The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Festival Tanpa Kepala II



Kepala bangsawan, prajurit dan bahkan pelayan berterbangan. Aludra menatap itu dengan senyuman lebar.


Awalnya dia bukan psikopat sama sekali, bahkan melihat darah ayam yang disembelih akan membuatnya muntah.


Namun sejak datang ke dunia ini dan dikecewakan oleh realita, Aludra berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda.


“Kyaa!”


“Apa yang kalian lakukan, prajurit?! Cepat bunuh keparat itu!”


“Semuanya serang!”


Aludra menatap orang-orang itu dengan bosan dan menarik kekuatan dari kristal di tangannya. Dia mengalirkan Mana ke kakinya dan menggunakan alkimia.


Tanah di sekitarnya tiba-tiba jadi lembek dan menghisap orang-orang yang berusaha mendekatinya.


“Bergerak selangkah ataupun melakukan tindakan tak berguna maka orang udik di luar sana akan mengalami nasib yang sama dengan mereka!”


Aludra menunjuk kepala yang berserakan selagi mengelus rantai yang masih bertebaran di udara. Melihat itu, baik Raja, Orion bahkan Mintaka hanya bisa terdiam.


Ketiga orang itu berusaha melakukan sesuatu, tetapi bahkan mereka tak bisa berhenti terkejut. Sama juga halnya dengan pahlawan wanita yang menatapnya sejak tadi.


“Aludra ... apa itu benar kamu?” Bellatrix sangat terguncang dan seolah-olah tak percaya dengan apa yang ia saksikan.


Aludra hanya tersenyum lembut, wajahnya tampak sedih dan kesepian di waktu yang sama. Ini harusnya menjadi reuni yang mengharukan. Seharusnya begitu, lantaran keduanya tak pernah bersua, tak sekalipun mengharapkan pertemuan seperti ini.


“Ya. Ini aku, Bellatrix.”


Satu kalimat yang diucapkan Aludra membuat Bellatrix runtuh, jatuh dengan bokongnya. Dia sepertinya masih tak percaya dengan pemandangan di depannya.


“Mengapa kamu di sini? Dan, apa ... yang sebenarnya terjadi?”


“Sudah jelas, kan? Aku tak bisa kembali ke bumi. Tak pernah ada cara untuk pulang sejak awal.”


Jika memikirkannya dengan benar maka kemungkinan pulang hampir nol. Seandainya memang ada cara untuk orang dunia ini melintasi dunia, lantas mengapa tak satupun sampai ke bumi?


Mengapa tidak ada catatan apapun yang bisa ditemukan tentangnya?


“Tak ada? Bukankah kamu telah menemukannya? Dan karena itulah kamu pergi menjelajah!”


Bellatrix mulai menangis. Mungkin sedih karena Aludra tak bisa pulang, dan mungkin marah karena tindakan mengerikan di depannya.


“Itu hanya kebohongan manis. Untuk menerima panggilan telpon, kamu membutuhkan dua ponsel. Dunia ini mungkin memiliki ponselnya, tetapi bumi tidak.”


Aludra memikirkan ulang hipotesisnya setelah memahami dunia ini bekerja. Dan menyedihkannya, tak ada cara yang benar-benar bisa dicoba.


Tidak, mungkin sebenarnya ada satu yang bisa Aludra coba. Namun itu akan butuh perjuangan dan pengorbanan.


“Apa yang kamu bicarakan?” Orion mengerutkan keningnya.


“Mudahnya kita membutuhkan perantara untuk menghubungkan dua dunia dan mengirimku pulang. Sihir adalah perantara yang mampu menghubungkan dunia.”


Dunia ini memiliki sihir dan mampu menjangkau dunia tertentu dengan cara yang misterius. Aludra yakin itu pasti berhubungan dengan Altar Pahlawan dan sihir pemanggilan.


“Sihir pemanggilan pahlawan bisa dianggap seperti penculikan. Mana akan berperan sebagai perantara dan menjadi tangan yang menculik orang.”


“Itu tak masuk akal! Bukankah yang kamu maksud untuk menghubungkan dunia dibutuhkan alat yang sama? Jika ponsel diartikan sebagai Mana, maka hipotesismu sangat salah!”


Sihir, monster bahkan pahlawan adalah konsep yang tidak eksis di bumi. Realitanya adalah bumi benar-benar planet damai yang mana sihir hanyalah imajinasi ciptaan manusia.


“Altar itu adalah kuncinya. Dunia ini memiliki satu untuk memanggil, sementara tak memiliki untuk memulangkan. Bahkan jika aku bisa membuatnya, bagaimana bisa membuat satu di bumi?”


Orion mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?”


Bumi tak memiliki altar penerima ataupun pengirim. Harusnya mustahil untuk Aludra tiba ke dunia ini tanpa tempat seperti itu. Maka dari itu jawabannya hanyalah satu.


“Kamu tak mungkin sebodoh itu untuk tak paham. Yah, aku tak memiliki kewajiban menjelaskannya.


Aludra merentangkan tangannya dan menatap wajah Andrea yang lama tak dia lihat.


“Yo! Babi menjijikkan yang mengaku raja, tidakkah ada hal yang ingin kamu katakan? Aku tak hanya menyandra pahlawan, tetapi juga rakyat dan kerajaanmu!”


“Kamu bajingan gila! Cepat bawa istri dan putriku pergi!”


Eleanor dan Elizabeth mungkin sangat terguncang dengan fakta Aludra masih hidup. Namun mereka tak cukup idiot untuk berdiam diri.


“Oi, oi. Bukankah sungguh jahat meninggalkanku seperti ini? Ayolah, aku sudah bekerja keras untuk memeriahkan festival ini!”


Aludra menghentakkan kakinya. Segera tanah berbentuk duri menghantam salah satu prajurit dan melubangi dadanya.


Bellatrix tampak putus asa untuk menghentikan Aludra. Orion di sisi lain tampak merenung, mungkin juga dia menunggu waktu yang tepat. Di sisi lain Mintaka terus saja berontak.


“... Bicara? Tidak ada yang bisa kita bicarakan.”


Aludra mulai berjalan pergi, dia jelas tidak tertarik lagi dengan apapun di istana. Toh, tujuannya sudah berhasil dicapai.


“Mengapa semuanya berakhir seperti ini? Kenapa?!” Bellatrix berteriak dengan marah. Dia mulai memegang erat busurnya.


Bahkan Bellatrix tahu apa yang akan terjadi di masa depan setelah semua ini.


“Kamu orang baik, Bellatrix.”


Saat pertama kali tiba di dunia ini, mungkin hanya Bellatrix orang dari dunia yang sama dan memiliki tingkat perhatian tinggi kepada Aludra. Bahkan dia banyak membantu Aludra di masa lalu.


Oleh karena itulah dia paham masa depan, jalan yang akan Aludra lalui. Namun dia tak peduli terhadap apapun lagi, kebaikan, nurani, bahkan cinta.


“Ini sangat menyedihkan, Bellatrix.”


Segalanya tumbuh menjadi bunga yang menabur kesedihan bagi banyak orang.


Namun kelak bunga itulah yang akan menjadi penyelamat bagi seorang pria.


“Menyedihkan ... karena suatu saat, aku akan membunuhmu.”


Alasan mengapa dunia ini bisa memanggil pahlawan dari dunia lain sekalipun bumi tidak memiliki perantara apapun.


Tentu saja jawabannya adalah pahlawan itu sendiri. Lebih tepatnya, Divine Protection yang mereka miliki.


“Apa ... kamu melakukannya untuk tujuanmu?” tanya Bellatrix, suaranya mengecil. Aludra melihat bahwa wanita itu sedang menyiapkan tekadnya.


“Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, lakukan bagianmu untuk dirimu sendiri.”


Aludra menempelkan tangannya di dinding yang membentengi istana. Dia kemudian menoleh ke belakang untuk melihat para pahlawan.


Hanya ada tiga pahlawan di ibukota saat ini, dan itu sesuai dengan rencana.


Tatapan Aludra menuju Orion, Mintaka hingga akhirnya Bellatrix.


“Kamu adalah pahlawan, bersikaplah seperti pahlawan.”


Kristal di tangan lain Aludra mulai bersinar, menunjukkan Mana sedang dihisap darinya.


Dinding benteng mulai gemetar hebat bersama gemuruh yang datang dari bawah tanah.


“Tangkap aku.”


Tanah di bawah mereka mulai retak dan suara auman mengerikan bisa mereka dengar. Tidak hanya dari istana, tetapi dipenjuru ibukota.


“Kejar aku—”


Rantai yang melilit para pahlawan dan semua orang segera menghilang. Mendapati dirinya terlepas, Orion dan Mintaka tanpa keraguan menerjang Aludra.


Melihat itu, Aludra hanya menatap dengan dingin dan tersenyum.


“— lalu bunuh aku.”


Dinding kerajaan meledak dan menciptakan pilar duri yang mengejar semua orang di dalam istana.


Melihat itu, Orion mengurungkan niat mengejar Aludra dan memilih melindungi orang-orang. Di sisi lain Mintaka tampak tak menyerah sama sekali mengejarnya.


“Bajingan! Kembalikan istriku!”


“Mintaka hentikan! Selamatkan dulu orang-orang, aku bisa merasakan monster muncul dari banyak tempat!”


Mintaka tak mengindahkan panggilan Orion sama sekali dan malah menentang. “Bajingan ini adalah dalangnya, aku harus menangkapnya sebelum dia semakin mengacau!”


“Tidak ada artinya menangkap Aludra jika kerajaan ini hancur! Jika kerajaan hancur maka tak ada lagi dukungan kerajaan untuk mencari istrimu!”


Segera Mintaka berhenti bergerak. Dia berdecak dengan sangat kesal dan mulai mematuhi Orion untuk membantu orang-orang.


Di sisi lain Bellatrix mulai berdiri. Dia awalnya diam beberapa waktu dan menggigit bibirnya.


“Aku tak mengerti sama sekali ... apa yang sebenarnya salah di sini?!”


Bellatrix menarik busurnya dan melindungi orang-orang.