The Antagonist

The Antagonist
BAB 21



"Ada keperluan apa sampai-sampai anda datang kemari Yang Mulia Wei Lian ?." tanya Si Ming pada Wei Lian yang ada didepannya.


Wei Lian pun tersenyum dengan ramah, "Aku ingin bertemu dengan Tuan Muda Xu Ye Han."


Si Ming pun mengatakan kalau adiknya itu sedang tak ada dikediaman Wei.


"Maaf Nyonya, adikku itu sedang berada diluar istana Wei." jelas Si Ming.


Wei Lian pun bertanya-tanya dimana kira-kira berada.


"Apa anda tahu dimana tepatnya dia berada Tuan ? Aku ingin menjamunya sebagai rasa terima kasih karena telah menolongku." ucap Wei Lian dengan sangat tulus.


"Maafkan aku tapi aku benar-benar tak tahu ia berada dimana." jawab Si Ming.


Akhirnya Wei Lian pun pergi dengan rasa kecewa.


"Nyonya bagaimana kalau kita juga pergi keluar ? Sekalian saja kita bersenang-senang, sudah lama sekali bukan kita tak pergi keluar." ucap Liuli dengan sangat antusias.


"Maaf ya Liuli, karena aku sering mengurung diri pada akhirnya kau juga tak kemana-mana." ucap Wei Lian.


Akhirnya mereka berdua pun keluar dari istana Wei tanpa ditemani oleh murid ataupun pengawal.


Jian Mei berpikir mungkin ini juga pertama kalinya bagi Wei Lian menghirup udara luar.


Meskipun istana Wei adalah rumahnya namun ia masih merasa sedikit asing.


Mereka berdua pun berjalan ke arah pasar, aroma makanan pun tercium dimana-mana.


"Ahhhh....baunya membuatku lapar." ucap Wei Lian.


Liuli pun terkekeh kecil mendengarnya, ia teringat pada masa lalu Wei Lian muda yang sangat nakal.


"Nyonya apa anda ingin makan sesuatu ?." tanya Liuli.


"Sebenarnya aku menginginkan bakpao daging." ujar Wei Lian.


Liuli pun tersenyum, pada akhirnya ia menyeret Nyonyanya itu ke tempat penjual bakpao.


Tak jauh dari mereka, dua orang lelaki sedang memperhatikan mereka.


Memanglah dewa berpihak pada lelaki itu.


Ia berjalan mendekat ke arah Wei Lian dan juga Liuli yang tengah menikmati bakpao daging.


"Apa itu sangat enak ?." tanya lelaki tersebut yang tak lain adalah Xu Ye Han.


Wei Lian dan Liuli pun langsung mengarahkan pandangannya pada Xu Ye Han.


"Kau...ternyata kau ada disini, aku mencarimu daritadi." ucap Wei Lian.


Ye Han pun tersenyum nakal mendengar pernyataan Wei Lian, "Untuk apa kau mencariku Lian'er ?."


"Aku ingin menjamu dirimu, sayangnya kau tak ada di istana Wei." jawab Wei Lian.


"Menjamuku ?." tanya Ye Han lagi, karena ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Sebagai ucapan terima kasihku." jawab Wei Lian.


"Baiklah, ayo kita kembali ke istana Wei, aku benar-benar ingin mencoba masakan yang kau buat." ajak Ye Han.


Wei Lian pun menolak untuk pergi, ia masih ingin berkeliling pasar, apalagi ia tadi mendengar kalau malam nanti akan diadakan festival lampion.


"Maaf Tuan Muda Xu aku menolaknya karena makanan yang kumasak pasti juga sudah dingin. Hari ini aku juga akan sibuk, besok aku pasti akan mengundangmu ke kediamanku." jelas Wei Lian.


"Sibuk ? Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu, tak baik bagi juga wanita cantik berjalan-jalan tanpa didampingi pengawal." ucap Ye Han.


Jin Ling yang mendengar itu tentu saja kaget, meskipun Tuannya itu terkenal diantara para wanita dan digosipkan sering bergonta-ganti pasangan.


Nyatanya ini adalah pertama kalinya ia melihat dan mendengar Xu Ye Han berbicara seperti itu pada wanita.


"Apa dia ini benar-benar Tuanku ?." batin Jin Ling.


Tentunya Wei Lian menolak permintaan Ye Han.


"Aku tak menerima penolakan Wei Lian, lagipula aku lebih tahu cara untuk bersenang-senang daripada dirimu." ucap Ye Han.


Tanpa aba-aba Ye Han pun menarik Wei Lian kedalam pelukannya, dan meloncat pergi meninggalkan Liuli.


"Anda tenang saja Nyonya Wei Lian pasti aman bersama Tuanku." ucap Jin Ling.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau aku saja tak tahu mereka pergi kemana." ucap Liuli.


Jin Ling pun berusaha menenangkan Liuli, "Tenanglah nona, aku tahu kemana Tuanku dan Nyonya Wei Lian pergi."


"Kalau begitu cepat antar aku kesana sekarang!." pinta Liuli kesal.


Disisi lain Ye Han mengajak Wei Lian pergi ke tepi danau.


Sesampainya di danau itu dada Wei Lian tiba-tiba terasa sangat sakit, ia bahkan juga ingin menangis.


"Arghhh...." ucap Wei Lian sambil memegang dadanya.


Ye Han pun langsung khawatir dengan keadaan Wei Lian.


"Apa sangat sakit ? Biarkan aku memeriksamu." ucap Ye Han.


Wei Lian pun menolak, ia terdiam dan menangis.


Ya, memori Wei Lian baru saja muncul didalam kepalanya.


Danau ini adalah danau yang dulu biasa ia datangi dengan Xian'er putra tercintanya.


Di danau ini jugalah ia menaburkan abu jasad putranya itu.


Air mata Wei Lian pun tak dapat dibendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu dihadapan Xu Ye Han.


"Xian'er....Xian'er ibu datang." ucap Wei Lian.


Tiba-tiba saja Wei Lian berjalan kearah danau dan tentu saja membuat Ye Han kaget.


"Apa yang kau lakukan Wei Lian ?!." ucap Ye Han.


Ia pun berlari menyusul Wei Lian dan menarik gadis itu kedaratan.


"Xian'er hikss hikss.." ucap Wei Lian.


"Sadarlah!." ucap Ye Han.


Ye Han pun memeluk Wei Lian yang masih histeris, tak lama Liuli dan Jin Ling pun datang.


Liuli sendiri juga tak menyangka kalau tempat yang dituju Ye Han adalah danau ini.


"Nyonya..." ucap Liuli seraya hendak berjalan ke arah Wei Lian, namun Jin Ling menahan dirinya.


Malam harinya dengan mata sembab Wei Lian tengah bersiap-siap menerbangkan lampionnya.


Dilihatnya oleh Ye Han, Wei Lian sama sekali tak berbicara, wanita itu sedang memejamkan mata setelah melepas lampion ditangannya.


"Apa yang kau inginkan ?." tanya Ye Han penasaran.


"Tentu saja aku tak akan memberitahumu apa doaku." jawab Wei Lian.


Ye Han pun tersenyum mendengar jawaban dari Wei Lian.


"Yang kuinginkan adalah kau bisa melupakan semua kesedihanmu." ucap Ye Han.


Wei Lian pun menggeleng.


"Kalau kau masih saja diam menikmati rasa sakitmu dan tak ingin bangkit, maka selamanya kau tak akan bahagia Lian'er." ucap Ye Han.


Wei Lian pun menghela nafas, "Kau saja yang tak tahu kalau aku memang ditakdirkan mati di novel ini." batinnya


"Terima kasih sudah menemaniku, sekarang aku harus kembali ke istana Wei, aku pamit dulu." ucap Wei Lian.


Lagi-lagi Ye Han menahan kepergiannya dan juga Liuli.


"Akulah yang mengajakmu kemari, maka aku juga harus mengantarmu, lagipula kalau kau berjalan kaki itu akan memakan waktu yang sangat lama untuk sampai disana." ucap Ye Han.


Wei Lian pun berpikir sejenak, memang benar yang dikatakan Ye Han. Ia tadi bisa sampai disini dengan cepat karena Ye Han.


"Baiklah, sekali lagi aku meminta tolong padamu Tuan Muda Xu Ye Han." ucap Wei Lian.


"Dengan senang hati, percayalah pada kemampuanku." jawab Ye Han dengan tersenyum.