The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Kebohongan Manis



Pandora, Aludra mengetahui sebuah mitologi dengan nama yang sama dari bumi. Itu adalah cerita tentang wanita bernama pandora yang membuka sebuah kotak berisi seluruh kejahatan.


Namun apakah dunia ini memiliki hal yang serupa atau hanya sebuah kebetulan belaka?


Jika semuanya terhubung maka Aludra memikirkan ada kemungkinan kecil dunia ini dan bumi terhubung. Namun itu hanya hipotesis dari fragmen terkecil. Aludra perlu informasi lebih banyak untuk memastikannya.


“Kamu bajingan cepat lepaskan Iris!” Mintaka berusaha memotong benang, tetapi setiap dia bergerak benang yang melilit tubuhnya mulai merobek daging.


Tentu saja Mintaka tahu, jika dia memaksa lebih dari ini maka lukanya takkan ringan.


“Bergerak sedikit wanita ini akan mati. Aku yakin bisa mendapatkan informasi tentang benda ini bahkan tanpanya.”


Aludra bukan orang bodoh. Jika dia tidak memiliki sandra maka dirinya yang akan tewas. Beruntung Iris akan menikahi Mintaka, maka wanita ini memiliki nilainya sendiri.


Mintaka yang tahu tidak ada jalan lain menekan amarahnya dan berkata.


“Apa yang kamu inginkan?”


Negosiasi adalah jalan tengah terbaik untuk saat ini. Mintaka perlu setidaknya memastikan calon istrinya baik-baik saja.


“Apa kamu akan mengabulkannya?”


Mintaka sedikit lega bahwa pria di depannya rasional dan jelas-jelas memiliki tujuan tertentu.


“Tergantung permintaan.”


“Aku ingin semua orang di sini memotong tangannya. Termasuk dirimu.”


“Kamu bajingan! Jangan berani mempermainkanku!”


Mintaka naik pitam dan mulai memaksakan diri untuk mengayunkan kampak, tetapi Maria dengan cekatan menggerakkan benangnya.


Dia memotong telinga kiri Mintaka dengan rapih, bahkan benang melilit leher Mintaka semakin kuat.


“Aku takkan membunuhmu sekarang. Tidak saat pahlawan lain peduli.”


Membunuh pahlawan adalah dosa besar yang harus dihindari sekarang. Aludra takkan bisa bertahan jika pahlawan lain memburunya, bahkan mungkin seluruh dunia mengejarnya.


“Lalu apa alasanmu melakukan ini?!”


“Alasan?”


Ada banyak alasan yang bisa dia katakan namun satu hal pasti, Aludra benci dunia ini. Seluruh arti kehidupannya sudah direnggut sejak dia tak bisa kembali ke bumi.


Istri yang benar-benar dia sayangi dan mungkin merindukan kepulangannya, juga anak yang wajahnya bahkan belum pernah dia lihat.


“Apa kamu butuh alasan untuk segala sesuatu yang kamu lakukan?”


Aludra menatap rendah Mintaka sebelum fokusnya kembali kepada Iris yang masih menatapnya dengan terkejut.


“Aku akan membawamu. Maria, segera lakukan.”


Maria mengangguk dan menarik sebuah benang yang melayang di depannya. Benang mulai menegang dan semua petualang serta prajurit yang terjebak kehilangan kepalanya.


Kepalanya tak segera jatuh, itu terikat oleh benang Maria. Pemandangannya seperti serangga yang terjebak di jaring laba-laba.


“Tidak!” Iris berteriak ketika menyaksikan kengerian di depannya. “Apa yang kamu—”


Iris menoleh kembali menuju Aludra dan ingin mengumpat, tetapi pukulan kuat segera menghantam perutnya sampai kehilangan kesadaran.


“Wanita yang berisik tak disukai.”


Aludra dengan santai membopong tubuh Iris di pundaknya dan berjalan melewati Mintaka. Di sisi lain Maria membawa Artefak Kuno di tangannya.


“Sialan! Berhenti, aku pasti akan membunuhmu keparat!”


Aludra hanya tak peduli sehingga tak memperhatikan Mintaka lagi. Namun Maria yang menyusul di belakangnya menginjak wajah Mintaka. Tatapannya penuh penghinaan.


“Pahlawan yang hina ... kalian membunuh orang tak berdosa dari desaku, dan bahkan tutup mata saat orang yang hanya ingin pulang ditipu!”


Berkali-kali Maria menginjaknya dengan penuh kemarahan. Tak peduli apakah orang itu pahlawan ataupun dewa, selama mereka bertanggungjawab atas hancurnya desa, dan membiarkan Aludra diperdaya, maka itu alasan yang cukup untuk membencinya.


“Aku ... tak mengerti maksudmu-!” Mintaka menolak dengan keras.


Maria memberikan injakan terakhir dan meludahi wajah Mintaka.


“Penjahat mana yang mau mengakui dosa.”


“Sudah cukup, Maria. Kita pergi secepatnya. Harusnya dengan benda itu di tangan kita, kutukan yang mengurung orang tetap di sini lenyap.”


Aludra tak memiliki bukti tapi dia percaya pada nalurinya. Meski begitu, tempat ini tetap memiliki misteri yang belum terpecahkan.


‘Aku tak bisa menyelidikinya sekarang. Entah mengapa firasatku buruk.’


Sejak dirinya ditipu bajingan dari Etherbelt, Aludra hanya akan mempercayai dirinya. Oleh karena itu dirinya yang memberitahu untuk segera pergi secepatnya.


*****


Seseorang memasuki kabut yang menjaga Kuil Parthenon. Dua orang itu sepertinya berhasil menemukan jalan yang benar dan tiba di depan kuil.


“Ini tempat yang mengerikan ...”


“Ini ... gerbang tori di Jepang, mengapa bisa ada di sini?”


Itu ukuran yang besar untuk dimasuki mobil truk. Bahkan mungkin yang terbesar dari yang pernah dilihatnya.


Pria di sisinya mengangguk setuju. Bahkan dia tidak berharap akan menemukan sesuatu dari bumi di sini.


“Sepertinya masih ada keterkaitan dunia ini dengan bumi kita. Jika benar begitu, maka harusnya kemungkinan pria itu berhasil pulang lebih besar.”


Pria muda yang membawa pedang biru, Orion. Meskipun dirinya tak dekat dengan pria bernama Aludra namun Orion memiliki harapan akan keberhasilan orang itu sama seperti halnya Bellatrix.


“Dia memiliki keluarga yang menunggunya pulang. Aludra harus berhasil untuk kembali.”


Bellatrix percaya bahwa hal itu terjadi. Meski dia tak bisa ikut kembali ke bumi dan menemaninya, tetapi dia selalu mendoakan keberhasilannya.


Bahkan Orion memiliki senyuman di bibirnya. Itu senyuman yang tampak sangat kesepian.


“Orang yang punya tempat untuk pulang pasti akan pulang. Sementara yang memilih tinggal adalah mereka yang tak punya tempat untuk pulang.”


Aludra ingin kembali ke bumi dan menolak dunia ini karena dia memiliki keluarga. Sementara sisa orang lain yang dipanggil ke dunia ini bisa menerimanya dengan baik.


Meski Bellatrix tetap diam namun dia setuju dengan Orion.


“Apapun itu mari kita masuk. Aku merasa pahit di lidahku.”


“Itu pasti buruk. Terakhir kali kamu merasakan itu kita dikepung Half-Dragon. Mari bergegas.”


Mereka mulai mengambil langkah menuju lorong gelap selagi tetap waspada dan menjaga punggung masing-masing.


Butuh sedikit waktu untuk keduanya menemukan cahaya di ujung jalan. Dan, apa yang menanti mereka di ujung cahaya adalah sebuah bangunan kuno. Bangunan yang anehnya mereka ketahui. Itu adalah bentuk bangunan ala eropa.


Bellatrix dan Orion kagum sesaat sebelum merasakan seseorang mendekat. Kewaspadaan mereka berada pada puncaknya sehingga bisa merasakan mana orang lain dari jauh.


“Siapa di sana?” Orion bertanya selagi menghunuskan pedangnya.


“T-tunggu! A-a-aku bukan musuh!”


Bellatrix bisa melihat wanita berjubah putih dengan tudung dan topeng putih. Dia membawa seseorang di punggungnya.


Wanita bertudung itu tampak sangat lelah dan kehabisan napas. Bahkan penampilannya cukup berantakan. Orion dengan sigap meminumkan potion pemulih kepadanya.


“Apa kamu regu Mintaka? Ceritakan yang terjadi sesingkat mungkin.”


“Terima kasih, Tuan Pahlawan.” Wanita itu mengatur napasnya dan mulai bercerita.


“Lawan kami adalah Arc Lich yang sangat kuat. Awalnya Tuan Mintaka berhasil bertarung imbang, tetapi semua berubah ketika Lich memanggil Dragon Zombie bawahannya.”


Bellatrix terkejut dan bergegas menghampiri wanita itu.


“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?!”


“Huh, huh ... Semua orang selain saya mati. Saat ini Tuan Mintaka bertarung melawannya sendirian.”


Orion menggertak giginya dan menarik kerah jubah wanita itu. Rambutnya yang kemerahan bisa dilihatnya namun Orion tak cukup peduli.


“Lalu mengapa kamu meninggalkannya?!”


Bellatrix segera menenangkan Orion sehingga wanita itu bisa berbicara dengan tenang.


“S-saya diperintahkan olehnya untuk membawa Nona Iris yang tak sadarkan diri. Dia terluka saat terkena serangan fisik Lich.”


Situasinya menjadi jelas. Mintaka menyuruh wanita ini untuk menyelamatkannya. Setelah Bellatrix memperhatikan, wanita yang tak sadarkan diri adalah calon istri Mintaka.


“Pahlawan sekalian, tolong bantu Tuan Mintaka! Tanpa bermaksud merendahkan namun Tuan Mintaka sendirian takkan mampu menghadapinya namun dengan kalian berdua—”


Bellatrix menepuk bahu wanita itu yang panik, tergesa-gesa, sedih dan marah. Dia kemudian menunjukkan senyuman terbaiknya untuk membuatnya tenang.


“Kamu jangan khawatir. Aku dan Orion akan segera membantunya. Sekarang cepat pergi dan rawat luka Iris.”


Tanpa menunggu balasan, Bellatrix melesat menuju lokasi pertempuran. Orion mengikuti di belakangnya dengan kecepatan yang sama.


Keduanya melesat seperti angin kencang sampai melepaskan tudung dan topeng yang digunakan Maria.


“Mereka sangat cepat. Pahlawan memang tidak normal.” Maria memiliki wajah yang mengejek untuk beberapa alasan selagi kembali menggendong Iris.


“Aktingmu sungguh luar biasa.”


Aludra segera muncul dari tempat lain. Bellatrix dan Orion tak bisa menyadari kehadirannya karena dia tak memiliki mana. Meski dia Manastone miliknya mengeluarkan pancaran sihir kuat, rupanya aura jahat yang datang dari kastil menutupinya.


Kini Aludra tidak menggunakan topengnya sama sekali karena menyerahkannya kepada Maria. Di tangannya ada cawan hitam dengan darah yang terisi penuh di dalamnya.


“Tidak sia-sia aku menjadi pelayan sebelumnya.” Maria tampak bangga dan sedih disaat yang sama.


“Ya. Mari kita bergegas sebelum mereka menyadari kebohongan manis itu.” Aludra tersenyum dengan senang.


Setelah sekian lama dia bisa melihat kembali Bellatrix namun dengan perasaan yang berbeda. Dulu dia memiliki perasaan hangat seperti kakak laki-laki dan adik perempuan.


Namun saat ini, Aludra melihat pahlawan, Etherbelt, bahkan dunia ini sebagai musuh. Bellatrix yang seorang pahlawan adalah bagian dari musuhnya.