The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Jurang Tanpa Dasar



Dua hari sejak Aludra melakukan perjalanannya menuju Jurang Tanpa Dasar. Sejauh ini perjalanan yang lancar adalah sesuatu yang terasa mustahil mereka dapatkan karena monster yang selalu saja bermunculan.


Itu merepotkan lantaran mereka seakan-akan tidak ada habisnya. Mulai saat pagi hari, jam makan siang, bahkan sampai mereka hendak tidur para monster itu terus saja muncul.


Dari monster yang lemah seperti goblin hingga yang kuat dan merepotkan seperti undead terus datang tanpa akhir. Beberapa dari petualang merasa aneh karena biasanya takkan ada monster sebanyak itu, tetapi mungkin karena tujuan mereka adalah Jurang Tanpa Dasar. Sebuah tempat yang jarang dikunjungi dan sulit dijangkau.


Beruntung berkat para petualang dan ksatria yang ditugaskan oleh Andrea, mereka berhasilnya mengatasinya dengan nol korban jiwa. Beberapa mungkin terluka cukup parah namun nyawa adalah yang terpenting.


Pada prosesnya Aludra tidak banyak membantu. Dia hanya bertarung saat dihadapkan oleh goblin dan beberapa monster lemah lainnya. Aludra tak berkutik melawan undead karena mereka adalah makhluk yang tak mempan oleh serangan fisik. Hanya sihir yang mempan terhadap undead.


“Huh~, ini perjalanan yang sangat sulit, ya, tuan?” ujar seorang petualang wanita. “Aku tidak menyangka bahwa Jurang Tanpa Dasar sungguh memiliki berbagai macam monster.”


“Harusnya kita sudah menduga bahwa ini bukan tugas yang mudah, kan?” ujar rekan petualang lainnya, tersenyum masam, “Bayarannya sangat besar sehingga kita mampu hidup mewah selama satu tahun.”


Aludra yakin bahwa Etherbelt menawarkan hadiah yang sangat besar untuk ini. Tujuan utamanya mungkin bukan untuk mengantarkan pulang Aludra, tetapi untuk meneliti apakah sungguh ada peninggalan dewa di Jurang Tanpa Dasar.


Selain itu Aludra mendengar dari petualang bahwa Eleanor meningkatkan bayarannya agar petualang papan atas membantu Aludra.


“Berkat kalian aku berhasil sampai sejauh ini. Jika aku sendiri maka aku takkan pernah mencapai tempat ini. Jadi, terima kasih banyak,” ujar Aludra dengan tulus.


Aludra sendiri tidak percaya diri mampu pergi sejauh ini jika seorang diri. Dengan banyaknya monster di tempat ini, sangat mustahil bagi Aludra mencapai tujuannya.


Mungkin ini akan jadi perjalanan mudah jika dia bersama Bellatrix yang seorang petualang, tetapi tidak ada gunanya berandai-andai atas hal yang takkan terjadi.


“Itu sudah jadi tugas kami. Untuk bertahan hidup kami harus mempertaruhkan nyawa. Ini sungguh kehidupan yang ironis, hahaha!”


Bagi mereka yang tidak dilahirkan sebagai orang kaya, diperlukan tekad mempertaruhkan nyawa untuk memiliki kehidupan yang nyaman.


Hanya ada sedikit pilihan yang bisa ditempuh. Bertarung melawan monster sebagai petualang, menjadi petani yang dengan bayaran hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari, atau membuang harga diri dan menjilat pada penguasa. Bahkan tak sedikit wanita membuang harga dirinya dengan menjadi pelacur untuk hidup nyaman.


Mereka tidak tahu jika Aludra termasuk penduduk dunia lain, dan tentunya mereka tak tahu bahwa di bumi hal seperti itu tidak banyak berlaku.


“Seberapa jauh lagi Jurang Tanpa Dasar?” tanya Aludra.


“Apa yang menunggu kita setelah keluar dari hutan adalah tujuan kita.”


“Mana di sekitarnya yang tidak menyenangkan bahkan sudah kurasakan.”


Aludra bisa melihat akhir dari hutan ini, maka artinya mereka sudah sampai pada tujuan. Setelah berjalan kurang lebih Keringat dingin mengalir melalui pelipisnya, mulut terbuka dengan takjub dan menyampaikan kengeriannya.


Meski tidak bisa merasakan Mana atau hal-hal ghaib lainnya, namun Aludra bisa merasakan kengerian dari tempat ini. Tentang seberapa menakutkannya Jurang Tanpa Dasar.


“Jadi ini … Jurang Tanpa Dasar.”


Jurang besar membentang sejauh mata memandang yang memisahkan hutan dengan jarak yang jauh. Aludra menatap kiri dan kanan, sulit menemukan akhir dari jurang seakan-akan tak hanya dalam, tetapi jurang ini sangat lebar.


Saat itu juga seorang prajurit mulai memberikan penjelasan kepadanya.


Meski ada beberapa tempat di mana Jurang Tanpa Dasar terputus namun bisa dikatakan jurang ini juga bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Bahkan di beberapa tempat ada yang mengatakan kalau jurang ini nyaris membelah dunia menjadi dua bagian.


Di tempat lain jurang ini memiliki nama; Jurang Yang Membelah Dunia.


“Angin berhembus kencang dan suhu mulai turun … hujan mungkin akan segera turun,” ujar seorang petualang. “Segera siapkan tenda!”


Mereka mulai mendirikan tenda dan memindahkan barang-barang lainnya. Di sisi lain Aludra mencoba melihat ke dasar jurang.


Mengerikan bahkan hanya dari berdiri di tepinya saja, tetapi Aludra tidak gentar. Cepat atau lambat dia akan coba masuk ke dalamnya.


“Sungguh gelap dan berkabut di sini,” ujar Aludra, mengerutkan alisnya karena jengkel. Dia berharap bisa menemukan sesuatu dari melihat ke dalamnya, tetapi nyatanya tidak.


Meski begitu bukannya tidak ada apapun di sana, Aludra seakan-akan melihat sesuatu di dalam jurang itu sendiri.


“Apa itu? Tidak mungkin burung elang atau kelelawar, kan?”


Aludra yakin tidak salah lihat. Dia menemukan sesuatu bergerak dari gelapnya jurang tersebut meski sangat samar. Meski bukannya mustahil namun Aludra tidak ingin berpikir ada monster kuat tinggal di jurang.


“Hey, apa ada beberapa monster kuat yang tinggal di sekitar jurang ini?” tanya Aludra karena penasaran.


“...”


Tidak ada jawaban, suasananya tiba-tiba menjadi sangat hening sampai Aludra curiga dan berbalik untuk terkejut sampai-sampai jatuh duduk lantaran kejutan tersebut membuat kakinya lemas.


“Apa yang … terjadi?”


Kepala yang terlepas dari tubuh, badan berlubang dan juga genangan anggur darah; masih segar asal dari tubuh manusia yang terbunuh.


Mereka adalah para petualang dan para prajurit yang terbunuh dengan mengerikan oleh sekelompok orang berbaju hitam. Mereka mengenakan kain di kepalanya dan juga topeng putih dengan ukiran tersenyum lebar.


Aludra tidak tahu siapa mereka namun diyakini bukan orang baik. Tidak ada orang baik akan melakukan pembunuhan sekeji itu.


“Siapa … kalian?” tanya Aludra, perlahan bangkit dan menarik pedangnya.


Ini berbeda dari melawan monster yang liar dan tak berakal. Lawan Aludra saat ini adalah makhluk cerdas yang diberkati dengan kelicikan, manusia. Hal yang membuat pertarungan ini sulit adalah Aludra tak pernah membunuh manusia.


Enam orang pembunuh, mereka menatap Aludra sebentar sebelum berbaris dan menunduk hormat. Dari balik hutan Aludra bisa melihat seorang gadis muda berjalan dengan santai serta kipas lipat menutupi wajahnya.


Namun dia tidak berniat menutupinya karena dari penampilannya sendiri Aludra bisa tahu siapa dia.


“Kamu … apa maksudnya ini?”


“Ini? Tidak ada. Mereka mengganggu jadi sebaiknya mati saja, kan?” ujarnya, memiringkan kepala dengan polosnya.


Aludra menggertak kuat giginya, “Jangan main-main denganku. Apa tujuanmu, ELEANOR?!”