The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Tujuan Asland



“Pemimpin Spear Rebels,“ gumam Eleanor dengan terkejut. “Aku tidak berpikir orang seperti itu akan bergerak sekarang.”


Dia pernah mendengar desas-desus tentang pemimpin Spear Rebels. Seorang demi-human spesial karena tak memiliki bagian tubuh yang menyerupai binatang.


Umumnya demi-human akan memiliki telinga ataupun ekor hewan, bahkan bisa saja benar-benar menyerupai hewan dan bedanya terletak pada cara berjalan.


Namun pemimpin Spear Rebels adalah pengecualian, dia spesial karena tak memiliki bentuk tersebut. Dia benar-benar seperti manusia pada umumnya, tetapi bedanya dia memiliki monster yang bersemayam dalam dirinya.


Pemimpin Spear Rebels— Asland memiliki sesuatu yang tertidur dalam dirinya. Tidak ada yang tahu pasti namun rumor beredar bahwa dia bisa menjadi monster mematikan dan bisa menyamai seekor naga dengan darah murni.


“Ini gawat jika dia berada di sini. Tuan putri, maaf jika saya lancang namun ini demi kebaikan anda,” bisik Gildartz dengan tergesa-gesa. “prajurit kalian bawa tuan putri pergi lewat jalur darurat bergegaslah!”


“Ya!”


Para prajurit segera mengarahkan Eleanor untuk pergi. Meski enggan namun Eleanor tidak bodoh, dia tidak akan mengambil resiko untuk tetap berdiam diri saat tahu lawannya lebih kuat darinya.


Meski memalukan namun tetap hidup adalah kemenangan terbaik. Eleanor tidak ingin membuat kekacauan sebelum pernikahan kakak laki-lakinya.


“Tidak akan kubiarkan!” Asland mulai mengambil langkah dengan cepat.


Angin sampai berhembus di sekitarnya karena kecepatannya, tetapi Gildartz tidak kalah cepat. Dengan kecepatan yang sama dia menahan Asland dan berbenturan tinju dengannya.


“Jangan remehkan bangsawan dasar ras rendahan!” Gildartz tersenyum getir. “Cepat pergi!” bentaknya pada para prajurit.


Para prajurit membawa Eleanor ke kamar Gildartz, mereka membersihkan perapian yang ada di kamarnya dan membuka pintu rahasia di dalamnya.


“Ayo, tuan putri. Ini adalah rute yang paling aman untuk meninggalkan kota,” ujar salah seorang prajurit.


Beruntung bahwa istri dan anak Gildartz telah pergi sehari sebelumnya dengan alasan kunjungan bisnis.


Eleanor berniat masuk namun dia sedikit terhenti karena getaran dan suara keras dari tempat Gildartz berada. Itu benturan fisik dan sihir disaat bersamaan.


Jika benturannya sampai ke sini maka dipastikan Asland adalah orang yang sangat kuat. Tentu, Eleanor tahu bahwa Gildartz tidak sebanding dengannya, meski begitu tugas bangsawan adalah melindungi keluarga kerajaan.


“Akan kupastikan memberikanmu penghormatan atas pengorbananmu, Gildartz.”


Eleanor pergi melewati jalan rahasia tersebut dan meninggalkan kota Dart.


***


Gildartz melakukan benturan beberapa pukulan dengan Asland. Dia merasakan perbedaan kekuatan fisik yang sangat signifikan.


“Mengapa kamu tidak minggir? Baru beberapa kali kamu menerima seranganku dan lihat jari-jemari itu,” ujar Asland dengan sedikit mengejek.


Gildartz melihat tinjunya yang berdarah dan sedikit mengumpat.


‘Aku sudah menguatkan diri dengan sihir dan armor ini, namun tetap saja itu membuat jariku patah dengan beradu pukulan dengannya.’


Itu menunjukkan bahwa Asland memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Gildartz yakin dirinya tak memiliki banyak kesempatan untuk mengalahkannya. Meski benci mengakuinya namun dia takkan mampu melakukan apa-apa selain mengulur waktu.


“Patah satu atau dua jari bukan masalah. Serangan ini akan dinyatakan kekalahan lantaran kamu tidak berhasil mencapai tujuanmu.”


Spear Rebels jelas mengincar Eleanor untuk mengancam kerajaan maupun hal lainnya. Selama tujuan tersebut tidak berhasil dicapai maka kemenangan miliki Gildartz yang berhasil menahannya.


Asland tampak sedikit berpikir dengan melihat ke langit-langit, dia kemudian menyampaikan pemikirannya.


“Kamu mungkin benar bahwa aku gagal terhadap tujuan kecil dari penyerangan ini. Yah, namun itu bukan hal yang akan aku pusingkan,” ujar Asland, tampak tidak benar-benar peduli dengan lolosnya Eleanor.


Gildartz berpikir bahwa Asland sedang bersandiwara seakan rencananya tidak sepenuhnya gagal, tetapi dia tidak menemukan alasan mengapa Asland perlu melakukannya.


“Tujuan kecil? Itu lelucon. Dilihat dari manapun, gagal mendapatkan tuan putri adalah kegagalan untuk segalanya.”


“Itu hanya buah dari pemikiranmu yang sempit. Faktanya aku sendiri tidak benar-benar yakin bisa mendapatkannya. Bahkan jika bisa, bagian merepotkannya adalah jika kerajaan mengutus pahlawan.”


Pahlawan saat ini mungkin bukan pejuang terkuat di dunia, tetapi mereka jelas lebih kuat dari rata-rata. Bahkan jika saat ini mereka masih lebih lemah dari Asland, berurusan dengan mereka adalah langkah yang buruk.


Gildartz kini mengerti mengapa Asland berkata demikian. Bahkan jika Asland lebih kuat namun mustahil baginya menang melawan dua belas pahlawan.


‘Jadi begitu. Seandainya yang mulia raja mengutus pahlawan, besar kemungkinan posisi Spear Rebels akan sulit. Dari yang aku dengar, pahlawan panah dan pedang saat ini adalah yang paling kuat.’


“Hahaha, tidak kusangka bahwa kamu bahkan takut pada pahlawan yang masih belum matang! Jika aku jadi kau, aku akan memilih membunuh naga kecil sebelum dia beranjak dewasa!” Gildartz berniat memprovokasinya namun tampaknya tidak berguna.


“Tentu saja. Meski gelar pahlawan adalah omong kosong karena mereka belum menyelamatkan apapun, tetapi itu bukanlah guyonan. Aku bukan orang bodoh yang akan mengambil tindakan untuk membuat mereka terlibat secara intens dengan kami.”


Gildartz mulai khawatir, dia sebelumnya merasa menang karena berhasil menghentikan Spear Rebels menculik Eleanor, tetapi setelah semua ucapannya ada hal yang mengganggunya.


‘Jika tuan putri bukan tujuannya, lalu apa yang dia inginkan dari ini semua?!’ jerit hati Gildartz.


Seakan bisa membaca pikirannya, Asland mulai menyampaikan;


“Penyerangan ini pasti akan tersebar secara luas. Langkah pertamaku adalah membuat dunia tahu bahwa Spear Rebels tidak bermain-main tentang tujuannya. Alasan utamaku adalah untuk memancing pejuang kuat yang tidur selama ini untuk bergabung denganku.”


Kebencian yang dimiliki demi-human tidak lagi tertolong, meski begitu mereka tak bisa menentang. Melalui serangan terhadap kota Dart, Spear Rebels akan menjadi kepala yang menuntun demi-human untuk bertindak.


Gildartz kini mengerti dan merasa merinding karena menyadari tujuan Asland lebih besar dari dugaan. Dengan tersebarnya berita ini, para demi-human yang sebelumnya tidak berani memberontak akan memiliki nyali.


“Tujuanmu adalah memperbesar kelompok, ya? Meski begitu, bukan hal yang mudah mengurus banyak anggota karena—” Sesaat Gildartz nyaris menggigit lidahnya. Dia menyadari mengapa Asland menyerang kota.


“Kamu menyadarinya, kan? Berkat seseorang aku tercerahkan dan melihat banyak hal. Selain menambah anggota, aku memerlukan uang dan hal lainnya agar Spear Rebels menjadi kelompok yang kuat. Kota ini memiliki semua yang aku butuhkan.”


“Aku sadar membuat kekacauan saja tak cukup untuk membebaskan kami,” Asland memejamkan mata, dia kemudian menatap Gildartz dengan penuh tekad. “Aku akan mulai mengumpulkan kekuatan dan memulai peperangan.”


“Kamu pasti sudah gila! Tujuan sebesar itu—”


Gildartz sekali lagi sadar bahwa bukannya tidak mungkin itu terjadi. Berkat seseorang, tampaknya pandangan Asland jadi lebih terbuka. Jika begitu, maka ada lebih banyak alasan menghentikan Asland segera.


“Kamu bilang 'seseorang', ya? Apakah itu Niki atau anggotamu yang lainnya?” tanya Gildartz.


“Mereka tak sepintar itu,” ujar Asland. “Ada seorang manusia yang membenci lebih dari kami demi-human. Dia orang yang mengagumkan namun sayang kamu tak memiliki kesempatan untuk melihat hal hebat yang akan dia lakukan.”


Asland mulai bergerak cepat menghampirinya, Gildartz berusaha mengelak tetapi reaksinya begitu terlambat.


‘Dia lebih cepat dari sebelumnya-!’


Dalam waktu singkat Asland memberikan pukulan kuat di dadanya sampai Gildartz memuntahkan darah. Napas tersendat, pandangan kabur dan mulai runtuh.


Satu pukulan tersebut menghancurkan pelindung dadanya bahkan tulang rusuknya patah. Gildartz tumbang dalam satu pukulan kuat tersebut.


“Urgh! Sial,” umpat Gildartz.


“Sebagai hadiah akan aku beritahu padamu. Aku yakin kamu pasti pernah mendengar tentang pria yang membantu serangan ini sukses.”


Gildartz yakin dirinya tak punya kesempatan untuk membeberkan informasi ini pada siapapun. Toh, dia pasti akan segera mati saat ini.


“S-siapa?” tanya Gildartz.


Asland tersenyum merendahkan, “Pria yang disebut "Pahlawan ke-13", dialah orangnya.”


“A-apa?!”


Gildartz pernah mendengar bahwa ada tiga belas penduduk dunia lain yang dipanggil untuk jadi pahlawan, tetapi hanya dua belas yang bisa jadi pahlawan.


Satu orang tersebut berusaha kembali namun dia melakukan dosa yang buruk dan mengakhirinya hidupnya di Jurang Tanpa Dasar.


Gildartz sulit mempercayai, tetapi tidak ada gunanya Asland berbohong. Jika begitu maka artinya pria itu masih hidup.


“Apa yang … a-akan kamu lakukan setelah ini?”


“Benar juga. Cara terbaik untukku menyiksamu sampai kematianmu adalah … tidak mengatakan apapun.”


Asland sekuat tenaga menginjak kepala Gildartz beberapa kali sampai wajahnya hancur hingga akhirnya dia menggunakan sihir dan melakukan injakan terakhir untuk menghancurkan kepala Gildartz.