The Antagonist

The Antagonist
BAB 31



Flashback On


Ditepuknya bahu gadis bernama Xiao Wu itu yang tengah bermain dengan anak-anak.


"Nona Xiao Wu." panggilnya.


Ditolehnya lelaki yang memanggilnya barusan, ia memanglah terpana dengan paras lelaki itu, namun dengan cepat ia berusaha menyembunyikannya.


"Anda memanggilku ?." tanyanya.


"Ya, anda Nona Xiao Wu bukan ?." tanya Zi Lan memastikan, gadis itu pun mengangguk.


"Ada urusan apa kau mendekati nonaku ? Jaga jarakmu." ucap gadis lain yang sepertinya adalah pelayan dari Xiao Wu.


"Ahh...maaf kalau aku membuat kalian terkejut dan takut." ucap Zi Lan.


Xiao Wu pun menanyakan hal yang sama, ia tak mengenal pria didepannya ini, jangankan mengenalnya bertemu saja ia tak pernah.


Namun pria ini berlagak seperti sudah mengenal dirinya sangat lama, sedikit tak sopan.


"Anda siapa ? Dan ada urusan apa denganku ? Aku tak mengenal anda sama sekali Tuan, apa anda suruhan ayahku ?." tanya Xiao Wu.


Zi Lan terkekeh kecil, menurutnya Xiao Wu sangat menggemaskan saat ini.


"Namaku Yuan Zi Lan." ucap Zi Lan sembari mengulurkan tangannya.


"Kau sudah tahu namaku bukan ? Jadi aku tak akan menjabat tanganmu, kalaupun kau memaksa tetap tak bisa, lihat tanganku sangat kotor bukan ?." ucap Xiao Wu dengan menunjukkan kedua telapak tangannya itu pada Zi Lan.


Zi Lan pun menjadi sedikit malu karenanya.


"Jadi ada urusan apa ? Kau belum menjawab pertanyaanku." ucap Xiao Wu.


Namun lelaki bernama Yuan Zi Lan itu hanya terdiam, begitu membuka mulutnya untuk berbicara ia langsung menutupnya lagi


"Kalau tak ada urusan maka pergilah dan jangan menggangguku, aku masih ingin bermain dengan anak-anak ini." ucap Xiao Wu.


Ia pun membalikkan badannya dan kembali bermain dengan anak-anak itu.


Zi Lan sama sekali tak beranjak pergi, ia terus memperhatikan Xiao Wu yang tengah bermain dengan anak-anak kecil itu.


Sesekali ia juga tertawa melihat tingkah laku Xiao Wu.


Xiao Wu yang ia lihat saat ini sangat berbeda dengan Xiao Wu yang ia temui dipenjual bakpao.


Xiao Wu saat ini terlihat seusia dengan anak-anak kecil itu, bagaimana mungkin Zi Lan tak beranggapan seperti itu.


Kalau Xiao Wu saja bermain masak-masakan dengan anak-anak itu, bahkan ia mendengar kalau sebentar lagi mereka akan bermain petak umpet.


Flashback Off.


Wei Lian pun tertawa mendengar cerita Zi Lan, ternyata memanglah kisahnya dengan Zi Lan sangat menarik.


Lebih tepatnya kisah Wei Lian asli dengan Zi Lan.


Namun seingatnya yang Zi Lan ceritakan itu sama sekali tak ada di novel yang ia baca, apa bagian itu akan diceritakan penulis di episode-episode berikutnya ia juga tak tahu.


"Aku sangat mencintaimu suamiku." ucap Wei Lian sembari memandang Yuan Zi Lan.


Yuan Zi Lan pun tersenyum, memanglah ia tahu kalau Wei Lian sangat mencintai dirinya.


Kalau tidak mana mungkin wanita didepannya ini memberontak pada ayahnya agar bisa bersatu dengannya.


"Lian'er." panggilnya.


"Ya suamiku." jawab Wei Lian.


"Kau tahu bukan aku sangat tak suka pada Xu Ye Han, hatiku terbakar mengetahui kau dekat dengannya." ucap Zi Lan.


"Maafkan aku, namun kau perlu tahu kalau aku hanya berteman dengannya." jawab Wei Lian.


"Teman ? Kau sudah menganggapnya sebagai seorang teman dalam waktu singkat Lian'er."


"Mungkin karena aku baru berbicara dengan orang luar setelah sekian lama." jawab Wei Lian.


Ia lalu teringat dengan Xu Ye Han kembali.


Ia berharap lelaki itu baik-baik saja, ia juga berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti.


"Kau tak boleh berhubungan dengannya Lian'er, kau wanita yang sudah menikah, kalau kau dekat-dekat dengan dia pastinya tahu bukan gosip apalagi yang akan beredar ?." tanya Zi Lan.


Wei Lian pun mengangguk, tentu saja ia akan dicap sebagai wanita penggoda, tak punya malu dan sebutan-sebutan tak pantas lainnya.


"Meskipun begitu aku tak akan lupa kebaikannya yang telah menolongku dari Meixi." ucap Wei Lian.


"Aku sudah memarahi dan menghukumnya Lian'er, ia pasti akan bersikap baik padamu kedepannya, jadi jangan membencinya." ucap Zi Lan.


Mendengarnya hanya membuat Wei Lian kesal, mana mungkin ia tak membenci orang yang telah menyiksa dan merenggut kebahagiannya ?.


"Suamiku, apa kau mencintaiku ?." tanya Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun merasa heran mendengar pertanyaan dari Wei Lian, mengapa wanita ini menanyakan hal seperti itu.


"Tentu saja aku mencintaimu Lian'er, kalau tidak mana mungkin aku menikahimu." jawab Zi Lan.


"Kau mencintai Lu Meixi ?." tanya Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun tersadar kalau ini adalah pertanyaan jebakan, ia menebak kalau Wei Lian pasti akan bertanya dengan jawaban memilih.


"Kau diam ? Ahh...aku sudah tahu jawabannya, kalau kau tak mencintainya mana mungkin kau menikahinya dengan mengancamku." ucap Wei Lian.


"Huhhhh...."


"Diantara kami berdua siapa yang paling kau cintai suamiku ?." tanya Wei Lian.


Deg!...


Tebakannya benar, ia sangatlah tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Jadi dia hanya terdiam saja.


"Kau tak bisa menjawabnya lagi ternyata." ucap Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun mengangkat Wei Lian agar duduk dipangkuannya. Lalu dipeluknya dengan erat wanita itu.


"Kalian berdua sama-sama berharga bagiku, tanpa kalian berdua aku bukanlah apa-apa Lian'er." ucap Zi Lan.


Mendengarnya hanya membuat ia semakin tak kuat untuk berbicara lagi, Wei Lian hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.


Mengapa ia sangat suka menanyakan hal yang jawabannya hanya membuat ia terluka.


"Sangat bodoh." batinnya.


"Suamiku, apa kau sudah pergi ke kuil ?." tanya Wei Lian sembari melepas pelukan suaminya itu.


"Astaga, karena sangat sibuk aku menjadi lupa untuk pergi kesana Lian'er." jawab Zi Lan.


Wei Lian pun menunjukkan raut muka sedih, "Hmmm...kalau begitu maukah kau pergi bersamaku besok ? Aku ingin pergi ke kuil suamiku."


"Maafkan aku Lian'er, kalau besok aku masih punya banyak urusan, kalau kau pergi aku akan mengutus beberapa murid untuk menemani." ucap Zi Lan.


Wei Lian pun semakin menunjukkan kekecewaan dalam wajahnya, hal itu membuat Zi Lan sedikit iba.


"Maafkan aku Lian'er, kita akan pergi bersama dilain waktu, jadi jangan terlalu sedih." ucapnya.


"Baiklah, janji ?." tanya Wei Lian sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." jawab Zi Lan.


Mereka berdua pun saling menautkan jari kelingking.


"Kau sudah berjanji, jadi jangan melanggarnya suamiku, kau tahu bukan aku sangat tak suka jika sebuah janji dilanggar." ucap Wei Lian.


Mengangguklah Zi Lan mendengar ucapan Wei Lian, ia lalu menurunkan Wei Lian dari pangkuannya itu.


"Istirahatlah Lian'er, aku harus pergi." ucap Zi Lan.


"Apa kau tak tidur disini suamiku ?." tanya Wei Lian dengan penuh harap.


"Aku harus pergi ke kamar Meixi, kalau aku tak disana Zi Yu akan sangat sedih." jawabnya.