The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Bangsawan Solva



Menatap bangsawan dan seorang pengawalnya yang tampak ketakutan, Aludra mulai berpikir.


‘Haruskah aku membunuh dan menjarahnya?’


Bangsawan harusnya memiliki harta bersamanya tak peduli ke mana mereka pergi, meski begitu Aludra merasa dia tak bisa melakukannya sekarang.


Selain itu ada kemungkinan kepalanya akan memiliki bounty karena melakukan pembunuhan terhadap bangsawan. Sekalipun tak ada saksi mata, kemungkinan akan selalu ada.


‘Aku harus berhati-hati … dia mungkin tahu identitasku. Beruntung aku belum mengungkapkan marga.’


Aludra sengaja menyamar dengan menggunakan nama marganya. Sejak hancurnya kota Dart satu bulan yang lalu, dia sudah menggunakan nama itu.


Apapun yang terjadi identitasnya tak boleh terungkap pada tahap ini. Meski sedikit mengganggu karena marganya tampak jelas seperti jepang namun apa boleh buat karena dia tak kepikiran apapun saat itu. Toh, nama semacam ini mungkin tak asing di dunia ini.


Dan, sebagai catatan Aludra memiliki darah Jepang dari ayahnya.


“Tuan Amatsumi, kah? Terima kasih banyak telah menolong kami. Aku, Edward Solva akan membalas budi kebaikanmu.”


Bangsawan Solva. Aludra pernah mendengar sedikit tentangnya, seorang bangsawan tinggi yakni, Count. Dan, dia adalah pemimpin dari kota yang akan Aludra kunjungi.


Aludra membuka tudung yang menutupi separuh wajahnya. Dia membiarkan rambutnya yang berantakan dengan dua cambang rambutnya dipanjangkan sampai dikuncir.


Merentangkan kedua tangannya sebelum meletakkan tangan kanan di jantungnya, Aludra membungkuk memberikan hormatnya dan tersenyum.


Untuk saat ini meski menyebalkan namun menjilat diperlukan.


“Wah-wah, ternyata anda adalah Count Solva yang terkenal itu! Maaf atas kelancangan saya dan sepupu saya yang ceroboh. Sekali lagi perkenalkan nama pengembara rendah ini adalah Amatsumi.”


Mendengar sambutan dan hormat dari Aludra, Edward tampak menghela napas dengan lega dan tersenyum.


Dia mungkin bersyukur karena Aludra bukan seorang penjahat ataupun yang lainnya.


“Ya, silahkan bangkit. Aku berterima kasih banyak atas pertolonganmu, Amatsumi.”


Aludra tersenyum tipis sebelum bangkit dan mulai menjilat seperti anjing.


“Tidak, tidak! Ini sebuah kehormatan untuk saya bisa berkontribusi menyelamatkan bangsawan hebat seperti anda! Maaf atas kelancangan saya, apakah sosok yang ada di dalam pedati itu adalah putri anda yang terkenal akan kecantikannya?”


“Hahaha, kamu terlalu menyanjung. Benar, dia adalah putriku. Iris, silahkan keluar, semuanya sudah aman.”


Seorang gadis dengan gaun ungu berjumbai yang memiliki warna sama dengan rambutnya keluar dari dalam pedati. Mata besar seperti biskuit dengan warna ungu cerah yang cantik seakan-akan bisa melihat segalanya.


Tubuhnya yang ramping akan mampu membuat seluruh wanita di dunia ini merasa iri. Bahkan jika wajahnya ditutupi cadar ungu, Aludra bisa membayangkan kecantikannya.


Saat pertama kali mendengar bahwa bangsawan Solva memiliki putri yang digadang paling cantik di dunia, Aludra berpikir bahwa rumor itu hanya dilebih-lebihkan.


Namun setelah melihatnya langsung, meski hanya separuh wajahnya Aludra merasa itu sepadan. Baik itu Bellatrix maupun Maria takkan layak dibandingkan dengannya.


“Ada apa?” tanya Iris, menatap Aludra dengan sedikit tajam.


Aludra segera terkesiap, “Haha, maafkan kelancangan orang rendahan ini. Nona Iris sungguh memiliki mata yang indah sampai orang rendahan ini terkesima.”


“Begitu, terima kasih. Lalu, kamu bisa berhenti mengatakan orang rendahan atau apapun yang membuat dirimu benar-benar rendah.”


Namun sebelum dia melangkah pergi, Edward segera memanggilnya.


“Tunggu, Amatsumi!”


“Ada apa, Count?” Aludra tersenyum tipis dan sedikit menyipitkan matanya.


Edward tersenyum lembut, “Jika tak masalah aku bertanya, ke mana tujuanmu dan sepupumu itu?”


Dalam hatinya Aludra tertawa dan senang karena umpannya ditangkap dengan baik.


“Tujuan saya pada awalnya adalah kota Purplestone untuk mengisi persediaan, namun dikarenakan sebuah kemalangan kami kehilangan identitas sehingga tak bisa memasuki kota. Namun dikarenakan para bandit ini memiliki apa yang kami butuhkan, mungkin kami akan bergegas ke tempat lain.”


Semenjak penyerangan terhadap kota Dart, keamanan setiap kota di Etherbelt semakin ketat. Itu karena Spear Rebels telah melebarkan sayapnya.


Tak hanya demi-human, bahkan manusia mulai bergabung dengan kelompok itu. Mereka benar-benar menjadi ancaman bagi kerajaan. Dan, hal itu disebabkan oleh kontribusi Aludra yang membuat pemimpin mereka berpikir lebih luas.


Aludra dan Maria memang tidak memiliki identitas yang bisa digunakan untuk memasuki kota. Pada awalnya Aludra berniat menyusup, tetapi siapa sangka pemimpin kota itu sendiri muncul di depannya.


Untuk alasan itulah Aludra memberikan hormat dengan enggan dan merayunya. Jika umpan yang dia letakkan telah dimakan, maka selanjutnya sesuai rencana.


“Ah, kalau begitu aku akan membuat penawaran. Sebagai pemimpin kota, mudah bagiku mengizinkanmu masuk. Toh, kamu menyelamatkanku. Biarkan aku menjamu kalian.”


Edward juga meminta Aludra untuk menjadi pengawalnya hingga tiba di kota. Tentu, bayaran akan diberikan dengan sesuai.


Bagi Aludra sendiri tidak ada alasan untuk menolaknya.


“Ini kehormatan untuk saya, Count Edward. Tentu saja, jika anda dan putri anda tidak keberatan dengan kami, maka kami akan menerimanya sepenuh hati.”


Aludra kemudian menyiapkan pedati milik bandit yang dirampas, memisahkan barang yang tak dibutuhkan dan membawa barang berguna. Setelah Maria kembali dia menjelaskan situasinya agar tak ada kecerobohan darinya.


Masih butuh dua hari perjalanan untuk tiba di kota Purplestone. Telah diputuskan Maria dan pengawal Edward yang tersisa akan menjadi kusir, sementara Aludra duduk bersama Edward dan putrinya di dalam pedati.


Sesaat mereka hendak berangkat, Iris menghentikannya. Aludra sendiri tidak tahu menahu apa yang menyebabkan hal tersebut.


“Hey, tidak bisakah kamu melepaskan para bandit itu? Menguburnya hidup-hidup … itu adalah cara yang kejam untuk menghakimi.”


Aludra sedikit diam dan menatap tempat para bandit dikubur hidup-hidup. Sesungguhnya Aludra tidak peduli sedikitpun kepada mereka. Baik mati dengan cepat maupun lambat tak ada bedanya.


“Maaf atas kelancangan saya, namun jika dilepaskan mereka takkan bertaubat. Bahkan jika harus dihukum, paling jauh mereka hanya akan dipenjara beberapa waktu sebelum dibebaskan.”


Tak ada alasan untuk melepaskan para bandit itu. Aludra memang setuju untuk menebarkan kekacauan, tetapi bandit adalah profesi menyedihkan. Orang-orang seperti mereka akan dengan mudah diringkus.


“Meski begitu sangat keji membunuh mereka dengan cara seperti itu! Lepaskan mereka, ikat saja di pohon agar prajurit bisa membawa mereka!” Iris bersikeras dan Aludra tidak ingin berdebat.


Dengan lembut memberikan hormat, Aludra menyetujuinya. Dia mengeluarkan Manastone dan mengeluarkan para bandit yang telah lemas. Beberapa mungkin telah menemui ajalnya karena tak kuasa.


Aludra sedikit berdecak kesal karena harus menghabisi Manastone miliknya untuk bandit.


Maria kemudian mengikat mereka di pohon dan membiarkan kondisi bandit apa adanya. Iris tampak tidak puas namun dia tidak mengatakan apa-apa dan mereka melanjutkan perjalanan bersama.