The Antagonist

The Antagonist
chapter 16



Reysa berjalan gontai menuju kelasnya. sambil sesekali menguap, ia berjalan dengan mata sayu yang bahkan bisa dibilang hour tertutup penuh. ia masih kelelahan karena schedule miliknya sangat padat.


Reysa membuka pintu kelasnya, semua orang mengalihkan pandangannya pada gadis yang baru saja memasuki ruangan tersebut. mereka semua merasa heran, biasanya Reysa akan menyapa mereka dengan heboh, tapi sekarang Reysa hanya berjalan dengan wajah lesunya.


"Rey, loe kenapa?" tanya Ana menghampiri Reysa yang duduk di bangku langganannya.


Reysa memandang Ana, tiba tiba ia memeluk Ana yang berdiri itu. "huwaa gue rasanya mau mati huweee~" entah mengapa air mata Reysa sudah merembes keluar.


Ana gelagapan, ia bingung pada temannya itu. "Rey? loe kenapa? ko kok nangis?" bingung Ana gugup.


"Anaaa gue capek~ pengen tidur.." kata Reysa lemas.


"eh?" beo Ana membeku karena merasakan seluruh berat tubuh Reysa kini ada padanya.


"Rey?" panggilnya tapi tak mendapat jawaban dari sang pemilik nama.


Ana menghela nafas pelan, "San! bantuin gue bawa di Rey ke UKS dong. kasian dia, kecapekan" kata Ana pada temannya, Santi.


Santi mengangguk, "yuk" jawabnya.


saat mereka berdua mau membawa Reysa ke UKS agar Reysa bisa istirahat, tiba tiba ada orang yang menghentikan mereka.


"kalian ngapain?" tanya seseorang dingin. ia adalah Arfan, sang tokoh utama pertama.


"eh? ngapain loe? kok disini? sejak kapan?" tanya Ana memandang sinis, sejak awal ia memang tak menyukai Arfan. entah apa alasannya.


"gue tanya kalian ngapain?" tanya Arfan lagi lalu mengalihkan pandangannya pada Reysa yang memejamkan matanya itu. "Rey kenapa?" tanyanya.


"bukan urusan loe!" kata Ana kesal karena Arfan ikut campur urusan dirinya.


"kalo ada hubungannya sama Reysa berarti ada urusannya sama gue" jawab Arfan datar.


"hah? apa maksudnya tadi?" tanya seseorang yang sontak mengalihkan perhatiannya Ana, Arfan dan Santi. orang itu adalah Felicia yang sudah berdiri dengan raut wajah datarnya. gadis itu memandang Arfan tajam.


"maksudnya kak Arfan tadi apa?" tanya Felicia dingin.


"apanya?" Arfan balik bertanya bingung.


"apa hubungannya Reysa sama kak Arfan? bukannya biasanya kak Arfan gak peduli sama Reysa? kok tiba tiba peduli?" tanya Felicia dingin.


Arfan gelagapan, ia bingung mau bagaimana menanggapi ucapan Felicia yang jujur saja tepat sasaran. kenapa dia tiba tiba peduli pada Reysa? apa ada yang salah dengannya? Arfan bingung sendiri dengan dirinya. ia sudah memperhatikan Reysa sejak Reysa memukul dirinya di kelas hati itu. ia menyelidiki semua hal yang berkaitan dengan Reysa, bahkan sampai Arfan jadi stalker Reysa. untung saja belum ketahuan. dan juga karena Reysa juga ia mendekati Hendry yang ia nilai dekat dengan Reysa.


"ya yaah itu–" ucapan Arfan terpotong dengan dering hp Reysa yang berbunyi tiba tiba.


Reysa yang mendengar itu langsung terbangun, ia memang hanya setengah tidur tadi. diambilnya hp di sakunya. di layar benda pipih itu terpampang jelas nama kontak seseorang yang langsung membuat Reysa terbelalak. GM, itu adalah nama kontak yang menghubungi Reysa.


Reysa langsung pergi dari kelas itu menuju ruangan tempatnya biasa bicara dengan Hendry. disana ia menjawab telepon itu.


"halo~"


suara dengan gaya manja itu mengapa telinga Reysa. ia menggigit bibir bawahnya.


"apa yang anda inginkan?" tanya Reysa dingin.


dari seberang sana terdengar suara seseorang wanita tertawa. aura Reysa semakin menggelap saja saat mendengar suara itu.


"haha Alana jangan terlalu dingin dong~ kamu itu perempuan loh, harus cantik dan anggun~ tidak boleh dingin begitu, seorang gadis harus manis"


Alana diam, apa mau wanita ini? batinnya kesal dan agak takut.


"apa yang anda inginkan?" tanya Alana lagi.


"ohh aku ingin mengatakan sesuatu. kau pasti sudah tau tentang seseorang yang berasal dari pemain sebelumnya bukan?"


"ya, saya sudah tau. dia Ryuzeen Kirigaya bukan?" jawab Alana.


"iya iya itu dia!! aku akan mengganti jumlah pemainnya.. dari yang tiga jadi empat. aku juga akan menambah waktunya jadi 5 tahun. jadi waktumu menaklukkan para pemain masih ada banyak... karena itu, bawa sekalian Ryuzeen Kirigaya itu"


Alana makin mengigit bibirnya, "anda bercanda?" tanya Akana dingin. "anda ingin kami bermain bersama dengan orang yang berbahaya itu? anda mau kami mengambil resiko dengan memasukkan pria itu ke grub kami? anda bercanda? dan lagi dia sudah ada disini selama 1 tahun loh. bukannya usianya juga akan berbeda dengan kami?! selain itu bukankah nama Ryuzeen Kirigaya bukan pemeran yang penting? kenapa bisa ia mendapatkan pergantian pemain?" tanya Reysa kesal.


"Isabel Na? gadis itu tau tentang Ryuzeen Kirigaya?" tanya Alana.


"yup, dia tau. kamu tau kenapa aku dia datang terkahir? itu karena dia bertugas membawa informasi dari buku terakhir. dengan kata lain spin off inilah buku terakhir dari novel ini. dan gadis yang kau sebut Isabel Na itulah yang membacanya. kau mengerti Alana? yaah intinya coba tanyakan pada gadis itu saat kamu sudah bertemu. sekarang aku harus pergi, aku ada urusan. teh hijauku sudah siap.. bay bay Alana.. baik baik ya"


Tut.. Tut.. Tut.. GM mematikan teleponnya. Alana diam sejenak, lantas ia menghela nafas. sejujurnya kalau saja ia bisa menghubungi GM lagi ia pasti sudah marah marah. tapi sayangnya ia tak bisa menghubungi GM karena hanya GM yang bisa menghubungi pemain. sementara pemain tidak bisa menghubungi GM. karena itu, Alana hanya bisa diam dan menghela nafas. ia sudah lelah dengan permainan ini walaupun ia baru ada disini selama 6 bulan. ia sudah terlalu lelah.


Alana mencari kontak seseorang, Raphael adalah nama kontak yang saat ini Akan hubungi.


"Na? what wrong?"


suara Raphael menyapa pendengaran Alana. gadis itu menghela nafas lagi.


"bawa sekalian Ryuzeen Kirigaya, GM baru menghubungiku. katanya dia akan mengubah pemain menjadi 4 orang dengan Ryuzeen Kirigaya sebagai pemain keempat. tenggat waktunya juga berubah, dari 3 tahun menjadi 5 tahun" jawab Alana malas.


"GM? Really?"


nada suara Raphael mengatakan kalau ia tak percaya. tapi pastinya dari pada tam percaya, ia lebih terkejut.


"yeah, Where are you now? what about Isabel Na? sudah ketemu?" tanya Alana ingin tau.


"nope, aku lagi lacak dia. dia cepat menghilang. aku kesulitan"


Alana mengangguk, "oke. yah pokoknya bawa aja cewek itu. btw kalo gitu, apa perlu gue yang bawa Ryuzeen Kirigaya?" tanya Alana menawarkan bantuan.


"really? are you serious? it could be dangerous things happen"


Raphael bertanya khawatir. ia saat ini sedang dalam usaha mencari Isabel Na. dan ternyata GM menambah pemain dan yang terpilih adalah Ryuzeen Kirigaya yang pernah disangka pemain ketiga itu. apalagi dia orang yang berbahaya, tentu saja Raphael khawatir pada Alana.


"it's okay for me. jadi gue bakal berangkat ke Jepang sore ini. loe udah tau dimana dia kan? kirim semua yang loe tau tentang dia. biar gue yang jemput dia. dan.. entah itu pakai cara paksa atau nggak, yang penting gue bakal bawa dia secepatnya. eh tapi gue ada kerjaan sih. gimana dong?"


Alana baru ingat kalau ia ada pekerjaan lain. bagaimana ini? ia bingung sekarang.


"If so, there's no need to go. biar gue yang jemput dia"


ting.. suara notifikasi di hp Alana yang satunya, hp yang khusus ia gunakan untuk kerja.


"wait a minute. i have a message" kata Alana dan mengambil hpnya yang satunya.


ia mendapat pesan dari Celine, sepupu Sirius yang juga sutradara di tempat kerjanya. Alana segera membukanya, dan ia sangat senang saat mendapat pesan itu.


Celine Watson


Rey, kita break dulu seminggu. Danial jatuh dari tangga, kakinya cedera. jadi kita nggak syuting seminggu ini


^^^Reysaa.K^^^


^^^beneran? dia gapapa selain kakinya?^^^


Celine Watson


yeah, it's okay. don't worry, he's in the hospital right now"


^^^Reysaa.K^^^


^^^kalo gitu oke. gue lagi di sekolah, bay^^^


setelah menutup pesan dengan Celine, Alana kembali pada Raphael dengan senang.


"gue nggak ada kerjaan seminggu ini. jadi gue bakal jemput Ryuzeen. dan jangan khawatir, gue bisa jaga diri" kata Alana pada Raphael di seberang sana.


"hmm, oke kalo gitu. tapi tetap hati hati oke. ohh gue ada kerjaan, gue tutup sekarang. bay bay Nana"


"oke, bay"


Alana menutup teleponnya, lalu ia berjalan kembali ke kelasnya.