
Eleanor turun dari pedatinya dan mengunjungi sebuah bar mewah tempat para bangsawan kota menghabiskan waktunya. Tempat kelas atas yang tidak bisa dimasuki rakyat jelata. Paling rendah di tempat ini adalah pedagang yang cukup berpengaruh.
“Tuan Putri, kami sudah menyiapkan kursi untuk anda. Haruskah kami mengusir pelanggan lain yang ada?”
Dengan acuh tak acuh Eleanor berjalan turun dengan elegan selagi para prajurit tetap mengawalnya sementara beberapa menunggu di luar.
“Tidak perlu,” ujar Eleanor. “Tidak ada orang bodoh yang mau macam-macam denganku.”
Para prajurit hanya memberi hormat dan melakukan apa yang diperintahkan. Mereka yang diluar mulai bergosip sesaat Eleanor telah masuk ke dalam.
“Tuan putri terlalu percaya diri. Tidakkah dia sadar bahwa pemberontak demi-human sedang mengincar siapapun yang berasal dari keluarga kerajaan?”
“Dia pasti tahu itu, tetapi kebanggaannya sebagai orang berkekuasaan menaklukkan rasa takutnya. Seperti itulah sikap seorang penguasa.”
“Aku harap itu tidak segera melukainya. Kebanggaan yang terlalu besar akan membunuh seseorang cepat atau lambat.”
“Ya, oleh karena itu kita perlu benar-benar siaga. Tuan Putri tidak mampu merasakan bahaya di sekitarnya.”
Saat keduanya terus berbicara, seorang pria bertudung lewat di depan mereka dengan acuh tak acuh. Pria itu adalah Aludra yang menguping percakapan mereka.
“Meski begitu tuan putri sungguh cantik dan mempesona! Tubuhnya juga sangat seksi, terutama perutnya yang langsing dan pahanya yang besar! Dia bahkan terlihat lebih cantik dari ratu!”
Aludra tidak perlu mendengar percakapan selanjutnya yang bisa dibilang sebagai informasi tidak penting.
“Demi-human, kah? Sudah lama sejak aku tertarik dengan ras ini,” gumam Aludra.
Dari yang Aludra ketahui mereka adalah ras yang menyerupai manusia, perbedaannya hanya terletak melalui telinga dan ekor yang mereka miliki.
Aludra sendiri melihat mereka seperti orang yang melakukan cosplay lantaran mereka berjalan dan berbicara seperti manusia pada umumnya. Hampir tidak ada perbedaan selain telinga, ekor dan bulu.
Meski begitu manusia di dunia ini tidak menerima kehadiran mereka dan melakukan diskriminasi yang parahnya luar biasa. Saat berada di ibukota pemandangan demi-human di pinggir jalan sudah jadi hal yang biasa.
Mereka lebih dianggap sebagai monster dibandingkan ras menyerupai manusia.
“Sepertinya ada beberapa pemberontak yang berusaha melakukan sesuatu kepada putri ****** ini. Aku harus berhati-hati.”
Aludra kembali ke rumah tempatnya dan Maria menghabiskan waktu. Tentu, dia memastikan untuk tak diikuti oleh siapapun. Terutama orang-orang dari kerajaan yang tidak boleh mengetahui bahwa dia masih hidup.
Saat tiba di rumah dia menemukan Maria yang baru saja duduk di kursinya.
“Kamu baru tiba?” tanya Aludra. “Ini cukup larut, tunggu beberapa menit. Aku akan membuatkan makan malam.”
“Ya, terima kasih. Perlu aku bantu?”
“Tidak perlu.”
Saat Aludra berjalan ke dapur bersama bahan-bahan yang baru dibelinya, suara lain datang dengan riang.
“Tolong buatkan daging rebus yang enak!”
“Takt?” Maria terperangah karena adiknya pulang di waktu yang sama.
“Ya.” Aludra di sisi lain pergi ke dapur dan menyiapkan makanan.
Setelah beberapa waktu makanan dihidangkan. Sebuah daging rebus yang menyegarkan, disantap dengan penuh kenikmatan selagi melakukan obrolan kecil.
“Saat pergi ke kota aku melihat wanita itu datang. Apa yang dilakukannya di sini?”
Melihat raut wajah Maria, Aludra yakin dia telah mengetahui hal ini. Bahkan Takt juga terlihat serupa.
“Aku tidak begitu mengetahuinya namun dari desas-desus yang beredar, putri sedang mencari seseorang untuk menyembuhkan,” ujar Maria.
“Aku sendiri tidak tahu untuk apa itu. Selain itu, aku sering mendengar dari mantan rekan kerjaku bahwa ratu seringkali bermimpi buruk. Hal itu menyebabkan seisi kerajaan gempar.”
Aludra bertanya-tanya tentang mengapa mimpi buruk bisa menyebabkan kegemparan. Menurutnya mimpi bukan sesuatu yang spesial sampai mampu mengguncang seisi kerajaan. Takt kemudian menjelaskan kepadanya.
“Ratu Elizabeth memiliki berkah spesial yang membuatnya bisa merasakan ketakutan di masa depan melalui mimpinya. Kamu mungkin tidak asing dengan istilah Divine Protection.”
Divine Protection, Aludra tahu betul hal itu. Mereka yang dipanggil ke dunia ini memiliki sesuatu seperti itu untuk mampu menggunakan senjata pahlawan. Dengan itu juga para penduduk dunia lain langsung mengerti bahasa dunia ini.
Berbeda dari Aludra yang harus belajar dari nol untuk memahami bahasa dunia ini. Meski dia sudah terbiasa sekarang namun ada beberapa hal yang tidak dia mengerti.
“Mimpi bukan hal yang bisa kamu alami begitu saja. Mimpi akan datang saat sesuatu akan terjadi padamu, bisa dibilang itu adalah pesan dari masa depan. Dan, ratu memiliki berkah spesial atas hal spesial seperti mimpi.”
Di dunia ini mimpi adalah penyampai pesan untuk sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi, ataupun telah berlalu. Oleh karena itu penduduk dunia ini jarang mengalami mimpi.
Dan, Elizabeth adalah orang yang diberikan berkah untuk mendapatkan mimpi akurat tentang masa depan dunia ini. Mimpinya selalu membawa keajaiban yang luar biasa, salah satunya adalah pemanggilan pahlawan.
“Begitu, maka bisa dikatakan dia seorang peramal, kan?” tanya Aludra.
“Ya, namun bedanya ratu Elizabeth tidak bisa memahami semua mimpi yang datang kepadanya. Terkadang dia mendapatkan mimpi yang tidak berkaitan dengan apapun.”
Mimpi di dunia ini mengandung banyak arti dan bukan sesuatu yang akan datang tanpa alasan. Jadi, semisal seseorang bermimpi buruk maka bukan berarti hal buruk akan menimpanya. Mimpi tidak selamanya sesederhana itu.
“Aku sendiri mendengarnya dari ketua guild bahwa kerajaan menjatuhkan titah untuk mencari orang yang mampu menerjemahkan mimpi untuk membantu ratu memahami mimpinya.”
Di dunia ini ada profesi langka bernama Penerjemah Mimpi. Profesi tersebut dikhususkan untuk orang-orang yang memiliki bakat khusus memahami mimpi seseorang.
Tidak banyak orang dengan bakat seperti itu di dunia ini dan berkat kelangkaannya tersebut guild petualang cukup repot. Meski Asosiasi Petualang adalah organisasi besar yang bersifat netral, namun mereka tetap perlu membantu kerajaan selama itu bukan urusan politik.
Selain itu mimpi Elizabeth tampaknya juga memiliki makna besar bagi guild petualang.
“Apakah sebegitu penting mimpi yang wanita itu alami sekarang?”
Takt dan Maria mengangguk. Mereka menjelaskan bahwa Elizabeth belakangan ini selalu mengalami banyak mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Bahkan sampai membuatnya takut untuk tertidur.
Aludra tidak mengerti banyak hal tentang itu, dia baru saja mendapati bahwa ada banyak hal tentang dunia ini yang tidak diketahuinya.
“Mungkin tuan putri ke sini untuk membantu mencari Penerjemah Mimpi. Meski begitu, tindakannya justru membahayakan,” ujar Takt dengan sedikit cemas.
“Membahayakan?” tanya Aludra.
“Kamu pasti pernah melihat gelandangan demi-human di ibukota.”
Aludra mengangguk, itu bukan sesuatu yang bisa dia lupakan. Demi-human adalah ras yang sangat didiskriminasi di banyak kerajaan. Etherbelt adalah salah satunya.
Tentu ada beberapa negara yang tak mengambil kebijakan itu dan juga terdapat negara demi-human yang bertindak secara independen.
Maria menyampaikan bahwa Etherbelt adalah kerajaan yang paling banyak menerapkan kebijakan mendiskriminasi mereka. Berkatnya banyak demi-human membenci Etherbelt dan berusaha menjatuhkannya.
Eleanor adalah putri kerajaan, dengan dia berkeliaran seperti sekarang maka sama artinya dia membiarkan dirinya menjadi incaran mereka.
“Selama beliau ada di sini maka kota Dart tak aman. Sebaiknya kamu tidak pergi keluar kota untuk beberapa waktu, Aludra. Besar kemungkinan pemberontak demi-human mengintai kota.”
Berurusan dengan mereka takkan menghasilkan hal yang baik. Begitu, pesan yang disampaikan Takt dan Maria kepadanya.
‘Pemberontak diantara demi-human, kah?’
Aludra berpikir bahwa mereka mungkin sekelompok orang bar-bar yang takkan sungkan melakukan tindakan buruk apapun mengingat kebenciannya pada manusia tidak terelakkan.