
Reysa menengok ke arah suara, lantas tersenyum miring. "jadi ternyata King itu loe" kata Reysa menggantung.
"Hendry Alexander" lanjut Reysa.
"hahaha so what do you want from me baby?" tanya Hendry pada Reysa tersenyum menggoda.
Reysa memasang wajah datarnya. "Don't say anything else, you disgust me Hendry (jangan katakan apa apa lagi, kau membuatku jijik Hendry)" ujar Reysa membuat Hendry tertawa.
"hahaha, apa apaan itu? aku tak menyangka kau mengatakan itu padaku. your words make me hurt dear" kata Hendry menggoda Reysa. ia bahkan sudah mendekati dan memegang dagu Reysa membuat Felicia geram disana. rasanya Felicia ingin mencincang pria yang berani menyentuh Reysa nya.
Reysa tersenyum miring, "lucu mendengarmu berkata seperti itu padaku Hendry" kata Reysa geram.
Hendry tersenyum misterius, "juga lucu melihatmu ada di sekitar orang macam ini Rey" balas Hendry bergerak mendekat ke wajah Reysa.
cup.. bibir Hendry menyentuh sesuatu.
tapi yang bibirnya sentuh bukanlah bibir Reysa. melainkan sebuah kartu yang Reysa tempatkan di depan bibirnya.
Hendry menjauhkan wajahnya dari wajah Reysa. lantas ia mendecih. "apa apaan itu Rey? kau masih tak akan membiarkanku mencoba bibirmu disini?" tanya Hendry kesal.
Reysa tersenyum lembut dan menjawab tanpa dosa "tidak akan kubiarkan" jawabnya langsung tanpa ragu.
jleb.. serasa ada sesuatu yang menusuk jantungnya agar berhenti berdetak. Hendry memegang dadanya, lalu menutup matanya dengan satu tangannya.
"aaah itu sakit Rey. bagaimana bisa kau mengatakan hal menyakitkan dengan senyum cerah seperti itu? uhhk ini.. sangat menyakitkan. kau tega Rey.. kau tega padaku hiks.." ujar Hendry mendramatis dengan mengusap ujung matanya.
Reysa memasang wajah datar, "kau pikir aku peduli?" tanya Reysa jengah dengan sikap Hendry itu. "tak perlu berpura pura, aku bukan orang bodoh yang akan bisa kau bodohi dengan tampang bajinganmu itu" kata Reysa dingin.
Hendry terkikik. "hihi, a aah kau benar. tidak ada yang perlu disembunyikan lagi di antara kita, benarkan.. Alana?" kata Hendry sarkastik.
Reysa alias Alana tersenyum. "yang ini baru seperti kau yang asli, Don Oscamar. nggak, atau harus ku panggil Raphael?" balas Reysa.
mari kita perjelas. entah bagaimana bisa, saat Alana masuk ke dalam novel ini lalu menjadi Reysa, ada orang lain yang juga masuk bersamanya. dia adalah Raphael Varvaera, atau lebih dikenal dengan sebutan Don Oscamar jika di dunia nyata. dan entah bagaimana lagi, Alana maupun Raphael tau kalau ada orang lain yang bernasib sama dengan mereka. mereka berdua bisa berkomunikasi dan saing merasakan.
tapi masalahnya bukan itu, Raphael adalah musuh bebuyutan Alana di dunia nyata. kenapa? karena Raphael adalah mantan kekasih Alana yang menganggap dirinya sebagai mainan. jadi, bagaimana kalau keadaanku sepeti ini? Alana bisa tau semua hal yang dilakukan Raphael, dan Raphael tau semua hal yang dilakukan Alana. walaupun mereka hanya tau dengan gambaran kasarnya saja, tapi jujur saja itu cukup menganggu khususnya untuk Alana.
Hendry tertawa kecil, "walau gue orang yang pernah jadi nomor satu di hidup loe, kayaknya Nana benci banget deh sama Ael" kata Hendry memelas.
"heh! jangan bercanda El! loe pernah nggak mikir gimana gue waktu loe secara tiba-tiba pindah ke Rusia ninggalin gue di Amerika?! loe pernah mikir apa nggak hah?! jadi.. jangan bikin gue ketawa karena loe masih ingat waktu kita bareng bareng!!" kata Reysa membentak marah.
"Na! loe tau nggak tau alasan gue pergi ke Rusia! so please stop hating me. Na, gue masih sayang sama loe!! pliss maafin gue" kata Hendry yang sudah menangis memohon di tangan Reysa itu.
hening, semua orang disana hanya memperhatikan kondisi yang ada di depan mereka. tak ada yang menyangka kalau Hendry sang King punya masa lalu indah bersama Reysa sang Queen. benar benar tak ada yang tau. yah memang sebenarnya itu adalah masa lalu Alana dan Raphael.
Reysa tak perduli, "harusnya loe bilang ke gue alasan loe ke Rusia. jangan cuma ninggalin mawar biru di bangku gue dengan sepucuk surat. karena loe tau? sejak loe ninggalin gue di Amerika dan bikin gue depresi berat, loe udah ada dalam black list orang baik di hidup gue" kata Reysa melepaskan tangannya yang dipegang oleh Hendry itu.
"Hendry Alexander" lanjut Reysa menekankan nama itu agar Raphael sadar akan posisinya yang sekarang menjadi Hendry.
Hendry yang mendengar ucapan Reysa menghela nafas dan tersenyum. "kita tidak akan bertanding sebagai Hendry Alexander dan Reysa Kartarendra, tapi sebagai Raphael Varvaera dan Alana Besson. dan tentunya kita akan bermain dengan peraturan lama, bagaimana? apa anda setuju, NO-NA-A-LA-NA?" tanya Hendry
Reysa memandangnya sinis, lantas menyeringai. itu terlihat berbahaya oleh orang orang sekitarnya. "heeh, anda selalu berani untuk maju tuan muda Varvaera. tapi.. mungkin inilah kenapa saya pernah jatuh ke dalam pelukan anda. yaah dan tentunya anda tau artinya menggunakan peraturan lama bukan?" tanya Reysa mencoba membuat Hendry mundur walau ia tau itu percuma.
Hendry terkekeh, "tentu, saya tau betul apa artinya saya menggunakan peraturan lama. jadi.. bisa kita mulai saja?" ujar Hendry atau sekarang kita panggil sebagai Raphael karena ia ingin menggunakan identitas aslinya untuk melawan Reysa alias Alana.
"sepertinya memang mustahil meminta anda mundur. jadi mari kita mulai saja" jawab Alana
"kalau begitu..." kata Raphael menghembuskan nafasnya.
"demi kehormatan kami! dengan ini kami menyatakan perang terhadap satu sama lain! dan dengan ini! orang yang kalah dalam permainan ini! akan menjadi budak sang pemenang selama sang pemenang belum melepaskan orang yang kalah, atau orang yang kalah belum bisa mengalahkan orang yang menang. ini janji kami!"
Alan dan Raphael mengucapkan ikrar yang ada di surat perjanjian lama. semua orang disana melongo mendengar hal itu. yang paling membuat mereka terkejut adalah janji dimana orang yang kalah akan menjadi budak sang pemenang. bagaimana mereka bisa mempertaruhkan hidup mereka hanya karena sebuah permainan? hal seperti itu tidak masuk akal untuk dilakukan kecuali oleh satu jenis orang. kalian tau apa jenis orang itu? mereka yang rela melakukan apa saja demi kesenangan mereka disebut dengan ORANG GILA.
sementara itu, Felicia dibuat panik dengan keputusan Reysa atau Alana itu.
"Rey kamu serius? ini kan cuma game" kata Felicia mencoba membuat Alana berubah pikiran.
Alana menggeleng, "tak apa Fel. karena.. prinsip saya adalah.. saya tidak akan kalah apalagi jika orang itu adalah orang yang pernah membuat masalah dengan saya. jadi anda tenang saja" kata Alana menenangkan Felicia.
"hoo rupanya prinsipmu belum berubah ya, bahkan setelah 4 tahun kita tidak bertemu" kata Raphael yang juga mendengar itu.
Alana tersenyum miring, "ohh, kalau begitu apa prinsipmu sudah berubah Raphael?" tanya Alana sarkas.
Raphael menggeleng, "tentu tidak. kebalikan dari anda, prinsip saya adalah... saya tidak akan kalah apalagi jika dengan orang yang saya cintai. jadi saya tidak akan kalah dari anda, my beauty lady Alana" jawab Raphael tersenyum menggoda.
"yaah terserah, tapi sepertinya kita tidak kan bisa selesai dengan satu permainan. bagaimana?" tanya Alana.
Raphael melihat jamnya dan mulai berpikir "loe bener. kalo gitu kita mulai aja besok atau ayo bolos, kita ke atap dan main disana dengan beberapa saksi tentunya" jawab Raphael mengusulkan.
Alana menatap jengah, "gue bukan loe yang kerjaannya bolos mulu tau" kata Alana.
"kalo gitu kita main besok, gimana? ada yang setuju atau nggak setuju?" tanya Raphael yang sekarang akan kembali kita panggil Hendry karena belum jadi tanding.
"oke, kita undur besok. tapi tempatnya kita ubah. besok kita main di.. hmm di ruang klub sastra" kata Doni si penanggung jawab acara.
"oke kalo gitu, berarti sekarang kita bubar. gue mau balik ke kelas. manajemen acara tolong diurus ya" kata Reysa meninggalkan kelas X IPS 2 bersama dengan anak anak Xleez.
"gue juga pergi ya bay bay" kata Hendry yang juga ikut pergi.
Doni hanya bisa menghela nafas. karena sudah jadi tanggung jawabnya, maka ia mau tak mau harus mengurus nya. jadi ia mulai bersih bersih kelas ini.