The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Tujuan Selanjutnya



Malam telah tiba, Aludra memutuskan untuk bermalam di air terjun, terowongan yang tersembunyi di dalamnya. Dengan bantuan Alkimia miliknya dia membuat alas dan dinding agar tak kebasahan.


Dia membuat perapian dan makanan sederhana sebagai makan malam. Di sisi lain, Maria hanya memandangi api selagi memeluk lututnya. Tampak tak bersemangat tentang apapun.


Matanya tampak lebam karena terlalu banyak menangis di satu hari ini. Meski mungkin perutnya lapar namun tak ada nafsu apapun.


“... Hanya tinggal kita berdua,” gumam Maria sebelum tersenyum masam. “Seandainya ada Takt, mungkin suasananya akan lebih ceria.”


Sejatinya Aludra tidak banyak berbicara, meski Maria sekalipun memulai percakapan namun jawaban Aludra yang tak bertele-tele terkadang membuatnya kehabisan topik percakapan.


Biasanya Takt akan mewarnai percakapan dengan keceriaannya. Hal itu menjadi angin segar untuk mengatasi setiap kali suasananya canggung.


“Ya … andaikan ****** itu tak datang maka Takt harusnya masih hidup.”


Faktanya kekacauan di kota Dart terjadi karena kedatangan Eleanor sehingga datang kesempatan untuk Aludra menaburi garam. Dan, fakta jika Takt mati di tangannya akan tetap aman sampai ke liang lahat.


Aludra tidak memiliki perasaan bersalah, dia tidak boleh memilikinya. Meski kenyatannya menyakitkan bahwa dia berkontribusi terhadap kehancuran Dart namun Aludra harus terbiasa.


“Mereka tak bisa dimaafkan … aku akan menghabisi mereka, seisi kerajaan ini!”


Maria tampak bertekad kuat untuk melakukannya. Meski itu bagus namun nyatanya bersikap nekat hanya akan membawa sial. Ketergesa-gesaan itu tidak dibutuhkan karena hanya akan mendatangkan malapetaka.


Aludra duduk di sampingku Maria dan mendengarkan curahan hatinya. Dia tak menangis mungkin karena air matanya telah mengering.


“Takt … baru beberapa jam berlalu namun aku sudah sangat merindukannya,” Maria tampak kesepian. Dia sangat ingin menangis namun apa daya, air mata tak ingin keluar.


“Secepatnya kita harus membalasnya,” Maria tampak benar-benar marah. “Mari pergi ke kerajaan dan—”


Aludra lekas memegang tengkuk Maria, membawa wajahnya untuk saling bertemu dan bibir mereka saling menyapa untuk bertukar kehangatan.


Rasanya kering namun lembut, Aludra tak bisa memberi penjelasan dengan rangkaian kata.


Maria tampak terkejut, hatinya yang dipenuhi kemarahan dan keinginan untuk balas dendam segera menghilang. Dia tak mampu memproses pikirannya saat ini.


Maria berusaha menjauhkan Aludra dan mendorongnya karena kesulitan bernapas, tetapi tidak bisa karena Aludra balas mendorongnya hingga terjatuh. Bibir keduanya tidak terpisah dan terus bertukar sapa.


Aludra mendorong untuk ciuman dengan waktu yang tak singkat. Memegang kedua tangan Maria dan mendorongnya untuk berbaring sampai akhirnya dia melepaskannya ciumannya dari Maria.


Keduanya terengah-engah karena ciuman tersebut membuat baik Aludra maupun Maria kesulitan bernapas.


“Apa yang … kamu lakukan?” tanya Maria, terengah-engah dan wajahnya merona.


“Kemarahan bukan hal yang buruk namun kehilangan ketenangan adalah kematian. Meski kamu marah dan penuh kebencian, kamu perlu untuk tetap tenang.”


Jika Maria sampai termakan oleh kemarahannya maka nyawanya akan cepat menghilang nantinya. Bahkan Aludra sendiri yang sangat membenci dunia ini masih memiliki kesabarannya.


“Namun berkat mereka Takt mati! Apa kamu tidak ingin membalaskan dendamnya?!” Maria membentak.


“Balas dendam? Aku paling mengerti tentang itu. Jangan lupa bahwa dunia ini menculik lalu membuangku. Aku tak bisa kembali menemui keluarga kecilku!”


Aludra sudah putus asa untuk kembali, oleh karena itu dia memilih mengutuk dunia ini. Meski begitu dia tidak tergesa-gesa melakukannya. Alasannya sangatlah sederhana, karena mereka bukan orang spesial.


“Lalu mengapa … kamu menghentikanku?” tanya Maria dengan suara rendah.


“Kita masih terlalu lemah.”


Jawabannya begitu sederhana. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatasi kerajaan. Aludra tahu betul batasannya, dan Maria juga harus mengerti batasnya.


“Mimpi tanpa kekuatan hanyalah omong kosong, Maria. Kita membutuhkan kekuatan untuk mewujudkan balas dendam.”


“Ya.”


Aludra melepaskan Maria dan lekas duduk. Jika ingin mewujudkan dendam mereka, maka dibutuhkan kekuatan yang sepadan untuk menciptakannya.


Mimpi mudah untuk diucapkan dengan lantang serta diumbar ke berbagai tempat, tetapi tanpa adanya kekuatan semua akan berakhir sebagai omong kosong.


“Tapi bagaimana cara kita mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan?” Maria duduk dan bertanya demikian.


“Artefak Kuno.”


Mendengar perkataan Aludra, Maria tampak terkejut. Jawaban atas masalah mereka adalah Artefak Kuno. Senjata yang memiliki kekuatan dahsyat.


“Itu … masuk akal.”


Setelah mendengar ceramah Aludra, Maria terlihat mengerti. Dia tampak bersedia untuk mengubah tujuan sementara.


Aludra bersyukur atas itu. Andaikan Maria bersikeras untuk balas dendam sekarang juga, kemungkinan terburuknya Aludra akan langsung membunuhnya.


Meski disayangkan jika itu terjadi lantaran sejak awal Aludra sengaja akan membiarkan Maria tetap hidup. Wanita ini akan mampu membantunya dalam banyak hal.


“Kita akan mencari Artefak Kuno sebelum memulai pembalasan dendam. Tidak ada jawaban lain lagi.”


Aludra tidak percaya diri mampu mewujudkan balas dendam hanya dengan kekuatannya saat ini. Oleh karena itu tujuannya sejak awal sudah ditetapkan.


“Apakah kamu berencana untuk—” Maria tidak menyelesaikan kalimatnya lantaran Aludra segera memotong.


“Kita akan pergi ke tempat itu.”


Maria terbelalak dan tampak menentangnya. Aludra tahu alasannya, itu karena tempat tujuannya adalah tempat berbahaya.


“Itu sangat berbahaya, Aludra. Tempat itu tidak bisa kita usik, tempat yang bahkan pahlawan belum bisa mengatasinya.”


Aludra tahu itu dengan jelas karena telah membaca banyak tentang tempat itu. Awalnya dia sendiri tak percaya dan terkesan berlebihan, tetapi setelah tahu apa yang ada di sana maka wajar jika pahlawan sekarang ini belum mampu.


Bahkan Bellatrix yang mampu membunuh griffin dalam satu serangan saja tak mampu, apalagi Aludra yang bisa terbunuh dengan kawanan goblin?


“Pergi ke sana sama saja bunuh diri, kemampuan kita tidak akan pernah cukup kuat untuk bertahan!”


“Meski begitu kita tetap akan pergi!” Aludra tetap bersikeras. “Kita tak memiliki banyak pilihan untuk diambil, Maria.”


Aludra tidak bisa pergi tanpa tujuan dengan harapan menemukan Artefak Kuno secara kebetulan. Mengandalkan keberuntungan adalah tindakan tak berguna.


Mendengar perkataan Aludra, Maria tampaknya tidak memiliki sanggahan lagi.


“Aku ingin balas dendam, Maria. Bukan hanya karena kematian, Takt.”


Eleanor dan Elizabeth telah menipunya dengan memberikan harapan palsu. Kerajaan menelantarkannya tanpa membantu mencari jalan pulang. Dan, dunia ini telah mengecewakannya.


Ada begitu banyak hal yang membuat Aludra membenci begitu dalam. Dia bisa saja mati oleh kebenciannya sendiri namun itu lebih baik. Selama dia mati saat berusaha mencapai tujuannya maka tak masalah.


“Baiklah,” ujar Maria dengan lemah sebelum menangis lagi. “Kamu adalah satu-satunya orang berharga yang aku miliki. Demi bersamamu, dan membalas kematian Takt, aku akan ikut.”


Maria menetapkan tekadnya, Aludra mengangguk puas. Menatap kayu yang meletus karena terbakar, Aludra menyampaikan tujuannya.


“Kita akan segera pergi … menuju Kuil Parthenon.”