The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Artefak Kuno



“K-kita berhasil!”


Semua orang mulai bersorak penuh sukacita. Beberapa melempar helm dan topi, bahkan tak sedikit orang menangis.


Bagaimana tidak? Mereka berhasil menaklukkan Kuil Parthenon yang sudah ditakuti sejak puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.


Ini adalah legenda baru yang ditulis oleh tangan pahlawan. Dengan mereka menjadi kepingan kecil dalam legenda.


“Kamu berhasil melakukannya, Amatsumi!” Iris dengan gembira berjalan ke arahnya, dia memiliki pakaian yang compang camping dengan tangan kanannya berdarah.


“Kamu tampak kacau, Nona Iris. Apa kamu baik-baik saja?” Aludra bertanya dengan apatis.


Iris tersenyum masam, “Ini hanya luka kecil. Kesampingkan ini, sebaiknya kita kumpulkan semua jarahannya.”


Iris menjelaskan bahwa semua yang ada di sini akan dikumpulkan dan diberikan pada kerajaan. Mau bagaimanapun Kuil Parthenon adalah bagian dari sejarah Etherbelt. Apapun yang bisa diambil dari sini akan menjadi koleksi museum.


“Berarti termasuk inti bajingan tulang itu, ya?” Aludra menatap Mana Stone di tangannya yang baru saja dia dapatkan dari membunuh Lich. “Yah, sama sekali bukan masalah. Saya melakukan ini untuk uang.”


Iris tampak lega untuk beberapa alasan karena Aludra tak keras kepala. Dia kemudian menatap Mintaka yang mendapatkan perawatan. Sang pahlawan itu menatap Aludra dengan tidak senang.


“Tampaknya kamu dibenci pahlawan.” Iris berkata dengan suara berbisik.


Aludra meliriknya sebentar dengan acuh tak acuh. Wajar saja dia akan dibenci karena telah merusak panggungnya dan melakukan serangan terakhir.


Namun sekarang bukan itu yang penting. Aludra bisa menemukan Cage mulai tersadar kembali dan duduk dengan wajah menderita.


Maria menemaninya bersama seorang penyihir yang sedang menyembuhkannya. Untuk beberapa alasan Maria mengikat Cage dengan benangnya. Aludra diam-diam tersenyum an menghampiri.


“Sepertinya ada banyak hal yang perlu kamu katakan.”


Mendengar perkataan Aludra, Cage menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah.


“Akan kuceritakan.”


Sewaktu kecil Cage pernah tak sengaja tiba di kuil ini. Kala itu dia berusaha mencari keajaiban untuk menyembuhkan ibunya yang sakit keras.


“Aku tiba di depan gerbang kuil dan sialnya bajingan itu menangkapku.”


Cage harus kehilangan salah satu matanya dan membiarkan dirinya menjadi boneka Lich. Selama bertahun-tahun dia terus membawakan manusia ke tempat ini untuk tumbal.


“Tumbal untuk apa? Aku tak berpikir tulang akan memakan manusia.”


Aludra tidak memiliki pengetahuan umum sebanyak orang lain, tetapi sangat itu tidak terjadi. Lich itu hanya berisi tulang, apapun yang dia coba makan akan keluar seperti kotoran.


Cage kemudian bangkit dan memimpin jalan menuju altar di tengah kuil.


Mintaka hanya mengamati dari kejauhan. Toh, dia mungkin yang paling kelelahan di sini karena telah menggunakan sebagian besar kekuatannya.


“Dia menumbalkan manusia di sini demi menjaga harta yang terkubur di dalamnya. Tempat ini bukanlah altar belaka, tetapi juga peti mati.”


Memang itu tampak seperti peti mati meski ukurannya cukup besar.


“Dari mana kamu mengetahuinya?” tanya Iris, memandang peti mati dengan penasaran.


“... aku menyaksikan langsung ketika orang-orang yang kubawa menjadi tumbal.”


Cage telah menyaksikan langsung ketika Lich menumbalkan manusia. Itu bukan proses yang ingin dilihat siapapun.


“Sepertinya ada persyaratan tertentu untuk membukanya. Bajing Lich sudah menunggu selama ratusan tahun untuk membukanya.”


Berdasarkan penjelasan Cage, ada persyaratan di mana harus ada banyak darah yang diperlukan untuk membukanya.


Dikarenakan Lich tak berjalan di bawah sinar matahari sulit baginya memenuhi persyaratan itu.


“Di tempat ini juga ada kutukan yang mencegah orang meninggalkan kuil. Arc Lich adalah orang yang menerima kutukan tersebut.”


Jalannya menjadi buntu ketika kutukan mengikatnya. Arc Lich hanya bisa terus menunggu seseorang menghampiri kuil ini. Sampai kesempatannya tiba ketika Cage menjadi bonekanya.


“Namun asumsiku kita bisa pergi jika membawa apa yang ada di peti mati ini. Kalian bisa lihat lantai dan langit-langit.”


Aludra mengikuti arahan dan menemukan ada celah kecil di lantai maupun langit-langit.


Celah kecil yang membentuk pola aneh di seluruh ruangan. Kemungkinan besar pola itu adalah sesuatu semacam Rune. Namun ketika melihat lebih detil lagi, seluruh celah kecil itu sudah memerah karena diisi darah.


Hanya tersisa bagian di tempat mereka berdiri yang belum memiliki warna merah.


“Sepertinya masih perlu darah lain untuk menyelesaikannya.”


Arc Lich mencari tumbal untuk mengisi Rune ini dengan darah. Aludra langsung memahami keseluruhan niatnya.


“Ya. Kita tetap harus mengorbankan seseorang. Meski aku bisa dianggap penjahat, tetapi aku tak mau mati.”


Mendengar pernyataan Cage, Iris tak mampu berkata-kata. Meskipun benar dia adalah penjaga, tetapi Cage telah dikendalikan. Kejahatannya bukan atas kehendak pribadi.


“Pengorbanan, ya?” Aludra bergumam dan menarik belatinya. Segera dia menundukkan kepala Cage di atas peti mati.


“Apa yang kamu lakukan—” Iris sangat terkejut dan berniat meraihnya, tetapi segera dia menyadari sesuatu mengiris kulit lehernya.


“Bergerak selangkah saja maka kamu akan menggantikannya.”


Maria yang ada di belakang Aludra mengangkat jari jemarinya. Itu memperlihatkan benang putih super kuat dan tajam sudah tersebar sampai menjerat Iris.


Tentu saja, Maria sudah melakukannya sejak pertarungan sebelumnya.


“Bukan hanya kamu, tetapi semua di sini akan mati.”


“Keparat! Aku tahu ada sesuatu yang aneh tentang kalian!” Mintaka di kejauhan berteriak penuh kemarahan.


“Hentikan semua ini sebelum aku membunuhmu!”


Aludra hanya mengabaikan ocehan tak berkualitas Mintaka. Dia hanya fokus pada Cage yang kepalanya mencium peti mati.


“T-tolong! Aku tidak mau mati,” Cage mengemis atas hidupnya.


“Kamu harus menebus dosamu, ******.”


Tanpa keraguan belatinya ditancapkan di kepala Cage. Darah segar mengalir dan mengisi kekosongan Rune yang tersisa.


Cahaya kemerahan mulai bersinar segera setelah semua celah terisi darah.


Crack!


Suara seperti pintu yang dibuka menggema. Aludra menendang tubuh Cage menyingkir dan membuka peti matinya.


Di dalam peti mati terdapat mayat biarawati yang memeluk cawan di dadanya. Itu hanya tersisa tulang karena mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya. Namun cawan hitam dalam pelukannya masih terlihat baru.


Peti mati kemudian mulai terisi darah entah dari mana. Darah mulai memenuhi peti mati dan cawan hitam mengambang.


“Apa ini Artefak Kuno? Tampak membosankan.” Aludra sedikit kecewa dengan kenyataan.


Cawan hitam yang terlihat jelek dan bau. Dalam sekejap darah yang terkumpul di sekitarnya masuk ke dalam cawannya.


Darah yang merah gelap berubah menjadi hitam dan menjijikan. Namun yang paling aneh adalah itu sama sekali tak berbau.


“I-itu ... Pandora—” Iris yang terkejut segera menutup mulutnya dengan cepat. Dia sadar telah melakukan kesalahan.


“Ho?” Aludra menoleh, “Kamu tampak tahu sesuatu. Sangat disayangkan jika harus dibunuh.”


Tidak mungkin membungkam orang yang memiliki informasi. Aludra akan memanfaatkannya dengan sangat baik.


Toh, ini adalah Artefak Kuno pertamanya. Akan menyebalkan jika Artefak memiliki batasan seperti pahlawan yang hanya bisa menggunakan satu senjata.