
Iris menyiapkan sihir di kedua tangannya, cahaya ungu memutari pergelangan tangannya dan selendang miliknya terlihat bergerak seperti ular. Selendang ungu itu memberikan kesan seperti hidup.
“Siapa di sana?!” teriak Iris ke sumber suara yang mendekat.
Terkesiap. Semua orang memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Iris. Dari kejauhan mereka bisa melihat bayangan mendekat. Tidak jelas apa bentuknya namun itu seperti seseorang yang berjalan.
Sampai tiba kabut menyingkir dan memperlihatkan sosok yang mendekati mereka.
“Ini aku ... jangan serang!”
Suara yang akrab, gadis Cage muncul dari kedalaman kabut. Dia tidak sendirian, ada seorang pria yang dia bawa dengan memapahnya. Pria itu tampak terluka mengerikan, mata kirinya berlubang sementara yang lainnya dihancurkan.
Itu luka yang mengerikan karena tak lagi mungkin untuk disembuhkan bahkan dengan potion tingkat tinggi.
Iris lekas menghampirinya dengan khawatir, “Healer cepat kemari!”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Iris.
Cage yang tampak terengah-engah mulai duduk, dia memberikan penjelasan setelah mengambil beberapa napas.
“Aku ... saat aku hendak tidur, ada suara yang menggangguku.”
Cage menjelaskan bahwa ada suara yang dia pikir dibuat oleh orang yang sedang berpatroli. Namun selain suara tersebut dia juga merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Pada akhirnya dia mencoba untuk memeriksa dan menemukan sebuah tangan besar menarik orang yang sedang berjaga.
“Aku tidak tahu apa itu ... saat itu aku tak bisa melakukan apa-apa selain mengejarnya. Tepat saat aku berniat meminta bantuan, tangan itu menangkapku bersama orang lainnya.”
Itu cerita yang memilukan. Aludra menatap tajam Cage dari kejauhan dan sedikit berbisik kepada Maria.
“Aku tahu ... ada yang aneh darinya,” ujar Maria, mengkonfirmasi kecurigaan Aludra. “Tampaknya pahlawan kampak juga sadar.”
Aludra menatap Mintaka, meski dia memiliki wajah datar namun alisnya melipat dalam yang menunjukkan dia curiga. Mintaka jelas tidak bodoh terutama dengan adanya gelar hebat di samping namanya.
‘Cerita sebenarnya mungkin tidak demikian.’
Jika sesuatu sedang terjadi setidaknya, bahkan jika tidak bisa berteriak, Cage bisa membuat keributan untuk memberi sinyal bagi Aludra dan yang lainnya.
Namun aneh karena dia tidak melakukan hal demikian. Toh, besar kemungkinan hanya orang yang berjaga saja menjadi korban.
‘Apa ada kemungkinan dia sedang diincar? Toh, dia seorang pemandu.’
Aludra bisa mengingat suara dan hawa dingin yang seakan-akan menatapku di tempat ini. Jika makhluk yang mendiami tempat ini mampu melakukan sejauh itu, besar kemungkinan dia mendengar informasi yang diucapkan.
Tanpa pernah Aludra sadari, Mintaka memiliki pemikiran yang nyaris serupa dengannya.
‘Apakah bajingan ini mengetahui bahwa Cage seorang pemandu? Dia berusaha menyingkirkan pemandu agar kelompok penaklukan tersesat di dalam kabut.’
Mintaka kemudian menggelengkan kepalanya, menolak kesimpulan tersebut.
“Itu tidak masuk akal. Jika aku berada di posisinya, demi mencegah bahaya, mengeliminasi yang terkuat haruslah menjadi prioritas,” gumam Mintaka tanpa didengar siapapun.
Bahkan jika mereka kehilangan pemandu, Mintaka takkan membiarkan yang lainnya tersesat. Dia punya teleportasi yang memungkinkannya membawa kelompok ini secara berkala.
“Maaf ... aku hanya berhasil menyelamatkan satu dengan kondisi menyedihkan.”
“Kamu selamat sudah hal yang cukup disyukuri. Kita tak dapat kehilangan pemandu dan lebih banyak orang saat ini.” Mintaka dengan tenang menyampaikan situasi, dia menatap orang-orang lainnya yang khawatir dan resah.
“Pasang tenda dengan jarak yang sangat dekat, perluas area pengawasan dan berusaha tidak jauh dariku. Aku akan membantu mengawasi kalau saja ada serangan lanjutan.”
Setelah mendengar bahwa Mintaka sendiri akan membantu berjaga tampaknya semua orang sedikit lega. Mereka masih khawatir namun apa boleh buat.
Mintaka kemudian melihat orang yang berhasil diselamatkan Cage. Kedua matanya dihancurkan dan tak mungkin disembuhkan. Luka yang disebabkan tampak berbeda.
“Mata kirinya hilang dengan luka yang bagus, sementara yang lainnya dibuat dengan jelek. Ini ... jelas sebuah pisau yang ditunjukkan menghancurkan matanya dengan tergesa-gesa.”
Dari dekat tampak lebih buruk. Tidak hanya mata, tetapi tenggorokannya juga memiliki luka yang cukup parah untuk membuatnya tak bisa menjerit. Wajar jika mereka sama sekali tak mendengar jeritan ataupun rintihan darinya. Hanya ada erangan kecil keluar darinya.
Meski terlihat menyedihkan namun Mintaka menemukan keganjilan. Dan, keganjilan tersebut diperjelas oleh seseorang yang datang mendekatinya.
“Itu terlalu lembut untuk monster aneh sebesar itu,” ujar Aludra, memandang Cage dan pria yang diselamatkannya secara bergantian. “Abaikan bagian mata, potongan di tenggorokan terlalu presisi seakan sengaja ingin membuatnya tak bersuara.”
Aludra adalah orang terpelajar dari bumi. Bahkan jika dia tak pernah menjadi dokter ataupun perawat, setidaknya Aludra memiliki pengetahuan tentang hal itu. Dia bisa membedakan mana yang benar-benar luka dan mana yang dibuat-buat.
“Aku setuju. Umumnya sulit memotong pita suaranya tanpa membunuh. Aku tak yakin tangan besar itu melakukan sesuatu tak masuk akal seperti ini,” ujar Maria.
Iris menatap mereka dalam waktu lama sebelum dapat memastikan siapa mereka, “Sudah kuduga kamu tuan Amatsumi dan nona Maria. Aku mengenali suara itu.”
Mintaka mengernyitkan alisnya, ‘Amatsumi?’
Dia merasa familiar dengan nama yang terasa mirip dengan yang ada di bumi. Cara penamaan tersebut biasa ada di bumi, Jepang tepatnya. Namun Mintaka tidak mencoba berdebat soal itu.
“Kapan kamu mengenal kedua orang ini?” Mintaka mengerutkan alisnya dengan tidak senang kepada Iris. “Aku tidak berharap kamu berteman dengan kecoa kotor ini.”
Iris adalah calon istrinya, sudah sewajarnya dia perlu tahu sesuatu seperti ini. Selain itu sangat mencurigakan seorang bangsawan sepertinya mengenal petualang rendahan.
“Mereka adalah yang menyelamatkanku dan ayah dari para bandit,” Iris dengan cepat menjelaskan.
Aludra yang menyaksikan itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Dia bisa melihat Mintaka bergerak ke arahnya, dia benar-benar tak peduli dengan Cage dan orang sekarat itu.
“Amatsumi, benar? Aku berterima kasih karena kamu menyelamatkan calon istriku. Aku harap kamu sadar akan posisimu, kan?” tanya Mintaka, tersenyum dingin kepada Aludra.
Aludra diam-diam mengumpat, ‘Meski pahlawan dia tetap seorang bajingan!’
“... Ya, tuan pahlawan. Saya teramat sadar dan tak pernah memiliki niat macam-macam terutama dengan wajah yang cacat dan mengerikan ini.”
Aludra berusaha menyampaikan bahwa wajahnya buruk sehingga ia menutupinya. Dengan mengatakan itu Mintaka tidak akan bertanya-tanya soal topeng.
“Terlepas dari itu, mari kita kembali ke topik, tuanku. Luka yang diterima petualang itu terlalu lembut untuk ukuran monster sebesar tangan aneh itu,” Aludra menjelaskan demikian.
Maria yang telah menelan kemarahannya bulat-bulat juga menambahkan, “Sebagai petualang, saya yakin semakin kuat monster maka semakin mustahil seseorang dibiarkan melarikan diri hidup-hidup.”
Tangan tengkorak hitam, belum dipastikan apa itu. Namun diyakini sosok tersebut sangat kuat karena bahkan Mintaka butuh usaha lebih untuk membunuhnya.
Tidak mungkin makhluk seperti itu membiarkan mangsanya lolos begitu saja.
“Kamu sudah mendengarnya, kan? Sekarang jelaskan yang sebenarnya terjadi padaku, Cage.” Mintaka beralih menuju Cage, dia telah memegang erat kampaknya.