
SEKTE XU
Di depan Xu Si Ming, duduklah seorang pria berambut putih dan berjenggot putih.
Rambut pria itu dikuncir tinggi, meskipun sudah berumur, pria itu tetaplah sangat gagah.
"Ayah." panggil Si Ming.
Ya, lelaki itu adalah Xu Mu Yao, ketua dari sekte bela diri Xu.
"Apa yang ingin kau keluhkan padaku kali ini Si Ming ? Tak lama sejak kedatanganmu entah sudah berapa ribu keluhan yang kau sampaikan padaku. Aku bisa saja mati cepat karena mendengar keluhanmu yang tiada henti itu." ucap Xu Mu Yao.
Meskipun terdengar marah, Si Ming tahu kalau ayahnya itu hanya bercanda.
Namun yang dikatakan ada benarnya juga, setiap hari memanglah ia mengeluh pada ayahnya itu.
Toh..itu dilakukannya karen khawatir terhadap adiknya, yakni Xu Ye Han.
"Ayah...sebenarnya kemana adikku itu pergi ? Mengapa anda memberi ijin ? Pastilah ia akan membuat banyak masalah diluar sana." ucap Si Ming.
Xu Mu Yao hanya menghela nafas, entah sudah berapa kali anak sulungnya itu menanyakan hal yang sama.
"Aku tak tahu kemana adikmu itu pergi, kalaupun ia membuat masalah pastilah dia bisa mengatasinya sendiri Si Ming. Adikmu itu bukan anak kecil, jadi kau tak perlu khawatir." jawab Xu Mu Yao dengan santainya.
"Ayah....kenapa anda selalu saja memanjakannya ? Bukankah anda sudah tahu soal masalah di sekte Wei ? Kalau ia terlibat dengan masalah yang lebih besar bagaimana ? Sekte kita akan menerima akibatnya juga." celoteh Xu Si Ming lagi.
Di taruhnya segelas teh yang berada ditangannya itu.
Matanya itu memandang ke arah Si Ming.
"Aku tahu Si Ming, alasan adikmu melakukan itu jugalah pasti untuk membalas kebaikan teman lamaku yang juga gurunya." ucap Mu Yao.
"Ayah...yang dilakukan Ye Han sangatlah berlebihan, lagipula selain kita tak ada yang tahu bahwa Ye Han pernah menjadi murid mendiang Yang Mulia Wei Meng Fan." eyel Xu Si Ming.
Ya benar, yang mengetahui hal itu hanyalah keluarga inti Xu, mendiang Yang Mulia Wei Meng Fan dan juga istrinya yakni Nyonya Chang Xi.
"Si Ming....jangan pernah melupakan kebaikan seseorang walaupun ia berbuat salah setelahnya ataupun orang itu telah tiada."
"Adikmu itu selamat juga karena bantuan Wei Meng Fan, tanpa bantuannya mungkin adikmu itu sudah mati sejak lama." jelas Xu Mu Yao.
Xu Si Ming pun terdiam mendengarnya.
* FLASHBACK ON *
Malam itu tubuh Ye Han bergetar sangat hebat, ia terus merintih kesakitan. Ia juga terus memuntahkan darah yang sangat kental.
Xu Mu Yao, istrinya dan juga Xu Si Ming tak tahu apa yang terjadi pada putranya itu.
Saat ia kembali ke rumah ia sudah terluka parah, namun sebelumnya tubuhnya tak gemetaran hebat seperti ini.
"Arghhh...dingin sekali."
"Uhukkk...uhukkk."
"Hoekk.."
"Arghhh!!!"
rintih Xu Ye Han.
Mu Yao sangatlah kebingungan, ia sudah menyuruh tabib untuk memeriksa keadaan Ye Han, namun tabib hebatnya itu tak mengetahui apa yang terjadi dengan Ye Han.
Di saat-saat genting itu, sahabat lamanya yakni Wei Meng Fan tiba-tiba saja datang.
"Guru.." ucap Ye Han lemah.
"Apa yang terjadi pada muridku ini Mu Yao ?." tanya Wei Meng Fan yang terkejut melihat keadaan Ye Han didepan matanya.
Mu Yao hanya menunduk lesu, ia sendiri tak tahu harus menjelaskan bagaimana.
"Apa yang dikatakan tabib tadi ?." tanya Wei Meng Fan lagi.
Tiba-tiba saja Wei Meng Fan meraih tangan Xu Ye Han, diperiksanya nadi Ye Han dengan teliti.
"Si Ming mintalah pelayan untuk membawakanku se-bak air dan beberapa jarum." ucap Wei Meng Fan.
"Apa yang terjadi pada anakku ini sahabatku ?." tanya Mu Yao.
"Sangat panjang kalau aku menjelaskannya, namun anakmu ini pastilah selamat sahabatku, kau tenang saja." ucap Wei Meng Fan.
Mu Yao justru semakin khawatir mendengarnya, ia tak akan pernah tenang jika sahabatnya itu mengatakan hal-hal baik.
Pelayan-pelayan yang diperintahkan Si Ming tadi sudah tiba.
Wei Meng Fan pun membuka baju bagian atas yang dipakai Ye Han lalu membopong dan memasukkan Xu Ye Han kedalam bak.
Tubuh Ye Han semakin gemetar hebat, namun Wei Meng Fan tak peduli.
Dia menancapkan beberapa jarum ke jari, leher, punggung dan juga kepala Ye Han.
Ia juga menusuk tangannya itu dengan jarum.
Di tempelkannya kedua tangannya utu ke punggung Ye Han.
Mu Yao menyadari kalau Wei Meng Fan awalnya hanya memperbaiki aliran energi didalam tubuh Ye Han.
Namun ia langsung terkejut saat menyadari Wei Meng Fan memberikan separuh energinya kepada Ye Han.
"Apa yang kau lakukan Wei Meng Fan ? Apa kau gila ?." teriak Mu Yao.
Saat Mu Yao berusaha menghentikan apa yang dilakukan sahabatnya itu, Wei Meng Fan melarangnya.
"Berhenti Mu Yao, jangan mengganggu, masih banyak yang harus ku lakukan, kalau kau melakukan itu maka aku dan anakmu ini akan terluka lebih parah." ucap Wei Meng Fan.
Pada akhirnya ia hanya bisa melihat dengan pasrah, dan tak butuh waktu lama bak berisi air itu langsung berwarna merah.
Ya, warna merah itu muncul karena darah yang keluar dari tubuh Ye Han.
Tubuh Ye Han sudah berhenti bergetar, bibirnya yang tadinya sudah sangat pucat mulai kemerahan.
"Keluarkan dia dan ganti pakaiannya." ucap Wei Meng Fan.
Uhukk...uhukk!
Mu Yao semakin khawatir karena Wei Meng Fan batuk darah.
"Mengapa kau sangat gila sahabatku ? Yang kau lakukan itu sangatlah berbahaya." ucap Mu Yao khawatir.
"Dia adalah muridku, sebagai seorang guru dan juga ayah kedua, aku harus menyelamatkannya Mu Yao." ucap Wei Meng Fan.
"Huhhh....kau membuatku berhutang nyawa." ucap Mu Yao.
Wei Meng Fan pun terkekeh mendengarnya.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan putraku." ucap Mu Yao sembari membungkuk pada Wei Meng Fan.
"Aiss...tak perlu begitu Mu Yao, yang kulakukan ini juga harus kau bayar nantinya, jadi tak perlu berterima kasih." ucap Wei Meng Fan.
Xu Mu Yao pun tertawa mendengarnya, memanglah sahabatnya ini selalu saja berkata seperti itu.
"Kalau kau ingin tahu apa yang terjadi, bertanyalah sendiri pada putramu Mu Yao, aku tak ingin menduga-duga." ucap Wei Meng Fan.
Wei Meng Fan pun menunjukkan ekspresi yang membuat Mu Yao kebingungan.
* FLASHBACK OFF *
"Si Ming adikmu itu sudah lama tak muncul ke dunia kultivasi karena penyakit sedihanya, biarkan ia bersenang-senang sedikit. Aku yakin ia tak akan membuat sekte kita malu." ucap Mu Yao pada putra sulungnya itu.
Si Ming hanya bisa mengangguk saat mendengarnya.