The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Prelude/Arc 1 — Coming Home (End)



Aludra bangun saat pagi hari tiba. Kantung matanya tampak menghitam meski tidak bergadang. Wajahnya tampak seperti seseorang yang dirancang untuk tak mampu berekspresi.


Depresi, Aludra mengalami depresi dan mungkin keputusasaan di waktu yang sama.


Hatinya sulit merasakan kedamaian, bahkan jika berusaha terlihat baik-baik saja, Aludra tetap tak bisa menjadi biasa saja. Putus asa bukan sesuatu yang mudah hilang begitu saja.


“Aku hanya ingin kembali.”


Sekali lagi air mata mengalir. Memang tidak banyak karena mungkin dia telah menghabiskan cukup banyak, namun sedikit air mata itu jauh lebih menyakitkan daripada yang lainnya.


Tidak ada keinginan atau tujuan yang ingin Aludra capai di dunia ini, dia hanya ingin kembali ke bumi. Selain dari itu Aludra tidak membutuhkannya.


Melihat piring di dekatnya, Aludra lekas menjatuhkannya, membiarkannya hancur menjadi beberapa kepingan. Dia kemudian mengambil satu pecahan piring dan dengan kedua tangannya mengarahkan tepat ke lehernya.


Ujung pecahan piring sedikit melukai lehernya, dengan tangan gemetarnya Aludra memantapkan tekad.


“Seandainya saja … seandainya saja aku tak pernah hadir di dunia ini … tak pernah menolong Bellatrix, ini … tidak akan pernah—”


“SEMUA INI TAKKAN ADA!”


Aludra berniat menusuk lehernya dengan kuat, tetapi segera seseorang berlari cepat ke arahnya dan menahannya.


“Hentikan ini! Kakak, tolong cepat ke sini!”


Bocah laki-laki yang pernah Aludra temui di guild petualang saat pertama kali berburu dengan Bellatrix. Bocah bernama Takt menghentikan upayanya.


“Jangan ganggu aku! Aku akan mati dan barangkali bisa kembali ke duniaku! Tak ada siapapun berhak menghentikanku!”


Melalui suara bising dan panggilan Takt, Maria kemudian datang dengan tergesa-gesa.


“Aludra? Apa yang coba kamu lakukan?!” Maria ikut andil bersama Takt untuk menghentikan percobaan bunuh diri Aludra.


Meski begitu Aludra tidaklah lemah, dia melawan sekuat mungkin dan tak kalah tekad untuk membunuh dirinya sendiri.


“Mati takkan membuatmu kembali ke duniamu, paman! Tolong hentikan ini!” teriak Takt saat memegang pecahan piring dengan tangannya, menyebabkan darah mengalir.


“Kamu tahu apa? Tidak ada jaminan ini tidak membawaku pulang!” Aludra menarik napas panjang dan mengerahkan seluruh kekuatannya. “LEPASKAN AKU!”


Angin kencang seakan-akan berhembus kuat di dalam ruangan tertutup itu. Maria mempertahankan posisinya sebelum mengeluarkan benang kawat dari sakunya.


“Jangan keras kepala! Black Snares!”


Kedua tangan Aludra dililit oleh kawat yang mulai membentuk rantai, menjerat tangan dan mencegahnya bergerak. Takt mengambil kesempatan itu untuk meraih pecahan piringnya.


Di sisi lain Maria segera menarik kerah baju Aludra, berkaca-kaca dan menyampaikan kemarahan.


“Jika kamu memiliki keberanian untuk mati, sebaiknya gunakan keberanian itu untuk melawan takdir ini! Lihatlah sekelilingmu, bahkan jika kamu tak bisa kembali pulang, aku akan berusaha menjadi TEMPATMU UNTUK PULANG!”


“Disaat kamu mati maka segalanya akan berakhir. Kamu hanya akan mati untuk ditertawakan oleh dunia yang membuangmu! Yang memberi penderitaan ini!”


Aludra terdiam oleh perkataan Maria yang sedemikian rupa menyampaikan perasaannya.


Jika tidak bisa menemukan tempat untuk pulang, mengapa tidak membuat tempat yang baru?


Itu amat sederhana sebagai jawaban, tetapi Aludra sangat paham bahwa realitanya tidak semudah jawabannya.


‘Jika kau berani untuk mati, sebaiknya gunakan keberanian itu untuk mencari jalan kembali!’


Aludra menjadikan kematian sebagai pilihan terakhirnya dengan harapan dirinya akan kembali— itulah yang digunakannya untuk membohongi diri sendiri.


“Tak ada jalan untuk kembali,” ujar Aludra, sudah sejak lama dia tahu jawabannya namun menolak mengakuinya.


“Ya,” ujar Maria saat mulai memeluk Aludra. “Meski tak bisa kembali ke duniamu, kamu selalu bisa kembali ke sini. Aku dan Takt akan senantiasa menyambutmu!”


Aludra tidak tahu sudah berapa kali, atau berapa banyak dia menangis karena keputusasaan ini. Dan, di tengah keputusasaannya tersebut, dalam linangan air matanya, sebuah pemikiran muncul dalam dirinya.


‘Dunia ini yang menangkapku tanpa pernah membiarkan untuk pergi. Bermain-main denganku, tertawa atas penderitaanku. Jika aku memilih binasa dan mengakhirinya, pada akhirnya dunia hanya akan menertawakan.’


Yang salah bukanlah Bellatrix, wanita yang menjadi alasan Aludra ikut terbawa ke dunia ini. Bukan juga salah orang-orang yang melakukan pemanggilan para pahlawan, tetapi yang salah adalah dunia ini.


Dunia ini yang menyebabkan segalanya terjadi. Pemanggilan, perang dan banyak hal lainnya. Hanya dunia ini saja yang tidak bisa dimaafkan oleh Aludra. Oleh karena itu, Aludra tahu apa yang harus dilakukannya.


***


Sejak insiden di Jurang Tanpa Dasar sudah satu tahun berlalu, total dua tahun sejak Aludra hidup di dunia lain ini.


Dia menjalani hidupnya dengan damai bersama Takt dan Maria. Takt bekerja di guild petualang sementara Maria menjadi guru tutor bagi petualang pemula.


Di sisi lain Aludra hanya diam di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah juga belajar beberapa hal. Selama tinggal bersama Maria dan Takt, Aludra menyadari jika Maria memilih perasaan yang kuat kepadanya.


Takt juga menganggap Aludra sebagai kakak laki-lakinya sendiri, meski Aludra belum berencana menanggapi perasaan Maria.


Meski sudah setahun tinggal bersama, Aludra tidak melakukan pendekatan apapun kepada Maria. Bahkan tak jarang keduanya hanya berduaan di rumah lantaran Takt menginap di guild petualang, tetapi tidak ada apapun yang terjadi.


Selain membersihkan rumah, Aludra hanya menghabiskan waktunya untuk belajar seperti yang dia lakukan saat di istana.


“Alkimia!” lafal Aludra, segera mengubah batu hitam menjadi berbentuk persegi, seukuran genggaman tangan kanannya.


“Aku mulai menguasainya. Ada gunanya aku mempelajari hal ini, meski membutuhkan bantuan Mana dari Magicstone.”


Magicstone adalah sebuah batu berbentuk kristal yang memiliki kandungan Mana di dalamnya. Para petualang dan ahli sihir biasa memilikinya sebagai cadangan Mana seandainya milik mereka habis.


Maria membawakannya beberapa dari itu. Meski tidak mudah bagi Aludra belajar menyerap Mana di dalamnya, tetapi sekarang dia telah menguasainya. Bahkan berkat itu Aludra bisa menggunakan sihir sekarang meski hanya terbatas pada Alkimia saja.


“Sihir Alkimia, memungkinkanku mengubah suatu bentuk benda padat menjadi bentuk lainnya. Contohnya batu ditanganku ini, dari awalnya hanya batu kali bundar bisa kuubah menjadi persegi.”


Bagi penduduk dunia ini, Alkimia bukanlah sesuatu yang hebat; hanya mainan kuno yang membosankan. Namun berbeda bagi Aludra yang memiliki pengetahuan dari bumi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan Alkimia.


Dengan kekuatannya Aludra segera meleburkan batu di tangan kanannya menjadi debu dengan sedikit emosi.


“Aku belum sepenuhnya menyerah untuk pulang meski tahu itu telah jadi jalan yang mustahil. Meski begitu aku takkan mati.”


Dia tidak bisa mati sekarang, tidak sampai dunia ini mendengar jeritan hatinya.


Aludra tersenyum lebar dan mulai cekikikan, raut wajah yang tidak pernah dia buat sebelumnya tercipta, “Tunggulah aku. Pembalasanku akan dimulai!”


***


Prelude (Arc I) — Coming Home — End.