
Dua hari semenjak serangan di ibukota, Aludra akhirnya tiba di tempat persembunyiannya. Sebuah gua yang kini dia sulap menjadi tempat bersembunyi.
Tampaknya penyerangan itu menjadi heboh karena satu orang menghancurkan kota sendirian. Tentu saja, kerajaan berusaha menekan informasi untuk tak keluar meskipun percuma. Pada akhirnya mereka tak berniat menyembunyikannya lagi.
Dalam waktu singkat Aludra sudah memiliki harga tinggi untuk kepalanya. Itu cukup banyak untuk sebuah insiden. Namun yang membuatnya sangat dicari karena penculikan ratu dan putri.
Tak sampai di situ, kehebohan berlanjut dengan Bellatrix yang mengumpulkan semua para pahlawan dan membuat pernyataan, bahwa dia akan membunuh pahlawan ke-13, Aludra, dengan kedua tangannya sendiri.
Meski seisi kerajaan sedang mengejarnya namun Aludra sama sekali tak khawatir.
“Ya, seperti ini seharusnya. Kedamaian yang semu ini harus dihancurkan!”
Aludra yakin bahwa Bellatrix juga menganggap serius tentang kasus ini. Meskipun wanita itu memiliki hati yang lembut, namun perbuatan Aludra pasti membuat hatinya memutuskan untuk membunuhnya.
“Aku yakin orang-orang dari kerajaan takkan pernah tinggal diam karena aku menculik kalian berdua, ha ha ha!”
Aludra yang duduk di kursi dengan santai mengelus kepala Maria yang berada di dadanya. Jika saja Aludra melepaskannya, mungkin Maria akan membunuh kedua orang di depannya.
Itu adalah wajah yang nostalgia untuk dilihat. Aludra sungguh bahagia melihat dua wajah yang ingin menangis itu.
“Tuan Putri Eleanor Borea Van Etherbelt. Lalu juga Yang Mulia Ratu Elizabeth. Bukankah ini hebat? Aku dengan mudah menangkap orang paling penting di kerajaan ini!”
Elizabeth dan Eleanor tampak seakan ingin saling memeluk ketakutan. Seandainya saja tangan mereka bebas, mungkin itu akan terjadi.
Namun sayangnya baik tangan maupun kaki mereka dirantai dengan borgol sihir, mencegah mereka melarikan diri dengan cara apapun.
“Kamu bajingan ... apa yang kamu inginkan?!” Elizabeth berkata demikian, memposisikan diri seolah-oleh melindungi Eleanor yang gemetar ketakutan.
Aludra mengerutkan alisnya, dia kemudian meludahi Elizabeth karena kesal.
“Bajingan? Sepertinya kamu tak mengenal cermin dasar ******. Siapa yang bajingan di sini? Aku atau kalian yang menipuku? Ayolah, ini hanya balas dendam kecil!”
Sejak awal semua ini takkan terjadi seandainya dua bajingan itu tak menipu Aludra. Berbicara kemungkinan, seandainya dia tak ditipu, mungkin Aludra akan menghabiskan waktunya untuk menelitinya.
Bahkan jika sungguh tak ada jalan untuk pulang, Aludra paling jauh akan bunuh diri.
“Ini semua dimulai oleh kalian. Jadi lakukanlah dengan baik seperti gadis yang di sana.”
Elizabeth dan Eleanor melihat ke tempat tidur yang ada di sisi lain gua. Di sana duduk seorang gadis yang mereka cukup akrab namun berbeda dari terakhir kali mereka ingat.
“Nona Iris ... apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?! Kamu tahu bahwa bangsawan dan juga ayahku takkan membiarkanmu lolos! Bahkan pahlawan juga akan mengejarmu!”
Eleanor berteriak marah dan menangis di waktu yang sama.
Melihat itu Aludra bangkit dan meletakkan kaki di wajah Elizabeth saat dia berbicara dengan Eleanor.
“Tidak, ibu! Lepaskan kaki kotormu darinya!”
Eleanor berusaha menggigit kaki Aludra untuk menolong Elizabeth. Namun bukannya menyingkir, Aludra justru meraih kepala Eleanor dan membawa wajahnya cukup dekat.
“Sesungguhnya aku benci melakukan ini. Pernahkah kamu bertemu manusia berbicara ataupun dengan sengaja menyentuh kotoran seperti ini?”
Aludra kemudian melepaskan keduanya dan beranjak pergi.
“Kalian adalah barang daganganku yang berharga. Namun sikap kalian jelas perlu diberi pelajaran sebelum dijual.”
Tatapan kedua wanita itu tentunya terbelalak. Mereka melihat ke arah Iris, mulai memiliki gambaran tentang apa yang terjadi sampai wanita itu terlihat rusak jiwanya.
“A-apa yang akan kamu lakukan pada kami?!” Elizabeth memposisikan dirinya untuk melindungi Eleanor.
Itu seperti hubungan indah di mana ibu sangat mempedulikan nasib putrinya. Namun di hadapan Aludra tindakan seperti itu merupakan tabu.
“Apa ada obat untuk menyembuhkan jiwa wanita di sana? Kita tak bisa membiarkannya seperti itu terus.”
Maria mengangguk, “Ada beberapa namun aku tak yakin itu akan berhasil. Mungkin kita harus menerapkan terapi hipnotis.”
Aludra mendengarkan dengan seksama terkait terapi hipnotis. Dia tak menduga hal seperti itu juga hadir di dunia ini. Namun berkat itu dia memiliki sebuah ide.
“Itu bagus. Mari hipnotis wanita rusak itu dan buat dia menghasilkan lebih banyak uang.”
Maria mengerutkan kening saat tahu rencana Aludra.
“Apa kamu juga akan melakukan pada mereka berdua?” tatapannya tertuju pada ratu dan putri. “Itu takkan pernah setimpal dengan apa yang mereka perbuat!”
Aludra ingat bahwa ada kisah bohong tentang dua wanita itu bersekongkol untuk menghancurkan desa Maria. Meski pada kenyataannya itu terjadi karena murni tangan Aludra.
Sepertinya cerita bohong itu sangat dipercaya Maria dan membuatnya sangat membenci keluarga kerajaan.
“Tentu saja tidak. Kita perlu membeli beberapa potion terlebih dahulu. Aku ingin mencari metode penyiksaan macam apa yang sangat ampuh. Keduanya akan jadi kelinci percobaan kita.”
Melihat Aludra tersenyum, Maria memiliki lengkungan bibir yang sama mengerikannya. Hanya satu artinya, dia bisa membuat keduanya menderita terlebih dahulu.
“Akan aku ajarkan tentang hukuman yang lebih buruk dari kematian.”
Aludra hanya meninggalkan kalimat itu dan kemudian melangkah pergi.
Dia senang bahwa persiapan panjang untuk menyerang ibukota berhasil. Selama dua bulan dia mengumpulkan monster di saluran air, dan dalam waktu itu Maria mempelajari kekuatan Gleipnir.
Aludra juga mempelajari bahwa kutukan di tubuhnya cukup merepotkan. Saat dia terluka, rasa sakitnya akan meningkat berkali-kali lipat. Bahkan goresan kecil di lengan sangatlah menyakitkan.
Meski begitu pemulihan dirinya sangatlah luar biasa. Aludra bahkan pernah memotong jarinya dan hebatnya itu menempel kembali. Tentu saja, rasa sakitnya tak menghilang begitu saja.
“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu, Aludra?”
Maria sudah lama bersamanya dan tahu kebiasaan Aludra. Ketika dia mulai memikirkan sesuatu, Aludra akan menatap sesuatu yang jauh selagi menyisir rambutnya dengan tangan.
Itu adalah kebiasaan berpikir Aludra yang terlihat lucu bagi Maria.
“Aku hanya berpikir tentang apa yang kurang dari dunia fantasi yang menyebalkan ini.”
Dunia fantasi harus memiliki monster, pahlawan dewa, dan bahkan mungkin Raja Iblis. Aludra pernah mendengar bahwa dunia ini bahkan memiliki iblis dan malaikat.
Meski begitu sesuatu tampaknya menghilang dan membuat dunia ini tak terkesan suram.
“Apa yang memangnya kurang?” Maria memiringkan kepalanya dan mencoba memikirkannya.
Aludra kemudian tersenyum dan mendapatkan jawabannya.
“Dunia ini tidak memiliki perbudakan, kan? Itulah yang menjadi masalahnya. Ya, benar. Bukan fantasi namanya jika tak ada budak.”
“Perbudakan?” Maria memiringkan kepalanya. Baginya itu adalah konsep yang asing.
Aludra memiliki senyuman jahat. Kebetulan dia punya aset yang cukup bagus untuk mendemonstrasikan perbudakan.
Oleh karena itu, dia harus menciptakan sesuatu agar para budak bisa dikekang.
“Maria, tolong beli buku tentang segel dan sejarah bagaimana manusia membuat banyak sihir.”
Dulunya Aludra adalah seorang pengajar sewaktu masih di bumi. Kelebihan terbaik yang dia miliki adalah terus belajar hal baru, meneliti dan mempresentasikan hasilnya.
Kali ini tidak akan berbeda. Aludra akan menjadi seseorang yang meneliti sihir, menciptakannya dan memperkenalkannya pada dunia.