The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Artefak Kuno, Pandora



Menjauh dari lokasi di mana Kuil Parthenon berada, Aludra menuju gua di tengah hutan. Itu cukup luas dan dalam sehingga sangat cocok untuk bersembunyi.


Maria menyiramkan air sungai kepada Iris yang tak sadarkan diri. Siraman itu rupanya lebih dari cukup untuk membuatnya sadar.


“U-ugh ... d-di mana aku?” Iris perlahan membuka matanya, dia menemukan Aludra duduk di sebuah batu.


Segera Iris melihat ke sekitarnya dan berusaha melarikan diri, tetapi kawat yang sangat kuat menahan tangan dan kakinya.


“Kamu sudah sadar. Aku peringatkan untuk tidak melakukan hal bodoh. Jika kamu mencoba bunuh diri, keluargamu tidak akan selamat.”


Aludra kemudian menunjuk ke ujung gua. Iris melihat ke arahnya dan menemukan empat anak kecil juga diikat sama sepertinya. Anak-anak itu tampak sangat takut dan menangis. Mereka mungkin sandra seperti dirinya.


“Apa yang kamu rencanakan? Lepaskanlah anak-anak itu segera!”


Iris memandang Aludra dengan penuh kemarahan. Dia memandang pria itu yang tak lagi menggunakan topengnya. Wajahnya asing, tampak seperti bukan orang dari kerajaan Etherbelt.


“Mereka adalah penjamin. Jika kamu menolak menurutiku maka kawat kecil itu akan memotong tubuh bocah itu.”


Seakan untuk menunjukannya, Maria menarik lembut satu kawat yang dipasangkan di udara. Saat dia menarik kawatnya, tubuh anak-anak mengeluarkan darah karena kawatnya mengencang.


“B-berhenti! Aku akan mematuhimu jadi hentikan!”


Maria berhenti menarik kawat dan pergi ke sisi Aludra, duduk di sampingnya.


Aludra membelai kepala Maria dan membawanya ke dadanya selagi mulai bicara. Iris hanya menatap Aludra dengan benci. Dia tak berharap orang yang pernah menyelamatkannya adalah musuh.


“Apa yang kamu inginkan dariku?”


“Ceritakan padaku semua yang kamu ketahui tentang benda ini.”


Aludra merujuk pada cawan di sisi lain dirinya. Itu adalah sesuatu yang dikatakan Artefak Kuno, Pandora.


Dia sama sekali tidak tahu seperti apa cara kerja benda ini. Konon setiap Artefak Kuno memiliki kemampuan yang kuat. Namun tak pernah terbayangkan bahwa cawan bisa melakukan sesuatu yang hebat.


Iris yang tak punya pilihan mulai bercerita.


“Itu adalah Artefak Kuno, Pandora. Pada ceritanya itu adalah sebuah cawan suci yang mengabulkan apapun permohonan pemiliknya.”


Awalnya cawan itu disembunyikan oleh Gereja Dewi karena kekuatan Pandora yang berbahaya dan diperebutkan oleh banyak pihak.


Pada suatu ketika sebuah kerajaan menginginkannya dan menyerang gereja.


Demi melindungi Artefak Kuno, pastor menyuruh seratus perawan suci untuk menyembunyikan artefak. Namun rencana itu terungkap dan pelarian mereka menjadi sangat berbahaya.


“Pada akhirnya seratus perawan suci mengorbankan diri dan mengumpulkan darah mereka di cawan.”


Permohonan takkan pernah bisa dibuat sampai seseorang meminum darah itu.


“Apa yang spesial dari darah menjijikkan ini?”


Iris menjelaskan bahwa darah itu akan mencegah cawan bisa digunakan sampai seseorang berhasil meminum semuanya. Darahnya tak bisa dibuang maupun dibagikan.


Hanya orang yang meminum semuanya yang dapat menggunakan cawan.


Namun tak hanya itu, darah tersebut juga merupakan sebuah belenggu. Kehidupan akan menjauhinya dan mereka yang meminumnya akan dikelilingi kejahatan.


“Kekuatan Pandora telah ditekan sampai batas tertentu ... bahkan jika kamu berhasil meminum semuanya, kamu akan jadi sosok yang dibenci oleh kehidupan.”


Aludra sama sekali tak tertarik dengan kehidupan yang ada di dunia ini. Dia tak memiliki harapan untuk bahagia di tempat asing ini.


“Lalu kenapa? Aku tak berharap untuk dicintai siapapun.”


Tanpa peduli oleh kisah sebelumnya, Aludra meraih Pandora dan menatap darah di dalamnya. Itu bukan jumlah yang sedikit mengingat seratus darah perawan suci dikumpulkan.


“K-kamu mengerti apa yang akan terjadi saat meminumnya, kan? Itu bahkan lebih buruk dari kematian. Kamu takkan diizinkan mati dan kehidupan akan mengutukmu menderita tanpa perlu mati! Segala sesuatu yang berharga untukmu akan hancur!”


Dibenci oleh kehidupan itu sendiri adalah kutukan paling mengerikan. Mereka takkan diizinkan menghargai sesuatu, mengalami kebahagiaan atau sesuatu yang nyaman tentang kehidupan.


Bahkan kematian adalah bagian dari hidup. Jika berkat menakutkan seperti kematian tak diizinkan, Aludra hanya akan membusuk.


“Terus apa? Aku tak memiliki cinta kasih untuk dibagikan pada dunia ini.”


Aludra tak percaya akhirat akan sungguh ada. Bahkan jika dongeng itu nyata, apakah dunia ini memiliki akhirat yang sama dengan bumi?


Mungkin sesungguhnya tiada lagi harapan untuk bertemu istri dan anak yang tak pernah dia temui.


Aludra memegang erat cawan Pandora, kemarahannya mulai merangkak naik.


“Aku sudah dikutuk saat menginjakkan kaki di dunia ini!”


Tanpa keraguan Aludra mengambil tegukan besar dalam upayanya menghabiskan darah.


“Aludra!” Maria tanpa sadar memanggil namanya dengan khawatir.


Itu adalah kesalahan besar karena Maria memberikan Iris informasi yang mencengangkan.


‘A-aludra?!’


Pahlawan ke tiga belas, tak banyak orang yang tahu kehadirannya. Diantara rakyat jelata eksistensi itu hanya rumor belaka.


Namun bangsawan seperti Iris tahu kebenarannya. Pahlawan ke tiga belas memang sungguh ada dan dikatakan telah kembali ke tempat asalnya.


“A-aludra katamu ... nama pahlawan ke tiga belas. Bukankah beliau sudah dipulangkan?!”


Iris tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Namun melihat lagi wajahnya, itu memang bukan wajah penduduk dunia ini.


Rambut hitam legam, alis tebal dan sorot mata yang tajam juga bola mata hitam. Itu adalah bentuk wajah dan ciri fisik yang asing di kerajaan manapun.


‘Apa yang sebenarnya terjadi? Apa putri Eleanor dan Ratu Elizabeth berbohong?!’


Iris tak menemukan tujuan apa yang ingin dicapai dengan membuat kebohongan. Tampaknya pahlawan lain juga tidak tahu kebenaran ini.


‘Tidak mungkin ada konflik internal diantara mereka, kan?!’


Saat Iris pusing mencari jawabannya, Aludra terus menelan darah tanpa henti.


Aludra mulai berlutut dan tampak menderita, tetapi dia tak berhenti meminumnya. Perutnya tampak membesar, mungkin terlalu banyak menampung darah dan seakan-akan hampir meledak.


Sekali seseorang meminumnya maka mereka tak diizinkan untuk berhenti. Aura tak menyenangkan mulai menyelimuti Aludra, urat di tubuhnya mulai menonjol dan menghitam.


“Aludra-!” Maria tak bisa berhenti khawatir.


Dia teringat perkataan Iris tentang darah itu.


‘Kutukan untuk dibenci dunia.’


Tak bisa menghargai sesuatu, mencintai siapapun, bahkan menghargai. Apapun yang dia kasihi, hargai bahkan cintai akan lenyap segalanya. Kematian tak diizinkan, Aludra hanya akan terus membusuk tanpa mati.


Itu adalah cara hidup yang paling menyedihkan. Maria tak bisa membayangkan seseorang untuk mengalami hidup seperti itu.


‘Apa kamu sungguh tak lagi memiliki tempat di hatimu? Aku ingin kamu tahu. Dirimu saat ini adalah segalanya bagiku.”


Maria sudah kehilangan segalanya, dan tak mau kehilangan harta terakhirnya. Alasan yang membuatnya bertahan sejauh ini adalah kehadiran Aludra.


Apa yang menjadi tujuannya, akan menjadi jalan yang pasti dilalui Maria. Jika seandainya Aludra memilih jalan yang lebih terjal, maka Maria dengan senang hati mengikutinya.


Melihat perut Aludra terus membengkak, Maria tak bisa berhenti khawatir. Namun Aludra terus meminumnya tanpa mempedulikan rasa sakit yang dia derita.


Sesaat perutnya tampak ingin meledak, Aludra membanting cawan dengan kedua tangannya.


Asap hitam merembes keluar dari pori-pori di tubuhnya.


“Kuhuhu .. kuhahaha!”


Aludra mulai tertawa seperti orang gila. Perutnya perlahan mulai mengecil dan kembali ke ukuran semulanya.


“Dibenci kehidupan, bahkan tak diberkahi kematian. Hahaha, bukankah ini sama dengan keabadian?!”


Untuk menghancurkan dunia ini, memiliki keabadian adalah lompatan besar untuknya.