The Antagonist

The Antagonist
BAB 26



Istana Wei.


Dengan sebuah senyuman manis, Yuan Zi Lan dan Lu Meixi tengah mengantar kepergian para tamu.


"Terima kasih sudah datang Tuan."


"Terima kasih atas kedatangan anda."


Kini berdirilah rombongan dari sekte Xu dihadapan Lu Meixi dan juga Zi Lan.


"Terima kasih atas kedatangan anda kemari Tuan Xu Si Ming dan juga aku minta maaf atas kesalahpahaman kita sebelumnya." ucap Zi Lan.


"Terima kasih juga atas jamuannya selama ini Tuan Zi Lan." jawab Si Ming.


Lu Meixi pun memperhatikan rombongan sekte Xu satu-persatu, matanya sama sekali tak menemukan keberadaan Xu Ye Han.


"Apa Nyonya Meixi mencari adikku ?." tanya Si Ming yang menyadari gerak-gerik Meixi.


Meixi pun tersenyum canggung mendengarnya, "Ya Tuan Muda Si Ming, walaupun adik anda telah melukaiku tetap saja dia adalah tamu terhormat di sekte Wei ini."


"Adikku itu masih berkemas Nyonya Meixi, sebentar lagi dia akan tiba disini." ucap Si Ming.


Benar saja tak berapa lama Xu Ye Han muncul, seperti biasa banyak murid-murid wanita dari sekte lain membicarakannya.


"Adik anda memang sangat populer di kalangan gadis muda Tuan Si Ming." ucap Meixi.


Si Ming hanya tersenyum sinis mendengarnya, wanita di depannya ini memang sangat pintar dalam berbicara.


Xu Ye Han pun tiba didepan Yuan Zi Lan dan Lu Meixi.


"Tuan Muda Kedua Xu." sapa Meixi.


Ye Han hanya tersenyum mendengarnya, matanya melirik pada Zi Lan.


Dilihatnya lelaki itu seperti enggan melihat dirinya.


"Tuan Muda Kedua Xu walaupun sempat ada perselisihan diantara kita namun aku benar-benar berterima kasih kau sudah hadir diacara perayaan putraku." ucap Meixi.


"Sama-sama Nyonya Lu." ucap Ye Han.


"Kuharap kita bisa bertemu lagi nantinya." ucap Meixi.


Tiba-tiba saja Wei Lian dan Liuli datang dan berjalan kearah mereka.


Ia langsung memberi salam pada Xu Si Ming dan juga Xu Ye Han.


"Salam Kedua Tuan Muda Xu." ucap Wei Lian.


"Salam Yang Mulia Wei Lian." ucap Si Ming.


"Liuli cepat berikan itu pada mereka." ucap Wei Lian.


Liuli pun menyerahkan sebuah kotak kepada Xu Si Ming.


"Apa ini Nyonya ?." tanya Si Ming penasaran.


"Hanya hadiah kecil sebagai rasa terima kasihku pada sekte Xu." jawab Wei Lian.


"Aku mencium aroma makanan yang sangat menggoda." ucap Ye Han.


"Hanya sebuah camilan saja, kuharap kalian menikmatinya di perjalanan nanti." ucap Wei Lian.


"Terima kasih Nyonya Wei Lian." ucap Si Ming.


Xu Ye Han tersenyum tipis sembari memandang Wei Lian, hal itu membuat Zi Lan kesal melihatnya.


"Kakakku ini memang sangat perhatian pada Tuan Muda Xu Ye Han." ucap Lu Meixi.


"Aku membuatnya untuk kedua Tuan Muda Xu, Meixi." ucap Wei Lian.


"Terima kasih atas kunjungan sekte Xu, aku berharap bisa datang ke sekte Xu nantinya." ucap Zi Lan.


"Kami pasti akan mengundang anda nantinya Tuan Zi Lan." ucap Si Ming.


Seolah paham dengan ucapan Zi Lan, Si Ming pun segera berpamitan dan berjalan pergi.


Namun sayangnya usaha Zi Lan sia-sia, Wei Lian mengikuti mereka dari belakang.


Ia mendengar dan juga melihat sendiri dengan kedua matanya bagaimana Wei Lian memberi perhatian lebih pada Xu Ye Han.


"Tuan Muda Xu Ye Han." panggil Wei Lian.


"Ada apa Lian'er ? Apa kau tak rela berpisah dariku secepat ini ?." tanya Ye Han.


"Apa yang kau katakan Tuan Xu Ye Han ? Banyak orang yang memperhatikan kita, kumohon jaga ucapanmu." ucap Wei Lian.


"Kalau tak ingin orang lain memperhatikanan kita harusnya kau menemuiku diam-diam." jawab Ye Han dengan tersenyum nakal.


Wei Lian tak bisa berkata-kata lagi, memang yang dikatakan Ye Han ada benarnya.


Wei Lian pun menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang yang berada ditangannya kepada Xu Ye Han.


"Apa ini hadiahku ?." tanya Ye Han.


Saat Ye Han hendak membukanya, Wei Lian pun mecegahnya.


"Bukalah saat kau sudah keluar dari sekte Wei ini Tuan Muda Xu." ucap Wei Lian.


"Memang apa isinya ? Apa ini barang berharga seperti yang kuberikan padamu ?." bisik Ye Han.


"Hanya sebuah hadiah kecil, tapi aku berpikir kau akan menyukainya karena aku sering melihatmu membawa barang ini kemana-mana." ucap Wei Lian.


Ye Han pun makin penasaran saat mendengarnya, "Baiklah kalau begitu aku harus segera pergi agar tau apa isinya."


"Hati-hati di perjalanan nanti dan juga terima kasih." ucap Wei Lian.


Ye Han pun pergi meninggalkan sekte Wei dengan segera.


"Selain memikat murid wanita dari sekte lain sepertinya ia juga memikat Wei Lian itu suamiku." ucap Meixi.


"Pelankan suaramu Meixi, kalau orang lain mendengarnya mereka akan berbicara buruk soalmu." ucap Zi Lan dengan nada ketus.


Meixi pun menjadi kesal mendengarnya, tanpa ia bicara pun pasti yang lainnya juga berpikiran sama seperti dirinya.


Malam harinya Wei Lian tengah melamun di tepi kolam cermin bulan, raut mukanya terlihat sangat sedih.


"Nyonya..." panggil Liuli.


Wei Lian pun tak merespon panggilan Liuli.


"Nyonya...." panggilnya lagi.


"Ya ? Apa kau memanggilku Liuli ?." tanya Wei Lian.


"Apa benar Nyonya sedih setelah Tuan Muda Xu Ye Han pergi ?." tanya Liuli dengan hati-hati.


"Huhh....rasanya aku seperti kehilangan teman baru Liuli." ucap Wei Lian.


Tiba-tiba saja Lu Meixi datang ke kediamannya ditemani oleh beberapa pelayan yang suka menyiksanya.


"Ada urusan apa kau datang kemari Lu Meixi ?." tanya Wei Lian.


"Tentu saja aku merindukanmu Wei Lian." jawab Meixi.


"Merindukanku ?." tanya Wei Lian bingung.


"Benar, aku sangat rindu menyiksamu Wei Lian, apa kau tahu betapa kesalnya aku melihat kau berlagak didepan pendekar lain ? Sekarang mereka sudah tidak ada, bahkan Xu Ye Han tersayangmu itu juga sudah pergi." ucap Meixi.


"Pelayan cepat pegangi Liuli dan juga Wei Lian!." titah Meixi.


Para pelayan itupun segera memegangi mereka berdua.


"Kau memanglah pengecut Meixi!" ucap Wei Lian.


Wei Lian berusaha melepaskan kuncian para pelayan itu, begitu juga dengan Liuli.


Namun Meixi mengeluarkan sebuah cambuk, "Aku akan membuatmu memohon ampun atas luka yang diberikan Xu Ye Han karenamu Wei Lain!." teriaknya.


Lu Meixi pun mencambuk tubuh Wei Lian dan juga Liuli.


Ia benar-benar mencambuk mereka berdua dengan sangat kuat.


"Arghhhh" rintih Wei Lian.


"Nyonya!!." ucap Liuli.


Para pelayan pun melepaskan pegangan mereka terhadap tubuh Wei Lian.


"Memohonlah Wei Lian!." ucap Meixi.


Meixi pun terus mencambuk tubuh Wei Lian sampai-sampai tubuh itu terpental karena kuatnya Meixi saat mencambuknya.