
Aludra dan Bellatrix memutuskan untuk pergi menemui Andrea demi mengetahui lebih banyak tentang Jurang Tanpa Dasar.
Tak banyak buku yang membahasnya. Aludra hanya menemukan bahwa Jurang Tanpa Dasar adalah sebuah jurang yang tercipta saat para dewa turun ke dunia. Tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait tempat itu.
Konon tidak ada yang tahu seberapa dalam jurang tersebut dan tercantum ada sebuah Artefak Kuno ataupun kekuatan dewa yang tertidur di dalamnya.
‘Mungkin ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa kembali.’
Jika sihir yang tercipta dari kekuatan dewa mampu memanggil orang dari dunia lain, maka bukannya tidak mungkin hal itu berlaku sebaliknya. Sihir yang diciptakan oleh kekuatan dewa, barangkali bisa mengirim seseorang ke dunia lain.
Aludra sudah dipenuhi harapan tentang itu, namun ketika itu dia tahu bahwa Andrea tak ada di istana. Orang itu sedang melakukan kunjungan bisnis ke negara tetangga.
Baru saja dia berniat pergi, Aludra dan Bellatrix bertemu dengan seorang gadis cantik dengan rambut merah cerah, dengan gaun yang serasi dengan warna rambutnya. Keduanya bisa dibilang cukup mengenalnya, meskipun Aludra belum pernah berinteraksi dengannya.
Dia adalah Eleanor Borea Van Etherbelt, putri kecil milik raja kerajaan ini. Aludra tak tahu pasti berapa umurnya namun mungkin dia hanya beberapa tahun lebih muda dari Bellatrix.
“Nona Bellatrix dan … tuan Aludra, kan? Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya, memiringkan kepala dengan lembut.
Bellatrix tersenyum ketir seraya menjawab, “Kami mencari paduka raja, namun dia tak ada.”
Eleanor menyentuh bagian bibir bawahnya dan melirik ke atas seakan berpikir, “Kalau tak salah ayah dan ibu pergi ke kerajaan sebelah untuk membicarakan pernikahan kakak laki-lakiku. Mereka takkan kembali dalam waktu dekat.”
Aludra baru tahu bahwa ada pangeran di negeri ini, entah dia yang terlalu lama mengurung diri di perpustakaan atau memang sosok itu tak pernah menampakkan dirinya.
“Begitu, sangat disayangkan. Padahal kami ingin bertanya tentang tempat bernama Jurang Tanpa Dasar,” ujar Bellatrix, menggaruk kepalanya dan tersenyum ketir.
Aludra hanya menghela napas dan dengan acuh berjalan menuju perpustakaan. Dikarenakan Andrea tak ada, maka Aludra tidak memiliki agenda apapun untuk pergi dari perpustakaan. Namun seketika itu juga, Eleanor mulai mengatakan sesuatu sehingga Aludra berhenti berjalan.
“Jurang Tanpa Dasar? Maksudmu jurang yang memiliki legenda kalau ada kekuatan dewa bersemayam di dalamnya?” ujarnya. “Aku rasa ingat mempelajari beberapa hal tentangnya.”
Hampir lupa bernapas, Aludra mendadak memegang kedua bahu Eleanor dengan wajah terbelalak.
“Kamu mengetahuinya? Ceritakan lebih banyak padaku, tolong!” Aludra mendesaknya.
Eleanor sedikit merona dan dengan gugup berkata,“Y-ya. Akan kulakukan.”
Aludra merasa lega, ini pertama kalinya sejak setahun lamanya. Satu-satunya harapan yang dimilikinya berada pada Jurang Tanpa Dasar ini.
Di sisi lain, Bellatrix yang melihat Aludra demikian bersyukur juga ikut lega. Meskipun entah mengapa dia terlihat cemberut akan sesuatu yang tak diketahui. Aludra memilih untuk tidak menanggapi apapun tentang itu.
Mereka pindah ke taman untuk membicarakannya. Pelayan menyediakan secangkir teh dengan aroma manis dan lembut memenuhi hidungnya.
Eleanor mulai menceritakan hal-hal yang dia ketahui tentang Jurang Tanpa Dasar.
Seperti namanya, jurang itu sama sekali tidak memiliki dasar mengingat tempat itu tercipta saat era para dewa. Tempat itu memiliki konsentrasi Mana yang begitu tinggi sehingga tak jarang monster kuat tinggal di dalamnya.
“Jurang Tanpa Dasar juga memiliki legenda dan dongeng yang mengikutinya. Konon tempat itu tercipta oleh pertarungan hebat para dewa yang menyebabkan alam bergejolak. Salah seorang dewa meninggalkan senjata di dasarnya dan terdapat bagian tubuh dewa yang ditinggalkan.”
Mulai dari sisa-sisa sihir yang bertahan berabad-abad lamanya, senjata, dan bahkan potongan tubuh dewa adalah sumber daya yang tak tergantikan.
Sebagian kecil dari tubuh dewa bisa menjadi pusaka kuat yang mengisi banyak sekali Mana untuk seseorang. Sementara mereka yang menyerap sisa-sisa sihir dewa akan mendapatkan sihir kuat.
Tentang senjata tak perlu diragukan lagi, senjata milik dewa berbeda dengan Artefak Kuno. Senjata Dewa adalah sesuatu yang sudah sejak awal dimiliki dewa dan tercipta dari sebuah dunia maupun alam. Sementara Artefak Kuno adalah senjata hebat yang dibuat langsung oleh dewa dengan barang-barang ajaib.
Ada perbedaan jelas antara senjata dewa dengan Artefak Kuno.
“Ada banyak cerita tentang Jurang Tanpa Dasar. Salah satu yang aku ingat adalah, mereka yang mendapatkan Mana milik dewa akan mampu melakukan hal luar biasa. Misalnya adalah membuat sihir kuno, Heroes Summon.”
Dari yang Aludra pelajari tentang sihir sejauh ini hanya kekuatan dewa yang dapat memungkinkan lintas dunia. Dewa memiliki kekuatan tak masuk akal, sihir yang diciptakan melalui kekuatan tersebut memungkinkan untuk menghancurkan dunia.
Tentunya tidak semua sihir dewa diketahui manusia, bahkan jika ada yang mengetahuinya, orang tersebut akan langsung mati saat menggunakannya satu kali. Yang terburuk, orang itu tak bisa mengaktifkannya sama sekali.
Bahkan sihir seperti Heroes Summon membutuhkan dua bulan pemanggilan. Dalam prosesnya, entah sudah berapa banyak orang yang tumbang.
Jika Aludra ingin kembali ke bumi, maka dia membutuhkan kekuatan dewa untuk membuat sihir kembali ke bumi.
“Jadi satu-satunya pilihanku adalah pergi ke Jurang Tanpa Dasar, ya?” gumam Aludra.
Dia tak yakin bisa menemukan apapun di perpustakaan negara, jika ada sesuatu seperti mengembalikan orang ke dunianya, maka seharusnya keluarga kerajaan telah mengetahuinya.
“Kamu yakin akan pergi ke sana?” tanya Bellatrix dengan wajah khawatir. “Itu tempat yang sangat berbahaya. Monster-monster di sana memiliki kesulitan yang tinggi, bahkan aku sendiri kesulitan saat mencoba ke sana.”
Bellatrix telah melawan banyak monster satu tahun belakangan ini. Dia jelas tahu betapa berbahayanya menghadapi salah satu dari mereka.
Aludra telah membaca sedikit tentang monster dan tahu seberapa mengerikannya mereka.
“Aku dengar Jurang Tanpa Dasar adalah sarang goblin dan banyak monster kuat lainnya,” ujar Eleanor, sama khawatirnya dengan Bellatrix.
“Kalau tidak salah goblin adalah monster lemah, kan? Monster yang mirip dengan tuyul hijau, kah.” Aludra mulai berpikir mendalam apakah dia mampu menghadapinya, tetapi dia mendengar suara mengganggu.
“Pft!” Bellatrix tersedak, menutup mulutnya dan bergetar.
Aludra dan Eleanor menatapnya dengan heran, apa yang membuat Bellatrix sampai seperti itu.
“Ada apa, nona Bellatrix?” tanya Eleanor dengan khawatir. “Apa kamu tak suka tehnya?”
“T-tidak,” ucapnya dengan suara lemah. “Hanya saja … tuyul hijau— pft!” Bellatrix tak bisa menahan dirinya untuk tertawa.
Aludra hanya memandangnya dalam diam, padahal dia tidak sedang bercanda namun tampaknya selera humor Bellatrix begitu rendah. Sampai-sampai mampu tertawa oleh sesuatu yang tidak lucu.