
Dua bulan sejak pertarungan Aludra dan Bellatrix melawan Griffin berlalu. Selama masa itu Aludra mempersiapkan dirinya atas berbagai kemungkinan yang bisa terjadi mengingat perjalanannya tidak akan mudah.
Meski Bellatrix telah berjanji akan membantunya pergi ke Jurang Tanpa Dasar, bukan berarti Aludra harus bermalas-malasan. Dia setidaknya perlu berusaha keras agar tak membebani Bellatrix saat perjalanannya nanti.
Butuh dua minggu lamanya bagi Aludra mempersiapkan berbagai hal lainnya seperti informasi tambahan mengenai Jurang Tanpa Dasar. Selama itu juga, entah mengapa Andrea belum kembali sehingga Eleanor yang harus membantunya dalam beberapa hal seperti mencari informasi tentang Jurang Tanpa Dasar.
“Akhirnya tiba waktuku untuk pergi,” gumam Aludra saat dia selesai mencatat informasi umum yang dibutuhkan.
Dia menatap tas di pojok ruangan berisi barang-barang yang sudah disiapkannya selama ini. Aludra kemudian memasukkan catatannya ke dalam sana.
Knock! Knock!
Pintu diketuk lembut. Sosok Maria muncul dengan nampan berisi makanan. Dia masuk dengan wajah riang namun Aludra tidak tahu apa alasannya, saat Maria melihatnya sedang berkemas, wajah Maria berkerut datar. Sekilas Aludra berpikir bahwa Maria mungkin sedih.
Itu wajar mengingat mereka sudah mengenal setahun lamanya dan selain Bellatrix, Aludra cukup dekat dengannya. Bahkan mungkin Aludra akan merindukannya saat ia berhasil kembali ke bumi.
“Aku membawakan makanan untukmu,” ujar Maria dengan datar.
“Ya,” Aludra mengambil makanannya. “Terima kasih banyak, Maria,” lanjutnya.
Maria berdiri di tepi ruangan selagi menunggu Aludra makan. Suasananya sedikit canggung lantaran Aludra sendiri tak pernah mau memulai pembicaraan.
Meski begitu ini kenyamanan bagi keduanya. Aludra pernah coba mengusir Maria karena tak suka diperhatikan saat makan, tetapi Maria mengelak dan mengatakan kalau dia ingin membolos kerja dengan menunggu Aludra.
“Tampaknya ini akan jadi makanan terakhir yang aku hidangkan untukmu, ya,” ujar Maria dengan sedikit lemah, tak riang seperti biasanya.
“... Ya. Jika aku berhasil mendapatkan kekuatan dewa di Jurang Tanpa Dasar, maka aku akan segera kembali ke bumi.”
Berbeda dengan perpisahan saat seseorang hendak mengembara ke tempat yang jauh. Ini berbeda, mereka takkan pernah bertemu lagi seumur hidup kecuali ada cara bagi orang untuk menjelajah dunia sesuka hati.
Aludra akan kembali ke bumi, sekali untuk selamanya. Dan, takkan pernah lagi mengunjungi dunia ini, tanah asing untuknya.
“Begitu, ya. Aku harap kamu bertemu keluargamu,” ujar Maria dengan nada yang sedikit lemah.
Aludra menyelesaikan makannya, mengambil tasnya lalu berjalan pergi keluar dan melewati Maria begitu saja.
“Aku …” Maria ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya kembali terkunci rapat.
Melihat itu Aludra hanya berhenti bergerak, tentunya dia tidak lupa tentang jasa Maria untuknya selama lebih dari satu tahun. Sungguh tidak tahu diri jika tak ada apapun yang Aludra sampaikan.
“Terima kasih untuk semuanya, Maria. Dan, selamat tinggal.”
Perpisahan diucapkan dengan lancar, bersama dengan terima kasih yang tulus. Aludra tidak tahu bagaimana reaksi Maria namun dia mendengar sesuatu yang jatuh cukup kencang, ditemani isak tangis.
Aludra tidak berniat berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Dia takut hatinya akan sakit dan membuat tekadnya untuk pulang sedikit goyah. Bahkan jika Aludra membenci dunia ini, tetap saja ada beberapa orang yang akan dirindukan jika ia pergi.
“Berusahalah untuk melupakan keberadaanku,” ujar Aludra sebelum melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. “Aku akan merindukanmu.”
****
(POV Maria).
Maria menatap Aludra yang menyantap makanannya dengan diam. Entah berapa sering dia melakukannya, Maria tetap sangat menyukai memperhatikan wajah Aludra.
Meskipun mereka tak melakukan pertukaran kata yang berarti dan membuat suasananya tampak canggung namun bagi Maria itu adalah kenyamanan.
‘Dia akan segera pergi ke Jurang Tanpa Dasar untuk menemukan jalan pulang ke dunianya.’
Maria telah mendengar bahwa kemungkinan Aludra kembali akan mencapai lebih dari 50% seandainya dia berhasil mendapatkan kekuatan peninggalan dewa dan membuat sihir lintas dunia.
Meski aga meragukan namun Maria tak menyerukannya.
Itu mungkin terdengar mustahil namun Maria yakin bahwa Aludra akan bisa melakukannya.
‘Ah, itu pasti karena kita takkan pernah bisa bertemu lagi.’
Pada akhirnya nanti mereka hanya akan bisa saling mengingat satu sama lain, terpisah antara bintang dan galaksi.
“Tampaknya ini akan menjadi makanan terakhir yang aku hidangkan untukmu, ya?”
Maria tanpa sadar berkata, dia sedikit tertegun karena tak menyangka isi hatinya akan terungkap lewat kalimat yang takkan pernah bisa ditarik kembali.
“... Ya. Jika aku berhasil mendapatkan kekuatan dewa di Jurang Tanpa Dasar, maka aku akan segera kembali ke bumi.”
Aludra terlihat menjawabnya tanpa beban apapun, hal itu membuat Maria yakin bahwa Aludra tak memiliki penyesalan apapun bahkan jika dia takkan bisa kembali lagi ke dunia ini.
Itu hal yang baik karena takkan meninggalkan air mata saat perpisahan. Benar ... hal yang baik.
“Begitu, ya ... aku harap kamu bertemu keluargamu.”
Maria tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak perlu dan malah jadi menahan Aludra untuk pulang karena dia tahu lebih dari siapapun bahwa Aludra sangat berjuang keras untuk pulang.
Cinta pada keluarga kecilnya tidaklah sederhana sampai-sampai Maria iri kepada wanita beruntung yang berhasil mendapatkannya.
Maria hanya diam mematung saat Aludra mulai melangkah pergi.
“Aku …”
Dia ingin menyampaikan bahwa dirinya ingin ikut bersama Aludra ke dunianya. Tidak masalah jika pada akhirnya Maria hanya akan melayani Aludra dan keluarga kecilnya, selama bisa tetap bersama Aludra maka dia tak masalah.
Namun Maria segera sadar bahwa itu permintaan yang terlalu egois. Dia tak bisa terlalu banyak meminta kepada satu orang. Satu orang yang telah dimiliki orang lain.
‘Tidak … tidak boleh, kamu tak boleh mengganggu kehidupannya di dunianya, Maria!’
Sekali lagi Maria tidak mengerti mengapa dirinya begitu terpaku kepada Aludra dan sakit hatinya saat tahu takkan bisa lagi melihat pria itu untuk selamanya.
“Terima kasih untuk semuanya, Maria. Dan, selamat tinggal.”
Seketika Maria runtuh, jatuh berlutut dan berlinang oleh air mata. Maria tidak tahu apa yang terjadi namun kakinya mendadak hilang tenaga oleh satu kalimat itu.
Dia mulai memahami apa yang terjadi kepada dirinya. Sesuatu yang mungkin disadari oleh Aludra namun Maria sendiri tidak sadari.
“Berusahalah untuk melupakanku. Aku akan merindukanmu.”
“Hiks … hiks!” Maria mulai terisak oleh tangisnya sendiri dan menutup matanya dengan tangan.
‘Begitu, jadi aku mencintainya. Pantas saja dada ini terasa sakit!’
Maria terlambat menyadari jika dirinya menyukai Aludra, dia tak tahu dimulai sejak kapan perasaannya muncul. Padahal Aludra tidak melakukan apapun yang berarti namun Maria menyukainya.
‘Mengapa aku harus menyukainya meski tahu dia berkeluarga dan berniat pergi dari dunia ini?’
“Sial! Ini menyakitkan!”
Maria menangis sekencang-kencangnya, tak ada yang mendengarnya di perpustakaan sepi dan cuma disaksikan buku berdebu.
***###***
Yo, maaf lama tak update.
*Saya harus melakukan beberapa persiapan karena ini tahun terakhir di sma, hehe. Oleh karena itu novel tak bisa kepegang selama beberapa waktu.
Ke depannya up insyaallah akan berjalan rutin. Yah, tergantung kondisi juga*.