
"Ibu, kapan ayah akan datang ? Aku sangat merindukannya." ucap Xian'er kecil.
Wei Lian dan putranya itu memanglah sedang berjalan-jalan pagi bersama.
"Entahlah, tapi ibu akan menyampaikan pesan pada ayah nanti." jawab Wei Lian.
Dilihat putranya itu langsung mengerucutkan bibirnya, sudah berapa kali ibunya mengatakan hal itu. Nyatanya sampai sekarang pun ayahnya tak pernah datang.
"Sudah berapa kali ibu mengatakan itu, pasti ibu berbohong." ucapnya.
Wei Lian langsung berjongkok agar dapat menyamakan tingginya dengan Xian'er.
"Mana mungkin ibu membohongimu lagipula ibu juga sangat merindukan ayah." ucapnya sembari mengelus pelan kepala anaknya.
"Hikss....Xian'er sangat sedih, aku kan ingin bermain dengan ayah juga tapi dia terus-terusan bersama dengan Zi Yu." ucapnya dengan raut muka yang semakin sedih.
"Lagipula kan ada ibu disini, ibu akan terus menemanimu bermain." ucap Wei Lian dengan harapan putranya itu kembali tersenyum.
Dan benar saja putranya itu langsung tersenyum begitu mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu ceritakan aku sebuah dongeng sekarang." pinta Xian'er kecil.
Wei Lian pun tersenyum senang, ia segera menggendong putranya itu menuju gazebo, ia juga meminta Liuli dan pelayan lainnya untuk menyiapkan teh dan juga kudapan untuk dinikmati Xian'er.
Begitu teh dan kudapan tiba, Wei Lian mulai menceritakan sebuah dongeng pada anaknya itu.
Dengan serius Xian'er mendengarkan ibunya yang tengah asyik bercerita itu.
"Pada akhirnya kedua burung phoenix itu menjadi burung yang sangat cantik dan kuat, ia juga hidup bahagia dengan ibunya..." ceritanya.
Xian'er kecil terlihat berpikir seusai mendengar cerita dari ibunya.
Walaupun masih kecil ia cukup pandai karena gemar membaca buku.
"Apa yang sedang kau pikirkan anakku ?." tanya Wei Lian yang tengah penasaran.
"Ibu..ibu apa aku bisa sembuh kalau berbuat baik dan tak nakal lagi ?." tanya Xian'er dengan polosnya.
Sebuah senyuman langsung terukir di bibir Wei Lian, dicubitnya dengan gemas pipi putranya itu.
"Memangnya kapan kau nakal putraku ? Kau itu putra ibu yang sangat penurut." ucapnya.
"Tapi kan burung phoenix kecil itu menjadi jelek dan lemah karena tak bersikap baik pada ibunya."
"Burung itu sama sepertiku sekarang." jelasnya dengan raut muka sedih.
"Maafkan Xian'er ya ibu, aku akan menjadi anak baik sekarang."
Wei Lian pun memeluk putranya itu dengan erat, kehadiran Xian'er dalam hidupnya adalah hadiah terindah.
"Putraku kau itu sangat tampan, kau juga memperlakukan ibu dengan baik." ucap Wei Lian.
"Tapi Xian'er kan lemah, aku juga sering mendengar pelayan berkata seperti itu, ibu tak malu kan punya putra seperti ku ?." ucap anak itu.
Deg!
Wei Lian berusaha menahan tangisnya, mengapa anaknya ini seperti orang dewasa saja, lagipula mana mungkin ia malu.
"Bukan seperti itu putraku, kalau kau semakin besar nanti kau pasti akan jadi anak yang paling kuat. Dan ibu tak pernah malu punya anak sepertimu, justru ibu sangat bangga." ucap Wei Lian.
Xian'er pun tersenyum senang, dibalasnya pelukan ibunya dengan tangan kecilnya itu.
"Kalau begitu aku akan makan yang banyak agar cepat besar dan kuat, agar bisa melindungi ibu."
Tak berapa lama ia melepas pelukannya dan meminta Wei Lian untuk melepas pelukannya juga.
"Apa kau tak ingin dipeluk ibu lagi ?." canda Wei Lian pada putranya itu.
Xian'er hanya tersenyum dengan menunjukkan gigi-giginya, ia langsung turun dari pangkuan Wei Lian.
"Ibu terima kasih sudah menjadi ibuku, di kehidupan selanjutnya aku ingin kau tetap menjadi ibuku." ucap Xian'er lalu bersujud pada Wei Lian.
Wei Lian sangat terharu mendengarnya, begitu juga dengan Liuli.
"Terima kasih juga telah lahir menjadi anakku Xian'er, dikehidupan selanjutnya marilah tetap menjadi ibu dan anak." ucap Wei Lian lalu membungkuk pada anaknya itu.
Mereka berdua pun saling berpandang setelah itu, senyum langsung merekah dari bibir mereka.
Liuli masih terus berada disisi Wei Lian, ia mendengar Nyonya nya itu terus saja mengigau.
"Xian'er...Xian'er..." lirihnya.
"Nyonya...apa anda memimpikan mendiang Tuan Muda ? Kalau ya meskipun menyedihkan, aku tetaplah senang anda dapat bertemu dengannya didalam mimpi." ucap Liuli.
......................
Di penginapan, Xu Ye Han memerintahkan Xuan Yi dan juga Ah Ran menyiapkan peralatan untuk melukis.
"Hal baru apa lagi yang akan Tuan coba ?." tanya Jin Ling.
"Hal baru ? Dalam sekali percobaan saja pasti aku sudah menjadi ahlinya Jin Ling." jawab Ye Han.
Ketika Xuan Yi dan Jin Ling terkekeh mendengar jawaban itu, Ah Ran justru terlihat senang, ia bahkan memarahi kedua anak itu.
"Ya! Apa kalian meremehkan Tuan ? Pecat saja mereka berdua Tuan." ucap Ah Ran.
Xu Ye Han hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah para pengikutnya itu.
"Memangnya Tuan akan melukis apa ? Dari penginapan ini kita tak dapat melihat sebuah pemandangan yang indah bukan ?." ucap Ah Ran yang kebingungan.
Xu Ye Han pun mengeluarkan lukisan yang ia bawa kemarin.
Dengan jelas Ah Ran dan juga yang lainnya melihat lukisan seorang anak kecil yang tak lain adalah Xian'er.
Jin Ling yang sudah tahu dan paham hanya terdiam, sedangkan Ah Ran dan Xuan Yi sangatlah penasaran siapa anak dalam lukisan itu.
"Tuan anak ini siapa ? Sangat tampan." ucap Xuan Yi.
"Benar, lukisan ini seolah hidup tapi kenapa ada banyak bekas noda. Siapa anak ini Tuan ? Apa ini anda ?." tanya Ah Ran.
"Memangnya benar kak ini lukisan Tuan kita waktu kecil ?." tanya Xuan Yi.
"Ya, memangnya siapa lagi di dunia ini yang tampan rupawan selain Tuan ?." jawab Ah Ran dengan lantang.
"Aku." jawab Xuan Yi mantap.
Plakk!!
Dipukulnya pelan kepala Xuan Yi oleh Jin Ling, hal itu membuat Ah Ran tertawa puas.
"Kau memang pantas dipukul Xuan Yi."
Xu Ye Han benar-benar memfokuskan mata dan juga tangannya untuk melukis ulang Xian'er.
Ini adalah pertama kalinya dia melukis setelah bertahun-tahun.
Dia sangat ahli dalam mempelajari bidang apapun selain melukis, itulah kenapa dia sudah menghabiskan banyak kertas hari ini.
"Bagian mana dulu yang harus ku lukis ?."
"Ahh....kenapa kepalanya sangat besar begini ?."
"Aku membuat senyumnya menjadi sangat aneh."
"Kenapa matanya besar sebelah."
"Tidak-tidak...ia akan menangis saat melihatnya."
Mereka bertiga sangatlah lelah melihat Xu Ye Han yang tak selesai-selesai dalam melukis.
"Tuan...berapa kali dan berapa lama lagi aku harus tertawa melihat hasil lukisanmu ?." tanya Xuan Yi dengan sangat malas.
"Maaf, namun aku sudah lelah tertawa Tuan, sebaiknya anda menyerah saja." lanjut Ah Ran.
"Kalau anda terus memaksa itu akan menghabiskan ribuan tahun untuk menghasilkan lukisan yang indah." timpal Jin Ling.