The Antagonist

The Antagonist
chapter 13



Reysa berbaring di kasurnya, ia merasa frustasi dengan apa yang ia dengar tadi siang setelah pertandingan bersama dengan Raphael. sungguh, ia sangat terkejut mendengar penjelasan dari mantan pacarnya itu.


"haaa..." ini kesekian kalinya Reysa menghela nafas hari ini. suasana hatinya sungguh sangat buruk, sekarang ia merasa tidak enak untuk pergi bekerja. tapi sayang, ia tidak bisa bolos kerja seenaknya.


Reysa beranjak ke kamar mandi, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 yang artinya ia harus segera pergi ke studio untuk melakukan pekerjaannya.


Reysa kali ini memilih mandi dengan air dingin karena ia perlu mendinginkan kepalanya yang terasa panas itu. mata Reysa terbuka di bawah shower aku terlalu banyak berpikir ya batinnya.


Reysa keluar kamar mandi dan memilih pakaian di lemari. karena tak mau berlama lama, Reysa mengambil kemeja cut off putih dengan celana hitam. setelah itu, Reysa mengambil sepatu sneaker putih polos. selesai dengan itu, Reysa menyisir rambutnya yang sudah tak terlalu basah itu, dan ia mengambil tasnya dan pergi.


Reysa turun ke bawah, di ruang santai sudah ada Kenan dkk yang sedang bermain game kecuali Rian yang sedang mengambil makanan di dapur.


"bang Kenan kunci mobil" kata Reysa dengan nada bertanya.


"di gantungan dek" jawab Kenan yang diangguki oleh Reysa.


Reysa segera menuju pintu keluar, di samping pintu tersebut ada tempat kunci. Reysa mengambil kunci mobil Kenan, dan hendak keluar. tapi sebelum itu, ia menoleh ke tempat abang abangnya.


"bang, gue nanti pulang agak maleman. atau bisa aja nggak pulang. Jan lupa makan malem, biar bang Rian yang masak" kata Reysa memberitahu.


Kenan dkk langsung meletakkan hp masing masing dan menoleh serentak ke arah Reysa. mereka terkejut, ada apa dengan adik mereka itu?


kok adik mereka? ya karena Reysa sudah dianggap adik yang paling kecil di rumah itu. so wajar lah ya.


"kenapa dek? kok bisa nggak pulang?" tanya Kenan khawatir pada Reysa.


"mau ketemu Hendry. dia bilang mau ngomong sesuatu ke gue" jawab Reysa.


ps: bagi yang lupa, Hendry nama Raphael di dunia ini.


"si bajingan!! ngapain dek kesana?! loe ada hubungan apa sih sama dia?" tanya Kenan kaget.


"iya Rey, buat apa ketemu sama dia? loe nggak pernah cerita sama kita loh kalo ternyata loe punya hubungan sama Hendry" timpal Kevin yang juga khawatir. nanti kalau Reysa kenapa napa kan ia tak bisa makan enak lagi.


"dia kenalan gue kok. sori ini penting, jadi nanti kalo gue nggak pulang berarti gue pergi ke apartemen gue yang biasanya" jawab Reysa. "gue pergi" lanjutnya dan keluar dari rumah itu.


suasana di dalam ruangan itu menjadi agak suram. mereka semua merasa aneh dengan Reysa sejak kejadian di ruang klub fotografi tadi siang. karena mereka juga ada disana, walaupun tak tau apa yang mereka berdua bicarakan, tapi setidaknya mereka tau kalau yang Reysa dan Hendry bicara adalah hal yang serius. tentunya hal itu terlihat dari ekspresi wajah dan nada bicara keduanya.


"eh Rey kenapa sih? kok dia kayaknya lagi banyak pikiran gitu? Rik, Rey cerita sama loe?" tanya Kevin yang khawatir.


Riko yang ditanya menggeleng, "nggak. Rey nggak cerita apa apa sama gue" jawabnya.


"kayaknya, gara gara tadi siang deh. kejadian yang ada di klub fotografi tadi" kata Kenan mengungkapkan pendapatnya.


Riko dan Kevin mengangguk, "iya kayaknya gara gara itu" balas Kevin.


sementara mereka bertiga saling menduga duga, Cesar yang juga ada disana hanya diam dalam pikirannya. wajahnya yang datar tak bisa membuat orang membaca pikirannya, tapi mereka pasti tau kalau orang ini sedang berpikir keras.


disaat suasana sedang agak ricuh, datanglah Rian dengan sepiring donat warna warni yang dibawa Reysa sebagai oleh oleh setelah pulang kerja sebagai modelnya. Rian yang tak tau apa apa duduk dan mengambil satu donat dan memakannya.


"kwalian kenapwa?" tanyanya dengan mulut agak penuh itu.


"ck itu makanan di telen dulu yan" kata Kevin malas melihat tingkah Rian yang bagai anak kecil itu.


Rian menelan makanannya, "jadi, kalian kenapa?" tanya Rian lagi.


"ini tentang Rey.." jawab Riko yang sudah seperti anak anjing terlantar itu.


"Rey? emang dia kenapa?" tanya Rian yang ikutan ingin tau.


"jadi..." Kevin menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Rian yang mendengar penjelasan itu mengangguk angguk paham.


"iya, mending gitu aja" jawab mereka bertiga serentak dengan anggukan.


...×××...


"hah? main drama?" ujar Reysa dengan nada bertanya.


Sirius mengangguk, "iya. menurut gue mungkin cocok deh. biasanya orang yang bisa jadi model juga bisa jadi aktor. kan lumayan juga uangnya" jawab Sirius dengan senyumnya.


"iya sih, tapi.. kan gue masih bocah sekolahan. gimana dong?" tanya Reysa tak yakin.


"soal itu tenang aja. kan emang yang dicari bocah sekolahan, biar natural gitu maksudnya. tema dramanya aja juga anak sekolahan" jawab Sirius.


"gue yakin ada apa apa deh. jujur sama gue, kenapa loe tiba tiba minta gue jadi aktor" perintah Reysa tegas. ia curiga, biasanya Sirius tidak akan memintanya melakukan sesuatu jika tidak ada untung pada Sirius.


Sirius menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. wajahnya kebingungan, bagaimana ia harus bereaksi.


"oke jadi gini. sepupu gue namanya Celine baru pulang dari luar negeri. nah dia itu seorang sutradara, dan dia perlu aktor di filmnya. dia liat gimana loe pas pemotretan. menurut dia, loe cocok jadi aktor. makanya, dia minta tolong gue buat bikin loe mau jadi aktornya" jelas Sirius dengan wajah bersalahnya.


"sori kalo loe kerepotan, tapi pliss tolong pertimbangkan" mohon Sirius pada Reysa.


Reysa diam, berpikir apa yang harus ia lakukan. "hmm, aktor ya..?" gumam Reysa yang tenggelam dalam pikiran penuh pertimbangannya.


setelah berpikir lama Reysa menjawab, "oke deh. gue coba" finalnya.


Sirius langsung memasang wajah bahagianya. ia tersenyum haru dan memeluk Reysa. "waah makasih Rey.. loe emang yang terbaik!" katanya senang.


Reysa diam dengan sedikit senyum di wajahnya. gadis itu membalas pelukan yang diberikan oleh Sirius padanya.


"sama sama" ujarnya.


setelah itu, mereka kembali bekerja karena ini tadi sedang istirahat sebentar.


...××× ...


mobil yang ditumpangi Reysa memasuki kawasan perumahan elite yang ada di kota itu. ia sedang menuju rumah dimana Handry tinggal.


mobil Reysa berhenti di depan sebuah rumah megah bercat putih yang bergaya Eropa kuno itu. petugas di depan segera membukakan gerbang untuk Reysa karena mereka tau siapa yang ada di dalam mobil itu.


Reysa memang sudah sering kemari, banyak urusannya ia dengan Hendry. jadi orang orang di rumah mewah itu sudah mengenal Reysa.


Reysa turun dari mobilnya, lalu berjalan menuju pintu setinggi hampir 3 meter itu. ia mengetuk pintu rumah itu dengan membenturkan besi yang sebenarnya itu memang berguna memanggil pemilik rumah.


note: buat yang nggak paham, coba nonton anime diabolik lovers eps 1 season 1. scene saat Yui baru datang ke rumah sakamaki, dan pengen masuk ke dalem rumah.


pintu besar dan tinggi itu terbuka. menampilkan penampilan dalam rumah itu yang jujur saja sangat mewah.


"selamat datang nona Kartarendra" kata seorang pria yang sepertinya sudah hampir berusia 60 tahun itu pada Reysa. ia adalah Barton, kepala pelayan di rumah besar itu.


Reysa mengangguk, dan selanjutnya ia disambut oleh para maid yang berjejer rapi dengan menundukkan kepalanya. mereka memberi ucapan selamat datang pada Reysa.


"SELAMAT DATANG DI MANSION VARVAERA NONA KARTARENDRA!!" ujar para maid serentak.


Reysa hanya mengangguk dan menatap Barton. "apa tuan muda Varvaera ada di tempat?" tanya Reysa dengan sedikit senyum diwajahnya.


"tuan ada di ruangan beliau nona. mari saya antarkan" kata Barton sopan pada Reysa


Reysa mengangguk lagi, "mari pergi" ujarnya juga sopan.