
“Di mana kau? Jangan bersembunyi dariku dan cepat keluar!”
Aludra hanya diam tanpa bergerak sedikitpun, bahkan dia menahan napasnya untuk menghindari persembunyiannya terungkap.
Para prajurit mulai berdatangan dan juga mencari, tetapi pada akhirnya mereka menyerah melakukannya karena tak ada hasil apapun. Untuk berjaga-jaga Aludra diam selama beberapa menit setelah kepergian Eleanor dan rombongannya.
Dia akhirnya keluar dari persembunyiannya—tidak. Sejak awal Aludra tidak benar-benar bersembunyi. Dia berada tepat di pohon yang ada di samping Eleanor sebelumnya.
Bukannya Eleanor bodoh tak menemukannya di jarak sedekat itu, tetapi karena Aludra menggunakan trik khusus.
“Ini lebih dari yang aku minta. Tak kusangka Asland memberikan jubah yang mampu membuat penggunanya menghilang.”
Sebelumnya Aludra menemukan catatan kecil dari jubah tersebut. Pada kesepakatannya Aludra meminta jubah yang tahan panas maupun dingin namun Asland memberikan jubah yang lain.
Jubah yang saat ini Aludra gunakan tak hanya mampu bertahan dari panas maupun dingin, tetapi mampu membuat penggunanya menghilang selama beberapa menit.
Selain itu jubahnya juga memiliki ketahanan yang setara dengan armor pelindung. Itu adalah harta berharga.
Asland juga meninggalkan catatan bahwa itu untuk rasa terima kasihnya karena telah membuat pemikirannya lebih luas.
“Aku hanya mengatakan bahwa membuat kekacauan kecil saja tak berguna dan memberikannya beberapa saran. Tampaknya itu mengubah banyak hal darinya,” gumam Aludra.
Aludra sejujurnya tidak terlalu peduli dengan Spear Rebels maupun demi-human, dia hanya peduli pada dirinya sendiri dan tujuannya.
Meski begitu bukan kerugian untuknya jika Asland semakin memperluas kekuasaannya. Toh, keinginan Aludra saat ini adalah menjatuhkan kekacauan pada dunia. Tindakan Asland di masa depan mungkin akan membantu mewujudkannya.
“Aku harap bisa menggunakannya di masa depan,” gumam Aludra. “Sudah waktunya aku kembali.”
Aludra telah memastikan bahwa Asland menepati semua yang mereka sepakati. Bahkan dia sampai repot-repot meletakkan mayat di pedati untuk membuatnya terlihat seperti pedagang yang terbunuh.
Untuk berjaga-jaga Aludra meletakkan barang penting di dekat air terjun sebelumnya dan oleh karena itu dia bertemu Eleanor. Beruntung bahwa dia sudah meletakkan semuanya dan dalam perjalanan kembali sehingga tak ada masalah berarti.
“Pertemuan kita memang sudah ditakdirkan, Eleanor. Namun, sayangnya itu tidak akan terjadi lebih cepat.”
Setibanya Aludra di tempat yang sudah direncanakannya sejak awal, dia diam selama beberapa waktu sebelum akhirnya … memukul wajahnya sendiri sekuat tenaga.
Dibutuhkan nyali yang luar biasa untuk seseorang melukai dirinya sendiri. Orang lain mungkin akan menganggapnya gila jika melihatnya.
Wajahnya memar namun Aludra tak berhenti dan mulai memukul di bagian tubuhnya yang lain sampai babak belur sendiri. Di akhir dia menggores tubuh dan pakaiannya dengan sebuah belati.
“Ini … akan jadi pelengkap.”
“HAARGH!”
Aludra berteriak dengan keras dan menghajar wajahnya sekali lagi sampai dirinya tak sadarkan diri berkat pukulannya. Aludra jatuh terkapar lemah berkat dirinya sendiri.
***
Di tempat yang cukup jauh dari kota Dart, Maria bersama petualang pemula sedang berburu goblin.
Seperti biasa, Maria akan mengajari para pemula untuk berburu goblin. Bukan hanya dengan alasan bahwa goblin adalah yang terlemah.
“Kalian sudah mengerti? Saat melawan monster yang hidup berkelompok seperti goblin jangan sampai melonggarkan kewaspadaan.”
Maria menjelaskan bahwa monster yang hidup berkelompok memiliki kemampuan untuk menyergap mangsanya. Ada beberapa pola umum yang biasa dilakukan goblin terutamanya.
“Meskipun mereka lemah namun mereka juga tidak bodoh. Menggunakan rekannya sebagai umpan dan beberapa menyergap dari belakang. Ini sesuatu yang tidak aku ketahui,” ujar seorang petualang muda.
Bahkan monster seperti goblin memiliki banyak trik licik untuk bertahan hidup lantas monster di tingkatan selanjutnya lebih merepotkan. Untuk alasan itu guild petualang membuka kursus seperti ini demi menghindari tingginya tingkat kematian.
“Goblin memang tidak pintar namun bukan berarti tidak punya otak. Mereka selalu menggunakan trik sederhana namun jika kalian gagal menyadarinya maka disaat itu juga kematian sudah dipastikan.”
Terakhir kali Maria adalah petualang dengan lencana emas, seandainya dia tidak berhenti mungkin saja tingkatannya lebih tinggi lagi. Pengalamannya melawan monster tidak bisa dianggap remeh sekalipun dia masih muda.
“Sekalipun monster di hadapan kalian nantinya lebih lemah, perlu dicatat untuk tetap waspada. Kita tidak pernah tahu apa yang akan mereka lakukan. Jika sesuatu terjadi, diperlukan mengambil sikap tetap tenang,” ujar Maria selagi tersenyum. “Selama kalian mengingat itu, aku yakin kalian akan baik saja kedepannya.”
“Terima kasih banyak atas pelajaran berharganya!” serempak mereka berterima kasih.
“Kalau begitu aku kembali lebih dulu. Kalian sebaiknya juga kembali setelah mengambil bagian goblin yang bisa diuangkan.”
Tanpa kata lebih banyak Maria bergegas untuk kembali ke kota Dart. Meski mengkhawatirkan meninggalkan para pemula itu namun Maria lebih khawatir tentang hal lain.
‘Firasatku tidak enak dalam waktu yang lama. Aku harap tidak terjadi apapun.’
Sejak berangkat untuk melatih para pemula, Maria merasa gelisah di hatinya. Awalnya dia mengabaikannya, tetapi setelah hampir dua jam sampai saat ini gejolaknya tidak terhentikan.
Maria tak bisa menahannya lagi dan akhirnya terburu-buru menuju kota. Awalnya dia hanya berlari kecil namun kian lama langkah menjadi sangat cepat.
Dari kejauhan dia dapat melihat asap hitam mengepul di udara. Padahal seharusnya tidak ada peringatan atau hari spesial saat ini sehingga aneh menemukan asap hitam tersebut.
“Itu jumlah yang besar seperti … sesuatu terbakar dalam jumlah besar,” gumam Maria.
Hatinya semakin bergejolak di setiap langkahnya. Hal itu terus diperburuk saat Maria menemukan beberapa jejak dan goresan cakar di pohon dalam jumlah besar.
Ada banyak skenario yang bisa terpikirkan olehnya namun hanya sedikit yang paling mungkin terjadi.
“Apa mungkin gerombolan monster menyerang kota? Bisa juga seekor naga campuran?”
Jika itu gerombolan monster maka aneh seandainya Maria tidak menyadarinya atau setidaknya guild tak memberitahukan informasi lebih awal.
Jika itu naga maka masih dimungkinkan. Di dunia ini ada dua jenis naga yakni, darah murni dan campuran.
Maria tidak tahu tepatnya kapan namun sejak peperangan para naga berakhir mereka melakukan langkah yang terbilang aneh. Untuk mempertahankan eksistensi ras naga, mereka mulai berkawin silang dengan monster lain demi menghasilkan keturunan.
Monster yang lahir dari perkawinan silang tersebut adalah naga campuran. Mereka umumnya sangat liar dan tidak sebijaksana naga murni.
Alasan khusus di mana naga perlu melakukannya adalah naga memerlukan waktu yang tak sedikit untuk melahirkan keturunan. Tidak seperti monster lain pada umumnya, naga amat berbeda mengingat mereka juga berada di puncak kasta monster.
“Namun sulit membayangkan naga menyerang kota. Jika begitu … mungkinkah demi-human?”
Tidak ada yang lebih mungkin selain demi-human menyerang kota. Jika itu yang terjadi maka ada banyak alasan bagi Maria untuk bergegas secepatnya.
Hal yang dikhawatirkan Maria adalah Takt dan Aludra. Keduanya memang bisa bela diri namun demi-human bukan sesuatu yang bisa mereka tangani.
Bagus jika keduanya bisa mengungsi dengan aman namun Maria takkan tenang sebelum memastikannya sendiri.
“Baik-baik sajalah demi aku.” Maria memohon dari lubuk hati terdalam.
Dia tak masalah jika kehilangan rumah dan harta bendanya asalkan jangan kedua orang itu. Rumah bisa dibangun kembali, harta bisa dicari sebanyak mungkin namun nyawa tak bisa kembali.
Baginya Aludra dan Takt adalah harta yang tak bisa digantikan keberadaannya. Sekalipun ada banyak manusia di dunia ini, tidak akan ada yang seperti mereka. Mereka tak tergantikan. Takkan bisa digantikan.
Langkah demi langkah diraihnya demi menemui mereka, Maria meneteskan keringat karena berlari dengan cepat. Napasnya kembang-kempis dengan cepat dan jantungnya memompa oksigen dengan cepat; mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Meski begitu tak ada rasa sakit atau lelah yang dirasakannya lantaran kekhawatirannya mengalahkan itu semua.
Setelah berjuang menuju kota Dart secepat yang dia bisa melihat asap hitam dari sesuatu yang terbakar. Sebelum benar-benar berangkat ke kota Maria bersembunyi dan memantau keadaan.
Maria menyiapkan dua pisau kecil, dia mengaitkan gagangnya dengan kawat miliknya dan menggulungnya di tangannya.
Sesampainya di gerbang kota, Maria tercengang dan tak mampu bergerak. Bukan karena ada sihir atau perangkap, tetapi pemandangan di depannya luar biasa. Saking luar biasanya dia tak mampu berkata-kata maupun bergerak.
Bagaimana tidak? Hal pertama yang dilihatnya adalah api membumihanguskan kota Dart bersama mayat di dalamnya.