The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Elemental Stone



Aludra pergi membeli sebuah pisau sihir yang mampu mengeluarkan elemen api. Dia telah coba mengubah bentuknya dengan Alkimia namun sayangnya itu tak mudah karena ada beberapa material di dalamnya.


Sejauh ini Aludra hanya bisa mengubah bentuk satu material saja, dia tak bisa mengubah dua dalam waktu yang sama. Meski begitu rasanya bukan mustahil melakukannya. Mungkin di masa depan Aludra akan memiliki kemampuan untuk melakukannya.


“Yah, ini tidak mengecewakan. Aku mendapatkan pengetahuan baru terkait hal itu.”


Ternyata untuk membuat senjata sihir Aludra hanya perlu memiliki Elemental Stone, sejenis Manastone namun menyimpan kekuatan elemen. Contohnya seperti sebuah Manastone yang lama terendam di dalam lahar.


‘Manastone yang terendam oleh elemen tertentu akan mampu menghasilkan sihir tersebut. Misal saja aku meletakkan milikku ke dalam api, ada kemungkinan itu bisa mengeluarkan api.”


Aludra bisa memanfaatkan itu, dia terpikirkan beberapa ide menarik untuk digunakan.


Saat dalam perjalanan kembali Aludra tak sengaja menabrak seorang gadis dengan kulit kecoklatan. Pakaiannya tampak terbuka, Aludra yakin dia seorang petualang.


“Tidakkah kamu meletakkan matamu di tempat seharusnya?” ujar gadis itu dengan tajam.


“Yang terburu-buru bukan aku sampai tak memperhatikan jalan. Seharusnya kamu yang perlu memeriksakan mata,” Aludra balas dengan sinis dan berjalan pergi.


Dia tak mau berurusan dengan gadis itu dan mencoba lolos meski tampaknya tidak mudah.


“Kamu cukup pintar bicara dan sangat tidak tahu sopan santun. Pergi tanpa meminta maaf adalah sikap yang sungguh jantan.”


“Kalau begitu maaf … apa kamu puas dengan itu?”


Aludra mulai berjalan lagi dan berusaha menghindarinya namun tak semudah itu rupanya. Meski Aludra tak ingin memperpanjang masalah remeh ini, tetapi dia tak ada keinginan untuk merendah.


“Permintaan maaf tak tulus seperti itu, mana mungkin aku menerimanya?” ujarnya dengan tajam, kemudian dia melebarkan matanya seakan mengetahui sesuatu. “Kamu … bagaimana caranya menyembunyikan Mana sepenuhnya?”


Aludra tidak tahu apa yang dimaksud wanita ini namun jika itu berkaitan dengan Mana, maka dia salah paham akan sesuatu.


Bukan hal yang aneh jika seseorang menyembunyikan Mana sampai tahap terlihat sedikit, tetapi tak ada yang berhasil sampai menyembunyikan sepenuhnya.


Dan Aludra akan menolak memberikan apapun untuk pertanyaan itu.


“Wajahmu juga asing, begitu. Pendatang baru ya?” wanita itu terkekeh dan melambaikan tangannya. “Yah, berhati-hatilah saat malam hari.”


Wanita itu tahu bahwa beberapa orang kuat akan menekan Mana sampai sekecil mungkin untuk menghindari perhatian dan juga menyembunyikannya identitas. Namun dia belum pernah bertemu orang yang berhasil menyembunyikan Mana sepenuhnya.


Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditariknya, pria di depannya tidak lemah. Disaat yang sama dia belum pernah melihat pria itu di kota ini, jelas dia pendatang baru.


Wanita itu mulai berjalan pergi dengan tawa kecil, “Kota ini akan mengambil beberapa orang berwajah sedikit bagus untuk dihilangkan setiap malam.”


Aludra sedikit mengerutkan alis, dia kemudian berbalik untuk menemukan wanita itu telah menghilang dengan cepat.


“Bajingan yang aneh ….” Aludra sudah pasti akan menghindari pertemuan dengannya.


Saat kembali berkumpul dengan Maria terdapat beberapa informasi menarik.


Pertama tentang kasus orang menghilang setiap malam. Tampaknya guild meyakini ada sesuatu di Red Forest yang bertindak demikian setiap malam. Kemungkinan besar adalah para bandit. Yang mengejutkannya adalah orang hilang sepenuhnya orang muda.


Kesamaan mereka tak ada yang hilang berusia kepala empat. Seakan-akan target penculikan adalah pemuda yang cantik maupun tampan. Tak masalah apakah itu pria maupun wanita.


Kedua, Maria menemukan orang yang memiliki pengalaman pergi ke Red Forest. Dia telah menyiapkan rencana bernegosiasi dengan orang itu untuk menjadi pemandunya.


Selain itu, Aludra juga telah memiliki kemajuan dalam Alkimianya. Aludra berhasil mengubah Manastone menjadi Elemental Stone. Berkat itu sekarang dia bisa menggunakan sihir api dan air.


Itu tidak mudah karena Aludra harus meminjam bantuan petualang untuk memberikan Mana elemen api dan air agar bisa menciptakan Elemental Stone.


Meski kekuatannya tidak seberapa namun itu cukup bagi Aludra untuk melindungi dirinya sendiri.


Aludra dan Maria berniat melakukan eksplorasi ke Red Forest sesegera mungkin. Dan keesokkan harinya pahlawan tiba bersama dengan rencana penaklukan Kuil Parthenon.


Tak hanya itu, berkat otoritasnya sebagai pahlawan, orang itu membakar keseluruhan Red Forest demi melenyapkan monster yang hidup di sana.


Berkat tindakannya rencana Aludra pergi ke sana sebelum pahlawan dibatalkan dan itu membuatnya kesal. Rencananya sudah sangat berantakan dan tak lagi bisa diandalkan.


Sialnya lagi adalah berita yang menyatakan bahwa Bellatrix akan menuju kota ini dan ikut andil dalam penaklukan Kuil Parthenon.


Keberuntungan tidak pernah berdiri bersama Aludra. Entah mengapa dunia seakan-akan mencoba menghentikan Aludra pergi ke Kuil Parthenon.


***


Sebuah tempat yang berada jauh dari kota Purplestone. Pemandangan di mana lembah yang memiliki tebing-tebing tinggi memanjakan mata.


Langit yang mulai cerah diiringi fajar tiba membuat tempat tersebut sangatlah cantik. Namun dibalik kecantikan itu terjadi sebuah pertarungan besar yang sangat merusak.


Di dasar lembah tersebut terdapat ratusan mayat monster mati menyedihkan, tetapi yang paling mengejutkan adalah empat naga darah campuran mati mengenaskan.


Sekelompok monster itu mati di tangan dua orang yang berdiri di tepi tebing, menunggu fajar pagi hari tiba.


Seorang wanita berdiri tegak dan terlihat gagah saat sinar matahari muncul menyinarinya.


“Ini dunia yang kejan sekaligus indah,” gumamnya dengan senyuman lembut di bibirnya. “Seandainya tidak ada iblis dan monster, dunia ini pasti adalah surga.”


Dia telah mendatangi beberapa tempat dengan permasalahan bermacam-macam namun memiliki kesamaan yakni, pemandangan indah. Ini sungguh dunia yang sangat indah.


Tak terbantahkan bahwa ada lebih banyak tempat indah yang menunggu untuk dijelajahi. Wanita itu jadi bersemangat berkeliling dunia dan menyelamatkannya sebisa mungkin.


“Haruskah kita kembali?” tanya seorang pria yang bersandar santai di mayat naga yang kepalanya hilang entah ke mana, “Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Salah satunya adalah penaklukan kuil yang dipimpin Mintaka.”


Wanita itu berkata tanpa berbalik, “Kamu mungkin benar, Orion. Namun tempatnya tidak dekat dari sini, kan?”


Lokasi mereka berada sangat jauh. Mereka harus menempuh perjalanan timur ke barat, sudah pasti akan memakan waktu beberapa hari atau minggu dengan kereta kuda.


“Jangan khawatir. Kita hanya perlu kembali ke Etherbelt terlebih dahulu, aku yakin Aegist sudah ada di sana. Dia mungkin pernah mengunjungi kota yang dekat dengan tempat itu.”


“Aegist, ya? Dia melakukan hal-hal hebat meskipun hanya bisa menggunakan perisai.”


Orion tersenyum kecil dan sedikit tertawa, “Mau bagaimanapun dia pahlawan seperti kita, kan? Meski hanya bisa melindungi namun dia sangat kuat.”


“Kamu benar,” Bellatrix tertawa kecil. “Yah, kalau begitu bagaimana jika kembali sekarang? Aku yakin semuanya akan berkumpul lagi untuk menghadiri acara pernikahan pangeran.”


Orion memejamkan matanya tanpa membukanya, “Ya, itu akan menjadi penyegar bagi kita sebelum memulai penaklukan Monster Malapetaka.”


Bellatrix kehilangan senyumnya dan memandang sesuatu yang jauh. Benar, di dunia ini, melampaui naga, ada monster dengan kekuatan yang tidak masuk akal.


Konon monster-monster itu memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan dunia ini. Mereka dikenal sebagai Monster Malapetaka. Ada empat dari mereka dan dalam waktu dekat para pahlawan akan menghadapi salah satunya.


“Itu akan jadi pertarungan yang sulit,” ujar Bellatrix.


Orion setuju karena ada kesulitan lain yang akan mereka hadapi saat menghadapi monster itu. Pertarungan itu mungkin akan jadi yang tersulit dari yang pernah pahlawan lalui.


“Meski sulit namun semua orang sudah berkembang menjadi lebih kuat. Untuk sekarang mari kita fokus pada pertarungan di depan mata.”


Bellatrix mengangguk dan membuat ketetapan hatinya, “Mari hancurkan Parthenon.”


“Ya, mari hilangkan penderitaan yang disebabkan tempat itu,” Orion tertawa kecil dan berdiri.


Mereka saling memandang sebelum mengangguk, secara bersamaan mereka menggumamkan:


“Teleport!”


Sosok Bellatrix dan orion menghilang seakan-akan tak pernah ada di sana.