The Antagonist

The Antagonist
chapter 6



Reysa berjalan di lorong sendirian. karena sudah lebih dari pukul 7 tentu saja semua siswa siswi sudah berada di kelas. bahkan tadi Reysa dan Kenan dkk menjalani hukuman hormat bendera.


Reysa memasuki kelasnya dengan santai tanpa ada rasa malu sama sekali.


"maaf Bu saya terlambat karena tadi ada sedikit halangan" kata Reysa meminta maaf pada Bu Nadia sopan.


Bu Nadia, guru yang katanya adalah salah satu guru legendaris di sekolah ini. katanya sih guru killer, dan mengajar pelajaran Fisika. apa guru yang berhubungan dengan menghitung selalu bisa jadi guru legendaris ya? (guru matematika dan guru fisika di sekolah saya juga jadi guru legendaris. gimana tuh? bener nggak ya? astaghfirullah saya keluar topik. mohon maaf khilaf)


Bu Nadia menatap Reysa tajam, "keluar dari kelas saya" perintah Bu Nadia.


"ya? maaf maksudnya Bu?" tanya Reysa bingung kenapa ia diminta keluar.


"yang terlambat tidak akan bisa mengikuti kelas saya. jadi kaku keluar sana. niat sekolah atau tidak kamu?! bisa bisanya terlambat? padahal masih kelas 10" ujar Bu Nadia tajam.


"tapi Bu saya punya alasan untuk terlambat" ujar Reysa protes tak terima. kan tadi ia sudah dihukum, lalu dia juga punya alasan kuat untuk terlambat. so mana salahnya? Reysa tak terima dong.


"saya tidak peduli apa alasan kamu terlambat! sekarang keluar dari kelas saya!!" perintah Bu Nadia membentak.


Reysa mengencangkan giginya, matanya menatap tajam dan dingin karena marah. "saya tidak terima Bu. bukannya sebagai guru anda bisa memakluminya?! lagi pula saya punya alasan kuat untuk terlambat Bu!! sebagai seorang guru anda seharusnya bertanya apa alasan saya terlambat!! setelah itu baru memutuskan apakah saya bisa masuk kelas atau tidak!! ini namanya ketidakadilan Bu!!" ujar Reysa marah. nada bicaranya menjadi tak sopan juga.


"Reysa!! saya tidak peduli dengan alasan kamu terlambat!! jadi keluar dari kelas saya!! sekarang!!" ulang Bu Nadia memerintahkan Reysa keluar dengan nada yang lebih tinggi lagi.


"saya tidak mau!!" balas Reysa nyalang.


"REYSA ANARI KARTARENDRA!!" teriak Bu Nadia lagi.


"saya tidak akan gentar hanya karena anda meneriakkan nama saya!! saya akan tetap disini karena saya tidak bersalah setidaknya untuk sudut pandang saya!!"


"kamu tidak punya sopan santun pada yang lebih tua?!! beraninya kamu membentak saya!!" ujar Bu Nadia marah.


"bukannya saya tidak memiliki sopan santun, hanya saya sopan saya tidak pantas untuk orang seperti anda. saya sudah mencoba bicara baik baik tapi anda yang menanggapinya dengan kemarahan. disini bukan salah saya. anda yang menanggapi niat baik saya dengan bertindak tidak sopan, jadi jangan salahkan saya jika saya juga tidak sopan pada anda!! jangan berpikir hanya karena anda lebih tua maka saya akan menurut pada anda apa pun yang anda katakan. selama saya merasa tidak bersalah maka saya tidak akan mundur. dan juga usia bukan menjadi patokan kehormatan orang lain. yang menjadi patokan adalah tingkat kedewasaan dan kontrol emosi orang tersebut. mohon pahami itu" ujar Reysa panjang lebar dengan menahan emosinya.


"kamu bersalah disini Reysa. kamu terlambat tanpa alasan. jadi kamu yang salah, ini bukan salah saya" ujar Bu Nadia mencoba tenang.


"saya terlambat dengan alasan yang jelas Bu. bukan tanpa alasan seperti yang anda tuduhkan pada saya" jawab Reysa tenang.


Bu Nadia tersenyum sinis, "alasan yang jelas? palingan kamu terlambat karena berdandan lama" ujar Bu Nadia meremehkan.


Reysa menatap datar, "anda salah. saya terlambat karena saya harus kerumah sakit terlebih dahulu. dan saya tidak mau menghabiskan waktu banyak hanya demi penampilan. saya tidak seperti anda yang bangun subuh bukan untuk melayani suami tapi untuk berdandan dan digunakan untuk menarik perhatian pak Indra. jadi jangan samakan saya dengan anda" ujar Reysa dengan seringainya. penyakit Alana kumat lagi.


Bu Nadia terdiam. "apa a apa maksud kamu? kamu menuduh saya berbuat yang tidak tidak di belakang suami saya?!" bentak Bu Nadia marah bercampur malu.


Reysa mengangguk yakin, lalu tersenyum dan dengan tenang mengeluarkan kartu asnya "tentu, bukankah anda berciuman dengan pak Indra di gedung olahraga? saya melihatnya loh asal anda tau" ujar Reysa tanpa ada rasa bersalah.


Bu Nadia makin malu karena itu benar adanya. "ka kamu– apa buktinya kamu melihat saya?! saya tidak pernah melakukan itu" ujar Bu Nadia gagap.


mata Reysa beralih tajam, "anda tau kebiasaan anda saat berbohong? anda akan selalu menegang pergelangan tangan kanan anda" ujar Reysa membuat Bu Nadia membeku dan segera mengganti posisi tangannya.


Reysa tersenyum, nggak lebih tepatnya seringaian "di gedung olahraga setidaknya ada sekitar 5 cctv yang dipasang disana. mau saya tunjukkan buktinya? saya bahkan punya fotonya loh karena saya pikir akan berguna. oh dan anda tau, jujur saja menurut saya cara anda berciuman masih sangat kurang. bagaimana bisa anda yang sudah sedewasa ini hanya mencapai 10 hit? saya bahkan bisa lebih baik dari itu. setidaknya saya bisa menyentuh 25 hit, anda tau itu?" kata Reysa dengan wajah yang dibuat imut itu.


Reysa mengalihkan pandangannya pada sosok laki laki itu. matanya menyorot tajam, lantas ia berkata dengan penuh tekanan "DIAM" ujar Reysa singkat.


Arfan nampak terkejut akan hal itu, biasanya Reysa akan langsung menurut pada perkataannya sehingga ia selalu harus menghentikan Reysa saat membuat masalah. tapi kini Reysa yang menurut padanya menentangnya? apa dunia mau berakhir?


Reysa yang melihat wajah terkejut Arfan terkekeh geli. lantas ia tersenyum polos "jangan ikut campur karena ini bukan urusan anda. dan jangan sok akrab dengan memanggil nama saya, anda tidak penting di hidup saya. jadi silahkan diam" ujar Reysa ringan.


Arfan masih diam membeku. ia tak bisa berkata apa-apa lagi pada Reysa sekarang.


setelah Arfan, kini giliran Felicia yang juga ada di kelas itu berbicara. "kak Reysa, udah. kakak minta maaf aja ke Bu Nadia" kata Felicia takut takut.


Reysa berkedip polos, lantas berjalan mendekat ke arah Felicia. semua orang tak ada yang menghentikan Reysa, nggak bukan tak ada tapi belum ada.


semakin dekat Reysa dengan Felicia, Arfan yang ada di dekatnya merasa khawatir kalau Reysa akan melakukan sesuatu pada Felicia sehingga ia segera bergerak menghalangi jalan Reysa menuju Felicia.


"mau apa loe Rey?" tanya Arfan khawatir lada Felicia.


senyum di wajah Reysa menghilang, bergantikan dengan wajah herannya. "kan gue udah bilang diam, kenapa loe nggak diam? dan loe siapa? kok manggil nama gue sok akrab gitu?" tanya Reysa berhenti di depan Arfan.


Arfan masih diam di sana, "loe mau apa ke Felicia?" tanya Arfan lagi. entah kenapa kali ini ia merasa takut pada gadis di depannya itu.


"aah kok nggak jawab sih? kan harusnya pertanyaan dijawab bukan sama pertanyaan. loe bodo ya? kok aturan gitu aja nggak tau. loe ngga papa?" tanya Reysa dengan wajah khawatirnya.


Arfan mengerutkan keningnya. jujur ia merasa heran dengan sikap Reysa yang sekarang. ia merasa kalau Reysa lebih berbahaya sekarang, bahkan ia sudah berkeringat dingin. rasanya ia melihat sesosok yang sangat besar dan berkuasa.


"bisa minggir nggak? gue mau ngomong sama Felicia" pinta Reysa dengan wajah memelas. entah sudah berapa wajah yang ia buat hari ini.


"nggak akan gue biarin loe ngapa ngapain Felicia lagi" kata Arfan mencoba berani.


Reysa memandang rendah Arfan, wajahnya datar. lantas ia menyeringai, "hoo kalo nggak bisa diminta baik baik, terpaksa dong" ujarnya menggantung.


raut wajah Reysa kembali datar lagi, "minggir sana" perintah Reysa penuh penekanan dan Reysa memukul perut, ulu hati juga dagu Arfan dengan cepat.


Arfan yang diserang tiba tiba tidak bisa menghindar dan ia limbung ke belakang. tapi belum ia terjatuh, Reysa menendang dirinya lagi keras hingga ia tersungkur agak jauh dan menabrak meja dan kursi.


Reysa yang melihat itu hanya memasang wajah datar dan tatapan dingin, ia tak bersimpati sama sekali. ia memperhatikan tangannya, lantas menggenggam.


"harusnya loe tadi minggir aja, kan sekarang loe luka. salah siapa nih?" tanya Reysa tanpa rasa bersalah sambil memutar pergelangan tangannya.


Arfan meringis karena jujur saja Reysa lebih kuat dari dugaannya. ia mencoba bangkit tapi tak bisa. kepalanya pening.


'gila si Rey, kok bisa sekuat ini' batin Arfan tak percaya.


"makanya, jangan ikut campur urusan orang lain lagi. akibatnya bisa lebih buruk dari ini loh" ujar Reysa dingin.


Reysa beralih pada Felicia yang gemetaran itu. Reysa tersenyum lembut "sekarang, mari saya beritahu...