The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Festival Tanpa Kepala



Hari ini terdapat perayaan besar di ibukota Etherbelt. Hal ini terkait dengan keberhasilan pahlawan menaklukan Kuil Parthenon.


Menaklukkan Kuil Parthenon adalah prestasi besar yang dimulai oleh Mintaka. Meski ada hal kurang menyenangkan dari penaklukan itu, tetapi mereka memilih merahasiakannya dari rakyat.


Meski dihadapkan oleh penghargaan atas prestasinya, Mintaka sama sekali tidak merasa senang.


“Bajingan itu ... aku akan menangkapnya.”


Mendengar pidato Mintaka, Bellatrix hanya mengamatinya. Dia tak bisa menyampaikan keluhannya.


Tidak hanya datang terlambat, tetapi dia bertanggungjawab untuk membiarkan penculik Iris lolos begitu saja. Sekalipun Orion sudah menenangkannya bahwa itu bukan kesalahannya, tetapi Bellatrix masih merasa bersalah.


“Aku penasaran orang gila seperti apa yang berani melakukan itu di hadapan pahlawan.”


Orion berkata dengan nada yang tajam selagi memandangi rakyat dari tempat yang tinggi, dinding istana.


Saat ini di luar istana rakyat sedang melakukan pesta besar-besaran untuk merayakan keberhasilan penaklukan. Bahkan di dalam istana para bangsawan juga menikmati perjamuan yang dibuat raja.


Namun selain raja dan pahlawan, tak ada seorangpun yang tahu bahwa Iris diculik dan Mintaka tak berdaya di hadapannya. Tentu saja, keluarga Iris tahu tentang tragedi ini. Demi menjaga citra baik pahlawan, mereka diminta untuk merahasiakannya.


Dan juga, pahlawan lainnya juga sama sekali tak tahu. Toh, pahlawan yang hadir di perayaan ini hanya Mintaka, Orion dan Bellatrix. Sisanya mungkin sedang melakukan sesuatu.


“Entahlah. Namun aku merasa tidak asing dengan wanita yang bersamanya. Bahkan pria bajingan itu terasa familiar.”


Mintaka tak bisa menjelaskannya dengan benar. Namun dia merasa pernah bertemu dengan kedua bajingan itu di suatu tempat.


Mendengar itu Bellatrix jadi memikirkan wanita yang ia temui dan membawa Iris.


“Dipikir-pikir lagi, wanita itu terdengar tidak asing. Aku yakin setidaknya pernah beberapa kali mengobrol dengannya. Toh, suaranya cukup akrab.”


Bellatrix memegang dagunya dan mulai berpikir keras untuk mengetahui identitas wanita itu.


Melihat itu Orion dengan santai berkata;


“Kamu bicara hampir dengan semua orang. Itu tak menutup kemungkinan untuk orang dengan suara dengan nada yang sama.”


Orion sudah lama bersama Bellatrix. Bahkan keduanya melakukan leveling bersama. Meski konon ketika pahlawan melakukan leveling bersama akan menghambat kenaikan level.


Namun pada kenyataannya Bellatrix dan Orion naik level lebih cepat dari pahlawan lainnya. Mungkin karena monster yang mereka lawan beda kelasnya.


“Ya, kamu mungkin benar. Nah, untuk sekarang mari kita nikmati festivalnya! Aku ingin segelas anggur!” Bellatrix melompat dengan riang.


Orion dan Mintaka hanya tersenyum masam melihat sikap itu.


“Bukankah kamu bahkan belum dua puluh tahun? Di bumi umur segitu belum diperbolehkan minum alkohol." Orion berkata dengan masam selagi mengikuti Bellatrix di belakang.


“Namun ini bukan di bumi, kan? Kita ada di dunia lain sekarang! Norma dan hukum di bumi tak berlaku untuk dunia yang berbeda!”


Bellatrix seakan-akan memiliki bintang di bola matanya karena sangat bersemangat.


“Kamu rupanya benar-benar menerima apapun dengan sangat mudah.”


Mintaka membutuhkan waktu untuk menerima semua ini nyata bahwa dirinya sungguh berada di dunia lain.


Namun berbeda dengannya, Bellatrix menjadi orang yang dengan mudahnya beradaptasi dengan dunia ini dan menerimanya.


Sekalipun Mintaka tak menerima bahwa keduanya lebih kuat dari dirinya, tetapi faktanya, dia tak benar-benar benci bercengkrama seperti ini. Baik Orion maupun Bellatrix sama sekali tak memandang rendah siapapun.


“Kamu benar. Berbicara tentang itu, aku penasaran bagaimana kabar orang itu yang kembali ke bumi.”


Awalnya ada tiga belas orang yang dipanggil ke dunia ini karena kecelakaan pemanggilan. Diantara mereka, ada satu orang yang menolak berkah dunia dan memilih untuk kembali pulang.


“Entahlah, aku tidak terlalu menyukai orang itu. Dia bersikap seakan-akan dirinya sangat kuat meski dalamnya lemah.”


Mintaka tak pernah memikirkan orang itu sejak pertarungan terakhir dengannya saat sparing.


“Namun sejujurnya aku berharap dia bisa kembali. Aku tak pernah membenci orang yang tulus mencintai keluarganya.”


Di bumi, Mintaka memiliki keluarga yang dikatakan hancur. Ayahnya pergi dengan wanita lain dan ibunya menderitanya depresi sampai gila.


Namun melihat Aludra yang melakukan apapun untuk kembali ke keluarganya, dia sedikit mendoakannya.


“Hah! Bahkan jika pada akhirnya dia tak menemukan apapun dari perjalanannya aku takkan berduka.”


Bellatrix yang terus berjalan dan melihat langit tersenyum cerah. Dia yakin setidaknya Aludra berhasil pulang. Tidak, dia hanya bisa percaya hal itu.


“Yah, untuk sekarang mari kita nikmati pestanya!”


Bellatrix melompat turun dari dinding istana yang tinggi, diikuti dengan Orion dan Mintaka.


Saat mereka hendak bergabung dengan bangsawan dan raja, Bellatrix dikejutkan dengan seseorang memasuki istana.


Orang dengan jubah coklat yang tampak usang. Dia menggunakan tudung untuk menutupi hampir keseluruhan wajahnya.


Melihat itu raja, Andrea, mengerti keningnya dengan perasaan tak senang.


“Berani-beraninya rakyat jelata sepertimu memasuki istana!”


Diikuti dengan itu, sang ratu, Elizabeth membuat perintah.


“Prajurit, tangkap dan tendang jelata tak tahu diri itu!”


Para prajurit bergerak mendekat, tetapi hanya tersisa beberapa langkah lagi, mereka berhenti bergerak dengan terkejut. Tubuh mereka seakan-akan ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.


“Apa yang terjadi?” Bellatrix mengerutkan keningnya dan masih memproses situasi di depan matanya.


“Salam kenal wahai rekan terhormat sekalian!”


Pria berjubah coklat mulai memberikan hormat dan berbicara dengan keras. Cukup keras untuk membuat Bellatrix memikirkan suaranya yang terdengar tidak asing.


“Saya datang ke sini untuk memberikan rasa terima kasih kepada Ratu Elizabeth dan terutamanya Putri Eleanor atas informasi tentang cara untuk saya kembali ke rumah!”


Bellatrix membuka dan menutup mulutnya. Terkait suara yang dia kenali, dan perkataan megah pria itu sudah cukup membuat Bellatrix menebak identitas pria itu.


‘Mungkinkah—’


“Namun sayangnya informasi tentang kembali ke duniaku hanyalah konspirasi kalian! Aku tak menyangka akan terjebak dengan lelucon konyol ini! Seandainya ada cara untuk orang dunia ini melintasi dunia, lantas mengapa tak pernah ada yang mencoba! Ha ha ha, aku mengakui kebodohanku!”


Pria itu mengeluarkan sebuah kristal dari dalam jubahnya dan mengangkatnya ke depan.


“Itu ... bajingan yang menculik calon istriku!”


Mendengar perkataan Mintaka, Orion memiliki firasat buruk.


“Gawat, kita harua menghentikannya! Ayo Bellatrix — hei, Bellatrix?” Orion terhenti karena melihat Bellatrix diam membatu.


Bellatrix sungguh terguncang, wajahnya seperti orang yang sedang melihat orang tuanya setelah sekian lama tak berjumpa.


“Mengapa ... mengapa kamu masih di sini?”


Orion terbelalak. Satu kalimat itu cukup untuk mendefinisikan siapa identitas orang berjubah itu.


‘Mungkinkah dia?!’


Tepat saat Orion melihat kembali ke arahnya orang berjubah itu mulai berbicara.


“Sebagai balasan atas lelucon itu, aku datang untuk memeriahkan festival ini—”


Segera rantai hitam yang awalnya tak terlihat muncul tiba-tiba. Rantai itu sudah menyebar luas di istana dan menjerat semua orang di dalamnya tanpa terkecuali Bellatrix juga rekannya.


“Apa-apaan? Rantai ini tak bisa dilepaskan!”


Mintaka mengumpat saat coba memotong rantai yang mengekangnya. Bellatrix hanya mengamati pria itu dengan seksama, dia masih tak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


“Mari kita namai festival ini ... Festival Tanpa Kepala!”


Jubah yang menutupi wajahnya tertiup angin, diiringi dengan rantai yang menegang dan memotong kepala orang-orang yang terjebak.


Aludra menampilkan senyuman lebar dan sangat senang, persis seperti iblis ketika dia menyaksikan pemandangan puluhan kepala terlepas dan melayang di udara.