
—Prolog Arc II—
“Hah! Hah! Hah! Aku harus … bergegas!”
Engah, engah, dan terengah-engah. Maria berlari penuh terengah-engah, paru-paru kembang-kempis, dikejar oleh situasi mendesak dan ditemani ketergesaan. Keringat bercucuran dan hati berdoa agar tak terjadi hal buruk apapun.
Firasat memperingatinya bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, sesuatu yang tidak bagus. Maria tidak berharap firasatnya itu akan tepat sasaran, namun apa daya? Langit yang menghitam karena asap membuat harapan kecil itu terasa mustahil.
Langit hitam tersebut berasal dari asap hitam berkat sesuatu yang terbakar dalam jumlah besar.
“Baik-baik saja untukku, Takt, Aludra!”
Maria memohon kepada langit dan bumi untuk keselamatan dua orang paling berharga untuknya. Dia tidak memiliki orang yang berharga selain keduanya.
Entah apa yang sedang terjadi namun tampaknya kota Dart sedang dalam krisis. Maria sebelumnya hanya pergi untuk memberikan beberapa pelatihan petualang pemula, tetapi tak lama setelahnya dia merasakan getaran hebat dari kota.
Begitu merasakannya dia tergesa-gesa ke kota berlari kencang seperti yang dilakukannya sekarang ini.
Akhirnya setelah lama berlari Maria mencapai gerbang depan; hancur penuh retakan dan darah. Penjaga gerbang mati mengenaskan, darah menggenang tak terelakan. Sebagai pelengkap, kota dihiasi jago merah yang kelaparan; melahap apapun tanpa pandang bulu.
Maria sedikit berharap ini Mimpi, tetapi aroma manusia yang terbakar, juga kelelahan di tubuhnya membuatnya sadar semuanya adalah nyata.
“Apa yang sebenarnya terjadi … di sini?”
Maria tidak mengerti situasinya saat ini. Ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, salah satunya adalah monster.
“Jika monster menyerang kota, lantas mengapa tidak ada satu pun mayat monster di sini?”
Penjaga kota tidak lemah sehingga kota takkan ditembus semudah ini. Bahkan jika bisa ditembus, seharusnya ada mayat dari monster yang terbunuh. Namun fakta di lapangan saat ini tidak ada satupun mayat monster. Bekas dari serangan monster juga tidak dapat ditemukan.
Bahkan mayat para penjaga tidak terlihat habis dimakan ataupun kena cakaran monster setelah Maria memeriksanya.
“Ini luka dari pedang dilihat dari kedalamannya.”
Maria mulai berkeringat dingin setelah tahu manusia adalah penyebabnya. Mungkin juga sesuatu yang lebih buruk dari itu.
“Apa mungkin ... para pemberontak?”
Dia pun sekali lagi bergegas menuju rumahnya.
Dia tinggal di pinggiran kota yang masih dipenuhi hutan, jika saja tempat itu terbakar maka situasinya akan sulit.
Sekali lagi Maria berdoa dari lubuk hati terdalam untuk keselamatan Aludra dan Takt. Tidak peduli kepada dewa atau eksistensi apapun, selama doanya terkabul maka Maria rela bersujud.
Melalui lautan api juga darah, melewati tumpukan mayat yang terbakar dan berserakan, Maria terus berlari tanpa peduli pada hal yang lainnya. Dia mengabaikan manusia yang sekarat bahkan terbakar.
Mereka hanyalah orang asing baginya, bukan prioritasnya sehingga Maria mengabaikannya. Sekalipun ada yang bisa diselamatkan nyawanya, Maria tak lagi peduli.
Tiba di rumahnya, beruntung tidak ada yang terbakar. Meski begitu Maria merasakan hal yang aneh darinya.
“Ini terlalu sunyi …”
Maria berwaspada akan segala kemungkinan, tanpa mengecek setiap pintu dia berjalan menuju rumahnya.
Sebelum mencapai ke rumahnya, Maria melihat ke kandang, tempat familiar kesayangannya berada. Saat ia pergi, tempat itu bersih namun sekarang dipenuhi oleh genangan anggur merah darah.
“Skype!”
Familiarnya mati dengan menyedihkan, tenggorokannya ditusuk pisau, dan punggungnya dipenuhi oleh tombak. Maria mulai menangis lantaran Skype sudah bersamanya sewaktu kecil.
Meski begitu kesedihannya tidak berakhir sampai sana, ia berjalan ke rumahnya yang memiliki genangan darah dan mayat di dalamnya.
Napasnya melambat, bahkan serasa mau berhenti. Jantungnya berdegub kencang dan dadanya seakan-akan ditusuk ratusan jarum saat melihatnya.
Mayat dari adiknya yang tersayang. Maria jatuh berlutut, lemas tak mampu bergerak.
“Apa yang terjadi … mengapa ini semua terjadi? TAKT!”
***
Aludra melemparkan beberapa daging ke peliharaan milik Maria bernama Skype, elang kesayangan milik Maria.
“Kamu sangat besar … di tempat asalku tidak ada yang seperti ini.”
Aludra mulai merasakan betapa berbedanya selama dua tahun belakangan. Dia mulai terbiasa dengan perbedaan budayanya, bahkan tentang bahasa Aludra sendiri mulai mengerti segalanya. Kini tak ada kata yang tidak bisa dipahami.
“Kieek!”
“Tak hanya banyak makan, kamu juga sangat manja,” ujar Aludra saat mengelus kepala Skype.
Selama satu tahun belakangan semenjak insiden di jurang, Aludra meningkatkan dirinya agar bisa bertahan di dunia yang keras ini. Berkat bantuan guild petualang, Aludra bisa mendapatkan akses ke beberapa catatan milik guild.
Dia telah membaca cukup banyak manuskrip dan tahu tentang banyak hal salah satunya adalah Artefak Kuno. Senjata yang dibuat dewa untuk manusia.
Jika senjata suci milik pahlawan berada di nomor satu sebagai senjata kuat tak terhancurkan, maka Artefak Kuno berada di urut selanjutnya.
“Kekuatannya sendiri bisa sebanding dengan Senjata Suci. Setidaknya aku ingin memiliki satu dari Artefak Kuno.”
Ada jumlah terbatas terkait senjata tersebut, beberapa dimiliki oleh kerajaan dan bangsawan, bahkan iblis sekalipun memilikinya, tetapi masih banyak senjata yang belum ditemukan.
Aludra berniat memilikinya lantaran mungkin dia bisa mendapatkan sesuatu dari meneliti senjata tersebut. Atau setidaknya dia bisa melakukan sesuatu untuk ke depannya dengan Artefak Kuno.
“Aku tahu, Skype. Tempat itu sangat berbahaya untukku sekarang.”
Dari informasi yang Aludra dapatkan di catatan, ada sebuah Artefak Kuno yang keberadaannya diketahui. Hanya saja itu bukan tempat yang mudah didatangi.
“Hanya para pahlawan yang mungkin mendapatkannya. Meski begitu, bukan berarti aku akan menyerah mendapatkannya.”
“Kieek~.”
“Jangan mengejekku. Bahkan jika aku mengenal pahlawan, dia takkan memberikannya begitu saja.”
Tentu Aludra tidak mengerti bahasa hewan ataupun monster, meski begitu dia sedikit-banyaknya belajar tentang apa yang dimaksud Skype.
Dari penjelasan Maria, Skype mampu memahami bahasa manusia dan mampu merespon dengan suaranya menggunakan nada tertentu.
Terlepas dari apakah Aludra benar-benar memahaminya atau tidak, dia hanya menganggap sedang berbicara sendiri.
Setelah memberi makan Skype Aludra pergi ke kota untuk membeli persediaan makanan. Maria dan Takt pergi untuk mendapatkan uang, sementara Aludra mengurus berbagai hal di rumah. Kehidupan yang nyaman.
Membeli beberapa roti, daging dan sayuran, saat berniat pulang Aludra menemukan sebuah pedati yang mewah. Ada bendera cincin dengan matahari di tengahnya. Bendera keluarga kerajaan, Etherbelt.
Terdapat setidaknya dua belas ksatria yang mengawalnya dengan ketat, orang-orang di sekitar jalan berhenti beraktivitas untuk memberikan hormat.
“Apa yang dilakukan anggota kerajaan di sini?” ujar Aludra, berkerut marah.
Aludra tidak melupakan dosa Eleanor dan Elizabeth karena telah menipunya. Bahkan yang terburuknya, mereka mengubah cerita tentang Aludra melompat ke jurang.
Mereka mengubah ceritanya menjadi; Aludra membunuh prajurit dan petualang yang mengawalnya sebagai pengorbanan untuk kembali ke dunianya.
Berkat hal itu fakta bahwa ada tiga belas penduduk dunia lain yang dipanggil terungkap. Dan, semua orang mengutuk pada orang ketiga belas yang menumbalkan orang.
Aludra tentu aman karena tidak ada siapapun yang mengetahui wajahnya, tetapi dia tetap tak menyukai situasi ini.
Dia tentu sangat membenci Eleanor, tetapi itu tidak membuatnya dibutakan oleh kemarahan dan langsung menyerang begitu saja. Aludra tidak bodoh atau sombong, dia takkan bisa menghadapi para pengawalnya.
Selain itu, semuanya akan bertambah buruk jika dia membuat kekacauan sekarang.
“Aku harus menyelidiki apa yang bajingan itu lakukan di sini,” gumam Aludra.
Meski Aludra bisa mengabaikannya dan bersikap tak pernah melihatnya namun Aludra memilih tak melakukannya.
Ada banyak hal yang tidak bisa ia lepas ataupun lupakan. Sekalipun kelak akan merenggut nyawanya, Aludra telah bertekad dan tak lagi peduli.