
Prolog Arc III.
Tempat yang terbengkalai, tanah yang merah kering sepenuhnya dan mengeluarkan asap kemerahan. Meski saat ini malam namun udara di tempat tersebut terasa panas sehingga menimbulkan suasana tidak nyaman di kulit.
Entah dari mana asalnya sampai saat ini segalanya masihlah sebuah misteri. Namun banyak rumor mengatakan bahwa mungkin asalnya dari tempat yang tak boleh dikunjungi orang-orang. Besar kemungkinan tempat itu adalah sumber masalahnya.
Akibat dari tanah yang tak sehat, daun hijau tak dapat tumbuh, hanya ada pepohonan kering yang mati karena tak mendapat nutrisi. Meskipun matahari masih menyinari tempat ini, tetapi bagaimana pohon bisa hidup di tempat yang jauh dari kata normal?
Di tempat yang jelas-jelas tak layak untuk ditinggali manusia maupun monster, terdapat sebuah tempat besar yang ditutupi kabut. Hanya ada satu jalan masuk, yakni gerbang kuil setinggi delapan meter.
Sisanya adalah pohon besar setinggi beberapa puluh meter yang anehnya hanya di tempat ini saja pohon dapat tumbuh dengan subur. Pohon tersebut menjadi benteng alami sehingga hanya bisa dimasuki melalui gerbang kuil.
Bagian dalamnya hanya ada kegelapan, tak bisa siapapun mengetahui apa yang ada di dalamnya selain memasukinya sendiri. Misteri bagi dunia ini, sekalipun di masa lalu banyak yang mencoba menguaknya namun akhirnya amatlah menyedihkan.
Faktanya bahwa tak ada satupun yang tahu apa isi dari dalam tempat itu menjadi bukti nyata, bahwa dari banyaknya orang yang berkunjung, tak ada satupun yang berhasil kembali untuk bercerita.
Keganjilan lainnya. Tempat yang tak membiarkan siapapun keluar saat ini memunculkan keanehannya. Dari gelapnya gerbang tersebut, seseorang terhempas keluar. Seorang gadis kecil dihempaskan dengan kuat sampai mencium tanah beberapa meter.
Gadis itu terbatuk beberapa kali, dia melakukan upaya terbaik agar jubahnya tak benar-benar hancur. Dan juga, dia menutup hidungnya dengan sebuah kain khusus agar tak menghirup racun.
Meski tak menghentikan racun terhirup sepenuhnya namun tindakannya cukup untuk meminimalisir.
“Gadis kecil yang malang ... apakah kamu tersesat sedalam ini ... saat sedang bermain petak umpet? Kamu sungguh sial.”
Suara yang terdengar serak dan hampir setiap kalimatnya tak bisa didengar dengan jelas. Dan juga suaranya terdengar lemah. Entah dia pria atau wanita, toh suara tersebut sangat ambigu sehingga sulit dipastikan. Seakan-akan seperti suara orang yang pita suaranya hampir putus.
Sulit ditentukan mengingat intonasinya lemah lembut seperti wanita dan tak segagah pria, tetapi anehnya suaranya juga condong ke arah pria. Ketidakjelasan lainnya.
“T-tidak … tolong, jangan bunuh aku …”
Gadis kecil itu menangis dan tubuhnya gemetar sepenuhnya. Dia telah mengetahui makhluk apa yang ada di dalam tempat tersebut. Tak salah untuk mengatakan bahwa makhluk itu adalah mimpi buruk.
Sosok yang seharusnya tidak pernah diganggu oleh siapapun, tindakan yang akan disesali gadis itu seumur hidupnya sampai ke liang kuburnya.
“Ini kesalahanku. Mencoba keberuntungan dengan harapan mendapatkan hidayah ... namun tak pernah tahu hanya ada ... malapetaka yang menantimu. Malang ... sungguh malang dirimu.”
Gadis kecil itu berusaha bangkit dan melarikan diri, tetapi saat dia berniat melakukannya, tembakan keras melewati telinganya dan menghancurkan tanah di sampingnya.
Tembakan yang tidak tahu apakah itu sihir atau batu yang dilempar dengan kuat. Itu tidak jelas dan sulit mengkonfirmasinya lantaran gerakannya sangat cepat.
“Jangan berpikir macam-macam ... gadis. Nyawamu ada di tanganku ... keputusanku untuk membiarkanmu hidup atau mati.”
Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri dari makhluk itu. Gadis itu hanya bisa berserah diri kepada langit dan berharap dirinya akan baik-baik saja.
“T-tolong ampuni aku … akan kulakukan apapun untukmu …”
Memohon atas nyawanya, naluriah gadis kecil itu tahu bahwa dia takkan bisa kabur hanya dengan berlari. Jika ingin selamat maka meminta pengampunan adalah satu-satunya jalan.
Namun masalahnya adalah apakah makhluk itu bisa bersimpati dan memberi pengampunan atau tidak. Jika dia memiliki hati maka kesempatan masih ada, namun jika tidak … inilah akhirnya.
Sesuatu tampak bergerak-gerak dari dalam gelapnya gerbang tersebut. Gadis itu hanya bisa semakin gemetar dan takut. Meski tak bisa melihatnya, tetapi dia pernah menyaksikannya sendiri.
Itu bukan kengerian yang wajar. Gadis itu tidak percaya bahwa sesuatu seperti itu ada di dunia ini.
“Bagaimana, ya? Apakah aku harus melepaskanmu atau tidak. Meski biasanya aku akan memakan penyusup dan membunuhnya, tetapi melakukannya pada gadis kecil sepertimu tidak menyenangkan.”
Suara tersebut seakan benar-benar bimbang namun gadis itu tahu bahwa dia hanya sedang dipermainkan.
Pada akhirnya gadis tersebut bersujud dengan tubuh gemetarnya dan menangis.
“K-kumohon ampuni aku … akan kulakukan apapun untukmu … jangan makan aku!”
Mungkin bagi gadis kecil tersebut ini adalah pertama kali dia benar-benar memohon. Bukan kepada dewa, tetapi kepada makhluk yang tidak sepantasnya hadir di dunia ini.
“Kuhuhuhu! Menarik … kalau begitu aku akan mengampunimu dan membiarkanmu hidup!”
Kalimat tersebut membuatnya senang dan menatap ke makhluk yang bersembunyi di kegelapan tersebut dengan senang.
“Terima—”
“—tetapi ada hal yang harus kamu lakukan untukku namun sebelum itu aku akan meminta bayaran karena kamu telah melihatku.”
Sesuatu bergerak dengan cepat dan dengan segera menangkap gadis itu.
Jeritan gadis kecil lekas terdengar dan menggema di hutan yang sepi. Bahkan jika dia meminta pertolongan maka tak ada siapapun yang akan datang kepadanya.
“Kukuku ... Aku menantikan masa depan yang akan datang, mungkin tidak akan membuatkan bosan!”
“Tampaknya manusia telah menemukan sihir kuno untuk memanggil orang kuat. Entah berapa tahun yang dibutuhkannya namun aku yakin suatu saat akan ada yang datang menemuiku.”
Makhluk itu tampak tak peduli pada jeritan gadis kecil yang benar-benar tersiksa. Dari dalam gerbang yang gelap itu, taring tajam mulai terlihat bersama senyuman besar yang terpampang jelas dalam gelap.
Itu bukanlah senyuman dari seorang, tetapi akan merendahkan jika menyamakannya dengan monster. Senyuman tersebut lebih jahat dari apapun yang gadis itu pernah lihat di dunia ini.
“Sampai waktunya tiba, aku akan menikmati kesenangan yang akan kamu berikan untukku, gadis kecil. Selama kamu bisa memberikan hiburan terbaik untukku ... nyawamu akan jadi milikmu. Namun seandainya itu membuatku bosan, kamu akan kubunuh.”
Sesuatu yang mungkin lebih buruk dari kematian, makhluk itu jelas tidak berniat untuk benar-benar melepaskan gadis kecil tersebut.
Dia bukan makhluk yang mampu bersimpati pada apapun, mungkin saja gadis kecil tersebut menyesali permintaan untuk tetap hidup karena mungkin kematian jauh lebih baik.
“Kamu akan menjadi mainanku selama sisa umur yang kamu miliki, kukuku!”
“Takkan ada yang bisa menolongmu sampai hari di mana pemanggilan telah dilakukan! Kelak akan hadir orang yang bisa membunuhku.”
Jauh di masa depan yang akan datang akan muncul sosok yang mungkin bisa mengakhiri keberadaan makhluk itu. Jika ingin mendapat kebebasannya maka gadis itu harus bertahan sampai hari itu tiba.
Hanya saja masalahnya adalah akankah sosok yang mampu membunuhnya benar-benar akan datanh atau tidak. Tak ada yang bisa menjaminnya sampai hari itu tiba.