The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Kuil Parthenon II



Semua orang merasakan kegugupan saat berjalan melewati gerbang tori besar. Bagaimana tidak? Mereka sama sekali tidak melihat apapun selain kegelapan pekat. Bahkan pencahayaan dari obor maupun sihir tidak bisa menyinari jalan di depan mereka.


“Kabut yang mengelilingi tempat ini memiliki efek ilusi kuat sehingga kita tidak bisa melihat apapun,” ujar Iris yang memberikan penjelasan kepada semuanya.


“Mana di sini juga sangat mengerikan,” gumam Maria. “Itu sebabnya semua orang khawatir termasuk pahlawan.”


“begitu, kah,” ujar Aludra dengan santai.


Aludra hanya mengamati sekitar dengan tenang. Alasan dia tidak bisa khawatir dan panik seperti yang lain adalah karena dirinya tidak bisa merasakan Mana.


Dia hanya merasa perasaan mencekam yang biasa terjadi saat memasuki tempat angker ataupun wahana hantu. Tidak lebih dari itu. Mungkin ini keuntungannya tidak memiliki dan tidak mampu merasakan Mana.


Aroma lembab yang sama persis ketika hujan baru turun. Meski udaranya sedikit dingin namun berkat jubah yang dikenakannya suhu tubuh Aludra tetap normal.


“Di depan adalah akhir perjalanan kita. Tetap waspada! Musuh sudah tahu keberadaan kita.”


Mintaka menyampaikan pidato singkat dan mengangkat kampaknya dengan gagah.


Cahaya di ujung lorong yang mereka lalui tampak menyilaukan, membuat apapun yang ada di sana tak bisa diketahui.


Aludra siap menggunakan Alkimia miliknya.


‘Lorong ini cukup panjang, aku harus memberikan tanda untuk memudahkan keluar nantinya.’


Itu kekhawatiran yang tidak perlu namun Aludra tetap berhati-hati dan meletakkan beberapa jejak dengan kemampuannya secara diam-diam.


Aludra juga membisikkan Maria, “Lari saat tahu bahwa kita tak bisa bergerak maju, ataupun ketika Artefak telah didapatkan.”


“Baiklah.”


Rencana dengan kesuksesan di bawah dua puluh persen, Aludra tidak berencana menyerah pada kemungkinan yang kecil itu.


Lorong gelap mendekati akhirnya, semua melangkah dan bermandikan cahaya terang. Butuh beberapa detik untuk mata beradaptasi kembali dengan cahaya.


Sampai akhirnya tiba di mana misteri yang menyelimuti Kuil Parthenon terkuak.


“Apa-apaan ini ...” Mintaka terkesima dengan perasaan mengerikan melihat pemandangan di depannya.


Maria, Iris dan yang lainnya terpukau dengan misteri di dalam sini, tetapi mungkin hanya Mintaka dan Aludra yang memiliki perasaan berbeda.


“Semua arsitektur bangunan ini—” Mintaka tampak mengatakan sesuatu, tetap Aludra tidak mendengarkan.


Toh, mereka mungkin mengatakan hal yang sama. Aludra hanya menggumamkannya dan menggunakan bahasa dari bumi untuk mencegah telinga lain mendengar.


“... Eropa? Ini ... bangunan Eropa?”


Ada banyak bangunan dari batu yang sama persis dengan gaya arsitektur khas Eropa yang ada di bumi. Bagaimana dia tidak terkejut dengan semua ini?


Mulai dari gerbang Tori, dan sekarang adalah bangunan eropa? Tidak mungkin semua ini adalah kebetulan belaka. Terasa mustahil jika semua hanyalah kebetulan.


Aludra yang berpikir ada kemungkinan yang sangat kecil bahwa beberapa tahun, atau jauh lebih lama sebelum dia tiba ke dunia sampah ini, mungkin ada orang lain yang sudah sampai.


Jantungnya berdegup kencang karena semua penemuan ini.


“Apa mungkin ini bangunan dari masa lalu saat para dewa turun ke dunia?” Salah satu orang menggumamkan demikian.


Aludra tertarik mendengarnya. Dia pernah membaca sedikit tentang itu dari pembelajarannya selama beberapa tahun, tetapi Aludra tidak pernah berusaha menggali lebih dalam karena menurutnya itu hanya dongeng belaka.


Nampaknya bukan hanya Aludra yang tertarik dengan itu.


“Tidak— itu,” petualang itu tampak terintimidasi tanpa alasan. Iris lekas menggantikannya untuk menjelaskan.


“Itu adalah masa yang berlangsung ribuan tahun di masa lalu. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya, mungkin satu atau dua ribu tahun yang lalu. Bahkan ada juga yang menyebutkan itu terjadi bersamaan dengan ras naga yang mendeklarasikan isolasi diri.”


Iris menjelaskan bahwa itu adalah zaman di mana para dewa turun ke dunia untuk membantu manusia berkembang dan bertahan dari peperangan yang tidak tahu kapan tiba namun pasti akan datang.


Perkembangan tidak akan berlangsung dalam satu atau sepuluh tahun, tetapi butuh ratusan atau bahkan ribuan tahun perkembangan demi bisa bertahan dari gelombang malapetaka nantinya.


Aludra memahami garis besar cerita. Lantas apakah ini adalah peradaban yang dulunya ditinggalkan dewa?


‘Kupikir itu hanya dongeng namun dewa benar-benar ada di dunia ini?’


Sejak dulu Aludra tidak mempercayai eksistensi tidak masuk akal tersebut. Namun karena dirinya dibuang ke dunia sampah ini semuanya mulai masuk akal.


“Kalau begitu ... musuh kita adalah peninggalan dari zaman para dewa?” Seorang petualang berkata demikian.


Besar kemungkinannya seperti itu mengingat tidak ada yang tahu tempat seperti apa Kuil Parthenon sebenarnya.


Diantara banyaknya bangunan yang hancur dan utuh namun kosong, ada sebuah kuil besar yang berada di dataran tinggi. Kuil suram yang berwarna gelap dan lusuh.


Meski tidak bisa merasakan Mana namun Aludra yakin itu adalah tujuan mereka. Suasana di sana sangat berbeda dengan tempat lainnya.


“Mana di sana sangat mengerikan dan pekat. Aku yakin tujuan kita ada di sana. Mari bergerak!” Mintaka segera bergegas dan memimpin jalan.


“Tunggu!” panggil Iris. “Sebaiknya kita beristirahat dulu, tuan pahlawan. Kita perlu bersiap dan menyerang dalam kondisi terbaik.”


Mintaka menoleh dan menatap Iris dengan jengkel, “Jangan memerintahku. Meski kamu akan menjadi istriku namun tak ada hak untukmu menghentikanku!”


Meski mendapatkan bentakan Iris tidak menyerah pada pendiriannya.


“Apa kamu ingin mengantarkan mereka semua menuju kematiannya? Kita tidak tahu siapa yang akan kita hadapi!”


Pilihan terbaik adalah beristirahat dan mempersiapkan segalanya demi pertempuran besar. Terburu-buru sekarang bukanlah sebuah pilihan yang bijak untuk diambil.


Mayoritas suara juga tampaknya berpihak pada Iris, tetapi itu tidak membuat Mintaka goyah.


Mintaka justru memukul udara dan menyebabkan hentakkan angin kuat di sekitarnya.


“Apa kamu meremehkanku? Pahlawan Kampak? Aku cukup kuat untuk melindungi semuanya. Apa kamu pikir lawan kita lebih kuat dariku? Hah?!”


Itu tidak terbantahkan bahwa Mintaka kuat, tetapi tidak ada yang berani mengatakan lawannya lebih lemah. Meski begitu tidak ada yang berani mendebatnya selain Iris.


Gelarnya sebagai pahlawan membuat semua orang tidak mampu menentangnya. Bahkan Iris mau tak mau harus mengalah pada kesempatan ini. Dia dengan menyakitkan menyampaikan perintah.


“... Persiapkan segalanya dalam perjalanan.”


Aludra bisa menyaksikan Mintaka mendengus dan untuk beberapa alasan menatapnya selama beberapa waktu sebelum memimpin jalan.


‘Mengapa dia menatapku seperti itu?’


Aludra memutuskan mengabaikan tatapan Mintaka. Saat dalam perjalanan Aludra melihat sekitarnya dan menemukan semua bangunan ini dibangun dengan baik.


Itu hampir seperti duplikasi bangunan dari Eropa itu sendiri.


‘Jika benar aku tidak sendiri ... mungkin ada cara untuk kembali.’


Keinginannya yang telah lama pupus kini kembali muncul dengan harapan kecil.