The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Pelelangan!



Aludra bisa merasakan kekuatan asing mengalir di darahnya. Itu kekuatan yang terkesan jahat dan menyedihkan.


Kutukan untuk dibenci oleh dunia sama sekali tak membuatnya khawatir. Arcturus sendiri membenci dunia ini, wajar untuk menjadi dibenci balik.


“Sekarang ... mari lihat apa yang kita dapatkan.”


Aludra tanpa keraguan memasukkan tangannya ke dalam Pandora dan meraih sesuatu. Itu adalah sebuah rantai dengan mata anak panah dan kristal ungu kecil di ujungnya.


“Rantai apa ini? Mengapa aku merasa ini memiliki kehadiran yang sama dengan cawan ini?”


Rantai hitam legam yang mengeluarkan cahaya merah gelap.


Maria yang tertarik dengan hal itu menghampirinya dan memegang rantai.


“Ini ... kemungkinan besar Artefak Kuno lainnya! Aku ingat ada Artefak Kuno seperti ini, Gleipnir!”


Aludra tersenyum lebar dengan penemuannya. Bagaimana tidak? Dia mendapatkannya semudah ini.


“Ha ha ha, semudah ini mendapatkan senjata yang katanya langka? Cawan ini persis kantong ajaib robot kucing abad 21!”


Aludra menyerahkan rantai itu kepada Maria. Toh, dia adalah yang paling cocok menggunakan senjata semacam itu.


“Mari kita lihat apa yang akan didapatkan selanjutnya—”


Aludra memasukkan tangannya lagi namun tiba-tiba tenaganya hilang dan tak mendapatkan apapun. Maria segera memapah tubuh Aludra yang melemah dengan misterius.


“A-apa yang terjadi? Cawan itu menarik kekuatanku.”


Melihat itu, Iris mulai menjelaskannya dengan sukarela.


“Cawan itu hanya bisa mengambil benda dari satu waktu. Aku tak tahu berapa lama namun Pandora tak bisa memberikanmu apapun berulang-ulang.”


Aludra yakin itu hipotesis yang tepat. Toh, dia kehilangan kekuatannya pada percobaan kedua.


“Benda ini memiliki keterbatasan kegunaan, ya? Yah, tak masalah. Kita punya hal-hal yang diperlukan untuk mengamuk.”


Meski belum jelas apa kegunaan Gleipnir di tangan Maria.


Jika namanya sesuai dengan kisah yang ada di bumi, maka rantai ini akan sangat berguna.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Aludra?” tanya Maria, meski dia sudah menebak langkah Aludra.


“Pembalasan dendam. Kita akan menyerang Etherbelt.”


Maria mengepal erat rantainya. Dia mengingat kembali rasa dendam yang disimpan lama dalam hatinya.


“Akhirnya tiba!”


Mendengar rencana itu Iris buru-buru berusaha menghentikannya.


“Mengapa kamu melakukannya?! Tolong hentikan semua ini, bukankah kamu dipanggil ke dunia ini untuk jadi pahlawan?!”


Iris tak bisa memahami mengapa orang yang harusnya menjadi pahlawan justru harus berada di sisi sebaliknya.


“Kamu tak tahu apapun yang sudah kita alami! Tutup mulutmu atau aku akan membunuhmu!”


Maria emosi dan mengambil langkah menuju Iris, tetapi Aludra lekas menghentikannya.


“Hentikan Maria.” Aludra menatap Iris dan tersenyum, wajahnya tampak menyedihkan. “Bagaimana perasaanmu meninggalkan orang yang sangat kamu cintai ke dunia berbeda?”


Iris tak memikirkan itu sama sekali. Dia hanya berpikir manusia dari dunia lain memang menjalani kehidupan heroik. Tak sekalipun terlintas bahwa mereka sama sepertinya.


“Bahkan dikhianati begitu tiba dan hal menyakitkan lainnya. Kamu takkan mengerti kebencianku pada dunia.”


Wajah Aludra menjadi dingin. Dan, dia berkata jujur dari lubuk hatinya.


“Dunia yang seperti ini harus hancur. Pahlawan membutuhkan musuh yang lebih kuat dari mereka. Aku akan menjadi penjahat yang menghancurkan kedamaian ini.”


Apakah pahlawan ditakdirkan untuk terus menang? Akan Aludra buktikan bahwa tak selamanya gelap kalah.


“Apa yang harus kulakukan pada wanita ini? Dia tahu identitasmu dan sudah tak diperlukan lagi.”


Aludra hanya tersenyum, “Tak masalah, cepat atau lambat aku akan mengungkapkan identitasku. Selain itu, wanita ini sangatlah cantik, sungguh sia-sia membunuhnya.”


Maria mengerutkan alisnya. Dia mengakui Iris memang cantik namun tak disangka Aludra memiliki minat. Mengapa pria yang bahkan tak menyentuhnya mau melakukannya pada wanita lain?


‘Apakah aku tidak terlihat menarik di matanya?’ Maria merasa sedih di aspek itu.


“Kamu sungguh bajingan! Bahkan jika kamu menodai tubuhku, aku takkan membiarkanmu begitu saja!”


Aludra menatap Iris dengan merendahkan, “Mengapa aku harus melakukannya? Aku tidak tertarik denganmu sekalipun kamu cantik.”


“Kita membutuhkan banyak modal untuk aksi ke depannya. Maria, cari bandit atau orang kaya manapun yang mau menawar harga tinggi untuk mengambil kesucian gadis tercantik.”


Wajah Iris memburuk setelah mendengarnya. Aludra berencana menjual tubuh Iris untuk mengumpulkan uang.


Maria diam-diam bersuka cita dalam hatinya. Dia senang bahwa Aludra tak melirik wanita lain sama sekali.


“Apa bangsawan tidak masalah? Aku tahu para bajingan dengan reputasi buruk.”


“Tak masalah. Berikan wanita ini pada penawar tertinggi lebih dulu.”


Aludra tak sabar menantikan pelelangan untuk merebut kesucian seorang gadis ini. Para sampah akan mulai berkumpul di sekitarnya.


Dunia ini memiliki kristal yang bisa menampilkan gambar seperti hologram. Maria membutuhkan itu untuk menunjukkan bahwa Iris benar-benar ada di tangannya.


Hanya butuh satu minggu bagi para sampah berkumpul. Ada sekitar lima puluh orang yang tertarik dengannya. Masih di gua yang sama, Aludra menggantung Iris untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Dengan topengnya yang sama, Aludra bertepuk tangan sekali.


“Wah wah, saya tak menduga akan ada banyak tuan sekalian yang tertarik dengan barang dagangan saya!”


Beberapa bajingan menggunakan topeng dan pakaian tertutup untuk menyembunyikan identitasnya. Beberapa bahkan dengan terang-terangan muncul, mereka pasti bandit.


Tatapan semua sampah itu tertuju kepada Iris yang membuat ekspresi penuh kebencian selagi terlihat ingin menangis. Aludra telah menyumpal mulut wanita itu, mencegahnya untuk bunuh diri.


“Kalian jangan risau tuan sekalian, Purplestone takkan melakukan apapun bahkan jika kalian menyentuh wanita ini! Saya juga takkan memberikan barang dagang yang berharga ini dengan murah!”


“Whoa!” Para sampah bersorak senang, mereka memiliki wajah seperti binatang buas yang dalam musim kawin.


“Penawaran tertinggi untuk orang pertama yang akan mengambil kesucian Iris, wanita tercantik di kerajaan ini setelah keluarga kerajaan dan pahlawan!”


“Seribu keping emas!”


Orang-orang mulai meneriakkan jumlah yang mereka tawarkan untuk Iris.


“Sepuluh ribu!”


“Lima belas ribu!”


Aludra menyambut setiap nominal uang dengan riang selagi terus menunggu penawaran tertinggi.


“Sepuluh juta keping.”


Segera suara yang mengatakan nominal besar. Aludra menatap orang itu yang menggunakan topeng dan jubah. Dia memiliki senyuman lebar yang mengerikan di bibirnya.


“Aku akan membelinya sepuluh juta keping.”


“Tuan benar-benar sangat murah hati! Namun sayangnya saya hanya menyewakannya, tidak menjualnya untuk milik siapapun! Sepuluh juta keping untuk sepuluh hari!”


“Bagaimana? Apakah ada yang berani memberikan penawaran tertinggi lainnya?!”


Suasananya hening. Tentu saja tidak ada yang bisa menawar lebih tinggi dari harga yang gila itu.


“Sebelas juta keping, ditambah Dimensional Ring untuk satu bulan penyewaan.”


Aludra terkejut sekali lagi. Jumlahnya mungkin besar, tetapi Dimensional Ring menarik minatnya.


Sejauh pengetahuannya dunia ini memiliki cincin dimensi yang bisa menyimpan apapun selain makhluk hidup.


Mengingat ada banyak barang bawaan di bagasinya, mendapatkan itu bukan hal buruk.


“Terjual! Sebelas juta keping emas dan Dimensional Ring!”


Maria segera mengetuk palu yang menandakan barangnya sudah terjual.


“Tuan pelanggan yang lainnya jangan khawatir! Barang dagang saya akan tetap ada. Setelah sebulan berlalu, saya akan mengizinkan siapapun menidurinya dengan bayaran setimpal!”


“Whoa!!”


Mereka yang awalnya kecewa kini menjadi semakin bersemangat.


Di sisi lain Iris yang menyaksikan proses penjualan dirinya mulai menangis. Tak hanya dinodai, dirinya bahkan tidak lagi dianggap manusia.


Hanya hewan ternak yang memuaskan nafsu para serigala.


‘Bagaimana bisa ... manusia menjadi begitu kejam? Siapa yang menyebabkan lahirnya monster seperti ini?!’ Iris mengumpat dalam pikirannya.


Sejatinya monster paling mengerikan adalah manusia itu sendiri.