari darah. Namun itu menjadi jalan yang dihiasi rumah terbakar, mayat berserakan dan banjir akan darah.
Dalam waktu singkat satu orang mampu memberikan kerusakan yang besar kepada Etherbelt.
****
Tak disadari bahwa matahari mulai tenggelam. Bellatrix menembak kepala Orc terakhir yang muncul dari saluran air.
“Semuanya sudah berakhir.”
Bellatrix bergumam demikian, meski tak ada suka cita atas keberhasilan ini. Dia kemudian melihat langit, dan menemukan asap hitam melonjak naik.
Jantungnya berdebar kencang dan bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Nah, Bellatrix sudah siap untuk apa yang akan dilihatnya.
Paling buruk hanya kota terbakar. Dia berharap tidak pernah ada kemungkinan paling buruk.
Namun ekspektasi dan harapan tentu akan mengecewakan. Kenyataannya itu bukanlah buruk, tetapi malapetaka.
Begitu dia meninggalkan istana, Bellatrix disambut dengan mayat yang seakan-akan disusun sengaja untuk membuat jalan setapak.
Kepala tergeletak seakan-akan dibariskan untuk membentuk jalan dan hampir separuh ibukota terbakar oleh api.
Lutut berlutut lemas, bendungan tak mampu lagi menahan air mata. Kemarahan yang ditujukan pada dirinya tak terelakan.
“Mengapa?”
Penolakan. Bellatrix berusaha keras melakukan penolakan bahwa Aludra adalah pelaku dari semua ini. Dia menolak untuk percaya.
“Apa yang membuatmu ... jadi seperti ini, Aludra?”
“... apa-apaan ini.”
Orion yang menyusul terkejut tak percaya. Pemandangan di depannya mungkin adalah yang terburuk yang dilihatnya sepanjang hidup.
Hanya satu orang mampu membuat kekacauan sebesar ini. Cukup dengan satu orang untuk menghancurkan sebuah ibukota dalam waktu satu hari.
“Dalam waktu sebentar ... satu orang membunuh banyak nyawa.”
Orion menggigit bibirnya dengan putus asa. Dia merasa sangat lemah. Sekalipun dijuluki pahlawan, mengapa menghentikan satu orang saja tidak bisa?
Tatapannya berangsur-angsur menuju Bellatrix yang tampak sangat kecewa, lelah dan sedih.
Bagaimana tidak? Aludra adalah orang yang dia berikan kebaikan sepenuh hati. Bellatrix selalu mendoakan keberhasilannya untuk pulang.
Mungkin di dunia ini, Aludra menjadi orang yang memiliki tempat bagus di dalam hatinya.
Orion mungkin cemburu dengan Aludra, tetapi juga menyesal diwaktu yang sama.
‘Seandainya aku bersimpati dan membantunya mencari jawaban ... mungkin ini takkan terjadi.’
Saat Orion terbendung dengan pemikiran dan kemungkinan yang bisa terjadi dari tindakannya, seorang prajurit muncul dari dalam istana.
“Tuan dan Nona Pahlawan! Raja memanggil anda sekalian!” prajurit itu segera berlutut hormat. Melihat kondisi Bellatrix dan Orion, dia memahami kepedihan dan menurunkan suara.
“Apa yang begitu penting?” tanya Bellatrix dengan lemah.
Prajurit itu tampak bermasalah dan kesakitan begitu melihat pemandangan kota. Namun untuk tugasnya, dia menguatkan diri dan menyampaikannya.
“Yang Mulia menemukan bahwa para monster masuk melalui saluran air bawah tanah. Dan rupanya, ada pengkhianat dari dalam istana yang menculik ratu juga tuan putri.”
Itu bahkan lebih buruk bahwa Aludra memiliki koneksi ke dalam istana. Orion jadi semakin berpikir tentang berapa lama persiapan yang sudah dibuat ini.
“Begitu,” jawab Bellatrix dengan lemah dan menyeka air matanya. “Bersihkan kekacauan ini dulu, termasuk di ibukota.”
“Dimengerti!” prajurit itu segera pergi dan menugaskan yang lainnya.
“Bellatrix,” Orion memanggilnya namun tak tahu harus bicara apa.
“Orion,” Bellatrix berdiri dan menoleh kepadanya dengan wajah tegas. “Kumpulkan pahlawan lain. Kita akan berdiskusi tentang Aludra.”
Melihat keteguhan Bellatrix, Orion menggigit bibirnya dan mengangguk penuh kekuatan.
“Aku mengerti. Kalau begitu, malam ini kita adakan pertemuan setelah sekian lama.”
Dua belas Pahlawan Suci hampir tak pernah melakukan pertemuan lagi. Bahkan beberapa tak lagi kembali ke Etherbelt. Namun akan ada satu waktu di mana mereka menjawab panggilan untuk berkumpul.
Itu tentu akan terjadi ketika Bellatrix yang memintanya secara pribadi.