The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Tipe Yang Paling Dibenci



Cage melihat Mintaka dan Aludra bergantian. Dia mulai menjelaskan kejadiannya sejak awal. Tentang bagaimana dia menemukan tangan besar menyeret empat orang dan hanya satu yang ditinggalkan.


Saat itu dia tidak bisa berpikir jernih sehingga tak meminta bantuan atau terpikirkan membuat keributan.


“Aku pikir itu sesuatu yang bisa aku atasi tanpa menyebabkan kepanikan ... maafkan aku. Maafkan aku, karena kesombonganku ...” Cage tampak bisa menangis kapanpun.


Iris mulai memeluknya sementara petualang lain hanya memandang prihatin. Hanya Mintaka, Maria dan Aludra yang berwajah datar.


Melihat pemandangan itu, Mintaka mulai merasa jijik. Dia mendorong Iris lalu berjongkok dan menarik rambut Cage dengan kasar. Tindakannya jelas tidak mencerminkan sosok pahlawan.


“Apa yang kamu lakukan?! Lepaskanlah dia!” Iris membentak dengan marah, “bahkan jika kamu pahlawan, ada batasan bagimu untuk bertindak!”


Mintaka menatap Iris dengan kesal, “Bukankah seorang istri tak berhak menentang suami?” ujarnya dengan dingin.


Meski dihadapkan oleh tekanan tersebut, Iris tak gentar sama sekali. Dia tetap kuat akan pendiriannya.


“Aku belum sah menjadi istrimu. Bahkan kamu belum berhasil menaklukkan kuil, Mintaka.” Iris meninggalkan honorifik dalam kemarahannya.


Mintaka mulai berdiri, dia tak melepaskan rambut Cage di tangannya selagi berjalan mendekati Iris. Wajah mereka sangat dekat. Dikarenakan Mintaka cukup tinggi, Iris perlu menengadah untuk menatapnya.


“Kamu tak hanya cantik namun juga bernyali. Aku tak pernah membenci orang sepertimu, tetapi sangat menjengkelkan jika kamu terus mengganggu hal-hal yang harusnya dilakukan.”


Aludra memandang percakapan keduanya dan diam-diam setuju dengan Mintaka. Jika aliran percakapan ini berubah terlalu jauh maka mereka akan kehilangan pelaku sebenarnya.


Jika Aludra adalah penjahat di balik semua ini, dia seratus persen akan memanfaatkan perdebatan Mintaka dengan Iris untuk mengaburkan jejaknya.


“Tuan pahlawan benar, Nona Iris. Sebagai seorang petualang, saya percaya bahwa luka ini bukan buatan monster, tetapi besar kemungkinan manusia.” Maria menyela untuk mencegah situasi berjalan ke arah lain.


“Kita tidak tahu tentang itu. Bisa saja ini ulah monster atau makhluk dengan kecerdasan tinggi!” Iris tetap pada keyakinannya.


Iris adalah wanita yang berpendirian kuat dan memiliki rasa keadilan serta kebenaran nyata dalam dirinya. Orang egois yang mempercayai argumennya pribadi dan berusaha memaksakannya pada orang kain. Iris, jenis wanita yang egois dan keras kepala.


Dari banyaknya jenis sungguh kebetulan tipe seperti Iris adalah yang paling Aludra benci.


“Monster kuat memang pintar. Dikarenakan mereka pintar maka menyamarkan kematian seperti ini jelas bukan monster. Lebih masuk akal menyantapnya atau menghancurkan hingga tak bersisa.”


Adapun jika itu makhluk seperti iblis yang menjadi dalangnya, mustahil orang yang dibawa Cage akan hidup dengan luka seperti ini. Iblis adalah eksistensi yang tidak memahami toleransi dan iba.


Bagi mereka hak yang menyedihkan dan penderitaan adalah kebahagiaan tertinggi. Apalagi melihat manusia yang menderita sedemikian rupa? Itu adalah makanan lezat iblis.


Iris kehilangan kalimatnya dan menggigit bibir, tetapi dia tidak menyerah kepada pendiriannya dan tetap bersikeras. Pada akhirnya Aludra memilih turun tangan sendiri.


“Nona Iris, saya yakin tuan pahlawan sadar dengan tindakannya. Bahkan jika sedikit menggunakan kekerasan, tuan Mintaka takkan membunuh pemandu.”


Membunuh Cage tanpa memastikan apa-apa adalah langkah yang bodoh. Selain itu Mintaka takkan melakukan hal seperti itu untuk menjaga citranya. Untuk menjamin hal itu, Aludra menjatuhkan bom terakhir.


“Pahlawan takkan membunuh orang tak bersalah.”


‘Takkan membunuh yang tak berdosa’ harusnya cukup untuk membuat Iris merasa lega dan menyerah pada argumennya yang tak berdasar.


Iris memahami hal tersebut namun dia tidak benar-benar mau menurut sampai seorang penyihir berani membuka mulut.


“Maaf karena berbicara tanpa disuruh. Saya mempunyai saran yang mungkin membantu.” Penyihir pria dengan tampang seperti bocah kecil dan tahi lalat di pipinya berkata canggung.


Penyihir itu menyampaikan bahwa tangan tengkorak hitam sebelumnya berkemungkinan besar adalah kekuatan kegelapan yang jarang dimiliki manusia.


Bukan berarti ada iblis di sini karena mereka tak merasakan kehadirannya. Namun hanya dengan memastikan adanya energi gelap adalah poin penting.


“Saya belajar bahwa cahaya mampu melacak jejak energi gelap. Andaikan saya menggunakan sihir kepada orang-orang, saya akan bisa melihat apakah orang tersebut terikat dengan kekuatan gelap atau tidak.”


Perkataan itu sontak membuat Iris dan Mintaka sedikit terkejut.


“Kamu harusnya bilang lebih awal,” ujar Iris. “Mari lakukan itu.”


Mendengar Iris berkata dengan dingin, mau tak mau Mintaka melemparkan Cage yang pucat ke tanah. Wanita itu mulai berdiri setelah mendapatkan dukungan dari Iris.


“Saya akan mulai.”


Penyihir itu mengangkat tongkatnya yang bersinar kuning cerah. Perlahan partikel cahaya berkumpul di sekitarnya dan mulai menuju Cage yang diam.


Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu namun menahannya sampai tubuhnya bersinar keemasan.


Cahaya tersebut terus menyala selama beberapa detik sebelum menghilang. Begitu si penyihir tersebut membuka mata, dia menghela napas.


“Jika nona Cage memiliki hubungan dengan sesuatu yang gelap, maka asap hitam akan muncul di tubuhnya. Dikarenakan tidak ada yang terjadi, maka—” si penyihir tak dapat melanjutkan kalimatnya.


Semua orang juga sama, mereka mematung seakan-akan di sihir.


Iris memandang mereka satu persatu dengan heran. Dia bahkan bisa melihat Aludra, Maria, bahkan pahlawan seperti Mintaka diam seribu bahasa.


“Apa yang terjadi? Kalian sedang memperhatikan apa?” Iris akhirnya menoleh ke gadis yang ia papah.


Pada akhirnya Iris terkesiap, mematung dan melangkah mundur dari Cage. Dia jelas tidak mempercayai mata indahnya yang berguncang hebat saat ini.


“Apa-apaan itu semua. Kamu ... siapa kamu?” tanpa sadar Iris bertanya demikian.


Bagaimana bisa semua orang tidak terkejut setelah melihat asap hitam yang sangat tebal keluar dari mata kiri Cage yang dia sembunyikan dengan penutup mata?


Asap yang memiliki jumlah besar keluar dari sana seakan-akan tak ada habisnya.


“Berwaspada! Itu kegelapan yang sangat kuat!” bentak Maria yang mulai menyiapkan kawatnya untuk menyerang.


Cage memperhatikan semuanya dengan tenang sebelum dia akhirnya menghela napas panjang seakan-akan kelelahan.


“Huh, apa boleh buat jika semuanya sudah terbongkar,” ujarnya dengan acuh tak acuh. “Aku tak bisa lagi bersembunyi setelah ketahuan.”


Cage tersenyum tipis saat dia membuka penutup mata kirinya. Penutup dibuka dan jatuh ke tanah dengan dramatis.


Itu bukan hanya penutup mata saja, tetapi juga sebuah segel yang cukup kuat. Saat segel dilepaskan, bahkan Aludra yang tak merasakan Mana bisa mengerti aura negatif yang dibawa Cage.


“Awalnya aku ingin membunuh kalian satu persatu dan mempersembahkan kepala kalian kepada ‘beliau’ namun semuanya telah gagal.”


Aludra memperhatikan bahwa Cage tersenyum. Namun dia merasa dibalik senyuman itu ada ketergesa-gesaan dan putus asa.