
Cage mulai mengatakan hal mengerikan. Tindakannya sontak membuat semua orang melangkah mundur termasuk Iris.
Tidak ada yang percaya pada apa yang dikatakannya barusan. Mempersembahkan kepala kepada ‘beliau’, siapa orang yang dimaksud ‘Cage’ dengan ‘beliau’ ini?
Aludra tidak memiliki bukti namun itu harus ada kaitannya dengan suara yang mereka dengar saat memasuki kabut.
“Keparat, siapa yang kamu maksud?” Mintaka menarik kampak dari punggungnya.
Cage perlahan berdiri, dia menatap orang-orang di sekitarnya satu-persatu tanpa terkecuali Aludra. Kemudian tatapannya segera berhenti begitu matanya bertemu dengan Mintaka.
“Fufu, siapa, ya? Kamu pikir aku akan berbicara begitu saja namun sayangnya tidak seperti itu. Ketimbang pahlawan, aku lebih takut kepadanya.”
Sosok yang lebih ditakuti Cage ketimbang kehadiran luar biasa seperti pahlawan itu sendiri maka dapat dikatakan itu adalah makhluk tingkat tinggi.
Mintaka yang mendengar bahwa ada makhluk hidup yang jauh lebih ditakuti penjahat seperti Cage ketimbang pahlawan mulai mengerutkan alisnya.
Itu seperti menghinanya sebagai pahlawan adil yang memberantas kejahatan. Dia harusnya ditakuti dan dihormati namun ****** di depannya, dengan percaya diri mengatakan takut kepada makhluk selain pahlawan?
“Hei, brengsek. Apa kamu meremehkanku? Sepertinya kamu sudah bosan dengan kehidupanmu!” Mintaka tampak siap memenggal Cage kapan saja.
Cage di sisi lain mulai merentangkan tangannya yang gemetar, matanya yang terbuka lebar dan mulutnya tersenyum senang.
“Meremehkanmu?” gumam Cage dengan nada pelan yang gemetar. “Kamu takkan pernah tahu apa-apa, takkan ada seorangpun memahamiku.”
Mintaka menatapnya dengan aneh, dia berpikir bahwa Cage mungkin sudah gila dan mengatakan apapun yang tidak masuk akal. Dia merasa sedikit prihatin dengan kondisi tersebut dan bersiap mengakhiri nyawanya namun perkataan Cage menghentikan tindakannya.
“Pahlawan memang sosok yang kuat, berwibawa dan mengagumkan. Namun pahlawan saat ini masih belum matang. Masih terlalu lemah jika dihadapkan oleh beliau.”
Mendengar Cage yang terus berbicara, mau tak mau Aludra mengerutkan alisnya. Dia memiliki firasat buruk tentang ini, jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
‘Apa yang wanita ini coba katakan?’ pikir Aludra.
Cage terus berbicara.
“Pahlawan masih terlalu lemah dan takkan sanggup menghadapi beliau. Setiap kali mengingat peristiwa itu, aku dipenuhi takut dan juga kagum.”
Masa lalu yang selalu membuat Cage mimpi buruk setiap malam hari. Itu adalah sebuah peristiwa yang dimulai saat dia masih kecil. Tak sengaja pada suatu waktu Cage mendatangi hutan ini dan sampai pada Kuil Parthenon.
Cage telah memasuki tempat terkutuk itu meski belum sampai pada ruangan utama di dalamnya. Sebelum menguak tempat bernama Kuil Parthenon ini, Cage bertemu dengan sosok mengerikan ini.
Ketakutan, keputusasaan yang dia rasakan sewaktu kecil masih dapat diingatnya dengan jelas. Di hadapan makhluk itu Cage sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
“Beliau adalah sosok yang seharusnya tak ada di dunia ini. Aku masih mengingat jelas rupanya saat menangkapku dan membiarkan aku hidup dengan hanya mengambil jiwaku. Aku juga kehilangan mata kiri, tetapi sebagai gantinya beliau memberikanku kekuatan besar.”
Cage telah terbelenggu. Dia tak bisa menentang makhluk itu dengan cara apapun. Oleh karena itu, dia membawa regu penakluk ini kepadanya. Bukan dengan harapan bahwa pahlawan akan bisa mengalahkannya, tetapi berharap bisa melepaskan belenggu jika dia menumbalkan orang-orang ini.
“Oleh karena itu aku memohon padamu, pahlawan, kepada kalian semua—”
Ikatan yang menutupi mata kiri Cage terlepas. Aludra bisa melihat mata kiri Cage terbuka, hanya ada kegelapan tanpa bola mata. Di sekitar matanya muncul urat hitam yang tampak bergerak-gerak dengan menjijikkan.
Dug. Dug. Dug.
Jantungnya berdetak kencang, Aludra sungguh merasakan firasat buruk saat melihat mata kiri Cage.
Pada akhirnya Cage melanjutkan kalimatnya.
“—kumohon matilah untukku!”
Mata kiti Cage mengeluarkan bayangan hitam dalam jumlah besar yang perlahan membentuk duri dalam jumlah besar.
“BERLINDUNG!” teriak Mintaka dengan tergesa-gesa.
Para petualang berpengalaman segera bertahan, tetapi tidak dengan para penyihir yang memiliki respon lebih lambat.
Aludra menarik Mana dari Manastone dan menghantamkan tangan kanannya ke tanah. Dinding tanah terbentuk dan melindungi dirinya serta orang-orang di dekatnya.
Bagian lain telah ditangani oleh Iris dengan selendangnya menghancurkan duri hitam, dan Mintaka yang menggunakan punggung kampak untuk bertahan.
Dinding tanah memiliki banyak bagian yang retak namun cukup kuat untuk bertahan dari serangan itu.
Cage mulai berjalan terhuyung-huyung seperti zombie selagi tertawa. Mata kirinya terus mengeluarkan energi gelap yang mengalir ke seluruh tubuhnya, mata kanannya mulai memutih dan kulitnya menjadi pucat.
“Bangkitlah dari peristirahatan abadi, Undead Knight!”
Tanah mulai menghitam dan tengkorak manusia merangkak keluar. Undead, monster jenis mayat hidup yang menggunakan baju zirah dan pedang mulai bermunculan.
“Ditambah ini, aku akan mempersembahkan kepala kalian kepada beliau. Keluarlah, Hand of Darkness!”
Kedua tangan Cage terulur, bayangan hitam mulai membentuk tangan yang menyerang dengan liar.
Para penyihir yang telah bereaksi mulai menyerang dan bertahan disaat yang sama. Meeka mencoba menyerang Undead dan menahan tangan hitam milik Cage.
“Apa yang harus kita lakukan, Aludra?” tanya Maria setelah mendekati Aludra.
Aludra mengamati situasinya yang mulai kacau. Kelompok penaklukan yang terdiri dari dua puluh orang saat ini sedang kesulitan menghadapi satu orang.
Bahkan Mintaka yang seorang pahlawan tampak kesulitan menghadapi ratusan tangan hitam yang bergegas ke arahnya.
Di tengah kekacauan itu Aludra masih tetap berkepala dingin.
“Mari anggap Cage adalah kaki tangan makhluk yang bersemayam di Kuil Parthenon. Jika dia mendapatkan kekuatan besar tersebut dari makhluk itu, maka mustahil kita bisa pergi ke sana tanpa Mintaka.”
Alasan Aludra mengikuti penaklukan ini adalah agar dia bisa pergi ke Kuil Parthenon selagi berlindung di balik punggung Mintaka seperti pengecut.
Jika saat ini dia memilih melarikan diri, maka Aludra tidak yakin akan memiliki kesempatan lain mengunjungi Kuil Parthenon.
“Kita tak punya pilihan. Mau tidak mau kita harus membantu mengalahkan ****** itu.”
Pilihan terbaik adalah mengalahkan Cage dan segera menuju ke Kuil Parthenon. Aludra memilih tetap pada rencananya.
“Apa kita juga bertarung?” tanya Maria untuk memastikannya.
Aludra mengangguk, “Ya, Iris ada di sini. Dia telah melihat kemampuan kita.”
Iris telah melihat bagaimana Maria dan Aludra beraksi. Mereka harus menghindari situasi di mana Iris mempertanyakan mengapa mereka tak banyak membantu saat melawan Cage.
Maria tampak mengerti hal itu dan mulai bergerak ke garis depan.
Aludra pergi ke arah lain, dia menuju Mintaka yang masih berurusan dengan serangan Cage. Mayoritas serangan pergi ke arahnya, wajar dia yang paling kerepotan.
“Dinding!” teriak Aludra, menciptakan sekitar lima dinding tanah di depan Mintaka.
“Tuan Mintaka, Nona Iris, tolong serahkan bagian belakang kepada saya! Saya cukup mampu memberikan dukungan dan komando selagi anda berdua pergi ke garis depan!”
Iris terlihat sangat senang saat tahu Aludra akan membantunya. Dia segera meraih tangan Aludra dengan kedua tangannya. Iris mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus.
“Syukurlah ada kamu di sini, Amatsumi. Aku tidak akan khawatir menyerahkan punggungku kepadamu!”
Bahkan dengan cadar yang menutupi separuh wajah Iris. Aludra yakin bahwa Iris memiliki senyuman indah di bibirnya terlepas situasi saat ini.
“Anda terlalu memuji. Saya hanyalah cahaya redup yang bisa mati kapanpun jika dibandingkan dengan anda.”
Terlepas dari situasinya, Aludra tidak menyadari bahwa tatapan Mintaka kepadanya penuh dengan kebencian. Dia jelas tidak menyukai melihatnya.
‘Berani-beraninya bajingan ini menggoda calon istriku! Aku akan membunuhmu dasar teri kecil!’