The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Insiden Kota Dart



Dua hari sejak pertemuan Aludra dengan pemimpin pemberontak demi-human. Itu adalah pertemuan yang mengejutkan juga mendebarkan baginya namun Aludra berhasil melakukannya.


Aludra terkejut bahwa pemberontakan tersebut bukanlah kelompok kecil, tetapi kelompok yang cukup besar. Mereka bernama, Spear Rebels. Tombak yang memberontak melawan diskriminasi.


Itu adalah kelompok besar yang sembunyi dibalik bayangan. Berkat informasi itu Aludra memahami bahwa alasan guild petualang waspada kepada mereka, mungkin karena guild telah mengendus adanya kekuatan besar yang tersembunyi.


Terlepas dari hal itu saat ini Aludra masih menggunakan waktunya di kamar untuk membaca buku. Dia butuh banyak belajar agar bisa bertahan hidup di dunia ini.


Ketika itu juga, Takt yang sedang libur menghampirinya.


“Kamu tidak bosan membaca buku terus, bang?” tanya Takt.


Aludra tidak tahu sejak kapan namun Takt mulai memanggilnya seperti itu. Tentu, Aludra tidak keberatan meski dia seharusnya lebih cocok dipanggil 'paman' karena perbandingan umur yang terlampau jauh.


“Kamu tidak akan pernah bosan saat mempelajari hal yang baru.”


“Namun itu hanya catatan penelitian atau semacamnya, kan? Mengapa kamu sangat tertarik membaca tentang itu? Apa kamu berharap mendapatkan Artefak Kuno itu?” tanya Takt selagi menggaruk kepalanya.


“Memangnya siapa yang tidak menginginkannya? Artefak Kuno bukan sesuatu yang bisa kamu temui dengan mudah.”


Terdapat sebuah tempat yang dicurigai ada Artefak Kuno di sana. Sejak pergi ke guild petualang, Aludra sudah tertarik membaca berbagai hal tentang artefak tersebut.


Dia ingin memilikinya jika bisa namun sayangnya tempat itu bukan sesuatu yang bisa dikunjungi dengan mudah. Selain monster ada sesuatu yang jauh lebih merepotkan lagi.


“Ya, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan Artefak Kuno.”


Aludra dan Takt menoleh, mereka menemukan Maria yang entah kapan tiba bergabung dengan percakapan.


“Selamar datang,” ujar Aludra.


“Apa maksud kakak?”


“Kamu bisa menjadi petualang ataupun ksatria hebat jika memilikinya. Bahkan tak jarang orang mau menawarkan banyak uang untuk itu.”


Artefak Kuno adalah senjata yang sangat berharga, wajar bagi siapapun menginginkannya. Bahkan Aludra bukanlah pengecualian.


“Jadi begitu. Lalu jika benar di kuil itu ada Artefak Kuno, mengapa tak seorangpun mengambilnya?” tanya Takt.


Maria menjelaskan bahwa lokasinya sangat berbahaya dan juga jika mereka mengunjunginya akan muncul konfrontasi tidak perlu dengan orang tertentu.


Tidak dijelaskan detailnya oleh Maria namun dia mengatakan bahwa ada sosok yang tidak ingin diusik bahkan oleh Etherbelt. Meski mereka bisa mengirim pahlawan, dapat dikatakan bahwa mereka belum mampu menghadapinya.


Aludra tidak tahu siapa dan apa yang menjadi ancaman sampai-sampai pahlawan saat ini belum cukup kuat untuk menghadapinya.


Siang harinya Aludra, Takt dan Maria pergi ke kota. Aludra berniat berkeliling kota sendirian awalnya namun dikarenakan kakak beradik itu senggang mereka ikut bersamanya. Diluar dari rencananya.


Beberapa pedagang yang mengenali mereka datang untuk menyapa. Sapaan yang mengatakan mereka seperti keluarga kecil sering didengarnya sehingga Aludra tak lagi terkejut.


Saat dalam perjalanan tersebut Maria tampak mengamati sekitarnya dengan penuh waspada.


“Entah hanya perasaanku saja atau memang ada semakin banyak demi-human di sini?” gumamnya.


Di pinggir jalan ada begitu banyak demi-human yang mengemis, banyaknya keberadaan mereka tak disadari oleh sebagian besar orang. Mereka hanya menganggap demi-human sebagai sampah yang mengganggu.


“Entahlah, aku merasa mereka memang sebanyak ini,” ujar Takt.


“Itu … mungkin benar. Namun aku tak pernah menemukan sesering ini.”


Maria tetap yakin akan keraguannya itu. Aludra tidak menyalahkannya, toh Maria adalah seorang petualang sehingga kerap memperhatikan hal-hal kecil.


“Terlepas dari bertambah atau tidaknya mereka, aku yakin takkan ada masalah berarti. Dari yang aku amati, keamanan kota meningkat pesat. Bahkan pendatang saat ini memiliki pemeriksaan ketat.”


Aludra tahu kekhawatiran Maria tentang pemberontak dari demi-human. Meski begitu harusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan.


“Yah, aku harap kamu benar,” ujar Maria. “Aludra, baiknya kita bersembunyi. Itu kereta kerajaan.”


Di depan mereka terdapat kereta kuda yang melaju cukup kencang, dilindungi oleh beberapa prajurit di sekitarnya. Bahkan warga yang melihat itu menghentikan kegiatannya untuk berlutut hormat.


“Mari bergerak perlahan.”


Aludra, Maria dan Takt pergi ke gang sempit untuk menghindari kereta kerajaan. Hal itu karena Aludra tidak ingin keselamatannya diketahui.


Jika itu terjadi besar kemungkinan dia akan dibawa paksa ke kerajaan. Tak masalah jika akhirnya dia akan bertemu Bellatrix, tetapi lain halnya dengan ratu dan putrinya yang ******.


Saat kereta kuda telah lewar Aludra sedikit mengintip dan menyampaikan, “Mari pergi ke guild petualang.”


Tiba di guild petualang mendadak Maria mendapatkan tugas untuk menjadi guru tutor lagi. Bisa dibilang dia mendapatkan pekerjaan lembur.


“Kakak sungguh bisa diandalkan,” gumam Takt.


Tak perlu menunggu lama, setelah mengembalikan semua bukunya Aludra dan Takt menuju ke rumahnya. Mereka hampir tidak memiliki apapun yang penting untuk dilakukan saat ini.


“Bang, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Takt. “Seperti apa keluargamu sebelum datang ke dunia ini?”


“...”


Ini pertama kalinya Aludra mendapatkan pertanyaan itu. Selama setahun belakangan baik Maria ataupun Takt tak mengajukannya mungkin karena mempertimbangkan perasaannya.


Aludra sesungguhnya enggan menceritakannya karena dia membencinya. Aludra benci karena setiap kali mengingat keluarganya, dia merindukannya. Racun hati yang tak bisa disembuhkan kecuali melalui pertemuan.


“Istriku adalah orang yang baik, ramah dan lembut meski terkadang tampak sangat menyeramkan.”


“Menyeramkan?” Takt memiringkan kepalanya.


Aludra mengangguk. Dia ingat betul saat istrinya marah ketika Aludra digoda beberapa murid bahkan rekan kerjanya. Aludra tidak mau mengingatnya karena setiap kali itu terjadi dia takkan bisa bergerak. Aludra sadar betul bahwa ini adalah sesuatu yang dinamakan suami takut istri.


Tak hanya itu, Aludra dengan semangat menjelaskan tentang kebaikan, kehangatan dan ramah istrinya. Setiap kali menceritakan semua tentangnya, hatinya begitu sakit dan sangat merindu.


“Lalu, bagaimana dengan anakmu?” tanya Takt.


“...” Aludra tak mampu berkata-kata jika itu mengenai anaknya.


Anak yang bahkan wajahnya tak pernah bisa dia lihat, tubuh dan kulitnya yang masih sangat rapuh, tanpa pernah Aludra merasakan hangat tubuh hingga harumnya.


“Ada apa?” tanya Takt sekali lagi.


“Aku tidak tahu apapun tentangnya. Dunia ini menjemputku sebelum anakku lahir.”


“M-maaf, aku tidak tahu tentang itu.” Takt tampak menyesal karena menanyakannya. Jelas saja karena saat ini wajah Aludra berkerut dan terlihat sangat marah.


Aludra tidak mengatakan apapun lagi. Jika membahas soal keluarga yang jauh di sana, Aludra memiliki gejolak hati yang tidak tertahankan.


Saat dalam perjalanan pulang Aludra menemukan beberapa hal di sekitarnya, salah satunya adalah demi-human yang menatap sekitarnya dengan tajam.


Ada perubahan yang signifikan dan tidak disadari oleh banyak orang. Aludra mengacuhkannya dan terus berjalan rumah bersama Takt.


Sesampainya di rumah suasana cukup canggung berkat hal sebelumnya.


“H-hei, bang. Bagaimana jika kita memandikan Skype? Sudah lama sejak terakhir kali dia membersihkan dirinya.”


Aludra dengan acuh mengangguk dan menyetujuinya. Takt kemudian pergi untuk mencari peralatannya di dalam laci.


“Seingatku kakak menyimpannya di sekitar sini.”


Aludra hanya menatap Takt yang mencari peralatan membersihkan. Diam-diam dia mengambil besi batangan yang disimpan dalam sakunya.


“Aku pikir kamu akan menemukannya di sana,” ujar Aludra, berjalan santai mendekati Takt.


Takt dengan cepat berbalik, “Di mana—”


“Di mimpi abadi ... yang akan kau jalani.”


Cruch!


Daging yang tertusuk dengan lembut, air darah yang jatuh membasahi lantai. Takt mulai memuntahkan darah, menatap Aludra dengan tercengang.


“Ke—kena … pa?” Takt tampak tak percaya dan menggenggam pedang yang perlahan menusuk jantungnya, dia pun mulai menangis.


“Kenapa, kau tanya? Tentu saja, karena aku membencimu.”


Aludra mulai memeluk Takt selagi tetap mengacungkan pedang pada jantungnya. “Di duniaku ada pribahasa yang mengatakan, memeluk semakin erat agar pisaumu menusuk semakin dalam.”


Pedang menembus jantung Takt hingga ke punggungnya, darah hangat dan amis menyelimuti tangan hingga pakaian Aludra. Takt mulai lemas, tak lagi mampu berdiri ataupun bernapas.


Aludra mencabut pedangnya dan mengibaskannya untuk membersihkan darah dari bilahnya.


“Jangan khawatir, Takt. Aku tidak hanya membencimu. Aku juga membenci dunia ini dan seluruh isinya.”


Dunia yang membawanya kemari dan menelantarkannya. Mereka yang memisahkannya dengan keluarga kecil tercinta pantas untuk menderita — harus menderita. Mereka perlu merasakan kesedihan yang Aludra alami.


“Kalian yang ingin memahami rasa sakit perlu merasakan sakit untuk memahaminya. Akan kubuat dunia ini merasakan apa yang aku rasakan!”


Aludra telah bertekad untuk tetap hidup sampai akhirnya dunia ini merasakan kesedihannya, saat hari itu tiba maka Aludra akan mati dalam kedamaiannya sendiri.


Pria yang mengemban duka dalam dadanya akan membawa dunia ini jatuh ke neraka. Dan, dimulai dari kota Dart yang kian dilalap api.