
Di halaman kediaman bangsawan Solva terdapat banyak petualang dan pejuang berkumpul. Mereka datang bukan tanpa alasan, tetapi karena undangan yang dibuat bangsawan tersebut dengan tema penaklukan Kuil Parthenon.
Selain adanya imbalan besar bagi setiap partisipan, tak sedikit orang mengharapkan menemukan sesuatu di sana. Dan, tak sedikit yang datang hanya untuk bertarung berdampingan dengan pahlawan.
“Terima kasih atas kehadiran saudara sekalian. Saya melihat bahwa tak ada satupun dari saudara yang tidak berantusias atas penaklukan ini,” Edward mulai menyampaikan sambutan.
Pidato yang dia harus lakukan sebagai pemimpin kota. Ringkasnya dia menceritakan tentang Kuil Parthenon yang tak tersentuh selama ratusan tahun lamanya.
Banyak yang pergi tanpa pernah kembali untuk menceritakan sesuatu di dalam Kuil Parthenon. Mereka hanya meyakini bahwa setidaknya ada Artefak Kuno yang dijaga monster kuat.
“Hari ini dunia akan mencatat sejarah baru ketika Kuil Parthenon akhirnya akan diruntuhkan berkat pahlawan kita!”
Seseorang melangkah ke dalam podium. Orang yang membawa kapak putih dengan bola kristal di ujung gagangnya.
Aludra mengenali penampilan itu karena dia pernah berkonfrontasi kecil dengannya di masa lalu.
Pahlawan yang membawa kapak, Mintaka Bauman.
Pria berbadan besar dan berkulit coklat sama dengan warna rambutnya. Dia adalah orang dengan wajah yang lebih mirip penjahat ketimbang pahlawan.
“Dia jelas bukan orang baik-baik. Aku harap tak ada apapun yang buruk terjadi,” guman Maria di sisinya.
Aludra mengangguk setuju, “Sebisa mungkin kita kurangi kontak dengannya.”
Seperti yang terlihat, Aludra dan Maria menjadi salah satu partisipan dalam penaklukan ini. Untuk menjaga identitas keduanya tetap aman, Maria dan Aludra mengenakan topeng.
Maria dengan topeng putih dan dua lubang untuk mata, sementara Aludra topeng tengkorak yang menutupi sebagian wajahnya, membiarkan mulutnya tidak tertutupi apapun.
Meski ada risiko identitasnya terungkap, tetapi hasilnya mungkin akan sebanding. Jauh lebih aman pergi ke Kuil Parthenon bersama banyak orang kuat.
Mintaka mulai memperkenalkan seorang pemandu mereka demi menuju Kuil Parthenon. Aludra terkejut bahwa pemandu itu adalah orang yang pernah dia tabrak sebelumnya. Selain itu, Maria mengemukakan bahwa wanita itu adalah orang yang mengetahui hutan Red Forest dengan baik.
Nama wanita itu adalah Cage, seorang petualang yang mengetahui dengan baik Red Forest.
Aludra menemukan beberapa kejanggalan tentang wanita itu namun dia tak menghiraukannya.
Perjalanan segera dilakukan secepatnya, dengan Mintaka dan Cage memimpin. Diikuti oleh Iris dan pengawal bangsawan Solva lainnya.
Gadis itu ikut dalam penaklukan? Aludra tidak pernah tahu bahwa Iris bisa bertarung.
“Bangsawan dilahirkan untuk menjadi bangsawan. Beberapa dari mereka memiliki garis darah pejuang yang kuat, Solva adalah salah satunya.”
Dari penjelasan Maria, dapat disimpulkan kekuatan orang-orang di dunia ini juga bisa dipengaruhi oleh darah. Orang kuat akan menghasilkan keturunan yang kuat selama garis darah tidak putus.
Mereka tiba di perbatasan Red Forest. Iris segera membagikan masker khusus untuk mencegah racun. Hutan telah terbakar sebagian, seakan sengaja dibakar untuk membuat jalan bagi mereka.
Meski telah melakukan hal itu, Aludra mulai bertanya-tanya mengapa mereka masih memperlihatkan seorang pemandu jalan?
Seakan menjawab pertanyaannya, Cage mulai berbicara cukup keras untuk didengar oleh semua orang.
“Saat mulai memasuki teritorial kuil, kabut akan mulai muncul. Aku ingin semua orang merapatkan barisan saat melihat kabut putih yang eksentrik. Petualang baru akan dimulai setelahnya.”
“Tanpa melalui jalan yang benar kita akan tersesat tanpa pernah bisa keluar.”
Mendengar perkataan Cage membuat Aludra menemukan sesuatu yang ganjil. Jika tidak ada yang bisa keluar dari kabut itu hidup-hidup, maka dapat dikatakan tak ada yang tahu rutenya.
‘Namun wanita ini dikatakan mengetahui jalannya dan menjadi pemandu. Bagaimana cara dia mengetahuinya?’
Hanya ada dua kemungkinan saja. Cage mungkin pernah mengunjungi tempat itu atau dia hanya mengatakan omong kosong saja. Namun aneh dilihat dari manapun.
Bagaimana cara wanita itu menemukan jalan yang benar? Aludra yakin tidak mudah melakukannya mengingat banyak yang tersesat ke dalamnya.
Jika memang semudah itu maka harusnya ada lebih dari segelintir orang tahu jalan keluar dan masuk melalui kabut itu.
‘Jelas ada yang aneh di sini. Aku harus mewaspadai wanita itu.’
Aludra memiliki pengalaman untuk dikhianati pada saat dirinya mempercayai orang lain. Melalui pengalaman tersebut dia sampai pada kesimpulan bahwa orang jujur tak pernah ada. Hanya ada pengkhianat dan orang-orang yang mengatakan kebenaran demi tujuan tertentu.
Tidak ada kejujuran nyata di dunia ini, kesucian hannyalah omong kosong yang digunakan demi mendapatkan manfaat.
Aludra mendekati Maria dan membisikkan sedikit hal, “Wanita itu jelas mencurigakan. Hati-hati terhadapnya.”
Maria hanya mengangguk, dia memiliki pemikiran yang sama dengan Aludra. Selain itu, Maria pernah mendengar rumor buruk disekitar gadis itu. Cukup mengejutkan bahwa pahlawan dan bangsawan Solva tetap menggunakannya sebagai pemandu meski dengan latar belakang seperti itu.
‘Aludra mungkin tak menyadarinya namun aku merasakan getaran aneh di sekitarnya ... seakan-akan ada sesuatu yang jahat di dalam dirinya.’
Bahkan tanpa diberitahu Aludra sekalipun dia akan mengamati gadis bernama Cage ini.
Mereka kemudian mulai memasuki kabut yang terasa dingin. Kulitnya terasa disentuh kapas yang tak terlihat, perasaan tak menyenangkan datang dari kabut tersebut.
Kabut menakutkan karena mereka tak bisa melihat apapun, merasakan apapun, bahkan. mendengar apapun. Suara hanya datang dari pergerakan orang-orang di sekitar mereka.
“Kita tidak akan bisa merasakan kehadiran apapun dalam radius 500m. Tetap berwaspada, monster di tempat ini tidak ringan sama sekali,” ujar Cage yang masih memimpin jalan.
Aludra dapat melihat bahwa Cage tidak memiliki keraguan apapun saat memimpin jalan, seakan-akan dia benar-benar telah terbiasa dan tahu rutenya. Tindakannya jadi semakin mencurigakan.
Tepat sebelum mereka benar-benar masuk terlalu jauh, seseorang menghentikan kelompok tersebut. Orang itu tidak mengatakan apa-apa, hanya berhenti berjalan cukup membuat semuanya mengikuti. Bahkan Cage mau tak mau berhenti bergerak.
“Apa ada yang salah, tuan pahlawan?” tanya Cage dengan khawatir.
Pahlawan kapak, Mintaka hanya diam membatu selagi mengamati sekelilingnya. Dia menatap kiri dan kanan, atas dan bawah, tanpa menemukan apa-apa. Mintaka akhirnya berteriak.
“Segera tunjukkan dirimu, tak ada yang bisa bersembunyi dari pahlawan!”
“Aku tahu kamu sedang mengawasi kami, cepatlah keluar!”
Aludra hanya memandang dan mulai bersiaga. Tak peduli seberapa tak menyenangkannya orang itu, Mintaka tetap pahlawan. Kekuatan dan indra miliknya mungkin diatas manusia normal.
Seakan menjawab perkataan Mintaka, Aludra mulai merasakan sejujurnya merinding.