
“Memang disayangkan karena aku tak bisa ikut denganmu, namun aku akan mendoakan keselamatanmu,” ujar Bellatrix dengan wajah sedihnya.
Dia hanya bisa melihat Aludra pergi dengan prajurit dan petualang lainnya. Dan kini, hari perpisahan telah tiba.
“Ya. Terima kasih untuk segalanya, Bellatrix.”
Bellatrix menatap wajah yang dingin, terlihat menyeramkan namun menawan tersebut untuk terakhir kalinya.
Mustahil wanita tidak tertarik oleh wajah yang terkesan seperti pria kasar namun nyatanya sifatnya tak begitu. Aludra hanya orang yang sangat menyayangi keluarganya dan tidak sabaran, juga sangat takut.
Bellatrix tahu sikap keras dan acuh milik Aludra datang dari perasaan takut kehilangan. Oleh karena itu Bellatrix tahu alasan Aludra menjaga jarak dari orang karena dia tak mau meninggalkan kesedihan saat perpisahan seperti hari ini tiba.
“Tolong jaga dirimu baik-baik. Jika nantinya kamu kembali ke bumi, sampaikan salamku pada anak dan istrimu.” Bellatrix tersenyum lembut selagi melipat tangan di belakang punggungnya.
“Akan aku sampaikan,” Aludra mulai terkekeh dan tersenyum lembut. “Meski mereka mungkin tak percaya dengan apa yang aku lalui.”
Bellatrix menaikkan alisnya, dia mulai merasakan kesedihan di dadanya. Rasanya pedih, seperti mau menangis.
‘Ah, ini senyuman yang indah, aku tak membencinya.’
Perasaannya bukan cinta terhadap lawan jenis, tetapi lebih seperti kasih sayang kepada kakak laki-laki yang akan meninggalkannya untuk selamanya.
“Ha ha, itu benar. Habisnya, pergi ke dunia lain hanya ada di dalam fiksi belaka.”
Bellatrix tahu ini adalah percakapan terakhirnya dengan Aludra, oleh karena itu dia ingin menikmatinya. Detik-detik terakhir kebersamaan mereka.
“... Mari lakukan ini tanpa air mata,” ujar Aludra dengan wajah sedih.
Bellatrix tidak menyadari bahwa dia sudah menampung air mata dan hampir menangis. Dia terlalu kuat menyangkalnya sampai tak menyadari.
Untuk mengabulkan permintaan Aludra maka Bellatrix menguatkan dirinya. Dan, Bellatrix menyampaikan dengan suara gemetarnya;
“... Ya. Akan aku lakukan.”
Bellatrix tidak tahu berapa lama dia akan mampu melakukannya, menahan air mata tak semudah menghadapi seekor goblin.
Jika Aludra masih berlama-lama di sini, Bellatrix tak yakin bisa tetap menahan air matanya.
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
“... Ya, jaga dirimu baik-baik.”
“Kamu juga,” Aludra berbalik dan mulai bergabung dengan petualang lain, “Selamat tinggal. Pada suatu kesempatan kita mungkin akan bertemu. Baik di mimpi, maupun akhirat.”
Perpisahan diucapkan dengan lancar, seakan tahu bahwa bendungan yang Bellatrix bangun akan segera runtuh. Kini, mereka takkan pernah bisa bertemu lagi.
Hanya kematian dan juga mimpi yang dapat mempertemukan mereka nantinya seandainya saja Aludra berhasil kembali.
Bellatrix menatap punggung Aludra yang kian menjauh, jauh dan menghilang. Tanpa berbalik Aludra terus berjalan untuk mencari jalan pulang. Pria yang begitu mencintai keluarga kecilnya, tak berbalik tanpa tahu ada seorang gadis tengah menangis sedu dalam kesunyian.
Tidak, Bellatrix yakin bahwa Aludra tahu hal itu. Hanya, pria itu mengambil sikap acuh untuk tak menyia-nyiakan waktu dengan menoleh ke belakang.
“Dia … pergi. Aku harap kamu berhasil kembali, Aludra,” guman Bellatrix.
‘Benar … aku juga harus sepertinya. Terus berjalan, dan berjalan lurus. Memandang ke depan tanpa peduli menoleh ke belakang.’
“Gunakan ini dan hapus kesedihanmu, Bellatrix,” suara lembut telah berkata.
Bellatrix menoleh dan menemukan seorang pria yang tersenyum lemah lembut kepadanya, “Orion … sejak kapan kamu di sini?”
“Sejak kamu mulai menangis,” ujar Orion yang mulai menatap arah kepergian Aludra. “Perpisahan selalu meninggalkan luka dan duka. Setidaknya aku sangat memahami ini lebih dari siapapun. Oleh karena itu, aku paham yang kalian berdua rasakan.”
Orion kemudian menepuk kepala Bellatrix dan membawanya ke dadanya. Bellatrix sedikit tertegun, tanpa tahu harus bereaksi dan berekspresi seperti apa.
“Apa yang … kamu lakukan?” tanya Bellatrix.
“Kesedihan tak bagus untuk ditahan. Kita akan segera berangkat melawan naga, tak baik jika kamu terus bersedih. Aku akan pinjamkan bahu dan dadaku untuk bersandar, jadi silahkan curahkan segalanya.”
Bukan kalimat untuk menenangkan atau meminta menahan kesedihannya. Bellatrix mulai menangis sejadi-jadinya sesuai dengan perkataan Orion.
Bahkan jika Bellatrix tidak memiliki perasaan khusus kepada Aludra, rasa kehilangan tetap ada, dan luka yang terbentuk melalui pertemuan diperlebar oleh perpisahan.
Begitulah kehidupan, segala sesuatu yang ada kelak akan berakhir. Melalui hal ini, hidup adalah hukuman paling menyedihkan.
“Di waktu luas yang tak terbatas kita akan saling bertemu dan menjangkau ... hanya untuk berpisah,” ujar Orion, terus menatap arah kepergian Aludra selagi membiarkan Bellatrix menangis.
“Aku harap kamu dapat bertemu kembali dengan keluargamu.”
****
Aludra berjalan meninggalkan Ibukota kerajaan Etherbelt. Tanpa berbalik dia terus menatap ke depan karena tak ingin melihat Bellatrix yang mungkin sedih. Tak ada kerinduan akan kota dan kerajaan, tetapi lain halnya terhadap orang-orang.
‘Ini semua yang terbaik untukku dan untuknya.’
Bersama dengan petualang dan prajurit istana yang diutus Andrea, Aludra menuju Jurang Tanpa Dasar.
“Hei, tuan. Apa kamu mengenal baik nona pahlawan itu? Dia sampai menangis sedu karenamu,” seorang petualang pria berbadan hitam dan kulit hitam menyampaikan demikian.
“Kami hanya kenalan saja, tidak ada yang lebih dari itu,” ujar Aludra dengan datar.
“Jangan membodohiku, tuan. Tak ada kenalan yang memiliki air mata saat perpisahan,” pria itu mulai tertawa terbahak-bahak dan tak membahas lebih jauh. “Lebih dari itu aku tertarik dengan tujuanmu, Jurang Tanpa Dasar.”
Para petualang ini telah disewa untuk menemani Aludra melakukan ekspedisi ke Jurang Tanpa Dasar.
“Apa yang kamu inginkan di sana, tuan?” tanya petualang gadis berambut hijau, pendek dan seperti anak SMP. “Aku tahu ada banyak dongeng dan kisah tentangnya namun tak ada satupun yang tahu kebenarannya.”
Sampai saat ini Jurang Tanpa Dasar adalah wilayah lepas yang tak dimiliki, dan tak diinginkan siapapun. Dari yang Aludra ketahui, kerajaan-kerajaan telah membuat kesepakatan kerjasama untuk membagikan penelitian jurang bersama.
Tak ada yang menginginkan wilayah itu karena hanya berisikan monster berbahaya.
“Oleh karena itu … akan aku cari kebenarannya,” ujar Aludra dengan penuh ketetapan tekad.
Para petualang dan prajurit terkesiap, mereka menahan napas lantaran merasakan betapa seriusnya Aludra tentang ini.
“Ha ha ha, patut saja kerajaan mengutus petualang seperti kami untuk quest ini. Tenang saja, tuan. Kami berjanji akan menjagamu dari monster-monster sehingga kamu bisa fokus membuat pembuktiannya!”
Aludra mengangguk, “Ya, terima kasih.”
Tidak ada jaminan bahwa Aludra bisa kembali atau setidaknya mampu menemukan peninggalan dewa. Bahkan jika ia menemukannya, tidak ada kepastian apakah dimungkinkan membuat sihir lintas dunia.