The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Kuil Parthenon



Para Undead mulai menerjang dengan cepat dan pertempuran pecah. Bau busuk dari mayat tak terelakan namun beruntung mereka memiliki masker yang mencegah bau menyengat tersebut.


“Serangan fisik tidak akan mempan kepada mereka!”


“Gunakan kekuatan suci atau sihir api pada mereka, lebih bagus jika ada air suci!”


Air suci, sesuatu yang bisa didapatkan melalui gereja atau air yang telah diberikan mantra doa. Bagi monster tipe Undead hal itu sangatlah berpengaruh, bahkan menjadi kelemahan utama mereka melebihi api dan cahaya.


Namun sangat disayangkan bahwa mereka tak memiliki persiapan semacam itu. Memangnya siapa yang berharap akan ada Undead di sini?


Namun Aludra yang saat ini memegang posisi komandan tidak gentar. Melebihi air suci, mereka memiliki orang yang setiap serangannya mengandung kekuatan suci.


“Tuan Mintaka, kekuatan anda amatlah kuat terhadap keroco seperti Undead. Bisakah—”


“Jangan memerintahku kamu bajingan.” Mintaka memotong Aludra.


Dia berjalan dengan santai menuju Undead dan mengayunkan kampaknya ke udara. Kampak yang terayun mulai membentuk bilah udara dan terbang menuju Undead yang mendekat.


“Aku juga akan menghadapi bajingan itu.”


Aludra menatap Iris yang bertarung dengan selendang ungu miliknya. Gaya bertarungnya hampir mirip dengan Maria dan kawatnya.


Perbedaanya adalah selendang Iris memerangkap lawan dan melindungi rekannya. Sementara Maria dan kawatnya langsung menghabisi lawannya.


Tentu Undead tidak akan mati meski tubuhnya terpotong-potong, tetapi itu cukup menghambat mereka sehingga para penyihir bisa mengeksekusi.


Situasi perlahan terkendali karena Mintaka memiliki kekuatan cahaya yang kuat. Setiap serangan fisik darinya saja merupakan racun bagi Undead.


Mau bagaimanapun senjata pahlawan memiliki kekuatan suci yang berlimpah. Pada akhirnya Mintaka berhasil membereskan semuanya sendirian sementara Aludra membantu memberikan komando demi menahan Undead.


Mengenai Cage, pada akhirnya dia menghilang entah ke mana. Mungkin mereka akan tahu jawabannya saat tiba di Kuil Parthenon.


“Huh, ini melelahkan,” ujar Aludra. “Apa kamu baik-baik saja, Maria?”


Maria yang bersandar pada punggung Aludra mengangguk, “Ya. Ini cukup menguras tenaga namun aku baik.”


Aludra menatap Mintaka, pandangan keduanya saling bertemu beberapa saat sebelum Mintaka mendengus kesal dan pergi.


Apa yang membuatnya begitu jengkel? Aludra tidak mengerti tentang orang itu sama sekali.


“Tuan Amatsumi.”


Iris datang dari arah lain. Aludra menatap gadis yang masih menggunakan cadarnya.


“Nona Iris.”


“Bisakah kita bicara hanya berdua saja?” tanya Iris dengan lembut.


Aludra tidak yakin untuk mengikutinya karena memiliki firasat buruk.


“Mengapa saya tidak dilibatkan, nona?” tanya Maria dengan dingin.


Iris tersenyum, “Karena ada hal yang tidak bisa aku bagikan dengan orang lain.”


Aludra seakan-akan bisa melihat ada kilat yang saling melawan diantara mata Maria dan Iris. Jika dibiarkan mungkin akan repot sehingga Aludra memecah ketegangan diantara keduanya.


“Kamu tunggu di sini, Maria.”


Iris untuk beberapa alasan mendengus dengan bangga sebelum memimpin jalan untuk pergi ke tendanya.


Tidak banyak orang yang menyaksikan keduanya sehingga Aludra tidak khawatir muncul rumor menjengkelkan. Saat ini dirinya tidak mampu berurusan dengan Mintaka.


“Tuan Amatsumi, sebaiknya kamu segera meninggalkan tempat ini.”


Iris duduk di kasurnya dan menatap dengan serius. Aludra justru mengerutkan alisnya.


“Pahlawan tidak menyukaimu. Aku khawatir dia akan melakukan hal yang buruk.”


Meski memiliki reputasi sebagai pahlawan, Mintaka memiliki banyak rumor buruk di sekitarnya. Ada yang mengatakan kalau dia bekerjasama dengan beberapa bangsawan untuk menangkap Demi-human untuk naik level.


Tak sedikit rumor mengatakan Mintaka memaksa beberapa gadis di kota untuk berhubungan intim dengannya. Tentu tidak hanya sampai di sana, bahkan tak sedikit rumor tentang pembunuhan yang dilakukan olehnya.


“Meski pahlawan adalah gelar spesial, tetapi manusia tetaplah manusia.”


Manusia tidak luput dari dosa dan keserakahan. Itu tidak akan pernah berubah.


Iris untuk pertama kalinya melepaskan cadarnya. Bibir yang merah secara alami tanpa pelembab apapun, dan keindahan wajah yang tiada tara terekspos.


Pertama kali dalam hidupnya Aludra menyaksikan ada wanita yang dibuat sesempurna ini. Itu tidak seperti Bellatrix maupun Maria, Iris diberkati keindahan wajah yang berbeda.


Dia benar-benar memiliki wajah dan tubuh yang diberkati keindahan. Meski begitu Aludra tidak berusaha untuk terbawa keindahannya.


“Saya menghargai kekhawatiran Nona Iris, tetapi ada alasan pribadi saya perlu tetap di sini. Saya memiliki urusan di Kuil Parthenon. Jika harus melewati kesempatan ini maka saya lebih memilih mati.”


Jika ingin menjadi lebih kuat demi membalaskan dendamnya kepada para bajingan itu, Aludra memerlukan Artefak Kuno di dalam Kuil Parthenon.


Bahkan jika harus kehilangan anggota tubuhnya ataupun dirinya sendiri, Aludra akan tetap kekeh pada tujuannya. Dia tidak akan menyesal meski mati saat mencapai tujuannya.


Iris tampak khawatir terhadap Aludra, “... kamu mengatakannya kematian dengan mudah. Tidakkah kamu takut tentang itu?”


Aludra tersenyum, Iris melihat senyum itu sedikit takut. Bukan menyeramkan namun itu senyuman yang tampak hampa, kesepian dan penuh kesedihan.


“Aku sudah lama mati, Nona Iris. Apakah ada cara untuk takut pada kematian terhadap orang yang sudah merasa mati?”


Dipanggil ke dunia ini tanpa keinginannya, berusaha kembali ke bumi dam berakhir dikhianati dengan mengerikan. Aludra sudah mati berkat hal itu dan yang tersisa darinya hanyalah keinginan balas dendam.


Untuk beberapa alasan Iris tersenyum penuh kelembaban.


“Kamu memang aneh. Diantara pria yang melihat wajahku, hanya kamu yang tidak terpincut.”


“Mungkin begitu.”


***


Perjalanan dilanjutkan meski tanpa Cage yang menuntun jalan. Aludra dan Maria seperti sebelumnya berada di belakang karena bisa mengawasi pergerakan regu penakluk.


Meski tanpa adanya orang yang menuntun mereka, pada akhirnya mereka berhasil mencapai Kuil Parthenon. Jantung Aludra berdetak kencang karena suatu alasan.


“Ini ... gerbang Tori?”


Gerbang Tori dari Jepang, Aludra terkejut sesuatu seperti itu ada di dunia ini. Apa mungkin ada penyintas lain dari masa lalu yang datang dari bumi?


‘Jika ada orang lain yang pernah ke sini sebelum aku dalam rentang waktu yang lama ... apa mungkin ada jawaban untuk kembali?’


Aludra tidak mau berharap, tetapi penemuan ini membuatnya berharap pada kemungkinan yang kecil.


Aludra berencana menguak apakah benarkah ada jalan untuk kembali. Tidak peduli berapa bulan, berapa tahun yang dibutuhkan Aludra akan berusaha mencari jawabannya.


“Semuanya bersiap kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam gerbang itu!”


Hanya ada kabut yang menutupi tempat itu selain dari gerbang tori. Kabut seakan-akan berusaha menyembunyikan misteri yang ada di dalam Kuil Parthenon.


“Selamat datang.”


Suara serak yang sama dengan sosok yang merasuki Cage kembali terdengar.


“Aku sudah menunggu kehadiranmu sejak ratusan tahun lamanya.”


Ratusan tahun lamanya. Itu waktu yang panjang dan tidak terjangkau oleh umur manusia.