The Antagonist

The Antagonist
BAB 27



Cairan berwarna merah kental keluar dari dalam mulut Wei Lian, dengan tangan lemahnya yang bergetar hebat Wei Lian mengusap mulutnya itu.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenciku Meixi ?." tanya Wei Lian.


"Karen kau telah merebut semua hal yang harusnya menjadi milikku Wei Lian!." teriak Meixi dengan penuh amarah.


"Merebut ? Kaulah yang merebut kebahagiaanku lebih dulu Meixi, kau merampas perhatian ayahku, bahkan aku juga harus berbagi suami denganmu, akulah yang harusnya membencimu." ucap Wei Lian balik.


Dipandangnya dengan tajam Wei Lian yang tersungkur ditanah, ia tersenyum sangat sinis pada wanita didepannya itu.


"Berbagi suami ? Apa kau lupa kalau Zi Lan sudah menjadi milikku sepenuhnya Wei Lian ? Lelaki yang kau panggil suami itu sudah tak peduli padamu." kekeh Meixi.


Wei Lian pun berusaha bangkit, dengan tubuh sempoyongan ia berjalan ke arah Meixi.


Dicengkramnya dengan kuat tubuh Meixi, "Zi Lan berada disisimu hanya karena ada Zi Yu, lihatlah aku akan merebutnya kembali."


Begitu Wei Lian melepaskan cengkramannya dan berjalan pergi, Lu Meixi mengeluarkan cambuknya lagi.


Ia membuat Wei Lian kembali terjatuh dengan cambuknya itu.


"Nyonya!!!" teriak Liuli.


"Ahhh...kudengar dari Zi Lan kau ingin mempunyai anak lagi bukan ? Hahaha lebih baik kau tak terlalu berharap Wei Lian, seharusnya kau sadar kalau kau itu sangat lemah." ejek Meixi.


Meixi pun berjalan ke arah Wei Lian, ia menundukkan badannya, mulutnya mendekat ke telinga Wei Lian dan berbisik, "Lagipula suamiku tersayang itu tak ingin menyentuhmu sama sekali."


"KAU!!" teriak Wei Lian.


Meixi pun pergi begitu saja meninggalkan kediaman Wei Lian.


Dengan tubuh yang juga terluka, Liuli membantu Wei Lian untuk bangkit, ia tak dapat menahan tangisannya.


Mengapa Nyonyanya itu harus mengalami hal menyedihkan lagi ?.


"Nyonya hikss...hikss." isak Liuli.


Begitu tiba didalam kamar, dibukanya pakaian Wei Lian yang berlumuran darah. Pakaiannya yang berwarna putih pun sudah berubah warna menjadi merah.


"Arghh." rintih Wei Lian.


"Maafkan aku Nyonya, aku akan lebih berhati-hati." ucap Liuli.


"Tak perlu berhati-hati Liuli, kalau luka seperti ini saja tak bisa kutahan bagaimana bisa aku melatih kultivasiku lagi." ucap Wei Lian.


"Nyonya...apakah aku boleh berlatih juga ? Aku ingin melindungi Nyonya." pinta Liuli.


Wei Lian pun tersenyum dengan menunjukkan gigi-giginya, namun anehnya kedua matanya menitihkan air mata.


"Nyonya kenapa ?." tanya Liuli yang bingung dan juga khawatir dengan keadaan Wei Lian.


"Liuli aku bisa mengirimmu pergi dari sekte Wei ini, dengan berada diluar sana kau bisa bahagia, bertemu dengan orang yang kau cintai..."


"Tidak Nyonya, aku hanya akan mengabdikan diriku pada anda, sampai kapanpun aku tak akan meninggalkan anda sendirian." elak Liuli.


"Mengapa kau sebaik itu pada Wei Lian, Liuli ?." tanya Wei Lian.


"Nyonya adalah penyelamatku, bagaimana mungkin aku mengkhianati penyelamatku Nyonya ? Kalau aku melakukan itu bahkan neraka pun tak akan menerimaku." ucap Liuli dengan berurai air mata.


Terdengar suara helaan nafas Wei Lian "Huh....".


"Kau memang tak pernah mengecewakan Wei Lian, tapi jangan pernah berkata seperti itu Liuli, orang sepertimu sangat layak untuk masuk ke surga."


Disisi lain saat dalam perjalanan kembali ke sektenya, Si Ming tengah berdebat dengan adiknya itu.


"Kenapa kau berbelok ke arah sana Ye Han ? Itu bukanlah arah untuk kembali ke rumah." tanya Si Ming.


"Aku tahu kalau ini memang bukan jalan kembali ke rumah kak." jawab Ye Han.


"Kalau begitu mengapa kau pergi ke arah sana ? Apa yang kau rencanakan adikku ? Kau tahu kan kalau kau sudah membuat banyak masalah ? Jadi cepat kembali, kita akan pulang bersama ke sekte Xu." ucap Si Ming yang masih berusaha menahan emosinya itu.


"Kak, aku sudah mendapat izin dari ayah untuk berkelana sebentar, jadi sampai jumpa di sekte nanti kak." ucap Ye Han.


"Ye Han!!! Jin Ling!!!!" teriak Si Ming.


Teriakan Si Ming membuat rombongan sekte Xu yang berjarak cukup jauh terkejut.


Dengan cepat mereka memacu kuda mereka arah Si Ming menyusul Ye Han tadi.


"Apa yang terjadi senior Si Ming ?."


"Dimana senior Ye Han dan juga senior Jin Ling berada ?."


"Tuan, anda tidak apa-apa ?."


Mereka terus membanjiri Si Ming dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya semakin kesal.


"Arghhhh!!!!"


"Kalian diamlah! Anak nakal itu sudah pergi, sekarang kita lanjutkan saja perjalanan pulang." ucap Si Ming.


"Lalu bagaimana dengan senior Ye Han dan Jin Ling ?." tanya salah satu murid.


"Dia sudah mendapat ijin dari ketua sekte, jadi kalian tenang saja." jawab Si Ming.


Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke sekte Xu.


Malam harinya Ye Han sudah tiba di penginapan Luo.


Ya benar, ia kembali ke daerah tempat sekte Xu berada.


"Tuan, akhirnya anda datang." ucap Ah Ran.


"Tuan, kak Ah Ran sudah daritadi menunggumu." ucap Xuan Yi.


"Xuan Yi! Ahhh...aku akan menyeduh teh untuk Tuan dahulu." ucap Ah Ran lalu pergi meninggalkan kamar.


"Sebenarnya kenapa Tuan menyuruhku dan kakak untuk berada disini dulu ? Apa Tuan akan mengajak kami bersenang-senang ?." tanya Xuan Yi dengan sangat bersemangat.


"Akan ada tugas untuk kalian nanti, aku tak akan lama berada disini, jadi jangan kembali ke sekte Xu dulu untuk sementara waktu." jawab Ye Han.


"Tugas apa Tuan ?." tanya Xuan Yi lagi.


"Kau itu selalu saja cerewet Xuan Yi." ucap Jin Ling.


"Cihhh...memangnya wanita akan suka padaku kalau aku menjadi pendiam ? Lihat saja banyak wanita yang ketakutan karena kau sangat pendiam kak." ejek Xuan Yi.


Ye Han pun terkekeh kecil, "Xuan Yi, kau harus ingat puisi yang kuberitahukan padamu dan juga Ah Ran."


Xuan Yi pun mengangguk, sebenarnya ia sendiri merasa itu tak berguna.


Sudah lama ia tahu dan menghafal puisi itu, namun ia sudah hafal siapa saja orang-orang Xu Ye Han.


Jadi untuk apa lagi ia menggunakan puisi itu ?.


Tak lama Ah Ran pun kembali dengan nampan yang berisi teh dan juga beberapa kudapan.


"Tuan, saat berada dibawah tadi aku mendengar gossip tentang anda." ucapnya.


Ye Han pun memandang Ah Ran, "Jangan lakukan apapun saat mereka menggosipkanku Ah Ran."


"Bagaimana bisa aku hanya diam saat Tuan digossipkan seperti itu ? Apalagi anda digossipkan dengan wanita iblis."


"Orang sesuci Tuan manabisa disandingkan dengan iblis itu, benarkan..." ucap Ah Ran.


"Ekhemmm....ekhemm."


"Teh ini tak enak Ah Ran, jadi buatkanlah lagi." ucap Jin Ling.


"Ini adalah teh yang kubawa dari sekte." jawab Ah Ran.


"Cepat buatlah lagi, Tuan tak akan meminumnya jika kau tak membuat lagi." titah Jin Ling.