
Di temani oleh Bellatrix, untuk pertama kalinya Aludra meninggalkan istana dan pergi ke luar. Dia sebelumnya menolak pergi karena begitu terobsesi untuk pulang.
Dalam perjalanannya dia mengamati ibukota kerajaan yang indah. Terlepas dari ras demi-human di kota ini yang hidup melarat sebagai pengemis dan gelandangan, negaranya bisa dibilang makmur.
Ada diskriminasi yang sangat jelas di mana demi-human di kota ini tak dihargai dan manusia menganggap rasnya lebih tinggi. Aludra tentunya merasa iba, tetapi tidak membuatnya peduli untuk melakukan sesuatu.
‘Mereka hanya orang asing bagiku. Toh, aku juga akan kembali ke duniaku. Tidak ada waktu untuk disia-siakan hanya untuk mereka,’ jelas Aludra.
Aludra melirik Bellatrix yang berjalan dengan pandangan lurus. Meski dia terlihat tidak peduli dengan demi-human, terpampang jelas dari raut wajahnya kalau dia tak tahan melihat pemandangan tersebut.
Di samping hal itu keduanya terus berjalan menuju gerbang kota. Tujuan mereka adalah pergi ke hutan untuk berburu beberapa monster. Aludra berencana mempersiapkan dirinya sebelum pergi ke Jurang Tanpa Dasar.
Berbekal pedang yang cukup kuat, helm serta pelindung dada. Aludra berencana untuk membunuh beberapa monster untuk mempersiapkan dirinya. Dia juga membawa tas yang cukup berat karena berisi barang-barang lainnya.
Tasnya berisi cukup banyak, sebagian besar adalah benda ajaib yang disebut dengan, potion. Ramuan tersebut bekerja seperti sihir, mampu mengembalikan tenaga seseorang dan bahkan hal-hal lainnya.
“Aku lihat kamu tidak membawa apapun selain busur.” Aludra menatap Bellatrix dari atas sampai bawah.
Bellatrix hanya menggunakan sarung kaki yang menutupi sampai ke pahanya, rok pendek, rompi besi yang ditutupi oleh baju berlengan panjang dan memiliki tudung. Dia juga menggunakan pelindung dada sebagai pelengkap.
(Kurang lebih seperti ini)
“Ah, kamu tidak tahu? Aku memiliki penyimpanan dimensi. Ini persis seperti halnya di dalam game.”
Bellatrix menjelaskan bahwa ada orang-orang dengan bakat tertentu yang bisa menggunakan inventory melalui index. Memang tak semua orang, tetapi raja, bangsawan, pahlawan bahkan beberapa kelas masyarakat lainnya bisa menggunakannya.
Aludra tidak menerima Index atau apapun itu, sewajarnya dia tak memilikinya. Itu memang disayangkan namun Aludra tak terlalu kecewa, dia tak mau membawa hal aneh saat kembali ke bumi.
“Itu sungguh praktis. Andaikan semua orang memilikinya maka profesi bandit tidak lagi bermanfaat.”
“Itu benar,” Bellatrix tertawa kecil saat mendengarnya, dia kemudian teringat sesuatu. Dia ingin mengatakannya, tetapi sedikit ragu akan mendapatkan jawaban atau tidak. “... Bolehkah aku tahu, apa alasanmu sangat ingin kembali?”
Aludra selalu mengatakan akan kembali ke bumi untuk menemui keluarganya, hal itu memang terjadi. Namun bagi pandangan orang-orang hal itu mungkin menimbulkan pertanyaan besar mengapa Aludra sangat bersikeras.
Padahal dia bisa memulai hidup baru, bahkan memiliki istri yang mungkin lebih cantik dan baik dari sebelumnya. Meski begitu Aludra tak memilih pilihan tersebut.
Aludra menatap Bellatrix yang sungguh penasaran dengan hak tersebut, Aludra merasa tak masalah untuk mengatakannya. Lagi pula alasannya lebih sederhana dibandingkan dengan apapun di dunia ini.
“Itu karena aku mencintai keluargaku.”
Jawabannya adalah sesuatu yang paling sederhana. Dia tak hanya mencintai keluarganya, tetapi sangat mencintainya. Harusnya siapapun akan tahu hal itu, Aludra ingin kembali karena mencintai keluarganya.
“Begitu … memang seperti itu harusnya, ya? Aku mengerti.”
Aludra tidak mengerti mengapa Bellatrix menanyakan hal seperti itu, namun dia juga tidak mencoba untuk membahas lebih jauh. Aludra merasa akan memunculkan hal merepotkan jika membahasnya.
Butuh waktu setengah jam untuk keduanya mencapai wilayah perburuan. Aludra telah mendengar bahwa Bellatrix bisa datang dengan cepat karena skill dari senjatanya, tetapi dia tak menggunakannya karena ingin bersantai.
Aludra tidak coba mendebatnya dan mulai mempersiapkan dirinya. Meski Bellatrix berinisiatif membawakan barang-barangnya dengan memasukkannya ke inventory, Aludra menolaknya.
“Ya. Sama sekali tidak masalah.”
Bellatrix menjelaskan bahwa hutan tempat mereka berada saat ini hanya memiliki monster-monster lemah seperti slime dan goblin. Slime memang mudah ditemukan di manapun mengingat mereka tak membahayakan, tetapi mencari goblin di hutan tempat mereka saat ini tidaklah mudah.
Keduanya telah mencari selama lebih dari satu jam namun tidak ada hasil apapun. Hanya ada kekecewaan yang menunggu mereka.
“Apa para prajurit istana membersihkan mereka?” tanya Aludra dengan sedikit kesal.
“Harusnya tidak mungkin. Hanya para petualang yang berurusan dengan monster. Dari yang aku tahu, tempat ini menjadi spot pelatihan bagi petualang pemula. Harusnya tidak mungkin guild petualang melakukan pembersihan menyeluruh.” Bellatrix terlihat bingung oleh situasinya sekarang.
Dari perkataannya Aludra menemukan bahwa guild petualang tak mungkin membasmi goblin sampai bersih karena akan mendatangkan monster lemah lainnya jika goblin tak ada. Selain itu, Aludra mendengar bahwa keberadaan monster juga dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Kamu pernah datang ke tempat yang banyak monsternya, kan? Sebaiknya kita ke sana.”
Bellatrix terlihat tidak setuju dengan saran Aludra.
“Itu tempat yang berbahaya jika kamu ingin berlatih, Aludra. Aku sarankan kita tidak pergi ke sana.”
Aludra tahu bahwa risiko bisa datang kapanpun jika berhadapan dengan monster. Meski begitu Aludra cepat atau lambat memang akan menghadapi risiko tersebut untuk kembali ke bumi.
“Itu bukan masalah, tak ada bedanya jika aku menghadapi bahaya sekarang atau nanti. Selain itu, aku yakin hutan itu tidak cukup berbahaya bagimu.” Aludra tersenyum kecil dan percaya bahwa Bellatrix bisa melindunginya.
Bellatrix terkesima, dia terlihat memiliki senyuman kecil dan mulai membusungkan dadanya dengan penuh kebanggaan diri. Aludra merasa mungkin Bellatrix suka dengan pujian itu.
“Baiklah! Kalau begitu mari kita pergi!”
Bellatrix mulai melayangkan tangannya dan seakan sedang menyentuh sesuatu.
“Mari kita pergi,” ujarnya dengan ringan.
Aludra justru memiringkan kepalanya, dia ingin pergi namun tak tahu arah yang harus dituju.
“Ke mana? Kamu pimpin jalan karena aku tak tahu arahnya.”
“Tidak perlu, cara ini akan lebih cepat,” ujar Bellatrix, mengulurkan tangannya dengan malu-malu. “Ke-kemarilah, kita akan segera pergi.”
Aludra tidak mengerti apa yang coba dilakukan Bellatrix, tetapi dia tak banyak bertanya dan mengikutinya. Saat keduanya bergandengan tangan, Aludra menemukan cahaya hangat menyelimuti keduanya dan segera visi Aludra berganti.
Begitu dia membuka matanya, pemandangan yang sangat berbeda dilihatnya. Awalnya dia hanya melihat hutan lebat dan rerumputan, tak ada hal spesial ataupun janggal.
Namun kini, pemandangan yang dilihatnya berbeda. Pedesaan indah dengan hutan dan padang rumput luas sejauh mata memandang. Penampakan gunung besar yang sedikit tertutupi langit membuat penampakannya begitu indah.
Bellatrix dengan riang berlari selagi merentangkan tangannya dan menghirup udara segar. Dia kemudian berbalik menatap Aludra dengan senyuman lebar.
“Ini tempat kita akan berburu. Selamat datang di Kota Dart!”