
Kota yang damai dan indah, berbeda dengan suasana kota besar yang begitu ramai dan dipenuhi oleh aktivitas. Sebuah kota yang damai bernama Dart.
Mulai dari perdagangan, petualang, turis, pembeli dan penjual. Ibukota dipenuhi oleh berbagai aktivitas padat yang menggerakkan ekonomi.
Namun kota ini berbeda. Memang hampir tidak ada bedanya namun desa ini tak padat aktivitas seperti halnya Ibukota. Hanya ada para petani, petualang, penjual dan pembeli.
Meski tak ada banyak perbedaan tentang aktivitas, tetapi suasananya begitu damai dan menyenangkan. Bisa dibilang kota Dart adalah tempat yang nyaman untuk mengisi masa-masa pensiun.
“Ini kota yang menyegarkan bukan? Udaranya sangat sejuk, pemandangannya indah selayaknya dunia fantasi yang diharapkan.” Bellatrix tak henti-hentinya menarik napas dalam dengan wajah nikmat.
Aludra menatap sekitarnya, memang kota Dart adalah tempat yang indah dan nyaman untuk tinggal. Udaranya sejuk tanpa adanya polusi, anak-anak bermain dengan riang.
Meski dihadapkan dengan keindahan yang menyenangkan, hati Aludra terasa sakit. Melihat anak-anak yang bermain dan tertawa bersama orang tuanya, alih-alih merasa hangat Aludra justru merasa sedih juga takut.
Aludra terasa sakit hatinya saat membayangkan anak dan istrinya harus melalui hari-hari tanpa dirinya. Belum lagi anak kecilnya yang bahkan wajahnya belum dia lihat sama sekali.
Membayangkan anaknya besar tanpa sosok ayah sungguh menyakitkan. Dan, Aludra sangat takut ketika membayangkan dirinya tak bisa kembali ke bumi.
Bagaimana nasib keluarga kecilnya jika ia tak bisa kembali? Aludra tak mau membayangkannya— tak kuasa membayangkannya. Dia harap kemungkinan terburuk itu tak terjadi.
‘Aku harus berhasil pulang. Bahkan jika harus mengorbankan jiwaku, selama aku bisa pulang dengan nyawaku maka itu akan baik saja.’
“Kalau begitu mari kita pergi memburu beberapa monster. Aku harus pergi ke Jurang Tanpa Dasar dan kembali ke bumi.”
Aludra mendesak untuk segera pergi mencari monster karena dia tak mau berlama-lama.
“Mengapa kita tidak menikmati kota ini dulu?” tanya Bellatrix dengan sedikit sedih. “Ini bisa mengalihkan sedikit stres yang kamu miliki.”
“Tidak ada yang bisa mengalihkannya jika aku begitu khawatir dan merindu kepada mereka.”
Rindu adalah racun yang paling mematikan di dunia ini, karena saat merasakannya hati seseorang akan terus-menerus sakit tanpa terobati. Cara mengobatinya adalah bertemu dengan sosok yang dirindukan.
“Begitu, ya,” ujar Bellatrix, tidak mencoba memaksa Aludra. “Namun kita harus pergi ke guild petualang terlebih dahulu.”
“Untuk apa?” tanya Aludra, mengerutkan alisnya. Dia berpikir kalau Bellatrix hanya mencari alasan saja.
“Guild petualang memiliki berbagai permintaan pembasmian monster. Jauh lebih aman kita mengambilnya ketimbang mencari secara acak. Yah, lebih mudah menyebutnya quest.
Bellatrix menjelaskan bahwa jika mereka asal melakukan perjalanan ada kemungkinan bertemu monster yang lebih berbahaya dari goblin. Dengan mengambil quest maka mereka bisa menentukan kesulitan melawan monster.
Aludra tidak mendebatnya dan mengikuti prosedur yang disarankan Bellatrix. Meski Aludra tidak masalah jika melawan monster yang lebih kuat dari goblin namun Bellatrix berkemungkinan besar menentangnya.
Tak lama perjalanan menuju guild petualang, Aludra sempat terkesima karena ini pertama kali dia mengunjungi ke guild petualang.
Tempat yang seperti kastil kecil dengan dekorasi pedang besar di depannya, terdapat bendera besar berbentuk elang keemasan yang terbang.
Di dalamnya terdapat aula luas yang cukup dipadati petualang. Mulai dari bar, tempat makan, dan meja resepsionis serta banyaknya mading yang ditempel kertas.
“Bukankah quest berada di kertas-kertas yang ditempelkan itu?” tanya Aludra. “Mengapa kita perlu pergi ke sana?”
“Itu memang benar namun banyak petualang di sana. Akan merepotkan nantinya jadi kita akan mengambil quest rekomendasi dari resepsionis.”
“Begitu, kah.”
Di bumi Aludra pernah menonton beberapa film tentang petualang dan monster. Dari yang dia pahami, guild petualang adalah tempat orang-orang kasar, pemabuk dan kerap berkelahi. Mereka adalah sekumpulan preman yang liar jika tidak dikekang.
Aludra memahami bahwa Bellatrix tidak ingin terlibat oleh hal-hal itu, bahkan Aludra sendiri enggan mengalaminya karena merepotkan.
Aludra menemukan seorang bocah laki-laki dengan rambut kemerahan menjadi resepsionis. Dia masih tampak muda, Aludra mulai bertanya-tanya apakah dia pegawai atau hanya maskot.
“Selamat datang di guild petualang! Nama saya Takt, saya adalah karyawan magang. Saya akan membantu sebisa mungkin jadi tolong jangan sungkan,” ujarnya dengan senyum riang.
Aludra tidak menyangka bahwa bocah semuda itu adalah karyawan guild. Perbedaan budaya dunia ini dengan bumi tampak sangat jelas. Meski Aludra sudah banyak membaca berbagai hal tentang dunia ini, namun melihatnya secara langsung tetap mengejutkan.
‘Tidak ada pendidikan wajib di dunia ini. Anak-anak yang sudah berumur dua belas tahun telah dianggap remaja dan diperbolehkan bekerja.’
“Umm, Takt, di mana orang yang biasanya?” tanya Bellatrix dengan canggung selagi menatap sekitar dengan khawatir.
Takt itu mengangkat alisnya dan tersenyum, “Maksudnya kak Linda? Mohon maaf karena saat ini dia sedang melakukan kunjungan bisnis ke cabang lain dan takkan kembali dalam waktu dekat.”
“Begitu. Lalu, bisakah kamu menyediakan quest mudah seperti membunuh beberapa goblin untukku?”
“Serahkan pada saya. Namun sebelumnya bisakah saya melihat lencana anda?” tanya Takt.
“Tentu,” Bellatrix mulai merogoh sakunya, meski Aludra tahu itu hanya tipuan karena Bellatrix menaruh semuanya di inventory.
Lencana petualang, sebuah benda yang menjadi tanda bahwa seseorang terdaftar di guild petualang. Aludra tahu sedikit banyaknya tentang itu.
Petualang memiliki piramida kastanya sendiri. Mulai dari yang terendah yakni perunggu, hingga yang berada di puncak yakni, Orichalcum.
Bellatrix mengeluarkan lencana yang diikatkan tali agar mirip seperti kalung. Aludra tidak tahu apa itu namun tampaknya semua petualang memiliki sesuatu seperti itu.
Takt memeriksa lencana tersebut dan mulai bergumam dengan wajah terkejut, “Ini … Orichalcum. Pertama kali aku melihatnya, selain itu bentuknya busur dan anak panah. Tunggu … mungkinkah …”
Takt tampak berkeringat, dia seperti seseorang yang baru saja menemukan dirinya mengompol setelah sekian lama. Tatapannya tertuju antara Bellatrix dan lencana di dalamnya.
“Apa mungkin anda … pahlawan panah, nona Bellatrix?!” Takt berseru dengan keras sampai seisi guild mendengarnya.
Dan, Bellatrix yang mungkin memang menyembunyikannya identitasnya sejak datang kini terkuak sudah. Para petualang mendengar jeritan Takt dan menatap sinis Aludra juga Bellatrix.
Bahkan untuk pertama kalinya Aludra merasakan keringat dingin karena tekanan berat tersebut.
‘Ini pertanda buruk. Apa mungkin pahlawan dibenci para petualang?’