
Pagi selanjutnya Aludra, Maria dan Takt pergi ke guild petualang bersama. Maria dan Takt bisa dikatakan bekerja untuk guild petualang sementara Aludra datang untuk meminjam beberapa buku lagi.
Guild tentu memperbolehkannya karena Maria dan Takt ikut meminta izin kepada ketua guild. Selain itu, dikarenakan tak banyak orang tertarik dengan perpustakaan, ketua guild cabang kota Dart cukup senang dengan kehadiran Aludra.
Maria kemudian pergi untuk menjadi guru tutor bagi para petualang pemula sementara Takt datang untuk bekerja sebagai resepsionis magang.
Aludra pergi ke perpustakaan guild dan tak terduga bertemu dengan ketua guild. Dia hanya memberikan sapaan ringan dan dengan acuh mencari buku yang mungkin membuatnya tertarik.
‘Selain tentang Alkimia, mungkinkah aku harus mencari buku tentang mimpi?’
Alasannya sederhana, itu karena Aludra sendiri terkadang memimpikan sesuatu. Terkadang menyedihkan, menyeramkan, bahkan memilukan. Bisa dikatakan tidak pernah Aludra mengalami mimpi indah.
Dia tak pernah membahas mimpi-mimpi yang dialaminya dengan Maria ataupun Takt karena dianggapnya tak penting. Namun setelah mengetahui seberapa berarti mimpi di dunia ini, dia tak bisa mengabaikannya lagi.
Aludra merasa setidaknya dia perlu mengetahui beberapa hal tentang mimpi. Barangkali ada sesuatu yang bisa Aludra temukan darinya.
“Tampaknya kamu benar-benar tertarik kepada buku dan ilmu pengetahuan, ya?”
Aludra menoleh dan menemukan pria tua yang badannya bugar, kumis serta rambutnya putih berbicara. Dia adalah ketua guild yang telah berada di belakangnya, mencari buku.
“Aku hanya mengisi waktu luang,” ujar Aludra dengan apatis.
“Begitu. Saat pertama kali melihatmu bersama nona Bellatrix, aku berpikir kamu mungkin pemuda bangsawan atau pahlawan. Namun tidak disangka kamu hanya seorang penempa besi.”
Identitas Aludra sebagai pelancong dunia hanya diketahui oleh Maria, Takt, keluarga kerajaan dan juga pahlawan. Aludra menggunakan penempa besi sebagai profesinya. Meski namanya tak bisa dipalsukan karena dia sudah terlanjur menggunakan nama aslinya saat memulai profesi menempa.
Dengan kemampuan Alkimia, Aludra bisa mengubah bentuk logam menjadi pisau atau kapak. Meski hanya hal-hal sederhana seperti itu, nyatanya itu cukup menghasilkan.
“Mengapa kamu berpikir aku seorang bangsawan di tempat pertama?”
“Karena kamu memiliki wawasan luas yang tak cocok dengan rakyat jelata. Bahkan kamu membantu Takt untuk mempermudah saat menghitung uang.”
Aludra hanya mengajarkan beberapa pertambahan sederhana kepada Takt, namun tampaknya itu tidak banyak diketahui penduduk dunia ini. Mungkin hanya bangsawan yang memiliki ilmu tersebut.
Mau bagaimanapun selain para bangsawan dan orang kelas atas, tidak ada pendidikan wajib di dunia ini terutama dikalangan rakyat jelata. Bisa membaca dan menulis sendiri adalah kemampuan yang berharga. Untuk alasan itu juga guild mempekerjakan bocah seperti Takt.
“Bagaimana? Apakah kamu tertarik menjadi pekerja kami? Aku akan memperkenalkan kamu ke pemimpin Asosiasi Petualang. Dengan bakatmu, kamu akan mampu mendapatkan pekerjaan bagus dengan bayaran luar biasa.”
Tawaran yang menggiurkan, pekerjaan di tempat ternama dengan bayaran besar. Jika Aludra berniat untuk hidup nyaman dan tentram maka menerimanya adalah pilihan bijak.
“Aku akan menolaknya. Untuk saat ini aku lebih nyaman sebagai penempa besi.”
“Begitu, apa boleh buat.”
Aludra menolak karena tidak ingin secara tak sengaja membagikan pengetahuan yang tidak ada di dunia ini. Jika saja hal itu tersebar maka akan terungkap bahwa orang ke-13 dari dunia lain masih ada di dunia ini.
Jika persembunyiannya diketahui secara meluas maka tidak dipungkiri Aludra akan diburu, bahkan bisa saja Bellatrix langsung datang menemuinya.
“Omong-omong berhati-hatilah saat mencari material di luar kota. Situasinya sedang tidak aman saat ini sehingga kamu perlu untuk berhati-hati.”
“Benar sekali. Aku mendapatkan laporan bahwa berdiri sebuah tenda di tengah hutan. Belum dipastikan apakah itu demi-human atau bukan namun tak ada salahnya siaga. Aku telah meminta beberapa orang untuk menyelidikinya.”
Jika ketua guild di kota Dart sendiri yang menyampaikannya maka itu mungkin saja benar. Kehadiran Eleanor tampaknya memancing singa untuk datang ke kota ini.
Setelah mengambil beberapa buku dan meninggalkan guild, Aludra menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak ada.
‘Ada begitu banyak petualang dan prajurit yang berjaga.’
Meski samar namun tampaknya bangsawan yang mengelola kota ini mewaspadai ancaman yang datang melalui pemberontak demi-human berkat kedatangan Eleanor. Aludra yakin, ketua guild di kota Dart cukup disegani oleh pemimpin kota.
Dapat terlihat jelas melalui meningkatnya pertahanan kota Dart secara signifikan.
‘Dengan pengamanan ketat seperti ini, aku yakin akan sulit bagi siapapun menerobosnya,’ pikir Aludra.
Ancaman yang diberikan pemberontak diantara demi-human ini tampak dianggap masalah yang benar-benar serius. Meski begitu, tampaknya ada satu hal yang dilewatkan oleh kota ini.
Aludra sadar akan sesuatu bahwa bukan hanya keamanan kota yang berubah. Namun sedikit demi sedikit lingkungannya juga berubah.
“Sebaiknya aku membeli beberapa bijih besi.”
Aludra mampir ke toko penempa. Bijih besi dijual dengan harga yang murah karena masih termasuk barang mentah. Umumnya tidak banyak orang akan membelinya karena tak semuanya bisa menempa senjata.
Tak lupa Aludra juga membeli dua buah Magicstone yang tersedia. Harganya tidak murah dan itu menguras kantongnya.
Setelah melakukan pembelian besar yang menghabiskan seluruh uangnya, Aludra pergi melewati hutan kota yang jarang dilalui. Karena ini di dalam kota maka tak ada monster berbahaya, paling jauh hanya akan ada slime dan serangga.
Aludra berhenti berjalan dan diam tanpa bergerak. Dia mulai memegang besi mentah dan bersiap menggunakan Magicstone untuk mengubah besi di tangannya jadi pedang.
“Aku tahu kamu mengikutiku. Cepatlah keluar sebelum sesuatu yang buruk terjadi.”
Aludra telah belajar berbagai seni bela diri bahkan sejak berada di bumi sehingga dia memiliki indra yang terlatih dan memiliki kepekaan yang kuat. Mudah baginya menyadari sedang diikuti.
Benar saja, seseorang keluar dari balik pepohonan yang berjarak beberapa meter darinya. Aludra menoleh ke arahnya dan terkejut karenanya.
“Seorang anak kecil?” tanpa sadar Aludra bergumam demikian.
Orang yang mengikutinya adalah seorang gadis kecil, mungkin berusia sepuluh tahun. Dia berjalan dengan dua kaki seperti manusia, hanya telinga dan hidungnya yang berbentuk anjing. Bahkan dia memiliki ekor kecil di balik bajunya yang lusuh.
Dengan kaki kecilnya gadis itu perlahan berjalan ke arahnya, mengangkat tangan yang tersembunyi karena pakaian yang kebesaran.
“T-tuan, bisakah aku—”
“Mendekat lebih dari itu maka aku akan membunuhmu.”
“Heh?”
Seketika gadis kecil itu diam mematung dan tercengang. Tentu saja, itu karena Aludra bersungguh-sungguh akan membunuhnya jika saja gadis kecil itu bergerak selangkah lagi.