The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Arc II — Insiden Kota Dart — End



Satu minggu sejak kehancuran kota Dart. Para pahlawan yang telah pulih berkumpul di istana, bersama raja, ratu dan putri mereka.


Di hadapan mereka saat ini terdapat seorang gadis yang terlihat bersedih dalam waktu lama, dan pria kisaran 16 tahunan berlutut di hadapan raja.


“Emma Frenzy Toria, dan putra saya, Dom Frenzy Toria. Pergi menghadap Yang Mulia!”


“Ya!” Andrea mengangkat tangannya dan meminta keduanya bangkit, “Gildartz Frenzy Toria telah melakukan tugasnya untuk melindunginya putriku dengan baik. Dia gugur dengan kehormatan tertinggi.”


Andrea menghadiahkan Gildartz yang telah tiada gelar kehormatan dan berhak dimakamkan sebagai pejuang hebat. Namanya juga akan terukir di monumen kerajaan atas jasanya.


“Kota Dart telah hancur sedemikian rupa dan harta benda di kota itu telah dirampas. Meski begitu sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan suamimu, aku akan memberikan tunjangan hidup untukmu dan putramu. Aku akan memberikanmu tempat tinggal di lingkungan bangsawan, silahkan mulai hidup baru dengan penuh percaya diri.”


“Terima kasih banyak, Yang Mulia!” Emma sedih menangis dan berterima kasih penuh dengan rasa syukur.


***


Malapetaka yang menimpa kota Dart telah tersebar luas ke penjuru negeri. Spear Rebels telah benar-benar menunjukkan taringnya, bahkan mulai muncul pemberontakan kecil dibeberapa tempat.


Etherbelt sempat mengalami kerepotan dan harus mengerahkan banyak prajurit untuk meredakan situasi. Mengingat acara pernikahan hanya beberapa bulan lagi, mereka perlu menekan demi-human.


Mengenai Spear Rebels belum ada pergerakan besar sejak insiden di kota Dart, tetapi ada gerakan yang mereka timbulkan. Tampak jelas bahwa saat ini mereka sedang melebarkan sayapnya dan mengumpulkan anggota.


Sejak saat itu juga Etherbelt tidak memandang Spear Rebels sebelah mata, mereka kini telah dianggap kelompok yang mampu mengancam kerajaan.


Oleh karena itu kerajaan semakin gesit dalam bertindak. Mulai dari memberikan quest pencarian informasi tentang Spear Rebels hingga menghargai kepala setiap pemimpin mereka.


Spear Rebels sungguh telah mendapatkan perhatian Etherbelt. Berkat itu sebagian oranb merasa takut untuk menindas demi-human, meski begitu tak sedikit juga orang menjadi semakin membencinya. Sungguh, pedang bermata dua.


Terlepas dari hal itu, berita mencengangkan datang dari pahlawan panah yang menginginkan persatuan antara manusia dan Half.


Tentu gagasannya ditentang banyak pihak dan tak disetujui sehingga pahlawan panah hanya bisa menurut. Meski informasi tersebut hanya diketahui kalangan bangsawan saja, namun hal itu menurunkan citra pahlawan diantara bangsawan.


Ada yang menganggap pahlawan panah pengecut, tak berani menyinggung Spear Rebels dan berbagai hal lainnya. Meski begitu tak ada yang berani mengatakannya langsung di depan pahlawan.


Dan, sekarang dua belas pahlawan tengah berkumpul untuk mengadakan pertemuan penting. Atas permintaan Bellatrix dan Orion, tentu pahlawan lain akan datang.


“Ada apa sampai repot-repot memanggil kami ke sini, Bellatrix?” ujar Alnilam, wanita cantik dengan senjata pahlawan berupa cambuk.


“Pastinya ini tentang Spear Rebels,” jawab pria rambut hitam tinggi, wajahnya tampak lembut dan senjata pahlawan berupa belati di sakunya. Dialah pahlawan belati, Garf Alnitak Berzek.


Bellatrix mengangguk atas jawabannya, “Itu ada hubungannya. Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian.”


Para pahlawan diam dan mendengarkan Bellatrix. Beberapa pahlawan seperti perisai, tombak dan tongkat menunggu dengan senyuman. Sementara yang lainnya datar, bahkan ada yang tidak peduli.


Bellatrix menyampaikan bahwa pertarungan ke depannya tidak akan mudah. Dia menginginkan setiap pahlawan meningkatkan kekuatannya sebisa mungkin.


Spear Rebels akan menjadi kelompok besar dalam waktu singkat, tidak mengejutkan orang-orang kuat akan segera berkumpul.


“Kita mungkin lebih kuat berkat senjaya pahlawan, tetapi kekuatan jumlah juga merepotkan,” ujar Orion dengan pahit.


“Aku tak menyangkalnya,” ujar pria dengan rambut kehijauan dan matanya yang hijau, dia adalah pahlawan tombak, Andra Betelgeuse. “Pertarungan melawan Diablo adalah faktanya.”


Diablo adalah yang terkuat saat itu, tetapi para pahlawan tak mampu membunuhnya dikarenakan adanya iblis bangsawan. Jumlahnya dua kali dari pahlawan, mereka kalah dari iblis bangsawan.


Bagi pahlawan itu adalah kekalahan yang pahit dan melukai harga diri mereka. Kesombongan tentang pahlawan adalah yang terkuat kini telah hancur.


“Aku ingin kita melakukan sesuatu yang mampu mencegah tragedi berkelanjutan. Meski tidak bisa menghentikan semuanya, setidaknya aku ingin meminimalisir.”


Bellatrix telah sadar bahwa dia dan rekan-rekannya tidak akan bisa mengatasi semua hal. Bahkan jika mereka bersama menjadi sangat kuat, nyatanya itu tidak cukup.


“Jadi, apa saranmu?” tanya Alnilam dengan tertarik.


“Kita akan mulai berpisah dan berpencar. Selama ini kita atasi semuanya bersama, tetapi itu membuat kita menjadi tumpul.”


Mereka tak pernah berada di situasi yang membuat mereka benar-benar di titik hidup dan mati. Pahlawan secara individual sudah kuat, jika mereka bersatu maka hanya sedikit hal yang mampu menjadi ancaman.


Orion mengangguk dan menambahkan penjelasan, “Kita akan mulai melakukan hal-hal apapun dengan bertindak terpisah. Ini untuk menumbuhkan insting rasa bahaya dan meningkatkan kemampuan tempur individu.”


Selain meningkatkan kemampuan masing-masing, bergerak terpisah seperti ini akan mampu menyelesaikan lebih banyak masalah di tempat berbeda.


Tentunya bukan berarti mereka takkan bertemu. Berpisah yang dimaksud hanya dalam perburuan dan lainnya saja.


“Kalian boleh pergi bersama, tetapi aku menyarankan hanya dengan kelompok dua orang pahlawan maksimalnya.”


Selebihnya tidak masalah jika ingin membawa petualang ataupun prajurit. Bellatrix justru menyarankan merek mendidik prajurit biasa agar lebih kuat.


Bellatrix mengerutkan alisnya seakan marah, dengan penuh ketetapan dia membuat pernyataan.


“Mulai hari ini, dua belas pahlawan suci akan pergi ke berbagai tempat. Pahlawan bukanlah sosok dengan senjata hebat ataupun kekuatan dahsyat, tetapi pahlawan adalah orang yang berdiri paling depan untuk menyelamatkan. Meski begitu kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk kedamaian dunia ini.”


Menjaga kedamaian dunia kalimat yang begitu suka untuk didengar para pahlawan. Semuanya kompak tersenyum dan menatap punggung Bellatrix serta Orion.


Menatap matahari yang kian terbenam, sebagai tanda bahwa hari ini akan tutup usia. Bellatrix mengulurkan tangannya, seakan berusaha menggapainya, dan dia mengepalkan tangan kemudian.


Dengan yakin dan penuh tekad Bellatrix berkat,“Fajar esok adalah milik kita!”


Di tempat yang jauh namun di waktu yang sama, seorangpun pria dengan jubah kecoklatan, dan tudung yang menutupi wajahnya, sedang duduk di batu yang bertempat di tepi tebing curam.


Hal yang dia saksikan adalah pemandangan indah dari cakrawala, pergantian siang menuju malam. Sampai hari menggelap, dan sampai matahari menghilang ditelan gelap. Pria itu tetap memandang sunyi, tanpa pernah berpaling.


Sampai akhirnya suara dari gadis dengan tudung dan jubah putih bergaris merah muncul, dan mencuri perhatiannya dari cakrawala. Dari sorot matanya yang sayu namun tajam, dan kantung mata yang hitam membuatnya terlihat sedikit menyeramkan namun cantik.


Ada pesona tertentu dari tampilan berantakannya. Dan, ada bumbu kesedihan mendalam dari wajahnya, juga kemarahan yang tak terlukiskan. Senyuman yang dia tunjukkan terkesan menenangkan dan menyedihkan.


“Aku sudah menyiapkan makanan. Mari makan, Aludra.”


“Ya.”


Aludra lekas bangkit dan memasuki hutan tempat mereka akan istirahat dan bersembunyi. Angin kencang menerpa sehingga suara mereka tak lagi terdengar, dan gelapnya malam membantu mereka menghilang; menyatu dalam kegelapan malam.


***


Arc II — Insiden Kota Dart — End.