
Kota Dart mengalami ledakan besar di mana-mana, suara rusuh dari banyak orang mulai menggema diikuti oleh kematian banyak orang.
Api melahap rumah, pepohonan hingga tubuh manusia. Tak ada yang bisa menghindar dari kekacauan ini. Toh, gerbang kota juga mengalami kesulitannya sendiri.
“Demi-human menyerang! Mereka … tak diragukan lagi, Spear Rebels!”
“Sial! Serangan terjadi dari dalam dan luar kota!”
“Mengapa ini semua bisa terjadi sialan?!”
Para prajurit sibuk bertarung dengan mereka yang berada di luar benteng dan juga di dalam. Serangan dua arah.
Demi-human yang berhasil menyusup mulai membunuh dan membakar seisi kota, mereka menyebabkan kehancuran di mana-mana selagi perlahan menuju kastil bangsawan kota.
Meski serangan mereka tampak begitu terencana dan strategis, akan tetapi prajurit dan guild petualang kota Dart sudah siap dengan kemungkinan seperti ini.
Mereka telah berkumpul dan membentuk korps besar yang bertarung melawan demi-human.
“Jangan sombong, demi-human! Sejak ada desas-desus keberadaan kalian, kami sudah mulai mengumpulkan orang!” ujar seorang petualang wanita berbadan kekar. “Aku Gilda! Petualang lencana emas!”
“Aku tahu hal itu dengan jelas. Meski begitu, keberadaan kalian takkan menghentikan kebencian kami!” ujar Niki. “Semuanya serang! Kita akan terus membunuh sampai mendapatkan Eleanor!”
Pertempuran terjadi di mana-mana, situasinya menjadi teramat menyedihkan dilihat dari sisi manapun. Kota Dart akan menjadi gunung mayat dan lautan penuh darah.
Mungkin setelah semua ini berakhir, kota yang indah dan memanjakan mata akan berubah menjadi tempat tandus yang terlantar. Kota yang hanya akan ada mayat dan puing bangunan.
Di tempat lain, Aludra memandang mayat Takt yang tewas dengan tangannya langsung.
“Kematianmu dan kota Dart adalah langkah pertama …”
Aludra berkata demikian, segera dia berlutut dan memegang mulutnya. Isi perutnya mendadak naik keluar, Aludra memuntahkan semua makanan yang belum dicerna.
Hatinya terasa aneh, tubuhnya juga sedikit gemetar. Mau bagaimana lagi? Ini adalah pertama kalinya Aludra membunuh orang. Ada perasaan bersalah dari melakukan dosa membunuh.
Meski begitu Aludra mau tidak mau perlu menguatkan dirinya. Dia harus bisa hidup mengemban semua dosa dari membunuh manusia. Ini hanyalah permulaan, akan banyak tragedi yang mungkin terjadi nantinya.
Aludra pergi keluar dan menemukan empat orang dengan tudung dan jubah telah menunggunya. Salah satu dari orang itu memiliki tinggi dan tubuh yang dua kali lebih besar dari Aludra. Pria itu kemudian mulai berbicara.
“Semuanya sesuai informasi darimu. Mulai dari titik lemah penjagaan, waktu pertukaran prajurit hingga tempat-tempat yang memiliki bahan mudah terbakar.”
Aludra hanya diam saat orang itu menjabarkan informasinya. Tentu saja itu semua sudah diketahuinya mengingat Aludra sendiri yang membocorkannya.
Dia telah menggunakan waktunya untuk mempelajari pergerakan prajurit dan waktu di mana ada tempat-tempat yang lemah penjagaannya.
Berkat hal itu para pemberontak bisa masuk ke kota. Bahkan alasan mengapa ada banyak demi-human di kota ini adalah Spear Rebels telah menyusup dan menghasut demi-human di kota ini untuk memberontak. Kekacauan dimulai dari informasi kecil yang Aludra bagikan dengan mereka.
“Kalau begitu sesuai kesepakatannya. Aku akan memberikan kalian informasi tentang kota, sebagai gantinya aku menginginkan uang, pedati dan juga jubah itu.”
Aludra mungkin meminta terlalu banyak namun nyatanya itu tidak setimpal. Jika penyerangan ini berhasil maka Spear Rebels akan mendapatkan banyak hal seperti emas dan perlengkapan.
Untuk menciptakan kesepakatan ini Aludra perlu mengambil langkah untuk menciptakan keuntungan besar di pihak lain.
“Tenang saja. Kami bukan pengingkar janji, ketua akan membunuh kami jika melakukannya.”
Pria itu melemparkan sebuah jubah kulit kecoklatan yang disulam emas dan memiliki kerah yang sedikit sobek.
Itu adalah jubah sihir yang membuat penggunanya memiliki ketahanan tinggi terhadap panas maupun dingin.
“Jangan sampai merusaknya. Hanya ketua yang memiliki ini, jadi ini cukup berharga.”
“Omong kosong. Kalian bisa mendapat seratus setelah penyerangan ini,” ujar Aludra dengan apatis menggunakan jubahnya yang tidak terduga cocok dengan baju putihnya.
“Hahaha, kamu cerdik seperti yang dikatakan ketua. Mari anggap pertemuan kita tidak pernah terjadi,” pria itu mulai berjalan pergi bersama anak buahnya. “Ah, maaf tentang peliharaanmu. Dia sangat menjengkelkan sehingga kami membunuhnya.”
Aludra tidak begitu peduli dengan itu namun dia tertarik untuk melihatnya. Pergi ke kandang Skype, Aludra menemukan monster itu telah memiliki banyak tombak di punggungnya, sekarat dan merengek minta bantuan.
“Skype … kamu tampak menyedihkan,” ujar Aludra tanpa ekspresi apapun.
“Kiek …”
Aludra berlutut dan mengelus kepala monster itu, dengan lembut mengangkatnya.
Aludra mengambil pedang yang digunakan untuk membunuh Takt, dia kemudian menancapkannya ke leher Skype dengan lembut. Bukan untuk menghargainya, tetapi agar rasa sakitnya luar biasa.
“Tenang saja. Kamu beruntung takkan menyaksikan dunia ini menjerit.”
Tak perlu berlama-lama, Aludra lekas pergi untuk melihat apakah Spear Rebels telah menyiapkan barang sesuai seperti kesepakatan mereka.
****
Suara dari para prajurit melawan Spear Rebels bergema di kota Dart. Warga mencoba mengungsi namun ke mana mereka bisa pergi? Kota ini telah terkepung. Setiap rute pelarian sudah diblokir oleh Spear Rebels.
Kota Dart sudah menjadi sangkar burung yang tidak akan membiarkan orang di dalamnya pergi keluar. Jika ada yang bisa selamat, mungkin mereka telah menggunakan seluruh keberuntungan dalam hidupnya.
“Tuan putri, situasinya semakin bahaya. Sebaiknya anda segera melarikan diri,” ujar Gildartz yang sudah menggunakan perlengkapan tempurnya.
“Mereka hanya demi-human, tak ada yang aku khawatirkan. Selain itu, kita sudah mengerahkan banyak prajurit dan petualang sebagai jebakan untuk melenyapkan mereka.”
Eleanor tampak tidak memiliki kekhawatiran apapun dan dengan santai meminum tehnya. Sejak awal tujuannya ke sini adalah untuk memancing Spear Rebels untuk melenyapkannya.
“Namun situasinya di luar harapan kita, tuan putri. Mereka memiliki perlawanan yang sangat kuat, bahkan wakil ketua Spear Rebels, Niki mampu menghadapi Gilda dengan sangat baik.”
“Lalu kenapa? Tak peduli seberapa kuat dia, orang itu takkan mampu melawan semuanya sendiri.”
Eleanor tetap yakin pada rencananya yang tidak akan gagal. Baginya demi-human hanyalah ras rendahan yang takkan menang melawan manusia.
“Namun—”
Duar!
Tiba-tiba ledakan besar terjadi. Gildartz memposisikan diri untuk melindungi Eleanor. Delapan prajurit lekas menghampiri mereka dan berusaha melindungi.
“Apa yang terjadi?!” bentak Eleanor, dia juga cukup terkejut oleh kejadian itu.
Seseorang tampak keluar dari puing-puing yang hancur, pria dengan rambut kecoklatan, rambut hitam panjang dan berantakan sampai ke bahu. Wajahnya terlihat sinis dengan kantung mata berwarna kemerahan.
Tato bergaris di badannya dapat terlihat lantaran dia telanjang dada hingga menampilkan otot-otot tubuhnya. Serta, dua taring tajamnya mencuat.
“Jadi kamu ada di sini, Eleanor.”
Suara gagah mencapai telinga Eleanor, suara yang memberi kesan intimidasi. Terdengar serak dan juga menakutkan.
“Siapa kamu?!” bentak Eleanor.
“Ah, maaf. Aku mengenalmu hanya satu sisi. Kamu adalah ****** yang menempatkan demi-human di posisi sulit. Penindasan, bahkan menyarankan demi-human dibunuh untuk meningkatkan level.”
Ada demi-human yang sengaja dipelihara beberapa bangsawan atas perintah Eleanor. Dengan memelihara demi-human tersebut dan membuat mereka cukup kuat, kelak nantinya mereka akan dibunuh untuk meningkatkan level.
Bahkan tak jarang juga bangsawan yang ditugaskan menjual demi-human wanita sebagai pelacur.
“Lalu kenapa? Demi-human adalah monster, mereka tak memiliki hak asasi.”
“Ah, rupanya kita memang tak bisa akrab. Kalau begitu sudahi basa-basi ini, aku akan menangkapmu.”
Wajahnya terekspos, pria itu memiliki wajah yang dapat dikatakan tampan. Begitu melihat wajahnya, Eleanor menemukan bahwa Gildartz terguncang.
“Mata setajam singa, kantung mata kemerahan dan juga tato itu … tidak salah lagi,” Gildartz mulai bergetar, “mengapa kamu ada di sini?!”
“Kamu mengenalnya? Siapa dia?” tanya Eleanor dengan sedikit panik.
Itu karena pria di depannya sangat kuat. Eleanor sebelumnya bangga dengan kekuatannya sebagai pemilik darah bangsawan, tetapi di hadapan pria itu dia merasa kecil.
Meski perbedaannya tidak signifikan namun pria itu jelas berbahaya.
“Ho? Tampaknya aku cukup terkenal, ya?” ujarnya dengan terkejut. “Dikarenakan putri kecil ini tidak mengetahuinya, maka izinkan aku memperkenalkan diri.”
Pria itu meregangkan lehernya selagi berjalan beberapa langkah sebelum berhenti, dia kemudian menatap Eleanor juga orang di sekitarnya dengan tajam. Di tengah itu semua, dia menyuguhkan:
“Aku pemimpin dari kelompok pemberontak, Spear Rebels. Namaku, Asland Yurazania.”