The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Jebakan Besar (Kesalahan Chapter)



“Penawaran? Tak ada hal bagus yang akan kamu buat. Kamu bisa menyampaikan apapun itu padaku, aku akan menyampaikan pada pemimpin.”


Meski dia meremehkan namun Aludra yakin sesungguhnya gadis itu tertarik. Hanya saja Aludra takkan semudah itu menurutinya.


“Sayangnya ini sesuatu yang hanya bisa aku katakan pada pemimpin, bukan bawahan sepertimu.”


Aludra hanya ingin bertemu pemimpin mereka. Dia tertarik untuk mengetahui orang seperti apa pemimpinnya itu. Meski tampaknya tidak akan semudah itu untuk bertemu.


“Itu akan sulit. Bisa saja kamu menipu dan berniat melakukan sesuatu kepada ketua.”


Itu wajar untuk berwaspada akan segala hal. Mereka adalah kelompok yang dicari banyak orang, membiarkan ketua mereka diketahui keberadaannya sama saja dengan bunuh diri.


“Ini juga sulit bagiku. Datang ke markas musuh adalah tindakan bunuh diri. Tidak kamu berpikir bahwa aku berani mengambil semua risiko itu?”


Risiko lebih besar di pihak Aludra lantaran nyawanya bisa saja melayang kapanpun.


“Bisa saja kamu memiliki trik lain di lengan bajumu. Musuh yang tidak diketahui adalah lawan merepotkan.”


“Namun itu tidak sebanding dengan apa yang akan aku tawarkan. Percayalah, bantuanku lebih berguna daripada seratus orang.”


Aludra berusaha membuat dirinya terlihat tinggi dan penting meski sebenarnya tidak demikian. Tentu, dalam hal fisik dia takkan pernah setara dengan seratus orang.


Paling banyak Aludra hanya bisa setara dua atau tiga orang. Selebihnya adalah mustahil untuk dirinya saat ini.


Aludra menyaksikan gadis itu diam mematung meski tatapan tajam itu seakan-akan mampu membunuhnya. Meski begitu Aludra menantikannya, harapannya adalah jawaban yang ia inginkan dikeluarkan.


“... Apa jaminan bahwa kamu memiliki sesuatu yang berguna untuk kami?”


“Maksudmu?” tanya Aludra, dia cukup tidak memahami apa yang coba disampaikan wanita ini.


“Aku perlu mengetahui apakah tawaranmu itu benar-benar berguna atau tidak. Bahkan jika kamu memiliki informasi penting, seandainya itu tidak berguna bagi kami maka bodoh membawamu bersamaku.”


Aludra memahami bahwa gadis itu membutuhkan bukti bahwa Aludra tak hanya beromong kosong. Dia menginginkan sedikit petunjuk tentang apa yang Aludra akan sampaikan.


Meski bukan hal yang sulit namun Aludra harus berpikir keras untuk menyampaikannya secara transparan.


‘Tampaknya benar dia tidak semuda tampilannya.’


Pemikiran yang tajam dan penuh kehati-hatian tersebut tidak akan dimiliki oleh orang yang belum merasakan pasang surut laut.


“Aku tahu betul sesuatu yang kalian tidak ketahui. Aku mengerti betul menyelesaikan masalah yang tidak bisa kalian selesaikan. Aku dapat melihat jelas sesuatu yang tidak bisa kalian lihat.”


Cara yang aneh untuk menyampaikannya namun Aludra yakin itu jawaban terbaik yang bisa dia buat. Tak ada informasi penting, hanya meninggalkan kesan misterius dan rasa penasaran yang tinggi.


“Fu fu, hahahaha!” wanita itu tertawa keras. “Kamu sungguh tipe pria yang aku benci. Menjadi terlalu berhati-hati tidak akan membuatmu disukai gadis.”


“Tampaknya kamu bernasib sama denganku.”


“Fu fu, baiklah. Ikut aku. Akan aku pertemukan kamu dengan pemimpin," ujarnya berbalik dan mulai melangkah. “Panggil aku Niki.”


Niki mulai memimpin jalan, Aludra sedikit ragu untuk melangkah. Pertaruhan yang sesungguhnya baru akan terjadi sekarang, saat Aludra tiba di markas musuh.


Hidup dan matinya tergantung dari tawaran yang ia buat, akankah itu menarik atau tidak? Nyawanya akan segera ditentukan.


Meski begitu Aludra tak ragu, dia mengikuti Niki di belakang tanpa menurunkan kewaspadaannya.


Mereka berjalan ke tengah hutan dan mencapai tembok yang membatasi kota dengan hutan luar. Aludra menjadi waspada karena berpikir dirinya akan dilenyapkan, tetapi nyatanya tidak.


Niki menghentakkan kuat kakinya di sebuah tempat dan memunculkan terowongan bawah tanah. Aludra cukup terkejut bahwa demi-human telah menyiapkan sesuatu seperti itu.


Mereka pergi keluar hutan dan Aludra menemukan sebuah tenda di tengah hutan. Mungkin tenda ini yang dimaksud ketua guild. Meski begitu Aludra merasa aneh karena tak ada penjagaan apapun.


Bahkan dia tidak menemukan demi-human di manapun.


“Tentu saja karena pasukan kami berada di tempat lain,” ujar Niki, dengan acuh memasuki tenda. “Bersiaplah untuk bertemu ketua kami.”


Aludra menenggak air liurnya dan sedikit berkeringat dingin. Mulai dari titik ini akan menjadi pertaruhannya, antara hidup dan matinya.


‘Mulai dari titik ini … aku harus siap atas segala kemungkinan.’


***


Di kediaman megah tempat pemimpin kota, bangsawan Toria. Tempat yang penuh kemewahan, meski tak sebanding dengan istana namun ini tempat yang layak. Mulai dari lukisan para pendahulu hingga beberapa vas antik dan pedang menjadi interior dinding.


Para prajurit yang berkeliling setiap beberapa jam dan pelayan yang melakukan tugasnya.


“Apa anda belum menemukan hal yang anda cari, tuan putri?” tanya pria dengan janggut coklat, mata sipit dan rambut yang mulai berwarna putih.


Pria tua yang tubuhnya tampak bugar karena terlatih dengan baik. Meski sudah memasuki umur pensiunnya namun dia masih tampak perkasa.


Dia adalah bangsawan Toria. Gildartz Vrenzy Toria. Bangsawan sekaligus pemimpin kota Dart.


“Ini bukan hal yang mudah. Aku takkan repot-repot datang ke berbagai kota hanya untuk mencarinya,” ujar Eleanor selagi menyesal tehnya dengan anggun. “Sayangnya putramu itu tida cocok untukku.”


Eleanor berkeliaran ke berbagai kota bukan hanya untuk mencari penerjemah mimpi, tetapi juga seorang lelaki untuknya. Terlepas dari apakah itu pria untuk menjadi suami atau sekedar berhubungan saja, Eleanor berniat menemukan setidaknya satu.


“Ayahanda ingin aku memiliki seseorang untuk mendampingiku saat pernikahan kakak laki-lakiku.”


Pernikahan antara pangeran kerajaan Etherbelt dengan tuan putri kerajaan lain. Eleanor tahu bahwa pernikahan ini pasti berhubungan dengan politik, oleh karena itu dia perlu pasangan.


Selain menghindari lamaran, ini juga diperlukan untuk menjaga martabatnya. Di umur yang sekarang Eleanor sudah seharusnya menikah atau setidaknya bertunangan.


Jika kabar bahwa dia bahkan belum bertunangan maka itu akan menodai kehormatan Etherbelt.


“Ahaha, maafkan saya atas hal itu. Jika tidak mungkin dengan putra saya, apakah ada kriteria tertentu yang sesuai dengan selera anda, tuan putri? Barangkali saya bisa membantunya.”


Eleanor meletakkan cangkirnya dengan anggun dan tertunduk. Tatapan tersebut tampak menyimpan sedikit kesedihan.


‘Jika ada yang memenuhi kriteriaku, mungkin hanya pria itu.’


Pria yang telah mati satu tahun lalu karena melompat ke jurang, Aludra. Eleanor menyukai tipe pria sepertinya. Begitu keras kepala akan hal-hal yang dia pegang dan kekeh pada tujuannya. Tipe orang yang tidak berkhianat meski jatuh ke dalam keputusasaan.


Orang lemah dengan tekad yang begitu kuat, hanya seorang rendahan dengan tujuan yang begitu tinggi. Eleanor entah bagaimana tertarik dengannya. Dan, berkat hal itu pria yang memenuhi kualifikasinya sangatlah sedikit. Mungkin tak ada lagi.


‘Andaikan dia tak melompat saat itu. Aku takkan kesulitan seperti ini.’


Status sosial bisa diatasi, karena gelar pahlawan itu sendiri termasuk status yang setara bahkan lebih tinggi dari keluarga kerajaan.


“Huh, takkan ada pria manapun yang bisa memenuhi kriteriaku,” ujar Eleanor dengan apatis. “Lebih dari itu bagaimana langkahmu mempersiapkan diri untuk mengusir binatang menjijikkan itu?”


“Maksud anda pemberontak demi-human? Tidak perlu cemas, tuan putri. Saya sudah meningkatkan keamanan kota sehingga mereka takkan bisa macam-macam. Dan, guild petualang juga memulai penyelidikannya.”


Eleanor mengangguk puas akan hal tersebut. Hanya butuh hitungan waktu bagi markas pemberontak itu ditemukan.


Eleanor tersenyum puas dengan sombong, “Mereka pasti berpikir aku bodoh karena berkeliaran sembarangan. Tanpa pernah mereka sadari, bahwa aku menjebak mereka.”


Tentunya Eleanor tidak bodoh, dia tahu betul bahwa pergi dari istana adalah tindakan berbahaya. Meski begitu dia tetap melakukannya demi membersihkan sampah.


“Dengan ini kerajaan akan bersih dari sampah saat pernikahan kakakku tiba.”


Perangkap besar sudah disiapkan oleh Eleanor. Bahkan jika para demi-human yang memberontak menyerang, mereka takkan punya kesempatan menang.


note.


Sorry klo ada bagian yang ralat, typo karena gw belum edit. Mengapa? Tanyakan pada France:)