The Antagonist

The Antagonist
BAB 35



"Nyonya...nyonya..." panggil Liuli.


Sudah berkali-kali ia memanggil Wei Lian agar wanita itu terbangun, namun wanita itu sama sekali tak memberi respon apapun.


Akhirnya ia pun mendekati Wei Lian dan menggoyang-goyangkan tubuh yang sedang berbaring itu.


"Nyonya, apa anda sedang sakit ?." tanya Liuli.


Raut mukanya menunjukkan sebuah ke khawatiran, tubuh Nyonyanya itu sangatlah dingin, ia juga tak bangun meskipun tubuhnya diguncang oleh Liuli.


Ia berlari dengan kencang menuju ke tempat tabib sekte Wei.


Tak dihiraukan tubuhnya yang masih kelelahan dan sakit akibat berlatih kemarin, yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Wei Lian.


Ia takut Nyonyanya yang cantik itu mati, didobraknya pintu kamar tabib itu begitu ia tiba.


"Tabib segeralah ke kamar Nyonya, ia tak sadarkan diri." ucap Liuli dengan nafas tersengal-sengal.


"Bukankah dia baik-baik saja kemarin ?." tanya tabib itu dengan raut muka terkejut.


"Sudahlah jangan banyak tanya dulu, segera bergegas menuju kamar Nyonya!." bentak Liuli.


Dengan tergesa-gesa mereka berdua menuju ke kamar Wei Lian.


"Cepat periksa dia tabib!." perintah Liuli.


Tabib itu menjadi sangat kesal karena tingkah Liuli, "Kau keluarlah!." ucapnya dengan nada ketus.


"Bagaimana mungkin aku keluar kalau keadaan Nyonya tak jelas seperti ini." jawab Liuli.


"Kau hanya akan menggangguku disini Liuli, pergilah dan panggil Tuan Zi Lan." perintah tabib itu.


"T-tapi...."


"Cepat Liuli, jangan mengulur waktu." titahnya.


Akhirnya Liuli pun berlari lagi untuk menemui Yuan Zi Lan.


Sayangnya saat tiba di ruang kerja Zi Lan, ia tak melihat keberadaan lelaki itu, ia pun berlari lagi mencari ke kamar Zi Lan.


Mungkin saja lelaki itu masih beristirahat, begitu ia tiba disana, ia juga tak mendapati keberadaan Zi Lan.


"Sebenarnya berada dimana Tuan Zi Lan ?." gumam Meixi sembari menahan isak tangisnya.


Ia sudah sangat lelah mencari keberadaan Zi Lan di sekte Wei yang luas ini, ditambah lagi ia juga sangat khawatir akan keadaan Wei Lian.


Kini Liuli berada ditempat para murid sekte Wei berlatih, ia menanyakan dimanakah keberadaan Zi Lan.


"Apa kalian tahu dimana Tuan Zi Lan berada ?." tanya Liuli dengan nafas tak beraturan.


"Kami tak melihatnya kak Liuli."


"Tadi dia memang berada disini, namun sekarang sudah tak ada."


"Mungkin dia berada di kamar Nyonya Lu Meixi."


Bodohnya Liuli tak terpikirkan hal itu, dimana lagi Tuannya itu berada kalau bukan dikamar selir itu.


"Baiklah, terima kasih." ucap Meixi lalu bergegas pergi menuju kamar Lu Meixi.


Saat tiba dihalaman depan kamar Lu Meixi ia dicegat oleh beberapa pelayan.


"Untuk apa kau kemari ? Apa kau ingin dihukum lagi Liuli ?."


"Aku tak ada urusan denganmu, aku harus segera bertemu dengan Tuan." ucap Liuli.


"Tanpa izin dari Nyonya Lu Meixi kau tak boleh melangkah lebih dari ini." ancam pelayan-pelayan itu.


Liuli sama sekali tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya itu dengan mantap.


Namun pelayan-pelayan itu justru menarik dan berusaha memukulinya.


Mudah bagi Liuli menghindari serangan itu.


"Ternyata latihanku dengan Tuan Muda Xu Ye Han ada untungnya." batin Liuli.


Pelayan-pelayan itu tidaklah berhasil mengeroyok Liuli, justru Liuli memukul mereka satu-persatu.


"Kalian sendirilah yang membuatku melakukan ini." ucap Liuli.


"Sebenarnya siapa yang berani mengganggu kita suamiku ? Aku akan menghukumnya dengan berat!!." ucap Meixi.


Zi Lan pun menurunkan Meixi dari pangkuannya, ia juga memperbaiki pakainnya yang hampir saja terbuka.


Begitu keluar mereka berdua cukup terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Liuli daj juga pelayan-pelayan lainnya.


"Apa yang kau lakukan Liuli ? Beraninya kau memukuli pelayanku!." teriak Meixi.


"Maaf Selir Meixi, merekalah yang menghalangiku untuk masuk." jelas Liuli.


Meixi berdecak kesal mendengarnya, "Ckckck....untuk masuk kesini kau butuh ijinku, dan kau belum mendapatkannya Liuli."


"Selain itu kau juga menambah kesalahanmu karena menyiksa pelayan-pelayan setiaku, apa Wei Lian yang menyuruhmu Liuli ?." tanyanya.


"Tidak, bukan Nyonya Wei Lian yang menyuruhku." elak Liuli.


"Ahhh...jadi itu kemauanmu sendiri, pelayan dan majikan sama saja tak tahu diri." ucap Meixi.


"Tuan Zi Lan...Nyonya Wei Lian tak sadarkan diri saat ini, tabib meminta anda untuk segera kesana." ucap Liuli.


"Hanya karena alasan itu kau melakukan kejahatan ini Liuli ? Kau benar-benar harus dihukum!." teriak Meixi.


"Maaf, nyawa Nyonyaku sangatlah penting." jawab Liuli.


Meixi sudah tak dapat menahan untuk memaki pelayan itu, namun Zi Lan menghentikannya.


"Tenanglah, aku akan pergi kesana." ucap Zi Lan.


Mereka pun segera menuju ke kamar Wei Lian, begitu tiba tabib itu sudah selesai mengecek keadaannya.


"Apa yang terjadi pada Nyonya ?." tanya Liuli.


Tabib itu menatap Liuli dengan tatapan tak enak.


"Tuan...Nyonya Wei Lian hanya kelelahan saja." jelas tabib itu.


"Kalau hanya kelelahan Nyonya pasti tak akan seperti ini." elak Liuli.


"Tenanglah Liuli, biarkan tabib menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu.


Liuli pun langsung menundukkan kepalanya, ia begitu hanya karena sangat mengkhawatirkan Wei Lian.


"Kelelahan katamu ? Dia tak melakukan apa-apa tabib, pergi ke kuil pun dengan kereta kudu." ucap Zi Lan.


"Tapi memanglah benar Tuan, kalau Nyonya banyak beristirahat dan mengkonsumsi obat dengan benar pasti dia tak akan seperti ini." ucap tabib itu.


Zi Lan pun memandang curiga ke arah Wei Lian dan juga Liuli.


"Apa kalian pergi ketempat lain sebelum atau sesudah dari kuil ?." tanya Zi Lan.


Digelengkannyalah kepalanya itu, "Tidak Tuan, aku dan Nyonya hanya pergi ke kuil."


"Kira-kira kapan dia akan pulih ?." tanya Zi Lan pada tabib itu.


"Secepatnya Tuan, hamba sudah mengobatinya tadi." ucap tabib itu.


"Baiklah, kalau begitu kau pergilah, nanti malam kau harus mengecek kembali keadaan istriku." perintah Zi Lan.


Tabib itu pun mengangguk lalu pamit undur diri.


"Liuli jagalah Wei Lian dengan benar, dan jangan berisik lagi, dia harus banyak beristirahat. Begitu dia bangun pastikan dia makan dan meminum semua obatnya." ucap Zi Lan.


"Baik Tuan." jawab Liuli.


"Aku harus pergi dulu, banyak pekerjaan yang menungguku." ucap Zi Lan lalu pergi begitu saja.


Liuli pun menangis tanpa bersuara, di pegangnya tangan Wei Lian yang dingin itu.


"Pekerjaan apanya, Tuan pasti pergi untuk menenangkan Selir Meixi, padahal kau sedang sakit begini...seharusnya dia melupakan Selir Meixi sebentar." gumam Liuli.


"Nyonya...anda harus segera bangun, melihat anda seperti ini benar-benar membuatku hancur." ucap Liuli.


Disisi lain didalam mimpinya itu lagi-lagi Jian Mei melihat kebersamaan Wei Lian dengan putranya.


"Sudah lama aku tak memimpikan mereka."