The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Rencana Ratu dan Putri



Sudah satu jam sejak Aludra pergi, Maria menolak untuk mengantar kepergiannya lantaran dia tak mau menjadikannya berat karena tangisnya.


Pada akhirnya Maria menangis di perpustakaan cukup lama dan tertidur sampai hari tak terasa sudah gelap. Mungkin, sudah sangat lama sejak terakhir kali dia menangis sebanyak itu.


“Aku akan dimarahi karena membolos,” gumam Maria saat merapikan diri dan membersihkan ruang perpustakaan yang dijadikan Aludra sebagai tempat tinggal.


Bayang-bayang Aludra duduk di meja belajar muncul seperti sebuah ilusi, baru beberapa jam Aludra pergi namun Maria sudah begitu kehilangan. Rindu pula rasanya, penyakit menyakitkan yang sulit diobati.


Maria perlu memaksakan dirinya untuk melupakan segala hal tentang pria itu, sekali untuk selamanya. Sekalipun itu cinta pertamanya, menghapus keberadaannya dari pikiran adalah prioritas.


Setelah melakukan pembersihan Maria lekas pergi ke tempat lain untuk melakukan pekerjaannya yang tak sempat terselesaikan.


“Malam begitu indah, terlalu dingin nian kesepian. Bersama gelap, bulan selalu berduka lantaran tak pernah menggapai matahari.”


Dekat namun tak tergapai adalah ungkapan yang mungkin saja sesuai oleh Maria. Saat dia hampir mencapai taman, Maria menemukan keberadaan yang tak bisa diabaikan.


“Itu … yang mulia ratu dan tuan putri? Apa yang mereka lakukan di sini pada malam hari?”


Maria tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba bersembunyi, padahal dia tidak melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Namun firasatnya mengatakan bahwa ada hal yang membuatnya tidak boleh tertangkap basah.


Benar saja, Maria menguping percakapan keduanya yang tidak bisa diabaikan olehnya.


“Para pahlawan pergi untuk mengalahkan naga. Terutama wanita itu, Bellatrix yang kekuatannya lebih tidak masuk akal dari yang lainnya.”


“Seperti yang diharapkan dari ibunda. Dengan ini kita bisa menjalankan rencana tanpa terganggu.”


“Fu fu, kamu harus ingat bahwa ibunda yang akan bermain dengannya lebih dulu. Tentunya kamu boleh melakukannya, dia akan menjadi boneka yang bisa kita lakukan apapun sesuka hati. Seperti seekor anjing yang tak bisa hidup tanpa kita.”


“Ya, aku sudah tidak sabar menunggu itu, ibunda. Dengan perginya para pahlawan maka tidak ada yang bisa menghentikan rencana ini!”


Maria mendengar semua itu, dari awal sampai akhir. Dan, ada beberapa hal lainnya yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentunya, Maria begitu terguncang hingga menutup mulut dengan tangannya.


‘Apa yang mereka berdua rencanakan? Sesuatu seperti itu … bagaimana mungkin?!’


Itu adalah hal yang buruk untuk direncanakan oleh seorang ratu dan putri dari kerajaan ini. Bahkan Maria sendiri tidak percaya mendengarnya dari kedua orang itu secara langsung.


‘Aku tak bisa mengabaikannya, harus aku lakukan sesuatu untuk ini!’


Maria berniat pergi namun tidak sengaja dia menabrak vas di dekatnya dan menghancurkannya. Bunyi keramik yang pecah menggema dengan kuat, menyebabkan suara bising tak terelakkan.


“Siapa di sana?!” ujar Eleanor yang segera terkesiap.


“Tampaknya seseorang menguping,” ujar Elizabeth. “Tunjukkan dirimu atau aku akan menggunakan kekerasan!” Elizabeth mengulurkan kipas lipatnya dan menggunakan sihir.


Maria mulai terpojok saat Elizabeth dan Eleanor mulai melangkah ke arahnya. Disaat seperti ini tidaklah berguna berpura-pura menjadi kucing atau apapun.


‘Apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin berpura-pura tidak mendengar apapun.’


Kemungkinan besar tidak ada pilihan lain yang bisa Maria ambil. Dia merasa harus meninggalkan beberapa hal demi selamat dari sini.


‘Sial buat apa aku ragu? Aku harus segera melarikan diri dari sini karena Aludra dalam bahaya!’


Sesuatu yang Maria dengar berkaitan dengan Aludra, meski tidak jelas apa itu namun Maria tahu bahwa itu berkaitan dengan Aludra. Satu hal yang pasti:


Jurang Tanpa Dasar tidak akan pernah membawa Aludra pulang ke dunianya.


***


“Jika sampai ada yang mendengarnya bagaimana?” tanya Eleanor dengan khawatir.


“Tentu saja kita harus membungkamnya dengan cara apapun!” ujar Elizabeth dengan sedikit marah. “Satu atau dua pekerja hilang tidak akan menimbulkan keributan.”


Eleanor hanya mengangguk, meski ibunya terlihat tidak khawatir di permukaan namun Eleanor tahu bahwa ibunya jelas terguncang.


Itu karena rencana mereka berdua bukan sesuatu yang boleh diketahui siapapun termasuk ayahnya. Jika seseorang mengetahuinya dan membocorkannya maka itu adalah akhir.


Meski tak sampai mengakhiri nyawa mereka, tetapi lain halnya dengan reputasi juga rumor buruk.


“Aku katakan sekali lagi, siapa di sana?” tanya Elizabeth. “Jangan buat aku memaksamu!”


Elizabeth melemparkannya sihir es yang segera membekukan dinding tempat di mana suara keras sebelumnya datang. Serangannya sengaja dibuat meleset untuk menggertak.


Seperti sebelumnya tidak ada apapun yang menjawab ataupun bertindak. Sampai keduanya hampir mencapai tempat tersebut dan Eleanor melihat bayangan bergerak.


Tak hanya Eleanor namun Elizabeth juga melihat hal yang sama.


“Kamu memaksaku bertindak!” ujar Elizabeth menyiapkan sihirnya.


“Spider Wire!” suara orang melafalkan sihirnya.


Saat itu juga benang hitam yang tampak terbuat dari kawat terlempar dan lekas melilit keduanya dengan cekatan.


“Hmm?!” Eleanor mencoba berteriak namun tak bisa lantaran badan sampai mulutnya ikut terikat.


Dia melihat ibunya yang mulai membekukan kawat untuk menghancurkannya. Eleanor bisa saja menggunakan sihirnya namun itu berbahaya dan akan melukai dirinya sendiri.


‘Berbeda dengan ibu, sihirku adalah api. Jika aku melelehkan kawat ini, maka tubuhku juga akan terkena panasnya.’


Seseorang bisa tahan panas dari sihir yang dikeluarkannya, tetapi lain halnya jika itu sesuatu yang berasal dari benda lainnya. Contohnya seperti besi yang meleleh karena serangannya.


Tak butuh waktu lama untuk Elizabeth berhasil menghancurkannya kawat tersebut, dia terlihat ingin mengejar si pelaku namun percuma. Eleanor bisa melihat bayangan seseorang pergi melompat melalui dinding dan menuju keluar.


Elizabeth kemudian segera menghancurkan kawat di tubuh Eleanor dengan mudah.


“Aku tak sempat melihatnya … apa dia seorang penyusup?” gumam Eleanor.


“Entahlah namun prajurit tidak begitu bodoh meloloskan tikus. Jika saja tidak ada keributan apapun setelah ini, maka dia salah satu pekerja kita,” ujar Elizabeth dengan wajah jengkel.


Eleanor sedikit banyak mengerti tentang maksud Elizabeth. Jika saja tidak ada kekacauan karena adanya penyusupan, maka bisa jadi orang yang menguping mereka adalah pekerja istana.


“Kemungkinan dia adalah seorang pelayan ataupun prajurit,” ujar Eleanor. “Haruskah kita memeriksanya sekarang, ibunda?”


“Tidak perlu,” ujar Elizabeth. “Hanya ada tiga pilihan yang bisa diambilnya jika dia adalah pegawai istana ini.”


Elizabeth menjelaskan bahwa kemungkinan pertama adalah si penguping akan melarikan diri dari kerajaan pada pagi hari nanti. Kemungkinan kedua adalah menyebarkan apa yang didengarnya namun hal itu takkan memberikan dampak yang signifikan.


“Dan, terakhir adalah dia tetap diam sampai akhir karena sadar akan posisinya.”


Jika ada bawahan membicarakan hal yang buruk tentang majikannya maka mereka akan mendapat hukuman berat, paling buruk adalah berakhir di tiang gantung.


“Ibunda mungkin benar,” guman Eleanor, “Seorang bawahan tidak akan bisa melakukan apapun.”