
Mereka menuju kuil yang berdiri kokoh di tengah-tengah bangunan eropa yang porak-poranda.
Kuil kusam yang berdiri kokoh tampak seperti tempat yang akan ditinggali raja iblis.
Aludra tidak bisa memikirkan apapun selain mencari cara untuk melarikan diri nantinya. Selain itu dia merasa aneh, tempat ini seakan-akan memanggilnya.
‘Aku belum pernah datang kemari, maupun memiliki sesuatu yang nostalgia di tempat ini. Namun mengapa seakan-akan tempat ini memanggilku?’
Itu adalah keganjilan aneh karena Aludra merasakan panggilan hidup di tempat ini. Dia mulai bertanya-tanya ada apa di tempat ini sebenarnya.
Sampai tiba di tempat tersebut aura mencekamnya bisa dirasakan bahkan oleh Aludra sekalipun. Itu jelas bukan tempat angker belaka karena banyaknya tulang-belulang manusia di luar dindingnya.
“Berhati-hati. Ini bukan tempat yang wajar.” Iris tampak berkeringat dingin ketika memperingati.
Aludra hanya mengamati lorong kuil yang gelap gulita ketika memasukinya sehingga diperlukan obor.
“Tempat ini tampak sangat mengerikan. Apa kamu baik-baik saja, Aludra?” Maria di sisinya bertanya khawatir.
Mata yang tampak tidak pernah tidur dan penuh putus asa juga dendam, untuk waktu yang lama terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
Aludra hanya menatapnya dengan apatis. Dia tidak peduli dengan orang lainnya, tetapi Maria adalah kolega yang berguna.
Siapapun boleh terbunuh selain dirinya dan Maria. Itu adalah hal mutlak yang diharuskan.
“Kabur jika semuanya jadi buruk.”
Lorong gelap mulai berakhir dan mereka tiba di aula besar bebatuan hitam. Sama sekali tak ada pencahayaan selain obor yang mereka bawa.
“Siapa di sana?!” Mintaka berseru kepada sosok yang ia rasakan ada di depannya.
Segera obor yang ada di dinding menyala dengan sendirinya. Sinar memberkati aula gelap tersebut dan menampilkan sebuah altar batu di tengah ujung ruangan.
Itu tampak seperti altar untuk menumbalkan manusia.
Namun perhatian semua orang tertuju kepada wanita yang berbaring di atas altar tersebut. Itu adalah gadis yang mereka kenali dengan baik.
“Itu Cage!” Iris menyampaikan, “Apa dia dikendalikan oleh sesuatu?”
Seakan-akan untuk menjawab keingintahuannya, Cage mulai membuka mata di waktu tepat. Dia menemukan Iris dan yang lainnya.
Cage bangkit dari Altar, wajahnya penuh dengan teror. Hampir seperti orang yang baru saja mengintip lorong neraka.
Dia bangkit dan berusaha mendekati Iris dengan wajah penuh ketakutan, “Pergi! Jangan datang ke sini—”
Segera penutup matanya copot dan mengeluarkan asap hitam dari matanya. Cage mulai menangis sebelum kehilangan kesadarannya.
“Tolong ... aku.”
“Semuanya bersiap!” Mintaka menyampaikan, dia bisa merasakan kehadiran yang begitu jahat datang dari Cage.
Aludra mulai berkeringat dingin. Dia mungkin takut namun itu tidak membuatnya hilang akal. Hanya saja dia yang tak bisa menggunakan maupun merasakan sihir, bisa mengerti satu hal dari makhluk yang terbentuk dari asap itu.
Bukan hanya Aludra, mungkin semuanya memiliki pikiran serupa.
‘Perasaan akan kematian.’
Asap yang keluar dari Cage mulai membentuk bayangan hitam besar berjubah gelap. Mata merah muncul dari tudungnya beserta wajah tengkorak manusia yang mengerikan. Dadanya hanya berisi tulang rusuk dan cahaya kemerahan yang sama seperti matanya.
Kakinya entah pergi ke mana karena makhluk itu melayang. Seakan-akan dia tidak memiliki tubuh bagian bawah sama sekali.
“Aku sudah lama menunggu hari ini, hahaha! Akhirnya, manusia terkuat yang dikenal dengan sebutan pahlawan datang!”
Makhluk itu mulai berbicara dengan suara yang keras. Suara yang seakan-akan bergema langsung di dalam kepala Aludra.
“Arc Lich ... apa-apaan?” prajurit mulai kehilangan semangat bertarung. “Keparat semacam ini tak seharusnya ada di dunia.”
Itu adalah makhluk jenis Undead yang tingkatnya hanya satu langkah di bawah Necromancer.
“Mari nikmati pertarungan gelap dan cahaya ini.”
Mintaka mengibaskan kampak dan berteriak, “FORMASI!”
Semua orang mengamati kampak tersebut, mereka mulai mengingat kembali bahwa ada kehadiran pahlawan bersama mereka. Semangat bertarung yang redup kembali menyala dengan terang.
Aludra menarik Maria ke sisinya untuk menyampaikan strateginya secara singkat.
“Jangan kerahkan semua di awal. Simpan tenaga sampai monster itu dan pahlawan kelelahan.”
Mereka perlu menyimpan tenaga sebanyak mungkin. Aludra tidak memiliki keraguan bahwa tanpa dirinya dan Maria, Mintaka lebih dari mampu melawannya.
‘Aku juga ingin tahu seberapa kuat pahlawan.’
Ada tiga belas manusia bumi di panggil ke dunia ini, tetapi entah mengapa hanya Aludra yang berakhir menjadi sampah.
Dia tidak mewarisi berkah ilahi seperti yang lainnya. Bahkan Aludra perlu belajar bahasa dunia ini secara mandiri.
Dia yang terendah dari semuanya bertujuan besar menghancurkan bajingan yang menipunya. Oleh karena itu tidak ada salahnya mencari tahu rata-rata kekuatan pahlawan.
“Beri pasukan garis depan sihir dukungan!” Mintaka menyampaikan.
Para penyihir mulai melafalkan mantra dan mengirimkannya pada orang-orang di garis depan.
Mintaka mulai memimpin serangan dan menerjang langsung ke depan.
“Aku ingin mencicipi kekuatanmu, pahlawan.”
Arc Lich mengulurkan tangannya, segera bayangan gelap merangkak naik dari bayangannya sendiri. Itu adalah eksistensi tangan hitam raksasa yang mereka lihat sebelumnya.
Tangan tersebut menyapu prajurit dan petualang dalam lintasannya. Mintaka memutar kampak dengan kuat dan memotong tangan besar tersebut.
“Aku akan membunuhmu!” Mintaka melompat tinggi ke udara dan meneriakkan, “Meteor Axe!”
Kampak melesat secepat cahaya dan bertujuan langsung ke kepala Arc Lich. Namun sayangnya serangan tersebut di blokir oleh perisai hitam.
Arc Lich menggunakan sihir dan menciptakan perisai hitam tersebut untuk menahan serangan Mintaka.
Perisainya perlahan retak sebelum hancur berkeping-keping. Mintaka lekas menjaga jarak dari Lich.
“Seperti yang diharapkan. Bahkan serangan lemah semacam itu memberikan energi suci yang sangat besar sampai-sampai sihir gelapku runtuh. Tampaknya senjata ilahi sungguh bukan guyonan.”
Mintaka mengernyitkan alisnya saat mendengar serangannya lemah. Itu sama dengan mengatakan, Mintaka tak ada artinya jika bukan karena senjatanya.
Memang benar bahwa pahlawan bergantung pada senjatanya, tetapi Mintaka tetap tidak suka mendengarnya.
“Lemah? Maka aku akan menunjukkan padamu kekuatan sejati pahlawan!”
Kapak Mintaka bercahaya, segera bentuknya mulai membesar dan berubah. Warnanya menjadi kemerahan dan memiliki api yang membakar di sekitarnya.
Mintaka mulai tersenyum penuh kemenangan, “Terbakarlah dalam api pemurnian.”
Kapaknya saat ini adalah bentuk terkuat kekuatannya. Meski dia bisa mencapai tempat yang lebih tinggi, tetapi sekarang dia belum mencapai ketinggian itu.
Berbeda dengan Bellatrix dan Orion yang spesial. Mintaka perlu memburu banyak monster dan mengambil bagian mereka untuk mendapatkan kemampuan terbaru dari senjatanya.
“Mari menari, pahlawan.”
Mintaka tersenyum dengan lebar. Dia sudah membayangkan prestasi hebat yang akan diraihnya, bahkan melebihi apa yang bisa dicapai Bellatrix dan Orion.