The Antagonist

The Antagonist
BAB 28



Dibawah cahaya bulan Jin Ling tengah menikmati teh ditemani dengan Xuan Yi.


Diseruputnya secangkir teh yang disiapkan oleh Ah Ran tadi.


"Kak, kau sangat menikmati teh itu, bukankah kau tadi bilang teh yang dibuat oleh kak Ah Ran sangat tak enak ?." tanya Xuan Yi yang heran dengan perilaku Jin Ling.


"Sangat tak enak untuk Tuan Ye Han bukan untukku." jawab Jin Ling.


"Bukankah sama saja ? Toh teh yang diseduh juga teh yang sama." ucap Xuan Yi lagi.


Jin Ling menutup kedua telinganya itu, sejak tadi Xuan Yi terus saja membanjiri dia dengan pertanyaan-pertanyaan.


Ingin sekali ia menyumpal mulut Xuan Yi itu, sayangnya ia tak akan bisa melakukannya karena Ah Ran pasti akan memukulinya.


"Diamlah, biarkan aku menikmati malam yang indah ini dengan tenang." ucap Jin Ling dengan nada kesal.


"Cihhh...kenapa tiba-tiba kau berlagak seperti pria romantis." ejek Xuan Yi.


Jin Ling hanya menatap Xuan Yi kesal.


"Kak, ceritakan padaku bagaimana sekte Wei itu ? Maksudku tempatnya seperti apa ? Apa lebih bagus dari sekte kita ?." tanya Xuan Yi terus-menerus.


"Memangnya kalau lebih indah kenapa ? Apa kau akan berpaling ke sekte Wei ?." tanya Jin Ling balik.


Xuan Yi hanya terkekeh kecil, ia sama sekali tak berpikiran begitu, hanya saja ia sangat penasaran karena sekte Wei dulu adalah sekte besar.


"Eihh...mana mungkin aku mengkhianati sekte kita itu, aku hanya penasaran bagaimana sekte Wei itu kak, aku sudah pernah mengunjungi sekte terkenal lainnya dan hanya tersisa sekte Wei saja."


Terdengar suara helaan nafas Jin Ling, "Huh..."


"Sekte Wei itu...kalau kau berada disana kau tak akan bisa makan dengan tenang." jawab Jin Ling.


Mendengar jawaban Jin Ling hanya membuat Xuan Yi mengerutkan dahinya,


Ia berpikir dengan keras mengapa bisa Jin Ling berkata seperti itu, padahal kota ini terkenal dengan araknya yang sangat enak.


Bukankah kalau begitu pasti makanan disini sangat enak ? Sekte Wei pun pasti menghidangkan makanan enak bukan ?.


"Kenapa orang sebodoh dirimu bisa menjadi bawahan Tuan." olok Jin Ling saat melihat juniornya itu tengah berpikir keras.


"Cihhh...itu karena aku orang yang menyenangkan tak kaku sepertimu." jawan Xuan Yi.


"Jadi kau mengakui bukan kalau kau memang bodoh ? Baguslah." ucap Jin Ling.


Xuan Yi semakin kesal saat mendengar ucapan Jin Ling, lelaki disampingnya sama saja seperti Ah Ran, suka mengolok dirinya.


"Kak, bukankah minuman disini sangat enak, makanan di penginapan ini juga enak, apa makanan yang dihidangkan sekte Wei itu tak berkualitas ?." tanya Xuan Yi.


Dipukulnya sendiri jidatnya itu dengan tanganya, Jin Ling benar-benar harus bersabar saat menghadapi Xuan Yi.


"Bukan seperti itu Xuan Yi, kau tak akan bisa makan dengan tenang karena semua orang akan memperhatikan dan mencari cara untuk menyingkirkanmu." jelas Jin Ling.


Namun percuma saja, Xuan Yi justru semakin mengerutkan dahinya, wajahnya kini sudah seperti kain lusuh.


Ia justru semakin tak paham mendengar penjelasan dari Jin Ling.


"Sudahlah, otakmu itu memang tak mampu mencerna apapun dengan cepat." ucap Jin Ling kesal.


Ia menuang lagi teh kedalam cangkirnya yang sudah kosong.


Ia berpikir pasti Tuannya itu sedang menikmati arak entah dimana.


"Kak, kau pasti bertemu dengan Yang Mulia Wei Lian bukan ?." tanya Xuan Yi.


"Kau pasti ketakutan saat melihatnya, benar tidak Jin Ling ?." ucap seorang wanita yang tak lain adalah Ah Ran.


Begitu tiba ia langsung duduk ditengah-tengah Jin Ling dan juga Xuan Yi.


"Huhhh....disini sangat dingin bukan ? Memanglah tepat kita bercengkrama ditemani oleh teh hangat yang sangat nikmat ini." celoteh Ah Ran.


"Kak Jin Ling jawab pertanyaanku." ucap Xuan Yi.


Ia benar-benar sangat penasaran soal Wei Lian, apa benar kalau wanita itu seperti rumor yang selama ini ia dengar.


"Ya, aku bertemu dengannya." jawab Jin Ling.


"Seburuk apa wajahnya itu Jin Ling ?." tanya Ah Ran.


"Apa yang kau katakan itu kak Ah Ran, dia itu sangat cantik, hanya saja sebutannya iblis." ucap Xuan Yi.


Mendengar itu membuat Jin Ling teringat kembali dengan keadaan Wei Lian.


"Iblis apanya ? Dia bahkan tak bisa membunuh orang dengan kultivasinya yang buruk itu." batin Jin Ling.


"Jing Ling jawab aku." rengek Ah Ran.


"Dia sangat cantik." ucap Jin Ling dengan senyum yang tak bisa diartikan.


Melihat itu Xuan Yi langsung tersenyum nakal, pikirannya menjadi kotor.


"Ekhemm...sepertinya ada yang baru saja jatuh cinta, pantas saja ia berlagak romantis malam ini." ucap Xuan Yi.


"Secantik apa dia Jin Ling ?." tanya Ah Ran.


Ia juga terlihat sangat bersemangat ingin tahu soal Wei Lian, namun ia tak suka dengan wanita iblis itu.


Apalagi karenanya Xu Ye Han diejek oleh beberapa pendekar yang mampir untuk istirahat dipenginapan Luo.


"Sangat cantik, saat kau bertemu dengannya pasti kedua matamu itu tak akan bisa berkedip." jawab Jin Ling.


Mendengar itu hanya membuat Ah Ran semakin kesal, rasa bencinya itu semakin membesar terhadap Wei Lian.


"Walaupun begitu tetap saja dia seorang iblis, Tuan tak akan mau digossipkan dengan wanita sepertinya, apalagi dia sudah bersuami." ucap Ah Ran.


Jin Ling terdiam mendengarnya, awalnya ia juga berpikiran seperti Ah Ran, ia benar-benar percaya kalau Wei Lian adalah iblis.


Namun begitu bertemu dengannya dan melihat langsung bagaimana rapuhnya wanita itu, semua istilah kotor yang ia tanamkan dalam otaknya soal Wei Lian sirna begitu saja.


"Dia tak seperti rumor yang kau dengar selama ini Ah Ran." ucap Jin Ling sembari menuang teh kedalam cangkirnya lagi.


"Mana mungkin, kau pasti sudah tertipu olehnya." ucap Ah Ran.


"Kak Ah Ran, apa kau cemburu pada Yang Mulia Wei Lian ?." tanya Xuan Yi yang terheran-heran karena perkataan buruk Ah Ran soal Wei Lian tadi.


"Mana mungkin aku cemburu dengan wanita seperti itu." elak Ah Ran dengan suara terbata-bata.


Jin Ling hanya terdiam saja mendengar kedua anak itu bertengkar.


Pandangannya hanya tertuju pada bulan yang bersinar terang.


Senyuman pun terukir kembali dibibirnya itu.


"Huhh...memang tak bisa dilupakan." ucap Jin Ling dengan suara lirih.


Ia teringat kembali dengan Wei Lian dan juga Tuannya.


Saat malam disekte Wei pasti Tuannya yakni Xu Ye Han mengawasi Wei Lian yang tengah melamun sambil memandangi langit.


Terkadang Tuannya itu tersenyum, tertawa, bahkan terkadang juga terlihat seperti akan menangis.


Sedangkan Wei Lian terus berekspresi seolah merindukan sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sangat menyedihkan sekali hidupnya itu.