The Antagonist

The Antagonist
chapter 10



seorang gadis menggunakan gaun hitam kini memasuki hall pesta di gedung hotel Plaza. dia adalah Reysa, gadis itu menemani kenalannya untuk pergi ke pesta ini sebagai pasangannya. karena Reysa pernah punya hutang budi pada kenalannya yang bernama Sirius ini, jadi Reysa tak bisa menolaknya.


"Rey, gue mau nyapa beberapa kenalan dulu. loe tunggu sini ya" kata Sirius pada Reysa.


Reysa mengangguk, "oke, tapi gue tunggu di dekat jendela" jawabnya yang diangguki oleh Sirius.


Sirius meninggalkan Reysa, sementara Reysa pergi ke pinggir untuk menunggu.


"permisi nona, anda mau?" tawar seorang pelayan ramah.


Reysa tersenyum lembut, "terima kasih" katanya sembari mengambil segelas sampanye.


pelayan itu mengangguk lalu pergi, tapi dalam batinnya pelayan itu heran. 'nona itu tidak terlihat canggung. lantas kenapa ia hanya berdiri di pinggir? apa nona itu sedang menunggu seseorang?' batin pelayan laki laki itu heran.


Reysa meminum sampanye nya sedikit, ia sudah biasa dengan pesta macam ini karena ia sebagai Alana sudah terbiasa. kakaknya Alen selalu meminta Alana menjadi pasangannya.


Reysa yang sedang memikirkan dirinya di dunia nyata itu tanpa sadar ada yang menatap dirinya dengan tatapan terkejut. orang itu mendekat ke arah Reysa.


"apa yang kamu lakukan disini, Reysa?" tanya orang itu.


Reysa yang awalnya melamun beralih menatap sesosok pria yang hampir kepala 5 itu, lantas ia tersenyum.


"oh, lama tidak berjumpa. saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda disini, tuan Kartarendra" kata Reysa tersenyum lembut.


"apa?" beo Edward yang merupakan ayah biologis Reysa saat ini.


Reysa masih tersenyum, "apa ada sesuatu yang anda inginkan dari saya?" tanya Reysa


"apa yang kamu lakukan disini, Reysa Kartarendra?" tanya Edward menekankan.


"a aah begitu ya. saya datang ke sini karena saya menemani kenalan saya" jawabnya.


"kenalan? siapa?" tanya Edward yang heran. apa Reysa punya kenalan orang kelas atas?


sementara itu, Sirius yang melihat Reysa sedang berbincang dengan Edward menghampiri mereka karena ia juga sudah selesai menyapa dan ia agak khawatir pada Reysa. bagaimanapun Reysa datang kemari dengannya, kalau nanti terjadi sesuatu pada Reysa, ia bisa mati dilahap 5 monster penjaganya (yang dimaksud Kenan, Kevin, Rian, Riko, dan Cesar)


"maaf lama Rey" ujar Sirius tersenyum.


Reysa beralih memandang Sirius. lantas ia tersenyum dan mendekat pada Sirius. "tak apa Sir. tak terlalu lama. kau sudah selesai menyapa?" tanya Reysa tak mengindahkan keberadaan Edward.


Sirius mengangguk, " iya, sudah selesai. ngomong ngomong, apa yang kau lakukan dengan tuan Edward?" tanya Sirius melihat Edward.


"ohh, dia ayah temanku Sir. jadi tak perlu khawatir dengan itu. aku baik baik saja" kata Reysa menenangkan Sirius yang nampak waspada itu.


Sirius menghela nafas lega, "syukurlah kau baik baik saja. aku khawatir kau tidak cocok dengan suasana ini" katanya.


Reysa terkekeh dengan menutup mulutnya dengan tangan. "haha, kau terlalu memikirkan aku Sir. aku sudah setuju untuk ikut denganmu, so don't worry about me. just relax okey" kata Reysa.


"ohh gitu. kalau begitu tolong maafkan saya yang tidak sopan. nama saya Sirius Dwayne. saya pasangan Rey hari ini" kata Sirius memperkenalkan dirinya.


"saya Edward Kartarendra. maaf kalau boleh tau, apa hubungan anda dengan putri saya?" tanya Edward yang entah bagaimana posesif itu.


"ya? putri? dan Kartarendra? Rey ini.." ujar Sirius terkejut. ia memandang Reysa meminta penjelasan.


Reysa menghela nafas, "akan ku jelaskan nanti Sir. don't worry about it, and enjoy the party" kata Reysa lembut pada Sirius.


"haha, kau tau aku bukan orang seperti itu Sir" kata Reysa


"aku tau, tapi tetap saja. lebih baik hati hati" kata Sirius dan pergi meninggalkan Reysa dan Edward.


sepeninggalan Sirius, Reysa beralih memandang Edward dingin. lantas ia tersenyum, merubah raut wajahnya saya mengingat dimana ia saat ini. pada dasarnya manusia itu budaknya image, dan tentunya Reysa juga termasuk ke dalamnya. karena.. untuk bisa hidup nyaman dan normal maka image baik di masyarakat sangat diperlukan. so jangan kaget karena orang seperti Reysa ini juga menjaga imagenya.


"saya pikir sebaiknya kita berpindah lokasi. anda tak apa dengan itu, tuan Edward?"


...×××...


Reysa dan Edward ada di sebuah rest room di hotel ini. mereka duduk saling berhadapan dalam diam.


clak.. suara cangkir yang diletakkan di atas sebuah piring kecil.


"jadi, apa yang ingin anda tanyakan saat melihat saya?" tanya Reysa tersenyum


"darimana saja kamu? kenapa tidak pulang?" tanya Edward walau ia sudah tau jawabannya.


Reysa berkedip polos, "saya? pulang? hmm saya pikir saya selalu pulang tepat waktu. dan kalaupun tidak tepat waktu saya pasti akan memberitahu keluarga saya. jadi bagaimana anda bisa bertanya 'kenapa saya tidak pulang'?" tanya Reysa.


"alasan kamu kabur dari rumah? jujur aku cukup terkejut karena kamu bisa bertahan selama 1 bulan lebih tanpa fasilitas dari papa" kata Edward tersenyum miring.


"papa?" beo Reysa. wajahnya berubah datar. "siapa itu?" lanjut Reysa bertanya dingin.


"apa? bagaimana kau bisa.. aku papamu Reysa" kata Edward membentak.


Reysa memandang Edward tajam. "tolong tenang tuan Edward. anda tidak berada di tempat dimana anda bisa berbuat seenaknya" ujar Reysa memeringati.


Edward menghela nafas menetralkan emosinya. "jadi, apa kamu tidak akan kembali ke rumah papa? bukannya lebih enak tinggal sama papa dari pada sama abangmu? di rumah papa kamu nggak perlu khawatir soal uang atau yang lainnya. kamu bisa dapat semua fasilitas lengkap. gimana? kamu mau tetap sama abangmu atau kembali ke papa?" tanya Edward mencoba membujuk Reysa.


Reysa menyeruput tehnya. lantas ia meletakkan kembali di meja. Reysa tersenyum lembut "saya akan bersama dengan kakak saya. karena untuk saya saat ini, dia adalah satu satunya keluarga saya. dan anda tidak lebih dari ayah Felicia yang sekarang merupakan teman saya. sejak anda membuat alasan mama saya untuk bunuh diri, maka sejak saat itu anda sudah tidak berarti di hidup saya mister Kartarendra. anda tidak lebih dari seseorang yang terikat hubungan darah dengan saya dan kakak saya. tapi keluarga yang sesungguhnya bukan hanya sekedar ikatan DNA, tapi ikatan perasaan. mohon ingat itu" jelas Reysa dan berdiri dari duduknya.


hp Reysa berdering, dan ia segera melihat siapa yang menghubungi dirinya. di sana jelas terpampang nama kontak Bang Kenan di benda pipih itu.


"halo bang?"


"dek, loe dimana? udah hampir jam 11 loh. cepetan pulang, katanya loe ada hari penting besok"


"iya, Rey pulang sekarang. bakal agak telat, btw Abang udah makan?"


"udah, tadi Rian sempat masak. tapi ancur sih, jadinya kita pesen makanan"


Reysa mengangguk mendengar jawaban Kenan. "sori ya bang, Rey nggak dirumah jadi Abang bisa aja makan masakannya bang Rian. nggak keracunan kan? atau ini udah arwahnya bang Kenan?" tanya Reysa tanpa disaring itu.


"gue belum mati dek!! udah pokok cepet pulang. Abang jemput sekarang. pamit sama Sirius sana. bay, bang udah didepan"


Kenan menutup teleponnya membuat Reysa terkikik geli.


Reysa beralih pada Edward untuk pamit. "tuan Edward, saya pikir saya harus pulang sekarang. jadi saya permisi" ujar Reysa meninggalkan rest room itu.


Edward disana hanya bisa diam saat Reysa pergi meninggalkan dirinya.